Kasihan atau benci?
Aku tidak bisa membedakan perasaan kasihan atau kebencian yang aku tujukan kepada ibuku. Aku kasihan ibu menjadi tulang punggung keluarga sialan ini. Aku kasihan melihat perlakuan bapak yang selalu menyuruh-nyuruh ibuku seenak jidatnya. Tidak. Menyuruh-nyuruh aku, adikku. Menyuruh-nyuruh seisi rumah. Seakan-akan bapak adalah bos yang harus kami turuti. Seakan-akan kami ada pembantunya.
Aku membenci ibuku. Ia yang selalu mau berjuang untuk keluarga. Memakai namanya untuk berhutang kemana-mana. Bahkan dengan bunga yang menurutku sangat besar. Aku sampai geleng-geleng kepala dibuatnya. Bayangkan, kamu memiliki utang dengan bunga hampir 300% lebih per tahun. Dan itu bukan hanya utang ke satu pihak saja.
Aku membenci ibuku karena selalu saja menuruti keinginan bapak. Aku membenci ibuku karena memilih hidup bersama dengan bapak, laki-laki yang tidak pernah menghargainya. Padahal jika mungkin perceraian mereka benar-benar terjadi saat aku SMP, mungkin ia memiliki kesempatan lain untuk hidup bersama orang yang menghargainya. Bukan orang yang membuatnya sengsara dan harus menggadaikan namanya untuk berutang.
Aku sangat membenci bapakku. Bagiku, ia adalah cerminan laki-laki yang seumur hidup, meski di dunia ini tidak ada laki-laki lain tersisa, tidak akan pernah aku jadikan partner hidup orang seperti bapak. Aku selalu menjadikan bapak adalah contoh orang munafik. Tapi kemudian aku sadar, aku juga munafik. Kenapa semakin aku membenci bapak, malah aku semakin menjadi bapak?
Aku benar-benar muak dengan keluarga sialan ini. Aku tidak akan pernah mau dan tidak akan pernah bisa jadi seperti ibukku. Bagiku, ibu adalah orang yang sangat bodoh dan buta, meski ia penuh dengan rasa cinta. Aku benci kenapa ia harus merelakan hanya ada penderitaan dan kesengsaraan dalam hidupnya. Padahal ia tahu ada kesempatan lain untuk memilih kebahagiaan.
Aku sangat membenci ibuku.


















