
pixel skylines

roma★
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

tannertan36
he wasn't even looking at me and he found me
art blog(derogatory)
Keni
I'd rather be in outer space 🛸
DEAR READER

Kiana Khansmith
Claire Keane
NASA
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
No title available
trying on a metaphor
Today's Document

❣ Chile in a Photography ❣

izzy's playlists!
TVSTRANGERTHINGS
d e v o n

seen from Germany
seen from Venezuela

seen from Malaysia

seen from United States
seen from Uzbekistan
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
@ingredientsofmylife
30an
Tadi saya menelusuri tumblr sampai pada tulisan di saat memasuki tahun 2015 dimana saya akan berusia 25 tahun. Di situ, saya membandingkan diri saya menuju usia 25 dengan diri saya saat masih kuliah. Kini saya sudah melewati usia 30, rasanya saya ingin juga membandingkan dengan saya yang dulu.
1. Saya masih sering mengalami identity crisis, terutama akhir-akhir ini. Ini membuat tidak nyaman, sama seperti identity crisis yang dulu pernah saya alami beberapa kali. Bedanya, kali ini pemicunya agak sedikit berbeda dan cenderung pada konsep yang lebih abstrak, seperti saya ingin menjalani hidup yang seperti apa.
2. Ternyata dulu saya sangat ingin berkontribusi, untuk apapun itu, melalui apapun itu. Sekarang, sangat jarang terbesit ide mengenai kontribusi. Bekerja ya bekerja, belajar ya belajar. Bahkan, saya semakin kehilangan ketertarikan pada bidang yang saya geluti. Ekonomi? bisa apa saya di bidang ini? Mungkinkah ini yang disebut reality hits me hard? Padahal kalau dipikir-pikir, yang saya kerjakan juga setidaknya berkontribusi pada kebijakan. Tapi dalam prosesnya, lebih sering fokus pada yang dikerjakan tanpa mengingat nama kontribusi.
3. Saya tidak hanya kehilangan ketertarikan pada bidang yang digeluti, tapi juga pada banyak hal dan isu-isu yang ada. Jangankan tentang G20 atau krisis komoditi, mungkin saya satu-satunya orang Indonesia yang tidak mengikuti perkembangan kasus Brigadir J. Tapi ternyata hal ini sudah mulai terjadi di usia 25an saya. Awal mulanya adalah ini merupakan upaya saya yang sering memikirkan segalanya terlalu dalam untuk sedikit lebih bersantai dengan keadaan. Eh ternyata keterusan. Sebenarnya ini bagus untuk diri saya sendiri tapi tidak bagus dalam hubungan dengan orang lain. I need to correct this one.
4. Melihat langit masih menjadi sumber kebahagiaan saya. Bedanya akhir-akhir ini saya lebih menikmati langit pagi hari, karena tidak punya kesempatan untuk menikmati langit malam berbintang. Kangen juga euy ngomongin perbintangan. Tapi langit biru awan putih memancarkan kesegaran dan ketenangan sekaligus yang memenuhi tabungan kebahagiaan saya di hari itu. Bekal yang indah.
5. Oiya, saya tidak lagi menggalau tentang karir apa yang akan digeluti. Lucu juga mengingat-ingat saya ingin menjadi guru SMA, guru TK, psikolog, penulis, dll hehe. Sekarang ini lebih ke jalanin aja yang ada. Sering sih terbesit pengen pindah kerjaan yang gajinya lebih besar, terutama kalau abis ngobrol sama teman yang gajinya tinggi-tinggi hehe. Tapi, saya tahu saya tidak akan punya keberanian untuk melakukannya. Saya terlalu malas beradaptasi dengan lingkungan kerja yang baru. Jadi, alih-alih pindah kerja, saya lebih fokus pada melihat keuntungan apa yang bisa saya optimalkan dari pekerjaan ini, misal kesempatan training, sekolah, dll.
6. Saya masih belum menikah. Hal ini juga terkait poin 1. Karena menikah adalah fase kehidupan selanjutnya, hal ini sering menjadi pertanyaan saya dan membuat saya sering mengalami identity crisis. Kehidupan seperti apa yang saya inginkan selanjutnya, kehidupan pernikahan seperti apa yang saya inginkan, orang seperti apa yang saya inginkan untuk menjalani kehidupan itu bersama. Berbagai jawaban yang muncul kadang kala kontradiktif satu sama lain dan menjadi pemicu identity crisis. Yang membuatnya bertambah sulit adalah karena ini tidak hanya melibatkan saya seorang. Huft.
7. Sejak Januari 2022 saya memutuskan untuk tidak menonton drama apapun! Sebuah lompatan besar karena hobi itu begitu melekat dalam hidup saya, hehe. Sebenanya ini dalam upaya mengikat kaki dalam realita yang ada, yaitu kehidupan saya sendiri. Padahal sebenarnya banyak insight yang bisa didapat dari menonton kehidupan lain yang disajikan dalam drama, layaknya membaca buku fiksi. Tapi, banyak juga efek samping yang kadang membuat kita tidak terlalu menghargai realita sendiri. So far, agak hampa sih tanpa nonton darma tuh...
