ketika kebanyakan orang menyusun list alasan kenapa mereka menyayangi seseorang, saya justru sebaliknya, menyusun list alasan kenapa seharusnya saya tidak menyayangi kamu.
will byers stan first human second
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

ellievsbear
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
KIROKAZE
AnasAbdin
hello vonnie

blake kathryn
Claire Keane
I'd rather be in outer space 🛸

@theartofmadeline
occasionally subtle

祝日 / Permanent Vacation
Lint Roller? I Barely Know Her
Misplaced Lens Cap

Andulka
🪼
Sweet Seals For You, Always
DEAR READER

seen from Singapore

seen from United States

seen from United States

seen from Germany
seen from Türkiye

seen from Germany

seen from United Kingdom
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Singapore

seen from Singapore
seen from Malaysia

seen from Netherlands

seen from Maldives
seen from United States
seen from Brazil

seen from Singapore
@ichafinzaaa
ketika kebanyakan orang menyusun list alasan kenapa mereka menyayangi seseorang, saya justru sebaliknya, menyusun list alasan kenapa seharusnya saya tidak menyayangi kamu.
Percakapan Ibu dan anak,
👩: Mah, langitnya tadi bagus lagi. Liat deh... [sambil ngasih HP]
👵: [ngambil HP] ohhh iya, soalnya siangnya ujan kan ya? biasanya kalo siangnya ujan langit sorenya bagus.
👩: tapi langit bisa berubah-ubah gitu ya, Mah, kemaren merah agak oranye eh tadi pink ungu-ungu gitu...
👵: ya itulah, langit aja bisa berubah-ubah gimana watak orang...
👩: *bengong* *speechless*
ngomongin langit loh ini, kenapa nyambungnya ke yang lain? respon yang sungguh di luar dugaan.
"Elo ngga capek yak dimaenin sama emosi lo sendiri?"
- Rasanya kayak ditampar waktu baca pertanyaan itu dari seorang teman di pesan whatsapp. Saya terdiam beberapa detik, membaca ulang pertanyaan itu dalam hati. Padahal waktu itu bahasan kita lagi ngga serius-serius amat. Emang sih lagi ngebahas foto ajudan menteri yang cakepnya ampun-ampunan, tapi please deh... saya juga ngga seserius itu naksir sama dia. Entah kenapa pertanyaan teman saya itu - yang sebenernya saya tau maksudnya bercanda - justru mengingatkan saya pada hal lain.
Ya, saya capek. Itu jawabannya. Setelah saya pikir-pikir dan mengingat keadaan diri saya sekarang ini. Tapi saya ngga akan menjelaskan ke temen saya itu alasan apa yang bikin saya capek.
Terima kasih buat teman saya itu, karena sudah menyadarkan saya untuk membiarkan hati saya istirahat sejenak.
Nyokap : "Yuyun ultah ke berapa?"
Gue : "30..."
Nyokap : "Yaampuunnn, ga nyangka ya. Berarti tahun ini kamu 29?"
Gue : "Iya."
Nyokap : "Mamah umur 29 anaknya udah 2, Cha..."
Speechless.
Bingung mau respon apa.
Perkara temen yang ulang tahun, gue yang kena imbasnya. -_-
The more I adore, the more I realize that the distance is so far away. Impossibility has never been this real before.
"Umur itu di tangan Tuhan, tapi kesehatan ada di tangan kita."
- sebuah nasehat dari om yang patut direnungkan
Dear you...
"Tiap kali ingin lupa, selalu saja justru diingatkan. Hidup kadang sebecanda itu."
"sama kayak kamu, selalu ceria tapi hatinya sendu."
- seorang teman pada suatu obrolan tentang langit sore
Word.
Me : gimana kalo ada dua orang yang sama-sama sayang tapi sama-sama ngga bilang?
Her : mamam aja tuh sayang! ya berarti dua-duanya ngga cukup sayang satu sama lain. karena kalo beneran sayang, harusnya bilang dong. lagian kenapa ngga bilang aja sih?
---------------------
Saya tertawa getir mendengar jawaban teman saya.
Andai semudah itu bilang sayang.
Jawaban teman saya tidak salah. Mungkin benar, kedua atau salah satu orang itu tidak cukup sayang hingga tidak sampai hati buat bilang sayang.
