Nolan dan Odyssey: Perjalanan Pulang, Kompleksitas Pria dan Ketuhanan
Terkadang, film bisa menjadi media pembawa pesan yang bisa mengubah pemikiran seseorang dan bahkan menjadi panduan menjalani kehidupan setelahnya. Film The Odyssey yang baru dirilis minggu lalu adalah salah satunya.
Secara cerita, sebenarnya tidak ada yang terlalu banyak diubah oleh Christopher Nolan dari naskah asli ciptaan Homer. Namun, sekali lagi, Nolan menunjukkan kepiawaiannya sebagai storyteller handal yang mampu mengemas pesan-pesan penting kepada penonton secara indah melalui kemegahan audiovisual yang disajikan. Penggambaran yang diberikan Nolan dalam film The Odyssey seakan memperdalam makna dari kejadian-kejadian yang ada di buku aslinya.
Setidaknya ada tiga pesan utama yang saya tangkap dari film tersebut (maupun film-film Nolan sebelumnya) yakni Perjalanan Pulang, Kompleksitas Pria, dan Nilai Ketuhanan.
#1 Perjalanan Pulang Seorang Pria
Film ini dan film Nolan sebelumnya seperti Inception, Interstellar, dan The Dark Knight Rises sebenarnya memiliki premis eksplisit yang sama: perjalanan pulang. Inception bercerita bagaimana Cobb ingin bertemu dengan anak-anaknya, Interstellar juga demikian, dan The Dark Knight Rises memperlihatkan bagaimana Bruce Wayne berusaha keluar dari Lazarus Pit (begitu ia disebut) untuk pulang kembali ke Gotham. Secara implisit, film Nolan lainnya seperti Memento dan The Prestige juga bercerita tentang perasaan untuk segera pulang walau "rumah"-nya telah tiada. Pada film The Odyssey, perjalanan pulang menjadi pesan utama. Odysseus perlu 20 tahun untuk kembali ke rumah setelah kemenangannya di Troya dan melewati banyak ujian dalam perjalanannya.
Hal menarik dari semua perjalanan pulang tersebut, Nolan memperlihatkan betapa kuat keinginan seorang pria untuk pulang. Namun, di tengah kekuatan keinginan tersebut, pria-pria ini juga sangat ringkih dan sembrono sehingga membuat perjalanan menjadi semakin panjang. Dalam kisah Odyssey, perjalanan semakin lama karena kegegabahan Odysseus ketika menyakiti Cyclops dan menentang para dewa. Di Inception, Cobb bisa saja lebih cepat pulang (jika memang benar dia pulang) kalau tidak pergi ke limbo. Di Interstellar juga sama, kita sama-sama menyaksikan ke-"sok tahu"-an Cooper menjelajah angkasa. Tapi pada akhirnya, semua berhasil sampai ke rumah. Mungkin ini yang ingin disampaikan langsung oleh Nolan: seberat apapun jalan pulang, seberat apapun kesalahan masa lalu, seorang pria selalu ingin pulang karena rumah adalah hadiah terbaik.
Selain itu, Nolan juga ingin menjelaskan bahwa hambatan-hambatan yang ada ketika pulang sesungguhnya adalah pelajaran dan berkah Tuhan. Hal ini sangat eksplisit disampaikan oleh Nolan dalam scene Agamemnon yang memperingatkan Odysseus untuk tidak terburu-buru pulang. Seperti yang kita tahu, Agamemnon sangat cepat mencapai rumah, tapi justru ia mati setelahnya karena pengkhianatan istrinya sendiri.
Pada akhirnya, saya diajarkan bahwa perjalanan pulang memang tidak mudah, dan memang seharusnya seperti itu. Yang perlu dilakukan hanyalah menjalaninya. Kehidupan adalah perjalanan panjang dan memang harus dilalui. Sehati-hati apapun kita untuk tidak jatuh, jika memang Tuhan menakdirkan untuk jatuh, yang kita lakukan hanyalah bangun dan berjalan lagi. Ini tercermin dari betapa kesalnya Odysseus ketika sudah memperingatkan awak kapalnya untuk tidak memakan ternak di pulau dewa matahari, tapi mereka tetap memakannya sehingga mereka pun harus menerjang badai hebat.
Ada kutipan bagus yang kini saya pedomani yang bisa merangkum perjalanan pulang ini: "Speed means nothing, when the journey is built on patience."