8. Semakin tua malah semakin malas bermimpi ya. Tidak seperti jaman masih muda dulu, bermimpi saja sudah membuat bahagia. Kalau sekarang, bermimpi pun seperti tahu ujungnya bagaimana jadi sudah sangat berkurang gemercik api kebahagiaannya. Again, reality hits me hard. Jadi, bisa dibilang, bermimpi yang realistis aja lah. Malah lebih ke pesimis sama impian yang terlalu tinggi.
Segitu dulu kali ya.
Apakah saya 10 tahun yang lalu akan kecewa melihat saya yang sekarang ya? hemm
Suasana baru dan kecemasan (?)
Hidup udah sampai di titik dimana ingin suasana baru saking begitu-begitu aja sehari-harinya. Singkat cerita, saya dan teman-teman kantor mendaftar short course ke Jepang karena lumayan lah bisa pergi ke Jepang sebulan sama teman kantor, belajar sama teman baru di sana dengan lingkungan baru. Meksipun harus bikin mini thesis, tapi rasa senang akan adanya kesempatan bertemu suasana baru itu lebih besar dibanding rasa pusing yang akan dihadapi nantinya.
Alhamdulillah, saya diterima pada program tersebut. Tapi sayangnya, teman-teman saya tidak. Senang tapi kecewa juga. Karena artinya saya akan sendirian di sana, dan menghadapi suasana baru sendirian. Bahkan perwakilan dari Indonesia juga hanya saya seorang. Ini pasti akan beda dari waktu s2 kemarin karena masih ketemu beberapa orang Indonesia di sana. Ada sedikit rasa cemas timbul.
Program pun telah dimulai secara online terlebih dahulu awal bulan ini. Peserta dari beragam latar belakang pendidikan, pekerjaan, dan kebangsaan berkumpul. Mengingat waktu s2 di Jepang saya berada di kelas internasional dan tidak berkesempatan sekelas bareng orang Jepang, kali ini saya sangat excited karena pesertanya banyak dari Jepang! Bahkan peserta di luar Jepang hanya 13 orang termasuk saya. Hmm, gimana ya rasanya belajar bareng sama mereka >o<
Tapi, kecemasan lainnya timbul. Karena akan berada di suasana baru, pasti akan terlibat percakapan-percakapan yang beragam. Makin ke sini, wawasan umum saya makin sempit entah karena memang kurang tertarik atau memang tidak mencari tahu isu-isu yang berkembang TTcTT. Apakah saya bisa mengimbangi percakapan ini itu nantinya, huft.
Untuk saat ini masih sedikit cemas namun banyak senangnya. Kedepannya, mari dibangun kembali rasa ketertarikan pada berbagai hal!
Ps.
Peserta dari Jepang bahasa inggrisnya bagus-bagus. Luvv.
Saya bukan peserta tertua! Yess
Kembali
Saya mulai jarang menulis. Bukan hanya frekuensinya, bahkan jumlah kalimatnya pun semakin singkat. Dari yang sering menulis panjang di tumblr tentang berbagai hal, menjadi menulis caption di postingan instagram atau bercerita di instastory. Tapi akhir-akhir ini, itu pun jarang. Bahkan cerita lewat whatsapp juga tidak sesering itu. Apa yang terjadi dengan saya? >,<
Kalau dipikir-pikir, apakah karena saya mulai beralih menjadi bercerita secara verbal untuk mengungkapkan momen/perasaan/emosi? Ada kalanya memang sesi obrolan itu bisa mencapai 1-2 jam, bahkan lebih.
Tapi seringkali juga, pikiran/emosi itu berkutat di dalam benak saja, tanpa terungkap secara verbal ataupun tulisan. Kemudian menumpuk tak karuan. Lalu tertutup oleh hal lain. Lalu tertimpa lagi oleh emosi baru. Lalu memuncak menggunung. Lalu tertutup lagi, tak sampai keluar.
Meskipun bisa diutarakan, didiskusikan, dicurahkan kepada orang lain pun ternyata saya menyadari itu semua tidak akan efektif jika saya tidak berkomunikasi dengan diri sendiri. Proses kontemplasi dengan diri sendiri pun harus melibatkan kegiatan menulis untuk mengikatnya.
Untuk menuliskan satu tulisan, kita berpikir tentang apa yang ingin diungkapkan, bagaimana mengungkapkannya, mencoba menyusunnya agar lebih mengalir. Memilih kata per kata, lalu menghapusnya, mengganti dengan yang lebih pas. Proses ini membantu kita menemukan diri kita sendiri. Membantu kita lebih jujur. Memberi kesempatan kita mengutarakan semuanya terlebih dahulu tanpa intervensi pihak lain.
Setelahnya, kita bisa membacanya kembali, mengingatkan bahwa kita pernah melalui hal tersebut, dan melihat bagaimana kita bertumbuh. Sungguh proses yang indah :”
Dengan meninggalkan kegiatan menulis ini membuat saya menyadari betapa banyaknya saya kehilangan momen bertumbuh tersebut. Saya juga kehilangan sosok diri sendiri yang biasa saya ajak ngobrol tentang banyak hal. Padahal hanya dia yang mau mendengarkan dan ikut berpikir wkwk.
Sudah separah itu sampai akhirnya tidak bisa dibiarkan lagi. Kita harus kembali pada dunia tulis menulis ini! Welcome me! Mohon kerjasamanya lagi ya, hei aku.