Tapi saya pikir, bukan tidak mungkin kedua atau salah satu orang itu terlalu sayang hingga enggan bilang sayang.
Lagipula, hati orang siapa yang tahu?
Saya menyadari satu hal,
“kompetensi itu penting, tapi rekomendasi jauh lebih penting.”
"ternyata bukan tentang menanti dan menunggu
tetapi memang telah waktunya tuk bertemu
walau tak selalu berakhir bersama
mungkin nanti kan bertemu kembali"
- 168, Monita Tahalea
"Akun ig lo kenapa? Eror ya?"
Pertanyaan yang sama dari dua orang berbeda di waktu yang hampir bersamaan. Padahal baru tiga hari saya memutuskan untuk deactived akun instagram.
"Kenapa?"
Pertanyaan yang sama kembali terlontar begitu saya bilang lagi deactived akun.
Kenapa? Apa saya harus punya alasan khusus hanya untuk deactived akun instagram? Ketika orang bebas membuat akun instagram, saya rasa orang juga bebas deactived atau delete akun instagram. Tidak perlu alasan khusus.
Tapi saya rasa jawaban itu tidak akan memuaskan hati mereka, maka saya hanya menjawab, "exhausted."
Saya rasa itu jawaban paling tepat. Saya memang lagi dalam fase lelah bermain sosial media. Saya merasa terlalu sering terpaku pada dunia maya. Menghabiskan waktu di dunia maya. Scrolling, tap, like, komen, dan lain-lain. Banyak hal-hal yang tidak saya lakukan karena saya terlalu sering menghabiskan waktu dengan menatap layar 5". Banyak novel-novel yang dulu menjadi wishlist saya, begitu saya berhasil membelinya justru terbengkalai begitu saja. Tidak terbaca. Pekerjaan rumah yang dulu menjadi tanggungjawab saya kemudian tidak saya lakukan.
Saya menyadari hal itu, namun baru benar-benar menyadarinya di libur panjang kemarin. Betapa saya sudah membuang waktu saya dengan percuma.
Sosial media tidak salah. Yang salah adalah cara saya menyikapinya selama ini. Tanpa saya sadari, selama ini bukan saya yang mengendalikan sosial media, tapi justru sebaliknya. Sementara pengaruh sosial media terhadap seseorang bisa sangat besar. Kalau saya terus-terusan dikendalikan sosial media, hidup saya mungkin akan kacau. Maka saya harus bisa kembali pada titik dimana menggunakan sosial media sewajarnya.
Dan tiga hari saya tidak menyentuh instagram ternyata hidup saya baik-baik saja.
"Setiap orang punya hak buat melindungi hatinya. Gimanapun caranya."
- sekalipun itu bukan solusi yang tepat dari sudut pandang orang lain, menghindar misalnya. Bukan lari dari kenyataan, karena terkadang tidak bertemu adalah yang terbaik. Dan orang lain tidak memiliki hak untuk mendikte apa yang seharusnya dilakukan sementara kamu sedang menata hati yang mungkin saja sudah tidak karuan bentuknya.
Need a reset button
Saya teringat pada satu film yang cukup membekas buat saya. Film romansa yang dibintangi Jim Carrey dan Kate Winslet. Bagi yang sudah menonton film ini, pasti tau apa itu Lacuna Inc., sebuah klinik dimana kamu bisa menghapus ingatan tentang sesuatu.
Saat ini, saya sungguh berharap tempat semacam itu benar-benar ada di kehidupan nyata.
Ada hal-hal yang saya ingin hapus dari memori saya. Bukan hanya lupa, tapi saya ingin hilangkan.
Saya ingin membuat segalanya kembali dari awal.
Mengembalikan segala sesuatunya seperti semula.
I need a reset button.
Karena setelah saya renungkan kembali, hal-hal yang ingin saya hapus semua netral pada dasarnya. Semua biasa-biasa saja.
Dan perkara kutipan di bawah ini, yang mungkin menjadi kesimpulan isi film yang ingin disampaikan pada penonton, itu hal lain. Itu di luar kendali saya.
Tapi yang jelas,
saya sungguh ingin menghapus memori saya yang berhubungan dengan dia.
be patient