Saatnya berlari
engkau sudah jauh bermain dan berjalan di tempat, Sudah saatnya bagimu berlari menuju-Nya.

PR's Tumblrdome
Show & Tell
Claire Keane
cherry valley forever
Misplaced Lens Cap
No title available
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

bliss lane
Game of Thrones Daily
Cosimo Galluzzi
Sweet Seals For You, Always

Jar Jar Binks Fan Club
Today's Document
Keni
Doug Jones

No title available
d e v o n
tumblr dot com

Discoholic 🪩
No title available

seen from United States

seen from Türkiye
seen from Bulgaria

seen from Spain

seen from Singapore

seen from Singapore
seen from United States
seen from United States
seen from Bangladesh

seen from Indonesia

seen from Türkiye

seen from Norway

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Spain

seen from Poland
seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States

seen from United States
@idhamalwi
Saatnya berlari
engkau sudah jauh bermain dan berjalan di tempat, Sudah saatnya bagimu berlari menuju-Nya.
Tulip ke-9 ?
Mari kita lihat dahulu apakah benar, karena kita tidak akan pernah tau jikalau belum mencoba.
Dan tak lupa kalimat yang dituliskan pada lembaran-lembaran lalu;
"Bahwa cinta itu bak pena, terjadi dan lamanya ia menulis bukan terletak dari pena itu sendiri, tetapi dari Ia yang memegangnya"
Abroad
Kalimat yang gue rasakan pas pertama kali going abroad:
"Let's conquer the World !"
tapi muncul pertanyaan baru.. why? why must conquer the world?
akhirnya rasa itu berlabuh ke destinasinya yg terakhir: "Let's SAVE the World"
Berlari di Altar Dunia Ke-3
Jauh sebelum terobsesi sama kutu buku yg satu ini, percaya atau nggak, dulu saya pernah melewati fase sebaliknya.
Siapa sangka, di tahun 1956, beliau lebih memilih untuk meninggalkan kursi peraknya di kawasan Medan Merdeka, memilih untuk menjadi negarawan biasa dan kritikus penghias headline surat kabar.
Padahal jika dipikir, kondisi Indonesia yang tidak stabil saat itu membutuhkan manuver-manuver cermerlang dari sosok sehebat Bung Hatta.
Insiden waktu itu seakan mempertanyakan kembali jiwa militan yang pernah ia tontonkan di depan Ratu Wilhelmina dan puluhan arisktorat Den Haag lainnya; Militansi yang telah ia pupuk jauh sebelum berkuliah di Rotterdam.
.
.
Mencoba kembali menilik tulisannya, lambat laut prasangka saya itu ditepis oleh tulisan-tulisan beliau pasca kemerdekaan.
Tulisan-tulisan beliau yang retoris dan mengalir itu seakan berbisik: Bahwa sungguh naif, jikalau republik yg baru seumur jagung saat itu, yg baru saja belajar merangkak di altar dunia ketiga, dipaksa untuk langsung berlari dan menari layaknya negara-negara utara.
Ia paham, bahwa kemerdekaan lahiriah telah dicapai, dan setelahnya adalah rangkaian episode jatuh bangun, belajar dari konflik, dan merasakan sendiri pahit manisnya sistem demokrasi terpimpin yg ia tantang itu, serta bermacam dialektika politik lainnya.
Dari situlah, bangsa yang baru bisa merangkak kala itu akan belajar untuk bisa berdiri, dengan perlahan belajar untuk bisa berjalan, hingga akhirnya bisa berlari menuju asa kemerdekaan yang telah lama didambakan oleh murid-murid sang Raja Jawa Tanpa Mahkota .
Namun, narasi ini kembali mencuap pertanyaan :
“Sudah sejauh mana bangsa ini belajar? Apakah bangsa ini sudah dapat berlari? Atau masih berjalan? Atau baru bisa berdiri?
Atau jangan-jangan ia masih merangkak layaknya tahun 50-an dahulu, tanpa mempelajari sepenuhnya apa yang sudah ia lewati 75 tahun lamanya?”
Berbincang tentang Dia
Jadi, kapan kita melakukan ini semua?
Yakni menikmati lembutnya salju yang tertiup dari Gunung Matterhorn di Zermatt,
serta ramahnya sunset yang menembus McWay Falls di California,
sembari berbincang tentang Dia?
Annemarie Schimmel
Terukir pada batu nisan Anna Marie (Professor Studi Islam di Harvard) perkataan dari salah satu sahabat utama Rasulullah s.a.w:
“Manusia di alam dunia ini seperti terlelap, Ketika mati, barulah mereka tersadar (akan kehidupan yang sebenarnya)”
-Sayyidina Ali r.a
Tak Lebih dari Sebatang Pena
Pada akhirnya, cinta hanyalah manifestasi dari puluhan reaksi kimia yang mengarungi diri.
Ia tak lebih dari sebatang pena; bahwa lamanya ia menulisi lembar hati, indahnya ia mencipta bait puisi, tidak terletak pada keagungan pena tersebut,
namun terletak pada siapa yang memegangnya.
Tetap Menerima
“Jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyuk, maka tetaplah persembahkan doamu yang kering, munafik dan tanpa keyakinan,
karena Tuhan dengan rahmat-Nya akan tetap menerima mata uang palsumu.“
-Jalaluddin Ar-Rumi r.a