Hari-hari tanpanya
Hari-hari tanpanya, tetap berjalan sebagaimana mestinya. Ternyata benar, keluarga yang ditinggalkan hanya akan berduka beberapa hari atau minggu saja. Mereka tetap menjalani hidup seperti sebelumnya. Tapi, tentu saja dengan perasaan yang berbeda. Tentu saja ada rasa kehilangan, ada yang aneh, ada yang kosong, ada yang berbeda.
Kami paling suka membicarakan kenangan dengannya. Kenangan bahagia membuat kami rindu padanya, namun kenangan pahit membuat kami kasihan padanya. Keduanya dapat berujung pada tetesan air mata kami, entah karena bahagia dan ikhlas atau karena menyayangkannya. Dan yang paling ujung dari momen mengenangnya adalah doa dan harapan untuknya di sana.
Setelah direnungi, yang paling membuat kami khawatir atas kepergiannya adalah bukan karena kami tidak bisa hidup tanpanya, kami semua sudah dewasa dan dapat mengurus diri sendiri. Mungkin berbeda jika keluarga yang ditinggalkan adalah istri yang masih muda dan anak yang masih kecil. Kehilangan tulang punggung keluarga adalah masalah besar.
Tapi beliau sudah tidak lagi menjadi tulang punggung keluarga dalam beberapa tahun terakhir, tentu kami tidak kehilangan tulang punggung keluarga. Keluarga kami masih bisa tegak.
Perannya bagi kami adalah seperti pohon yang kokoh. Pohon tempat berteduh, tempat bersandar, tempat mencurahkan banyak hal. Selalu ada di sana untuk kami, kapanpun. Kami pergi dan datang sesuka hati, tapi dirinya selalu di sana, tak beranjak kemana-mana. Kami bercerita banyak hal dan dirinya selalu ada untuk mendengarkan. Kau tahu kan bercerita kepada pohon akan menenangkan karena kau tidak akan dihakimi olehnya, tidak akan dimarahi, atau bahkan direndahkan.
Pohon ini lebih spesial lagi karena ia bisa menemukan hal positif darimu dan akan memberitahumu bahwa kau adalah orang yang hebat. Ia akan menjadi yang paling bahagia jika kau bahagia, dan ia akan menguatkanmu jika kamu lemah dan bersedih.
Dan kau juga akan bahagia jika bisa membuatnya bahagia. Bahkan membuatnya bahagia tidaklah sulit. Memberinya camilan enak akan membuatnya bahagia dan memuji pemberianmu seakan kau membelikannya barang mewah. Menceritakan sedikit saja prestasimu meskipun hanya sekedar berhasil memasang gas ke kompor akan membuatnya bahagia dan membuji dirimu seakan kau memenangkan kejuaraan nasional.
Pohon itu kini sudah tumbang. Meskipun begitu, kami tetap bisa hidup tanpanya.
Yang paling membuat kami khawatir bukan karena kehilangan tulang punggung ataupun pohon.
Yang paling membuat khawatir adalah karena kami meninggalkannya sendirian di sana, seorang diri, di tahap kehidupan selanjutnya. Apakah amalan baiknya yang menemaninya di sana ataukah amalan buruknya, apakah dilapangkan atau disempitkan tempat tinggalnya di sana, apakah ditampakkan potongan surga ataukah neraka padanya.
Tentu saja kami akan terus mendoakannya. Kami akan berusaha memperpanjang amalannya hingga sampai padanya sebagai cahaya yang menemaninya di sana. Kami juga akan terus berdoa agar perasaan ini tidak akan pernah hilang. Insya Allah.
Mencoba mengerti
Apakah orang yang mendengarkan musik sangat kencang hingga kalau kita bicara harus teriak itu karena mereka sebenarnya berusaha untuk mengalahkan suara yang ada di pikiran mereka?
Mencerna kritikan
Sebelum masuk ke dalam hati, saya selalu mencoba untuk mencerna kritikan. Sebagian besar kritikan tidak sampai masuk ke hati, mungkin karena hal yang dikritik bukan hal prinsipal bagi saya atau saya berhasil mencernanya hingga kritikan diproses secara objektif tidak pakai hati. Tapi ada juga yang gagal cerna, hingga terlanjur diproses pakai hati.
Kali ini kritikan yang datang adalah tentang kedewasaan. “Semoga kamu bisa lebih dewasa..” katanya. Sebenarnya itu hanya sebuah kalimat harapan, tapi terdengar seperti teguran bagi saya yang saya anggap sebagai kritikan yang perlu saya cerna. Dan topik ini termasuk hal sensitif bagi saya. Rasanya seperti saya dapat ranking 1 tapi ucapan selamat yang diterima adalah, “Semoga nilai kamu bisa lebih baik lagi kedepannya.”
Itu karena selama ini saya menilai bahwa saya cukup dewasa dalam hidup ini. Tentu saja kedewasaan bukan hal yang harus diumbar-umbar, dan masalah yang dihadapi hingga membentuk kedewasaan itu juga bukan konsumsi umum. Tidak semua paham proses yang sudah terlalui hingga mencapai titik ini. Sebagian besar masalah berat terlalui dalam “diam” dan “kesendirian” sehingga sebagian besar orang menilai bahwa orang ini baik-baik saja tanpa masalah. Saya tidak masalah dengan anggapan ini, justru merasa ini adalah prestasi. Tidak semua orang bisa melalui hal berat dan terlihat baik-baik saja. Saya juga tidak perlu membuktikan kepada siapa-siapa tentang sesuatu yang saya anggap “prestasi” ini.
