Shadow #iphone5s #phoneshot #shotoniphone #shotonphone (at Jakarta, Indonesia) https://www.instagram.com/p/BzUW_oggPDn/?igshid=57ek03z1ndxm
Monterey Bay Aquarium

Love Begins
Keni

No title available
🩵 avery cochrane 🩵
Mike Driver

JVL

oozey mess

if i look back, i am lost
EXPECTATIONS

❣ Chile in a Photography ❣
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
he wasn't even looking at me and he found me
we're not kids anymore.
Show & Tell

roma★

Kiana Khansmith
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
ojovivo

izzy's playlists!
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Switzerland

seen from India

seen from Malaysia
seen from Australia
seen from Malaysia

seen from Brazil

seen from Singapore

seen from Türkiye

seen from Germany

seen from United States
@hs0fyan
Shadow #iphone5s #phoneshot #shotoniphone #shotonphone (at Jakarta, Indonesia) https://www.instagram.com/p/BzUW_oggPDn/?igshid=57ek03z1ndxm
Long hummer #phoneshot (at Kota Batu) https://www.instagram.com/p/ByxcL4PgEuK/?igshid=b4ex5vkp9rg4
#iphone5s #phoneshot https://www.instagram.com/p/BxLdlYrgVld/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=1kb8e20gryer2
Gado-gado
#asusz012db #phoneshot @indonesia
Indonesia’s election day. #iphone5s #iphone #phoneshot #phoneshots #500px https://www.instagram.com/p/BwV2QjyAPXf/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=106z0082fo9cp
Indonesia’s election today. #iphone5s #iphone #phoneshot #phoneshots #500px https://www.instagram.com/p/BwV2QjyAPXf/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=1kh2wwhngx73w
Dessert
#asuszenfone3 #phoneshot
#iphone #iphone5s #phoneshots #500px https://www.instagram.com/p/Bv6IJ8Mg3vB/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=z1fx8gsxxpf5
#iphone #iphone5s #phoneshots #500px https://www.instagram.com/p/Bv6InRcARJ7/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=1ub8d4zgp6mzr
Fresh #iphone5s #mataponsel #phoneshot #phoneshots https://www.instagram.com/p/BvtVMW4AsJh/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=tspgjvn9ii1f
Cake #iphone5s #mataponsel #phoneshot #phoneshots https://www.instagram.com/p/BvtUj0fgkEq/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=1iqup6ji3qjw3
50 likes!
Tofu ~asuszenfone3~ #phoneshot #phoneshots #phoneshoot #phonephotography #mataponsel https://www.instagram.com/p/Bvd0lDzg-Xl/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=7d5xs89sk4gv
Durians ~asuszenfone3~ #phoneshot #phoneshots #phoneshoot #phonephotography #mataponsel https://www.instagram.com/p/BvdzICigw7l/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=l3hanyv8vgea
Shells ~asuszenfone3~ #phoneshot #phoneshots #phoneshoot #phonephotography #mataponsel https://www.instagram.com/p/BvdymYNACdm/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=10wyd862k97n4
BrownSugar ~asuszenfone3~ #phoneshot #phoneshots #phoneshoot #phonephotography #mataponsel https://www.instagram.com/p/BvdyN9RAIAO/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=dglvu8v2xw8g
Es...es...es!
"Es . . . es . . . es!" terdengar Hasan meneriakkan dagangannya. Sesekali ia berhenti dan meletakkan 2 termos, yang semakin terasa berat. Untung saja tas sekolahnya telah dititipkan di rumah bu Tina, tempat ia mengambil dagangan ini.
Setiap usai sekolah, Hasan memang tidak langsung pulang ke rumah. Dengan masih berseragam SMP, ia menjajakan es lilin keliling kampung, menyusuri jalan dan gang.