#2 Kompleksitas Pria
Benang merah lainnya yang ada di film Odyssey dan film Nolan lainnya adalah kompleksitas seorang pria. Pesan ini sangat terlihat di Oppenheimer dan The Prestige. Dalam kisah Oppenheimer, kita melihat bagaimana pada akhirnya J. Robert Oppenheimer memiliki perasaan yang sangat kompleks ketika "bom atom" ciptaannya, yang tadinya dibuat untuk menjaga perdamaian, justru membuat penderitaan di belahan dunia lain. Hingga akhir hidupnya, ia hidup dalam perasaan menyesal walaupun ia dikenang sebagai pahlawan perang.
Kompleksitas pria lainnya juga diperlihatkan dalam film The Prestige, di mana Robert Angier sudah diberitahu oleh asistennya bahwa trik sulap yang dilakukan pesaingnya sebetulnya hanyalah trik sederhana. Namun, obsesi Robert tak terbendung. Ia tetap bersikeras sepanjang film bahwa pesaingnya memiliki sihir atau teknologi canggih yang membuatnya bisa melakukan body double. Kita tahu bagaimana obsesi pada akhirnya justru membunuh seorang pria.
Odysseus juga melakukan hal yang kurang lebih sama. Kecerdikan dan kemenangannya justru menjadi kutukan terbesar yang ia terima. Ia mengira setelah mengalahkan Troya, semua akan baik-baik saja, nyatanya tidak. Ia mengira setelah bertaubat pasca seluruh awaknya mati, hidupnya akan lancar, nyatanya juga tidak. Yang lebih kompleks lagi adalah bagaimana ia tetap berangkat ke Troya walaupun ia tahu itu akan menjadi perjalanan panjang. Kompleks memang. Terlebih jika pria tersebut adalah seorang suami, ayah, dan pemimpin perang, kompleksitasnya akan semakin menggunung.
Dalam narasinya, Nolan seakan ingin bercerita: pria-pria ini berhasil meraih kemenangan yang mereka usahakan, tapi "at what cost?". Kemenangan yang hakiki justru kadang terlahir dari penderitaan yang mencapai nadir. Carl Jung pernah berkata, "The strong man must somewhere be weak, somewhere the clever man must be stupid, otherwise he is too good to be true and falls back on pose and bluff."
#3 Nilai Ketuhanan
Buat saya, nilai ketiga ini adalah yang menempatkan film Inception, The Odyssey, dan The Dark Knight Rises menjadi top 3 film Nolan. Dalam Inception, kita melihat secara gamblang bahwa Cobb, sang arsitek dunia mimpi, sangat canggih membuat dunia-dunia buatan, tapi ia bukan Tuhan. Istrinya menjadi korban dalam percobaan inception pertamanya. Untuk menebusnya, ia harus mengakui bahwa ia tidak berdaya menyelamatkan istrinya dari limbo, dan move on. The Dark Knight Rises juga sama: ia mencoba berkali-kali melompati Lazarus Pit menggunakan tali, dan gagal. Akhirnya, ia tahu bahwa sebelumnya ada anak kecil yang berhasil melompatinya tanpa tali. Di sana, keimanannya diuji. Ia sempat ragu untuk melepas tali itu. Namun, pada akhirnya, keyakinan terhadap Tuhanlah yang membawa Bruce Wayne kembali ke Gotham.
Odysseus juga sama. Banyak sekali line indah yang menunjukkan kuasa Tuhan. Setidaknya ada dua yang menempel di kepala saya hingga sekarang. Pertama, ketika Odysseus bertanya pada Athena kenapa Tuhan tidak bicara dengan cara yang bisa dipahami manusia, Athena menjawab: "Who doesn't understand thunder? Fire? A child's smile?" Bagi Athena, tanda-tanda Tuhan sudah ada di mana-mana, dalam petir, api, bahkan senyum anak kecil. Manusia justru terlalu sibuk mencari tanda yang rumit, sampai lupa bahwa tanda itu sudah gamblang di depan mata sejak awal, persis seperti penderitaan dan bencana yang sering kita anggap tak bermakna, padahal barangkali maknanya sudah sejelas petir yang menyambar.
Kedua, ketika Odysseus hendak kembali ke Ithaca menggunakan rakit seadanya, narator berucap, "Stop Fighting, Stop Controlling, Just Live." Ini adalah pesan yang menusuk bagi pria-pria seperti Odysseus yang terbiasa menang dan mengontrol. Ketika waktunya datang, Tuhan akan menyadarkan kita siapa jagoan yang sesungguhnya.
Sebagai penutup, rangkaian cerita tadi justru mengingatkan identitas saya yang hakikatnya hanyalah seorang manusia. Dan sebagaimana yang ditulis dalam Surat Taha ayat 132, tugas manusia hanya satu di dunia ini, yakni salat, karena segala rezeki telah diatur oleh Allah SWT.









