Tanggal 4 juli 2022. Ada banyak yg ditunggu pada hari ini. Pengumuman LPDP, HPL anakku yang pertama, akhir pendaftaran magister UNPAD 2022.
Tapi semua berakhir menyedihkan. Aku menangis terus menerus. Berhenti, lalu menangis lagi.
Aku peluk suamiku, aku menangis
Aku peluk anakku, aku menangis
Malam ini aku terjaga sendiri, aku peluk diriku sendiri, aku menangis lagi.
Besok, aku akan peluk ibukku, semoga aku tak menangis
Bagi aku, kuliah magister sambil cuti belajar dan membersamai anak adalah doa yg selalu aku bawa dalam percakapan sehari-hari. Tapi rupanya seringkali aku lupa bawa dalam doa.
Awalnya, semua terasa di waktu yg tepat. HPL anakku juli. Perkuliahan awal Agustus. Saat itu aku merasa Allah bukakan jalan. Kemudian aku berjuang untuk mengumpulkan persyaratannya. Mulai dari tes TOEFL yang aku coba sampai 4 kali. Ya, 4 x 550ribu. 4x meluangkan waktu untuk tes. 4 x membangun kepercayaan diri untuk perform lebih baik.
Akhirnya dapet skor TOEFL 510. Lalu aku pun membuat essay, meminta feedback dari ayu, my very best roomate. Dia menemani aku di saat crangky hamil dan sama-sama berjuang untuk bisa dapet beasiswa. Juga sama-sama mencoba bangkit dari kegagalan. Susah sekali bukan, menghibur orang yang putus asa.
Lanjut tes skolastik, skor langsung keluar. Sambil harap-harap cemas...pas pengumuman Alhamdulillah lolos.
Terakhir wawancara. Aku emang kurang persiapan, emang gak bisa boong, emang mudah terpancing untuk jujur apa adanya. Dan negara gak butuh aku yg mau S2 untuk bisa cuti belajar sambil membersamai anakku.
Aku harus menghadapi kenyataan kalo aku harus kembali kerja di Jakarta. Jauh dari anakku :(
Malah sekarang nangis sambil nyusuin. Ini bukan Postpartum syndrom. Aku bukan sedih karena punya anak. Aku sedih karena nanti harus berjauhan. Nanti mompa ASI nya gimana. Nanti payudaranya sakit gimana. Nanti kalo anak aku panas gimana. Kalo dia main hp terus gimana. Kalo dia speech delay atau GTM gimana. Ya Allah...aku harus gimana