Tiba-tiba ia mendengar suara memanggil dari sebuah rumah mewah. Suara yang sudah tidak asing ditelinganya. Suara yang selalu memanggil setiap ia lewat didepan rumah ini. Ya, itu memang suara Ibnu, anak kelas 3, dua tingkat diatasnya.
"5 San" kata Ibnu yang masih berseragam sekolah, saat Hasan tiba di teras rumah. Terlihat Ibnu masih melanjutkan makan siang di teras rumahnya. Hasan menahan air liur melihat sepiring nasi dan lauk-pauk yang tak pernah ia nikmati. Ditahannya rasa lapar yang ia rasakan sejak bubar sekolah tadi. Karena memang ia tidak pernah sarapan dan juga tidak punya uang jajan. Dari sejak makan malam hingga saat ini, belum ada secuil makanan pun yang maajk keperutnya.
"Kembaliannya untuk kamu, San" Suara Ibnu membuyarkan lamunannya. "Ayo, bareng minum es nya...ambil!", lanjut Ibnu sambil menyodorkan es yang baru diterimanya.
"Terimakasih, bang!" sahut Hasan sambil menyodorkan uang kembalian.
Sepertinya Ibnu sudah menduga sikap Hasan yang tak pernah mau menerima pemberian orang lain. Disekolah pun Hasan selalu bersikap begitu. Tapi Ibnu selalu melakukannya, walaupun Hasan selalu menolaknya.
"Es . . . es . . . es!" terdengar lagi teriakan sedikit parau. Rasa haus membuat kerongkongannya terasa kering. Hasan sadar, banyak pembeli yang kasihan pada dirinya. Ketika cuaca mendung atau hujan, masih ada saja yang membeli. Pembelinya pun beragam, dari anak-anak hingga orang tua. "Tak apalah", pikirnya, "aku kan jualan, bukan mengemis."
Sesekali dijilati bibirnya yang kering. Dibuka termos yang hampir kosong. Ingin rasanya mengambil sebatang es lilin untuk menghilangkan haus dan mengganjal lapar yang sangat. Tapi ia urungkan niat itu, manakala teringat ibu nya. "Tidak! Aku harus mengumpulkan uang. Aku ingin mengirim untuk ibuku. Aku harus menabung. Aku ingin bebas." Berbagai pikiran berkecamuk di benaknya.
1 jam sudah Hasan menyusuri jalan. Dagangannya habis sudah. Hasan menuju rumah ibu Tina, untuk mengembalikan termos sekaligus menyetor uang. Selain Hasan, memang banyak anak-anak lain yang berjaja es lilin milik ibu Tina. Dengan hati-hati diletakkannya kedua termos diantara deretan termos lain. Hasan memang sudah hapal dimana ia harus mengambil dan mengembalikan termos. Maklum, sudah 3 bulan ia melakukan pekerjaan ini.
"Habis, San?" teriak bu Tina dari meja kerjanya.
"Alhamdulillah, bu" jawab Hasan sambil mendatangi bu Tina dan menyetor hasil jualannya.
Seperti biasa bu Tina menghitung uang dari Hasan dengan cepat, lalu menyerahkan kembali kepada Hasan... semuanya.
"Ini upah kamu, besok jualan lagi kan?"
"Inshaallah bu" sahut Hasan lirih, sambil menerima uang yang cukup tebal dari tangan Bu Tina. Terasa agak aneh, tapi seperti biasa Hasan menghitungnya.
"Ini lebih, bu ... lebih banyak" disodorkan kelebihan uang itu kepada bu Tina disela kesibukannya melayani penjaja-penjaja lain.
"Iya, itu ekstra untuk kamu" jawab bu Tina tak acuh.
"Terima kasih, bu. Tapi saya tidak boleh menerimanya". Hasan mendebat, ingat pesan orang tuanya, agar tidak menerima yang bukan hak nya.
Terlihat bu Tina menghampiri dan memegang kedua tangan Hasan, sambil berbisik: "Itu hasil prestasi mu selama 3 bulan ini.. Ibu masih ada untung, kok. Ambil lah, untuk keperluanmu!"
"Tapi, bu ...."
"Sudahlah .... ambillah!" bu Tina memotong pembicaraan sembari meninggalkan Hasan yang masih terpana.
"Untuk keperluanku?"
Sejenak Hasan termenung, matanya menatap kosong.
Sejak ayahnya meninggal dan keluarganya pulang ke kampung halaman 6 bulan yang lalu, Hasan memang dititipkan ibunya di rumah bu Keni, tetangga nya. Saat itu Hasan berkeras untuk tetap tinggal di kota ini, walau ibunya sangat keberatan.
