Di kedai kopi, kesedihan itu...
Aku tiba di sebuah kedai kopi sekitar 15 menit lebih awal dari Fuad, Karibku. 1 menit saja membuatnya menunggu adalah kecerobohan yang mesti kubayar mahal, kusebut itu kecerobohan karena akan ada perasaan sedih yang bertambah-tambah hanya karena persoalan keterlambatan. Bagiku itu tak elok ketika kau telah memilih seseorang untuk dijadikan teman.
Perasaan sedih itu jugalah yang menjadi dasar pertemuanku dengannya kali ini, kemarin sebuah pesan Whatsapp masuk di gawaiku, âkupikir hanya kamu yang bisa memahamiku, besok jam 21.00 di kedai biasa.â Itulah awal mulanya.
15 menit pun berlalu, dan tepat jam 21.00 Fuad datang. Kesedihannya sudah tertampak olehku sejak ia melangkahkan kakinya ke meja yang kini sedang kududuki, semakin jelas dugaanku itu saat ia menghempaskan tubuhnya di kursi di seberangku dengan tarikan napas yang amat berat, wajahnya pun tak memperlihatkan sambutan sedikitpun kepadaku yang jelas-jelas datang mendahuluinya, lebih jauh lagi jika ia berpikir (dan biasanya memang seperti itu) ia membebaniku rasa tunggu, bahkan sekadar memberikanku pertanyaan-pertanyaan basa-basi pun tidak.
âIa memintaku untuk menikahinya.â Itulah kalimat pertamanya.
âKau seharusnya tidak bertanya demikian.â
âBaik, aku mengerti.â
Wanita yang dicintainya itu adalah rekanku semasa kuliah, satu jurusan dan satu kelas, namanya Aqila. Banyak hal yang aku ketahui tentangnya, teman-temannya, aktifitas organisasi yang ia tekuni, hingga hal-hal kecil yang suatu ketika aku pernah berhasil menebak warna kesukaannya. Aku memang memperhatikan gerak-geriknya (atau memang karena semua orang aku perhatikan gerak-geriknya? Itu memang kebiasaan yang sulit kuhindari, tapi apapun itu... entahlah). Dan pada saat waktu yang tidak diduga, pada satu kesempatan pertemuan di sebuah acara kebudayaan, kita bertiga bercengkerama, aku, Fuad dan Aqila. Semenjak itu hubungan Fuad dan teman wanitaku itu berlanjut.
Pun dengan Fuad, ia mungkin salah satu teman terbaikku dalam kapasitas saling memahami dan saling memotivasi, terlebih lagi ia adalah teman diskusi yang asyik. Dengan Fuad pula, aku memiliki satu keyakinan bahwa, kapasitas selalu membangun harmonitas. Mungkin aku dan Fuad sudah mencapai taraf itu.
âApa yang membuatmu ragu?â Tanyaku, setelah kekakuan terjadi dalam beberapa detik.
Fuad adalah seseorang teguh pendirian, berprinsip, pintar dan sering kekanak-kanakkan untuk membangun pergaulan, yang terkahir itu aku amat menyukainya. Tapi yang lebih kukagumi lagi darinya adalah kemampuan analitisnya yang selalu membuatku penasaran apa di balik otaknya. O ya, satu lagi, ia memiliki kekuatan dalam memprediksi suatu hal dengan matang dan akurat, aku banyak belajar darinya mengenai itu.
âApakah kau menerima permintaannya?â
âTidak. Maksudku belum.â
âTahukah kau, ketika dua jawaban muncul, terkadang yang pertamalah yang paling kuat.â
âItu kata-kataku pekan lalu.â
âSebab itu aku mengingatkan.â
Fuad kini bekerja di dua tempat, di sebuah korporasi dan perusahaan media. Sebuah keputusan yang awalnya sempat tak kupercaya, karena ia mengimani konsep fokus dalam 1 hal dengan segala embel-embelnya. Dan aku tahu, dua pekerjaan itu amat membutuhkan pembagian konsentrasi otak yang mumpuni. Sebaik-baiknya ia di mataku, tetap ia belum sampai pada tahap memberhasilkan dua pekerjaan dengan maksimal dan memuaskan sekaligus. Yah, hanya orang-orang tertentu, dan itu bukan Fuad. Tapi setelah ia menjelaskan keputusannya untuk bekerja di dua tempat itu, kini aku mengerti tapi cenderung menyayangkan. Ia menggadaikan impiannya (paling tidak, dalam kurun waktu dekat ini) demi kemapanan finansial yang telah ia pikirkan untuk keberlangsungan hubungannya dengan Aqila. Dan tentu saja, pikiran itu datang jauh sebelum permintaan pernikahan dari Aqila tempo hari yang lalu.