Tapi saya jadi ingin memikirkan kembali seutas kalimat itu. Bagian dari hidup saya yang mana yang ia lihat sehingga bisa menyimpulkan seperti itu? Mungkin ketika saya menilai diri sendiri memang melewatkan bagian itu? Jika dalam 10 pertanyaan, saya berhasil menjawab 8 pertanyaan dengan benar dan menilai kemampuan saya sudah baik, berarti orang itu melihat di 2 pertanyaan yang saya salah menjawabnya. Padahal saya sendiri mungkin sudah tidak terlalu peduli dengan 2 pertanyaan itu. Tapi, meskipun saya sudah lupa, bukan berarti 2 pertanyaan itu tidak pernah ada. Dan ini menjadi momen refleksi diri bagi saya.
Beginilah cara saya mencoba mencerna kritikan. Karena pada dasarnya, kita lah orang yang paling tahu tentang jalan cerita diri ini, sementara opini orang lain hanya dirangkum berdasarkan beberapa adegan atau episode tertentu. Nilai dan pendapat diri kita tentang diri kita, itulah yang paling penting. Tapi konsep ini tidak berarti kita berhak menjadi sombong: meremehkan orang lain dan menolak kebenaran. Makanya, mencerna untuk melihat kebenaran itulah kuncinya. Meskipun hanya sekilas, yang dilihat orang lain mungkin memang kebenaran, dan jangan kita tolak bagian itu.
Waktu tunggu
Teorinya adalah segala hal ada prosesnya dan proses itu ada waktunya. Tapi saya manusia biasa yang selalu lupa, dan selalu menyalahkan sifat manusia yang sering lupa jika sudah lupa begini. Seringkali inginnya instan, bahkan lebih cepat daripada mi instan, seperti mi gelas yang tinggal seduh aja gak perlu rebus mi. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, yang instan pun tetap ada waktu tunggunya. Mi gelas pun tetap harus ditunggu untuk dapat dimakan, tidak serta merta diseduh langsung dapat dimakan. Mi nya masih keras.
Setelah menyadarinya, saya pun meredam ketergesaan itu dan rela berada di waktu tunggu. Oke, di waktu tunggu ini apa yang bisa saya lakukan ya. Ternyata, pikiran saya tidak berada di waktu tunggu. Pikiran saya masih melompat-lompat ke berbagai penjuru, siapa tahu bisa menemukan titik temu. Tentu saja, waktu tunggu bisa dimanfaatkan sedemikian rupa, setidaknya tidak ingin menyiakan waktu. Ya sudah, saya biarkan saja dia begitu, hingga lelah sendiri. Lelah dan sadar bahwa memang ternyata ada yang benar-benar disebut waktu tunggu.
Setelah lelah, akhirnya saya sudah benar-benar rela berada di waktu tunggu yang sesungguhnya, tanpa pikiran yang menggebu-gebu. “Kamu sudah melakukan semua yang bisa dilakukan, kamu juga sudah memikirkan apa yang bisa kamu pikirkan,” begitu pikir saya. Sekarang, saatnya untuk menunggu. Sedikit demi sedikit, benih itu akan muncul. Sedikit demi sedikit cahaya itu akan masuk. Sedikit demi sedikit pintu itu akan terbuka. Tapi, si “sedikit demi sedikit” itu, kita sendiri yang harus jeli melihatnya saking “sedikit”nya.
Kerelaan berada di waktu tunggu tanpa melakukan dan memikirkan apapun, apakah itu yang disebut pasrah? Tentu saja saat saya bilang tanpa melakukan apapun, ada sesuatu yang tetap saya lakukan. Berdoa. Hanya itu yang tidak bisa ditinggalkan. Terlepas dari doa, apakah kondisi itu disebut pasrah? Saking lelahnya dengan pikiran dan perbuatan yang sudah dilakukan, saya hanya ingin menyerahkan nasib ini pada ketentuan ilahi. Sepertinya, memang waktu tunggu itu adalah saatnya berpasrah.
Sebagai pengingat
Nanti kalau punya rumah sendiri, saya mau pajang kaligrafi surat al-mulk gede-gede di ruang keluarga biar setiap lewat, duduk-duduk, ataupun bengong di sana ngeliat itu jadi ingat bahwa hidup di dunia adalah ujian untuk menentukan kehidupan selanjutnya di akhirat. Deadline ujiannya adalah waktu kematian yang kita sendiri belom tau kapan-dan bisa kapan aja kan. Ujiannya open all: open book, ask a friend, bekerja sama juga boleh. Dan segala masalah yang saya alami, segala kesenangan dan kesusahan yang saya alami, itu adalah ujian.
Lalu ingat-ingat kuasanya Allah. Bumi ditundukkan untuk kita biar bisa jalan dan makan. Siapa yang kasih pertolongan kalau bukan Allah. Kalau rezeki di tahan sama Allah, siapa yang bisa kasih rezeki? Kalau air di bumi ini diambil semua sama Allah, darimana kita dapat air dan bertahan hidup.