Dari cerita ibunya, ia tahu bahwa di kampung sulit mencari pekerjaan untuk biaya hidup sehari-hari. Inilah yang menyebabkan Hasan tak menyesali tetap bertahan di kota ini. Ia tidak ingin menambah beban ibunya. "Aku anak laki-laki! Aku harus menggantikan ayah". Begitu prinsipnya.
"Terimakasih banyak, bu ... saya pamit pulang".
"Ya, hati-hati ... jangan lupa makan dan belajar! masih terdengar teriakan bu Tina.
Berbagai pertanyaan muncul dari benaknya sepanjang perjalanan menuju rumah bu Keni.
Bagaimana nasib ibu dan saudara-saudaranya di kampung?
Apakah ibunya masih menjahit untuk biaya hidup sehari-hari serta biaya sekolah saudara-saudaranya.
100 meter lagi tiba di rumah bu Keni.
Masih berbekas dalam ingatannya, ketika bu Keni berkata pada ibunya:
"Gak apa-apa mbak, biar Hasan saya sekolahin, sambil membimbing belajar anak-anak saya. Minta alamat saja jika telah sampai di kampung".
Terlihat wajah duka ibunya, yang tak ingin berpisah dengan Hasan. Tapi tak banyak pilihan ketika menyadari bahwa tujuan ke kampung juga belum jelas. Rencana menumpang dengan adik di kampung baru sebatas rencana. Belum tahu, apakah akan diterima atau terpaksa menyewa rumah. Lalu, dari mana uang untuk menyewa?
"Terima kasih, dik. Tolong titip anak saya, anggap saja anak sendiri." terdengar suara ibu lirih, sebelum meninggalkan rumah bu Keni menuju kapal yang tengah bersandar di pelabuhan.
6 bulan sudah Hasan tinggal di rumah bu Keni, tapi terasa banyak hal yang berbeda. Memang, senyaman-nyamannya tinggal di istana orang lain, lebih nyaman tinggal di gubuk sendiri. Begitu Hasan sesekali bergumam dalam hati.
"Koq baru pulang San, jualan es lagi ya?" sergah bu Keni di pintu masuk.
"Iya bu" jawab Hasan pelan sambil berdiri dihadapan bu Keni dan menundukkan kepalanya. Kali ini Hasan memang tidak perlu berbohong lagi.
"Abis makan piring-piring dicuci ya? Jangan lupa meja makan dibersihkan, jangan sampai ada noda-noda". Begitulah perintah panjang lebar yang selalu didengar Hasan ketiba tiba dirumah. Dalam hati Hasan bergumam, bukankah tanpa diperintahpun aku sudah rutin melakukannya? Ya sudahlah, tidak perlu diperdebatkan .... namanya juga menumpang di rumah orang.
"Iya bu, permisi" jawab Hasan lagi sambil beranjak pergi menuju pintu belakang. Hasan memang tidak pernah lewat pintu utama rumah ini. Selesai makan, Hasan segera membawa semua peralatan bekas makan ke tempat mencuci. Membersihkan meja makan, dan mulai mencuci sambil bersiul-siul kecil. Hasan memang suka menyanyi di sekolah, pada kegiatan-kegiatan pramuka atau acara hiburan di sekolah. Ia juga dikenal pandai bermain gitar dan harmonika. Tapi, di rumah ini ia hanya berani bersiul-siul kecil saja.
Sejak bu Keni mengetahui Hasan menjual es sehabis sekolah, bu Keni semakin menambah pekerjaan rumah bagi Hasan. Sambil mencuci piring, Hasan tersenyum-senyum bila mengingat kejadian-kejadian sebelumnya. Teringat olehnya ketika awal berjualan es, ia sering berbohong dengan bu Keni. Ada saja alasannya jika telat sampai di rumah. Ada pelajaran tambahan lah, belajar kelompok lah, atau bermain. Tapi sejak dimarahi bu Keni karena bermain, Hasan tidak pernah lagi menggunakan alasan itu. Hingga suatu saat, bu Keni mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Hasan memang merahasiakan hal itu kepada bu Keni. Memang selama ini uang sekolah dibayarkan oleh bu Keni, sesuai kartu tagihan dari sekolah. Tanpa uang jajan, tentunya. Ia tidak ingin hidup seperti ini. Ia ingin punya uang. Ia ingin mengirim uang untuk ibunya di kampung. Ia ingin bebas dari menumpang dirumah bu Keni. Ia tidak ingin menyia-nyiakan waktu menjadi pembantu rumah-tangga hanya untuk sekedar "uang sekolah". Ia ingin kerja keras mengumpulkan uang, tanpa batasan waktu. Dan, semua itu mulai menampakkan titik terang sejak ia berjualan es, walaupun semakin sedikit waktu untuk belajar, karena banyaknya pekerjaan rumah-tangga yang harus ia tangani.
