Mencari sejak lama, seri pertama dan kedua buku ini benar-benar ada di tangan saya pada bulan Maret 2016. Yang kabarnya memang pihak penerbit hanya cetak satu kali saja sejak terbit pertama pada 2010, entah apa alasannya. Apapun alasannya, sejalan dengan waktu dan perjuangan mengumpulkan rupiah demi rupiah saya mampu mensejajarkan keempat seri buku ini di rak buku di rumah. Nominal rupiah yang tak akan pernah saya sesali seumur hidup. Saya tidak berlebihan sama sekali, saya juga bukan sedang promosi. Tapi begitulah faktanya. Seri Muhammad karya Tasaro GK ini benar-benar menawan hati dan pikiran saya. Jika berkesempatan, silakan membaca buku ini. Dan jika tidak bergetar hati, entah saya harus bicara apa lagi.
Kisah Sang Nabi ditulis dengan sangat brilian. Membuat kita merasa benar-benar hidup dan menyaksikan segalanya pada masa itu. Sangat menggetarkan hati, saya ulangi lagi kalimat ini, karena memang begitulah adanya. Diceritakan dari dua sudut pandang ; Kisah Muhammad Rasulullah yang diceritakan melalui sudut pandang orang kedua, dan kisah panjang petualangan Kashva dari Persia dalam pencarian menemukan kebenaran, yang diceritakan dengan sudut pandang orang ketiga.
Ya, memang dalam buku ini, kisah Nabi Muhammad bersanding dengan cerita fiksi yang dibuat oleh penulis. Karenanya, buku ini dinamakan novel biografi. Mungkin muncul banyak pertanyaan mengapa bisa begitu. Saya juga tidak mampu menjelaskan dengan akurat bagaimana, sebelum kita membaca sendiri buku ini. Satu hal yang bisa saya katakan adalah, sekali lagi, buku ini sangat menggetarkan hati.
Buku ini ditulis sebagai muara kerinduan kepada Sang Nabi, meskipun pada akhirnya kerinduan itu tetap tidak berkurang dan terus membuncah, bahkan bertambah. Tetapi paling tidak, bagi kita yang tidak tahu harus kemana mengalirkan kerinduan itu, kisah panjang dalam buku ini bisa menjadi solusi. Mencermati sejak kalimat pertama, membuka lembar-lembar selanjutnya, menyimak dengan seksama bagaimana Muhammad putra Abdullah ; Muhammad Utusan Allah, dan para sahabatnya berjuang dari Makkah hingga ke Madinah Kota Cahaya, lalu tanpa sadar kita sudah berlelehan air mata.
Dan kisah panjang perjalanan Kashva, tentang pencarian, agama, politik, perang, dan cinta, adalah fiksi terbaik yang pernah saya baca. Setelah sampai di halaman terakhir buku keempat, saya masih setengah tidak percaya bahwa buku ini ditulis oleh orang Indonesia.
Saya tidak ingin lebih panjang lagi membocorkan apa-apa yang ada dalam buku ini dan merenggut kenikmatan anda nanti dalam mencerna kata demi katanya, selain karena saya juga sudah tidak tahu harus mengatakan apa lagi.
Yang terakhir kali, setiap penulis punya persembahan dan alasan dibalik penulisan buku-bukunya, kebanyakan diutarakan lewat lembar ucapan terima kasih atau kata pengantar. Tapi di buku ini kita tidak akan menemukan hal semacam itu, karena Mas Tasaro membuatnya sangat pendek tetapi bermakna luar biasa. Sekali lagi, menggetarkan hati saya. Lembar pembuka buku ketiga :
“Ibu ; sembari gemetar ujung-ujung jariku.
Aku tak tahu apakah pernah tersirat kekhawatiranmu mengenai aku. Apapun itu, kisah panjang ini, senantiasa menghubungkan aku denganmu. Engkau ada pada udara yang padanya aku meletakkan kepala. Sebagai pangkuanmu. Mengenang masa kanak-kanakku, tempat engkau selalu menyeka kekalutanku. Masa depan adalah hari ini, dan ragamu tiada lagi. Kutulis perjalanan yang membentang ini … semoga menjadi doa bagimu, sahabat dalam keabadianmu. Ibu … aku rindu.”
Sholawat serta salam selalu tercurahkan kepada Rasulullah.
Semoga kebaikan selalu menyertai kita semua.
Jember, 26/09/16 | humaamdz