Hari 2_Media Sosial - Love&Hate Relationship SocMed
Kali ini Aku akan banyak berkeluh kesah dan curhat seputar pengalaman menggunakan media sosial pada diriku dan orang sekitarku.
Media sosial sudah lama sekali berkembang dimulai pada saat gawai mulai berkembang maka pada saat itu pula orang-orang mulai menggunakan dan mengembangkan cara berkomunikasi jarak jauh. Aku ingat banget dulu pertama kali menggunakan media sosial pada saat SMP mungkin menggunakan aplikasi MXIT di HP apa ada yang masih ingat? BING? kalau YM(Yahoo messanger) apsti ingat dong ya apalagi BBM, FB, twitter, instagram dan lain-lain semua mulai berkembang sesuai dengan kebutuhan berkomunikasi. Waktu jaman masih sekolah dulu media sosial itu seperti dunia baru bagi kami seru banget bisa chatting ngobrol jarak jauh, bahkan kalau lagi bandel bisa chatting di kelas pas jam belajar(jangan ditiru ya) eh mungkin kamu juga pernah ya? Hahaha ups kita simpan rahasia ini baik-baik. Dahulu, sekitar awal mula media sosial exist penggunanya hanya kawula muda saja karena mereka yang lebih mudah memahami penggunaan aplikasi di gawai. Mungkin hanya segelintir orang tua yang menggunakan media sosial itu pun minta tolong anaknya untuk install atau setting HP-nya. Namun saat ini orangtua atau bahkan lansia sudab menggunakan media sosial untuk berkomunikasi. Kembali lagi pada kebutuhan manusia yang juga berkembang.
Media sosial ini bisa menjadi ajang untuk berkomunikasi, curhat, berbisnis, edukasi, bahkan menyebarkan berita bohong(hoaks). Konon katanya memang ada oknum masyarakat yang di upah untuk bekerja sebagai penyebar berita bohong ini. Tujuannya untuk mengadu domba kubu A dan B, atau menyesatkan sebuah berita. Herannya pasti ada saja yang mudah percaya dengan hoaks ini. Memang penggunaan bahasanya meyakinkan para pembaca, serta menyentuh aspek emosi manusia ketika membacanya. Sungguh sudah tersusun dengan rapih.
Berbicara soal hoaks, survey dari Katadata Insight Center (KIC) yang bekerjasama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika serta SiBerkreasi mengatakan 30% sampai hampir 60% orang Indonesia terpapar hoaks saat mengakses dan berkomunikasi melalui dunia maya. Sementara hanya 21% sampai 36% saja yang mampu mengenali hoaks. Kebanyakan hoaks yang ditemukan terkait isu politik, kesehatan dan agama.
Mengapa ya angka diatas masih cukup besar hampir 60% warga Indonesia terpapar hoaks? Setelah ditelusuri ternyata kemampuan mengenali hoaks dan tingkat literasi digital orang Indonesia masih sangat rendah. Tidak heran mudah sekali orang Indonesia yang masih percaya dengan hoaks, parahnya lagi berita tersebut langsung di sebarkan atau di forward ke grup atau media sosial mereka. Jika ditegur atau di ingatkan pasti jawabannya ya gak salah dong hanya share? Buat pengingat saja dan lain-lain alasannya. Bagaimana bisa selesai ya permasalahan hoaks ini dengan karakter orang yang seperti itu?
Soal menyebarkan hoaks ini paling sering ditemui pada WAG orangtua yang sudah memiliki "kubu" masing-masing apalagi pada saat masa pemilihan presiden sangat ramai sekali hoaks ini disebar luaskan, saling mengujar kebencian dan yasudahlah pusing Aku mengingatnya. Sebagai orang yang cukup "gatel" dengan orang-orang yang masih percaya hoaks ini Aku dan suami selalu jadi polisi di grup keluarga atau sebagai pelurus berita, kami mulai mengedukasi keluarga untuk mengenali berita hoaks. Alhamdulillah sudah mulai berkurang untuk langsung menyebarkan berita palsu ini biasanya mereka meminta kami untuk mengecek apakah benar atau tidak. Jujur Aku pernah sampai capek dan ingin keluar rumah aja gara-gara orangtua yang masih percaya hoaks tapi ketika diluruskan beritanya dianggap oposisi dengan kubu yang mereka pilih. Padahal Aku hanya meluruskan berita palsu dan juga mengingatkan bahwa akan ada sanksi dari UU ITE. Sampai menangis, kesal karena dianggap seperti itu, tiap hari debat, kesal, gemes, ah sudah lah. Ternyata sampai seperti itu ya kekuatan media sosial dapat berdampak hingga di dunia nyata. Sadis!
Baik sekarang sudah mulai membaik hubungannya karena sudah bisa mencari berita yang benar dengan googling. Tidak hanya dampak negatif saja seperti hoaks yang Aku rasakan dalam bermedia sosial banyak juga manfaatnya salah satunya perpanjangan nafas kehidupan dengan berbisnis. Pada masa pandemi seperti ini media sosial adalah hal mendasar yang dibutuhkan untuk berjualan karena pertemuan langsung yang dibatasi. Sebagai contoh Aku sudah menggunakan media sosial untuk berbisnis sejak jaman kuliah, berjualan kerudung dan gamis. Lalu saat ini setelah menjadi IRT hasrat berbisnis muncul karena kebutuhan. Sungguh keuntungan dari berjualan hanya seribu dua ribu itu sangat berarti bagi kami. Terima kasih teman-teman yang sudah mendukung para pedagang online. Begitulah kisahku dalam love and hate relationship dengan media sosial.