"Ini surat dari ibu mu!" Tiba-tiba bu Keni sudah ada didekatnya, sambil menyodorkan sepucuk surat.
"Makasih, bu" sambil di lap tangannya yang basah pada celana pendeknya, lalu menerima amplop dari tangan bu Keni. Alhamdulillah .... doa ku terkabul, Hasan bergumam dalam hati.
Ternyata ibu dan saudara-saudaranya selama ini menumpang dirumah adik ibu. Walaupun adik ibu berjanji akan menampung dan membiayai hidup sehari-hari termasuk biaya sekolah kakak-kakak dan adik Hasan, tapi Ibu masih menjahit. Hasan tahu persis, ibunya memang tak mau menerima belas kasihan orang lain. Hidup harus berikhtiar, selebihnya serahkan kepada Allah. Demikian pesan ibunya selalu.
Selesai mencuci piring, dengan sigap Hasan mengganti pakaian dan mulai merendam pakaian kotor dengan deterjen di ember. Lalu diangkatnya pakaian kering dari jemuran, untuk diseterika malam nanti. Ia memang membiasakan mencuci dan menyeterika baju setiap hari, agar tidak menumpuk.
Sambil menunggu rendaman pakaian, Hasan mulai melakukan pekerjaan rutin lainnya..... membersihkan halaman, Membersihkan rumah ia lakukan setiap pagi, sebelum berangkat ke sekolah.
Selesai mencuci dan menjemur pakaian, hari mulai gelap. Sambil antri kamar mandi, Hasan membolak-balik buku pelajaran hari ini, mencoba mengingat kata-kata guru ketika di depan kelas tadi. Bapak/ibu Keni punya 5 anak yang lebih muda dari Hasan. 3 diantaranya usia SD. 3 adik ibu Keni juga tinggal disini. 2 laki-laki dan 1 perempuan. Ketiganya sepantar dengan umur Hasan. Memang harus bergantian menggunakan 1 kamar mandi. Dan Hasan memilih untuk mandi terakhir, atau pada saat kamar mandi tidak digunakan.
Setelah bapak/ibu Keni dan anak-anaknya selesai makan malam, giliran Hasan dan adik-adik bu Keni makan. Mencuci piring setelahnya, adalah tugas Hasan. Seperti biasa, selesai mencuci piring, Hasan menuju ruang keluarga untuk membimbing 3 anak bu Keni mengerjakan PR.
Malam ini Hasan membalas surat ibunya.
'Bu, saya baik-baik saja disini. Bapak dan Ibu Keni menganggap saya seperti anak sendiri. Sekolah juga lancar. Kemarin wali kelas mengumumkan, bahwa juara kelas akan gratis biaya klas 2, serta mendapat 1 paket buku pelajaran klas 2 ditambah 1 lusin buku tulis dan alat tulis. Doa kan ya bu.
Bu, ini ada sedikit uang, semoga bermanfaat buat ibu disana. Uang ini halal bu, Hasan menabung uang jajan yang dikasih bu Keni setiap hari.
Udah dulu ya bu, Hasan mau belajar dulu. Ibu jaga kesehatan, ya.
Salam.'
Hasan sadar jika ia telah bercerita bohong pada ibunya. Biarlah ... agar ibunya tenang dan menganggap hidupnya senang. Lalu dimasukkan selembar uang kertas kedalam lipatan kertas karbon, kemudian dilapisi lagi dengan surat yang baru ia tulis, sebelum dimasukkan dalam amplop dan di lem. Sisa uang dimasukkan kedalam kaleng susu ... tempat ia menabung selama ini. Hari ini cukup banyak uang yang dapat ia tabung, berkat hadiah prestasi dari ibu Tina tadi siang.
Tak lama terdengar suara dengkur Hasan ditengah buku-buku pelajaran yang berserakan di lantai kamar sempit yang merangkap sebagai gudang. Entah hanya berapa halaman yang sempat ia baca.