Jadi, kalo capek kerja ngejar dunia, pulang ke rumah rebahan bentar di kursi sambil ingat-ingat hal itu.
Kalo capek ngurus rumah, rebahan bentar di kursi sambil ingat-ingat hal itu.
Kalo mondar-mandir di rumah, lewat ruang itu, bisa sambil ingat-ingat hal itu.
TAPI
kenapa harus nunggu punya rumah dulu? haha
kenapa mau ngingat2 tujuan hidup mesti nunggu beli rumah sendiri?
kenapa gak langsung sekarang aja praktekin, kan sama aja..
IYA BETUL
OKESIP
Cooling Off Period
Sudah menjadi kenyataan umum bahwa ada sebagian (entah banyak atau sedikit) dari isi buku yang melekat pada seseorang selepas ia membacanya. Bisa jadi melekat pada caranya berpikir, caranya merasa, caranya menilai, atau caranya menetapkan sesuatu.
Baru-baru ini saya sadar bahwa meskipun kejadian itu lebih terasa refleks begitu saja, justru tetap ada proses rumit (yang mungkin di bawah sadar, atau di alam sadar? ku belum tahu pasti) sebelum itu benar-benar melekat pada seseorang yang ia bawa-bawa dalam hidupnya.
Meminjam istilah asuransi, ada juga “cooling off period” dalam proses ini. Masa dimana kita bisa memastikan dan mempelajari apa-apa yang kita baca itu apakah sesuai dengan kebutuhan atau keinginan kita. Bedanya, kadang dalam masa ini kita benar-benar sadar telah menimbang sesuatu, layak tidaknya, tapi kadang kita tidak sadar berada dalam masa ini. Yang kita tahu hanyalah ada perasaan aneh setelah menamatkan sebuah buku. Kemungkinan itu adalah rasa sedih dan hampa jika bukunya memang beraroma sedikit suram, atau rasa bahagia atau bersemangat jika bukunya cukup inspiratif, atau rasa heran dan penasaran bercampur kagum pada penulis yang berhasil menciptakan kisah hebat dalam buku itu.
Kita bisa memilih, dalam “cooling off period” ini, setujukah kita dengan isi buku ataukah tidak. Bagian yang bisa disetujui, bagian mana yang kurang atau tidak disetujui. Bagian mana yang kiranya relevan (sekalipun dari kisah fiksi), bagian mana yang kiranya fantasi belaka (meskipun itu kisah nyata karena terlalu jauh dari kehidupan kita untuk bisa disamakan).
Buku terakhir yang saya baca sebelum menulis ini adalah buku klasik (ini hanya kecurigaan saya, bisa jadi bukan termasuk sastra klasik) karya Natsume Soseki berjudul Rahasia Hati (iya, versi terjemahan). Pikiran dan perasaan saya bercampur aduk agak cukup lama setelah halaman terakhirnya. Ini juga yang membuat saya berpikir mungkin ini yang namanya “cooling off period”. Sebelum Rahasia Hati, buku yang saya baca adalah buku kontemporer (mungkin, entahlah) karya Jonas Jonasson. Sebuah novel juga, nilainya 10/10 bagi saya. Tapi tidak sampai bercampur aduk pikiran dan perasaan saya sehabis membacanya. Cepat saja saya temukan apa-apa yang saya sebutkan dalam proses “cooling off period” itu tanpa sadar saya berada dalam masa itu.
Rasanya ingin membedah pendapat saya tentang Rahasia Hati itu. Mungkin lain kali ya.
Pemimpin yang baru diangkat (oleh diri sendiri)
Saat ini saya mengangkat diri sendiri sebagai kepala tim atau pemimpin tim. Dengan jabatan baru yang tanpa ada pelantikan dan perayaannya itu, saya mencurahkan segala pikiran (dan secukupnya tenaga) untuk merencanakan dan mengarahkan sesuai tujuan yang ditetapkan (oleh saya sendiri).
Seperti biasa, perencanaan adalah hal paling menyenangkan untuk dilakukan sekaligus paling mudah. Seperti biasa juga, eksekusi menjadi yang paling sulit untuk dieksekusi. Seperti biasa juga, kekecewaan datang sebagai hasil dari adanya selisih antara perencanaan dan eksekusi. Dan seperti biasa juga, ekspektasi selalu menjadi kambing hitam atas segala rasa kecewa apapun itu pemicunya.
Sebagai pemimpin yang baru diangkat oleh dirinya sendiri, tentu ini menjadi masalah sekaligus tantangan pertama yang dihadapi (oleh seluruh pemimpin sebenarnya, baik itu diangkat oleh dirinya sendiri atau hasil mufakat atau aklamasi atau voting). Belajar dari pengalaman sebagai anak buah, bahwa pemimpin yang tidak mengerti masalah yang dihadapinya itu tidak hanya menyulitkan pemimpin itu sendiri tapi juga seluruh orang yang terlibat di dalam tim. Setidaknya itu dari sudut pandang anak buah yang selalu dijadikan tumbal untuk mengulang lagi dan lagi pekerjaan dan kesalahan yang sama hingga ada pencerahan dari langit.