Menangis Karena Dekat
“Dan seandainya orang-orang yang bermaksiat itu tahu bagaimana nikmatnya keimanan yang ada di hati kami ini sehingga kami bisa menangis merasakan dekatnya dengan Allah,
Niscaya mereka akan membelah dada-dada kami untuk mendapatkan itu,
karena selama mereka masih bermaksiat, mereka tidak akan pernah bisa merasakannya”
-Ibnu Taimiyah
2019
Ini beda dari biasanya.
Sekitar empat bulan lalu, 2019 singgah dalam memoar peradaban homo sapiens terlama di bumi, dan hampir setiap awal/akhir tahun (sejak 2015), tak lupa selalu saya hadiahkan suara-suara petasan di ufuk indonesia dengan kompilasi kata, diterjelmakan menjadi seelok puisi; manifestasi dari kesyukuran saya di tahun tersebut.
Tapi tahun 2019 itu beda.
Dia adalah tahun puncak. it’…
View On WordPress
Asas Praduga Tak Bersalah
“I hope the time is not far off when I shall be able to unite all the wise and educated men of all the countries and establish a uniform regime based on the principles of the Quran which alone are true and which alone can lead men to happiness”
-Napoleon Bonaparte
(Letter to Sheikh El-Messiri, (28 August 1798); published in Correspondance Napoleon edited by Henri Plon (1861), Vol.4, No. 3148, p. 420)
A piece of evidence, inspiring him to write one of the best law books in history titled “Code Pinale”.
Wujud yang Pasti Ada
“Sistem maha indah yang terdiri atas matahari, planet, dan komet-komet ini hanya mungkin berasal dari rancangan dan kekuasaan Wujud yang cerdas dan perkasa.... Dia abadi dan tak terbatas, mahakuasa dan maha mengetahui; artinya, keberadaannya tak berawal dan tak berakhir; kehadirannya mencakup segala ketakterbatasan; dia mengatur segala sesuatu, dan mengetahui segala sesuatu yang akan atau dapat dilakukan.... Kita mengenalnya hanya melalui rancangannya yang mahabijaksana dan mahaunggul, dan sebab-sebab akhir; kita mengagumi kesempurnaannya; namun kita memuliakan dan memujanya karena kekuasaannya: sebab kita memujanya karena kita adalah hambanya; dan tuhan tanpa kekuasaan, rahmat pemeliharaan, dan kedudukan sebagai sebab-sebab akhir tak lebih merupakan Takdir dan Kodrat. Keharusan metafisikan buta, yang selalu sama di mana-mana, tak akan menghasilkan keragaman. Semua keragaman yang kita temukan pada waktu dan tempat berbeda itu tentulah bersumber dari gagasan dan kehendak sebuah Wujud yang pasti ada.”
-Isaac Newton (dalam The Principia), penganut Arianisme sejati
Samudera Biru
Dosaku menutupi Semeru,
namun ampunan-Mu, tak kuasa Pasifik menampungnya, bahkan berjuta Samudera Biru.
Tentang Rahmat
“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa Rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya”
(QS Fathir: 2)
“Ya Allah, Dzat Yang Mengetahui kelemahan dari memuji Mu, Aku mohon ke-pada-Mu, dengan orang yang paling sempurna dalam memujimu, yang telah Engkau bukakan kepadanya hakikat nama dan sifat-Mu serta kelembutan tajali Dzat-Mu, sehingga ia dapat bermakrifat terhadap kesempurnaan-Mu, dan Engkau telah memberinya ilham untuk memuji-Mu dengan sesuatu yang tidak Engkau berikan kepada yang lain, agar Engkau memberikan rahmat dan salam kepadanya sesuai dengan kesempurnaan-Mu Yang suci dan semoga Engkau meratakan rahmat dan salam itu kepada yang wujud yakni kepada para nabi, rasul, malaikat dan hamba-hamba- Mu yang shalih, Mereka semua mendapat karunia yang agung itu.”*
Aamin ya Rabb, ya Rabb, ya Rabbul Arsyil ‘Adzim
*Do’a dikutip dari Buku “Al Fathur Rabbani Wal Faidlur Rahmani” oleh Syaikh Abdul-Qadir Al Jailani q.s
Whoever loves something other than God will be tormented by it three times in this world: He will be tormented by its lack before he acquires it, and once he acquires it he is tormented by the fear of losing it […] and when he loses it, his torment increases further.
Ibn Qayyim Al-Jawziyyah (via islamic-art-and-quotes)
Tak Pernah Berpaling
Sore itu, Ku seakan lupa dan hampir Berpaling
Cemas, dan juga bias
Cemas bak terbekam dalam sukma
Bias nan terlena cukup lama
Ceroboh, awal gumam ku
Tangkai tulip itu hampir mencelakai pundak ku
Seakan tumbuh duri mawar di celah waktu
Mengajak ku menuju debu,
Yakni keindahan fana, namun layu
Tidak kawan, Dia tak seperti bisikan mereka
Takdir-Nya tak seperti kekecewaan tetua mereka
Yang…
View On WordPress
14 Safar 1440
Jikalau Tulip Biru belum kunjung tumbuh,
Ataupun lapuk menuntut masuk mengharap keruh,
Cukuplah Dia, yang Paling Kasih diantara semua pengasih,
Yang Paling Penyayang diantara semua penyayang.
Maka enyahlah,
Ku selalu dipelukan Ia
View On WordPress