Pasal Rumah Tangga (1)
(1) Perkara dompet dan dapur
Yeay! I’m back, gais. Eh, emangnya ada yang nungguin wkwk.
Okeoke, intro dulu yaa. Ga kerasa udah lewat (dikit) dua bulan jadi istri si Abang, cieeelaah (merinding disko nulisnya haha), tepatnya 10 pekan dari hari pertama kami tinggal berdua di Serang. Disclaimer, ini bukan tulisan uwuuwu jadi aman untuk semua kalangan pembaca wkwk, dahlah gapenting -,-.
Lanjoot!
Setiap pasangan cantin pasti memiliki persiapannya masing-masing sebelum pernikahan, bahkan ada yang sudah menyiapkan diri jauuuuhhh sebelum si calon datang menjemput, which is good biar gak gelabakan kalo si calon dateng tiba-tiba yekaan. Nah, begitu pun saya pada saat itu, salah satu hal yang saya persiapkan sebelum pernikahan ialah mempelajari tentang manajemen keuangan rumah tangga yangmana saya baca dan tonton melalui artikel internet, quora dan youtube, sengaja saya ga baca buku untuk hal ini karena beberapa hal yang malas saya tulis disini hahaa. Jadi, pada tulisan kali ini saya mau sharing pengalaman kami berdua dalam memanajemen pengeluaran dan pemasukan kami, bisa jadi ini akan menjadi rangkaian tulisan yang panjang namun terbagi dalam beberapa bagian. Karena ada beberapa rencana keuangan yang telah kami buat tapi belum terealisasikan karena satu dan lain hal ;) dan in syaa Allah akan saya tulis tentunya ketika rencana tersebut telah berhasil terealisasi, doakan kami yaa ;)
Let start it down!
Awalnya saya pikir, “Ah, tidak sesulit itu manage uang keluaga, toh dulu saya kuliah merantau dan bisa manage uang saya sendiri, kan ini baru nambah 1 kepala doang.”
Yaa, emang sih gak sesulit itu, tapi bukan berarti bisa digampangkan. Jadi, pada bulan pertama saya sudah membuat semacam list alokasi pengeluaran. Di sini saya sudah meyakinkan diri saya bahwa probabilitas keberhasilan rencana keuangan ini setara dengan kegagalannya, yaa namanya juga baru pindah kan ya. Masih lemah mata liat jajan, kaki gatel pengen jalan, rumah kosong mau diisi, jari jemari lemes checkout sana sini, yaa gitu deh pokonya wkwk. Intinya kita coba dulu aja.
Oke singkat cerita di bulan pertama pengeluaran kami ternyata bisa dikatakan melampaui dari yang sudah dianggarkan, jadi no saving buat bulan pertama dan ini tentu menjadi evaluasi kami untuk bulan berikutnya. Dari awal, saya sudah membiasakan untuk mencatat apa saja yang sudah saya beli dan itu dihitung untuk berapa pekan/ hari. Dengan demikian evaluasi untuk bulan kedua kami mengetahui dengan jelas letak bocornya pengeluaran ada dimana. Terlebih lagi di bulan pertama pernikahan saya tidak melakukan food preparation yang sungguh-sungguh sehingga banyak bahan makanan yang terbuang hanya karena saya tidak menyimpannya dengan baik.
Berbicara tentang food preparation, ini merupakan persiapan bahan-bahan makanan yang biasanya dilakukan setiap pekan (pada umumnya demikian) untuk mempersingkat proses masak, dalam artian sebagian proses seperti membersihkan dan memotong bahan sudah dilakukan terlebih dahulu. Dan ini mulai saya terapkan dibulan kedua, and yaa it works! Masih bocor sih, tapi tidak sebesar sebelumnya, dan tentunya kami melakukan evaluasi kembali untuk bulan ketiga dan yaa kami memutuskan untuk belanja semua bahan makanan di pasar, kecuali ayam, frozen food, susu uht, buah-buahan dan beberapa barang lainnya, yang mana biasanya kami belanja di h*p*rmart dan warung sayur langganan. Sejauh ini semua masih on the track, tapi karena belum genap 1 bulan jadi belum dapat diambil kesimpulan hahaa.
Itu salah satu contoh food prep. yang berhasil saya abadikan wkwk, oh iya jadi persiapan yang seperti di atas itu biasanya saya lakukan sepekan sekali di hari Sabtu atau Ahad (pokonya di hari si doi libur kerja) dan waktu yang dibutuhkan biasanya yaa 2 jam’an lebih sekalian bersih-bersih dapur.
Kurang lebih nya gitulah masalah perdapuran kami wkwk, semoga dari pengalaman kami ini terdapat hikmah yang dapat diambil meskipun tidak banyak. Taaa!
Serang, 28 Maret 2022
