Oleh karena itu, sejak mengangkat diri sendiri sebagai pemimpin, saya berjanji (kepada diri sendiri) akan berusaha paling maksimal untuk menjadi pemimpin yang bijak. Pemimpin yang bijak, pertama, harus tanggap akan masalah yang dihadapinya. Setelah tanggap, pemimpin yang bijak tidak perlu cari kambing hitam (ataupun kambing putih). Berikut adalah hasil perenungan pemimpin yang baru diangkat oleh diri sendiri dalam rangka menjadi pemimpin yang bijak untuk menanggapi masalahnya:
1. Ketika kenyataan tidak sesuai rencana, hanya ada tiga kemungkinan. Pertama, anak buah yang tidak mengerti arahan yang diberikan atau tidak memiliki kemampuan mumpuni utuk menjalankan arahan tersebut. Pada intinya, masalah yang muncul dari anak buah. Kedua, pemimpin tidak dapat mengarahkan dengan benar. Ketiga, jika akar masalah bukan yang pertama ataupun yang kedua (dengan kata lain anak buah dan pemimpin menjalankan perannya dengan baik), maka ada faktor lain yang di luar kendali.
2. Diantara tiga kemungkinan tersebut, analisa harus dimulai dari kemungkinan kedua. Bahwa sebagai pemimpin yang bijak, sebelum ia menilai orang lain (atau faktor lain) sebaiknya ia berkaca kepada dirinya sendiri terlebih dahulu. Jika saya merasa sudah cukup jelas menyampaikan arahan, mungkin artinya saya belum cukup jelas bagi anak buah saya. Karena perasaan saya dan anak buah kan belum tentu sama. Jika saya merasa strategi saya dalam mengarahkan sudah tepat, bisa jadi artinya itu belum cukup tepat bagi anak buah. Lagi-lagi, perasaan orang tidak ada yang tahu. Pada intinya, perbaiki cara saya mengarahkan anak buah, disesuaikan dengan asumsi baru.
3. Setelah berupaya dengan baik sebagai hasil bercermin pada diri sendiri, barulah berangkat ke kemungkinan pertama dan ketiga.
4. Tapi, di atas segalanya, pemimpin yang bijak haruslah menjalin komunikasi yang baik dengan seluruh pihak. Komunikasi itu luas, bisa saja komunikasi dalam rangka mengenal anak buahnya lebih dalam, atau komunikasi agar semua memahami tujuan, atau komunikasi tentang posisi tim saat ini berada di mana, dan atau-atau lainnya.
By the way, ini bukan kisah tentang kerajaan baru yang rajanya mengangkat diri sendiri sebagai raja lalu menipu banyak orang dengan imingan gaji besar. Ini hanya kisah sederhana seseorang yang ingin keluar dari masalah rumit hidupnya karena kekosongan jiwa pemimpin.
Prinsip Cognitive Therapy
Saya selalu dapat rekomendasi buku yang bagus dari Sarah. Ini salah satunya: Feeling Good karya Dr.Burns. Buku tentang terapi kognitif, yaitu bagaimana kita memodifikasi mood yang bisa membantu menghilangkan gejala depresi dan membantu pengembangan diri sehingga bisa meminimalisir gangguan/kekecewaan kedepannya dan menghadapi depresi dengan lebih efektif.
Banyak banget ilmu baru dari buku ini! Saking banyaknya bacanya pun harus pelan-pelan biar bisa dicerna lebih matang. Dan seperti biasa, dibaca doang belum tentu bikin kita bisa langsung paham dan mahir. Makanya, saya coba tuliskan sedikit-sedikit di sini supaya pakem, haha. Pakem di otak ilmunya, gak kemana-mana.
Ada prinsip yang sebaiknya dipahami dalam mempelajari terapi ini, yaitu:
1. Semua mood tercipta dari hasil kognisi atau pikiran kita.
Kognisi adalah pikiran atau persepsi. Bagaimana kita melihat sesuatu, bagaimana cara kita mengartikan atau menginterpretasi sesuatu, apa yang kita katakan terhadap sesuatu, apa yang kita yakini.
Misal, seseorang membatalkan janjinya kepada kita secara tiba-tiba. Apa yang dirasakan? Sedih, kecewa, sebal. Tapi kenapa kita merasa begitu? Bisa jadi karena kita merasa orang itu gak menghargai kita karena seenaknya membatalkan janji, padahal kita udah bersiap-siap dan meluangkan waktu untuk urusan itu. Atau, bisa jadi karena kita merasa tidak diprioritaskan karena orang itu lebih memilih untuk melakukan urusan lain. Atau karena kita merasa tidak diperhatikan. Atau karena merasa tidak dianggap penting.
Di kejadian yang sama, mungkin aja kita gak merasa sedih, bahkan lega. Bisa jadi karena kita sebenarnya ogah dan pengen mengerjakan hal lainnya. Malah jadi bersyukur dibatalin, jadi bisa ngerjain hal yang lebih sesuai keinginan kita. Atau karena kita udah tau bahwa orang itu memang kurang bisa diandalkan untuk memenuhi janjinya, jadi gak heran kalau membatalkan tiba-tiba. Atau kita merasa banyak hal lain yang menyenangkan yang bisa dilakukan selain urusan tersebut.
Jadi sedih atau kecewanya kita bukan karena batalnya janji itu, tapi lebih karena apa yang kita artikan dari batalnya janji itu.