âSudah seberapa jauh kemapanan finansial yang ingin kau capai itu?â Tanyaku.
âBaru ukuran melangkah.â Jawabnya, walaupun aku mengerti ukuran langkahku dengan ukurang langkahnya terkadang berbanding 2 sampai 3 kali lipat.
âSatu pertanyaan yang selama ini ingin kutanyakan dan selalu tertahan.â
âApakah Aqila mengetahui perjuanganmu?â
âUntuk apa kuberitahu bila ia mampu mencari tahu.â
Aku terkejut dengan pernyataannya, nada suaranya sedikit meninggi.
 Kembali pada Aqila, atas dasar kepedulianku terhadap Fuad. Hingga kini aku masih mengamati tingkah lakunya baik di dunia nyata maupun maya, satu hal yang tidak kusuka darinya adalah ia tetap tidak berubah, tidak berkembang dan tidak bertumbuh. Ia masih seorang wanita yang sulit membuka tabir warna kehidupan antara hitam dan putih semata, tidak banyak memberi kesempatan kepada hal-hal yang berlawanan dalam pikiran dan keyakinannya, walau sekadar untuk menambah cakrawala pengetahuan dan wawasannya. Bukankah dua unsur itu adalah harga mati untuk memandang kehidupan agar lebih bijaksana? Dua unsur itu pula yang mampu menyelamatkan kita dari keruh-peliknya kehidupan?
Ia juga masih sempit dalam alam pikirannya, lingkungan serta orang-orang terdekatnya tidak banyak membantu untuk membekali dirinya untuk menjadi pribadi tangguh dan jauh lebih kuat. Dalam hal-hal tertentu ia juga mudah goyah dan mudah terpengaruh oleh rekan-rekannya yang sama sempitnya. Bayangkan orang-orang sempit mempengaruhi orang sempit? Aku sempat berkeyakinan permintaan pernikahannya itu tidak murni datang dari keutuhan hati dan pikirannya, tapi hanya sebatas desakan pengaruh orang-orang, lingkungan, pergaulan, serta pikirannya yang sempit yang tidak sanggup ia bendung. Aku teringat sabda serta prinsip yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW, âjika kau kesulitan untuk mengenali seseorang, maka kenalilah siapa temannya. Itulah dia.â Dalam kasus ini aku percaya dengan prinsip beliau.
Ia sebenarnya sangat bisa, tapi masalahnya aku tidak memahaminya sejauh mana ia mau? Sejauh mana ia mendatangkan kemauan itu?
Fuad bukan tak mengerti soal itu, tapi alasan tetap mencintainya adalah berkat kelembutan serta kehalusan hatinya yang sulit ia temukan pada wanita-wanita lain. Aqila lugu dan sangat jujur, dua hal itu jugalah yang masih ia yakini.
 âLalu, apa yang akan kau putuskan?â Tanyaku.
âMeninggalkannya dan tak melupakannya.â Jawabnya.
âAku kira yang terakhir adalah yang paling kupahami.â
âTidak pernah ada yang sanggup untuk benar-benar melupakan.â Ia menatapku dalam dan hampir-hampir berurai air mata.
âKita hanya bisa menerimanya dan berdamai.â Aku berusaha menghentikan air mata itu agar tidak tumpah di hadapanku, dengan menimpali kalimat berikutnya semampuku.
 Aku dan Fuad memiliki satu penulis yang sama-sama kita sukai dan kagumi, dia adalah Dea Anugrah, penulis muda berbakat tanah air dalam kanonis sastra. Ia pernah berkata dan kata-katanya itu sama-sama kita hafal. Bunyinya âPada suatu waktu orang-orang yang berduka bakal berdamai dengan kehilangan dan menyadari bahwa apa-apa yang tak kembali mungkin saja tergantikan.â
 Tak lama kemudian, Fuad pamit. Dan aku memahami keadaannya yang amat butuh kesendirian agar ketenangan menghangatkan pikirannya. Kukira, tradisi itu yang sama-sama kita pegang teguh. Sebelum ia raib dalam pandanganku, aku berbisik, âFuad, kau layak mendapatkan yang lebih baik. Kapasitasmu pantas dihargai oleh orang-orang yang lebih berharga, dan perjuanganmu hanya pantas untuk orang-orang yang memahami pejuang.â Dan itu bukan Aqila, aku sudah mengetahuinya lama sekali, maafkan aku. Aku yakin kau mempercayaiku.