2. Ketika kita merasa murung, sedih, bahkan depresi, pikiran kita didominasi oleh negativitas yang udah meresap.
Kita tidak hanya melihat diri sendiri tapi bahkan seluruh dunia itu kelam, makin lama makin yakin kalau segala hal itu selalu dan akan selalu negatif. Ketika melihat ke masa lalu, hanya hal-hal buruk yang diingat. Ketika berusaha melihat ke depan, rasanya kosong atau hanya akan ada masalah yang datang dan tak kunjung berakhir. Ujung-ujungnya jadi kehilangan harapan. Semua ini karena negativitas itu udah meresap banget di pikiran kita.
3. Pikiran negatif selalu mengandung distorsi.
Meskipun pikiran negatif itu terlihat sangat valid dan nyata, kita akan belajar bahwa itu adalah irasional atau bahkan sama sekali salah, dan pikiran yang terdistorsi itulah yang menyebabkan “penderitaan”. Bahwa penderitaan, depresi, kemurungan yang dirasakan bukan berdasarkan persepsi yang akurat atas sebuah realita.
———
Jadi, dasar dari pendekatan terapi untuk memodifikasi mood ini adalah bahwa penting untuk memahami apa yang terjadi sama diri kita sebelum kita bisa merasakannya.
- kalau kita memahami suatu kejadian dengan akurat, maka reaksi emosional kita adalah normal. (((Artinya normal loh merasa sedih atau kecewa, asalkan benar))).
-kalau kita memahami suatu kejadian dengan persepsi yang terdistorsi, maka reaksi emosional kita menjadi tidak normal.
———
Entah mulai kapan, tapi sejak dulu saya sering berusaha memahami alasan kenapa saya merasa begini atau begitu. Kayaknya emang karakter INFJ yang selalu berusaha mencari alasan kali ya, haha. Dulu sering nulis di Tumblr kalo lagi badmood itu apa sih alasannya. Ternyata latihan yang menjadi kebiasaan itu membawa pengaruh baik bagi saya hingga saat ini. Senang! Jadi bisa meminimalisir emosi-emosi lebay yang sering menganggu.
Semoga semakin banyak yang juga bisa memahami hal ini. Ganbatte!
Udah sekitar 3 hari ini suasana hati murung, terutama hari ini sih. Terakhir kali ngerasain kayak gini kapan ya, kayaknya udah lama banget. Gak enak rasanya, males ngapa-ngapain, semuanya terasa gak seru. Dipake untuk ngerjain pekerjaan juga malah makin pusing. Dibiarin lama-lama juga makin gak enak karena tau udah buang-buang waktu.
Coba kita cari kira-kira penyebabnya apa ya. Kalau tau penyebabnya bisa jadi lebih tenang dan lega, jadi mengatasinya juga lebih mudah.
1. Akhir bulan ini harusnya deadline sebuah laporan. Udah 75 persen dikerjain, lalu sadar ternyata yang dikerjain salah. Salah pendekatannya, gak sepenuhnya salah sih, masih ada yang bisa dipake. Jadi ngulang lagi dari nyari-nyari materi yang super rempong nyarinya. Berbagai kata kunci pencarian gak membuahkan hasil. Capek nyari kayaknya sih ini. Dan curiga gak bakal dapet sesuai harapan. Terus pusing mikirin gimana kalo gak nemu sampe akhir bulan ini. Jangankan itu, yang udah ada bahannya aja jadi males untuk ditulis. Ah bete.
2. Biasanya kalo lagi mentok gitu, saya punya banyak pelarian. Yang paling diandalkan sih nonton drama atau shows. Tapi sayangnya lagi gak ada yang seru dan menarik. Sampe udah menelusuri halaman pertama websitenya pun gak nemu yang sekiranya seru. Yang seru dan sesuai mood maksudnya. Banyak yang kayaknya seru tapi genrenya serius, sementara saya butuhnya yang ringan. Pelarianpun gak ditemukan.
3. Pada dasarnya saya gak suka konflik, tapi tau sendiri negara ini lagi kebanjiran masalah yang memicu konflik. Ih, ini menganggu keharmonisan yang membuat saya gak tenang. Padahal udah berupaya menyaring informasi, tapi tetap masuk juga tuh info. Jangan buka instagram dulu lah.
4. Abis dengerin podcast tentang infj. Baru tau ternyata menjadikan seni sebagai karir memang agak sulit bagi infj. Kirain emang saya aja yang ngerasa gimana gitu karena setiap kali berusaha latihan gambar, kok malah frustasi bukannya malah bahagia. Ternyata karena orang infj tidak terbiasa dengan sensori dan detail (fungsi optimalnya di pikiran dan intuisi) jadi ketika mengerahkan seluruh perhatian pada sensori, malah bikin exhausted. Makin exhausted karena perfeksionismenya juga. Lega sih jadi tau alasan kenapa malah gak bahagia kalo mau latihan gambar untuk diseriusin. Tapi kok jadi sedih juga. Jadi gak semangat buat belajar di skillshare, padahal sebelumnya semangat belajarnya.
Padahal gambar juga sebuah pelarian. Biasanya lihat gambar yang bagus dan lucu aja bahagia, tapi sekarang jadi sedih. Kayak hilang harapan, rasanya kayak disuruh menyerah aja sebelum melangkah lebih jauh. Sad.
Mungkin poin nomor 4 ini yang berperan besar bagi kemurungan saya kali ini.
Konseling
Ada sebuah teknik untuk mengatur mood. Hmm, mengatur mood bukan ya. Semacam itu, tapi sebenarnya ini sebuah terapi. Cognitive Behavior Therapy (CBT). Terapi untuk gangguan mood, depresi, dan sejenisnya. Katanya bisa dipelajari. Lalu saya penasaran dan ingin belajar. Entah kenapa saya banyak mengenal orang, kerabat, relatif, yang lumayan memerlukan hal ini, sampai-sampai saya merasa seperti guru BK (bimbingan konseling). Padahal aslinya guru BK aja gak jadi tempat curhat murid-murid. Nah, saya ingin membantu mereka, semampu saya.
Tapi kemampuan saya terlalu sangat terbatas. Ingin upgrade kemampuan rasanya. Lalu saya membayangkan kalau bisa ikut training CBT, lalu dapat lisensinya. Wah keren amat! Bisa jadi teman untuk konseling tersertifikasi hahahaha. Ngebayangin aja udah bahagia. Bisa menolong mereka dengan lebih profesional. Khayalan yang tinggi. Kenyataannya saya bahkan belum baca bukunya. Beli aja belom. Oke, setidaknya udah berusaha registrasi Jenius biar bisa pake kartu debitnya sebagai kartu credit yang dibutuhkan kalau mau beli online dari mancanegara karena kartu kredit Jepang udah gak bisa untuk transaksi lagi.
Suka bukan berarti mudah
Dua hari ini excited karena mau menyusun rencana perjalanan untuk tamu dari Indonesia. Senang karena punya kesempatan untuk dapat pengalaman baru: jadi tour guide (di Jepang pula!). Senang juga karena sekalian jalan-jalan.
Karena menyenangkan, saya jadi suka mengerjakannya. Tapi, suka juga bukan berarti proses ini menjadi mudah. Ternyata, banyak juga kendala-kendala dan hal rumit lainnya yang saya temui, bahkan baru dalam tahap perencanaan. Bayangkan nanti di hari H akan bagaimana!
Pertama, saya belum berpengalaman urusan beginian. Menyesuaikan keinginan tamu dan keterbatasan jarak dan waktu ternyata cukup sulit. Kedua, saya juga belum pernah ke tempat-tempat yang dimaksud sehingga saya harus menelusuri google untuk mendapatkan segala informasi yang dibutuhkan.
Sampe begadang mengerjakannya. Badan terasa pegal seolah abis begadangin tesis. Otak juga ruwet seakan cari literature review. Berpikir keras merangkai jadwal yang tepat seperti menyusun paragraf demi paragraf dengan bridging yang tepat.
Suka memang bukan berarti menjadikan semua yang kita kerjakan terasa mudah. Menurut saya, suka hanya membantu kita bertahan mengerjakannya meskipun sulit, lalu terdapat bonus di akhirnya yaitu kebahagiaan.
Kinchoushimasu
read. Nervous
Gak biasanya saya secemas ini. Dua hari lagi saya harus presentasi tentang thesis (preliminary presentation) yang topiknya baru saya dapatkan setelah kurang lebih dua bulan di sini.
Pertama, saya kurang yakin bisa mendapat hasil yang sesuai idealisme saya karena ketidakmampuan software (dan juga ketidakmampuan otak haha). Kedua, saya kurang yakin dengan urgensi topik ini. Seperti terlalu dipaksakan.
Padahal punya orang juga belum tentu urgensinya ada. Maksudnya, tetap bisa lulus kok meskipun yang dilakukan gak bagus-bagus amat gitu loh. Kenapa saya menyulitkan diri. Semakin saya gak percaya diri, semakin sulit untuk menjelaskan ke orang lain tentang apa yang kita kerjakan ini. Semakin cemas.
Coba begini:
Ide kamu udah bagus, tidak ada yang salah. Kamu perlu lebih banyak baca aja, sehingga yang kamu ide-kan itu ada landasannya. Kamu gak yakin karena kamu belum menemukan landasannya, kan? Tantangannya dalam membaca adalah kadang kamu lupa sedang mencari jawaban atas pertanyaan yang mana, sehingga kamu sering tersesat.
Anggap aja kamu lagi rapat, lalu kamu kasih ide. Mungkin idenya belum terlalu matang, makanya perlu didiskusikan. Tidak ada yang berekspektasi kamu sempurna. Tidak ada salahnya menerima masukan orang lain.
Iya begitu. Ayo jangan cemas!
Ganbare!
Ayam
Adik saya dan saya membuat istilah sendiri untuk memudahkan penyebutan nama jenis makanan.
Di dekat rumah, ada yang jual ayam goreng, yang digoreng dengan dengan penggorengan super besar dengan minyak yang sangat buanyak. Kami menyebutnya Ayam Minyak..haha
Ayam goreng, ketika dimasukkan ke kulkas dengan tujuan untuk dimakan di sore hari atau keesokan harinya, akan menjadi dingin. Saat ayam itu akan dimakan lagi, karena malas memanaskannya kembali, maka kami menyebutnya Es Ayam Goreng..haha..untung nasinya panas, jadi balance :p
Wakakaka..koplak banget dah
jadi kangen sama ayam minyak, enak dan murah, namun tentu saja tidak sehat :)