I decided to join IP this year and others online courses. Please be good 😍 Bismillaah
i don't do bad sauce passes
Show & Tell
Game of Thrones Daily
$LAYYYTER
No title available

shark vs the universe
Misplaced Lens Cap
Today's Document
ojovivo

Origami Around
hello vonnie
cherry valley forever

No title available

Love Begins

Product Placement

izzy's playlists!
wallacepolsom
Acquired Stardust

blake kathryn
almost home
seen from Japan

seen from Malaysia
seen from Türkiye

seen from Spain

seen from Mexico
seen from United States

seen from Canada
seen from United States

seen from United States

seen from France
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States
@inidamar
I decided to join IP this year and others online courses. Please be good 😍 Bismillaah
Umar dan Gadgetnya
Jadi sempat ada masa dimana Umar pegang dan liat layar dalam durasi yang cukup panjang. Berhubung rumah Abah Umar super hi-tech dengan unlimited koneksi internet, maka akses ke layar semudah menekan tombol. Dengan kecerdasan bayi milenial, menyalakan TV atau smartphone begitu mudah bahkan sampai menemukan logo youtube yang disembunyikan di folder.
Sesungguhnya pemberian layar kuakui ada efek baiknya, Umar pernah kepergok mengikuti kata-kata yang diucapkan para tokoh Cocomelon semisal warna atau angka bahkan sekarang dia sudah hafal lafaz angka dalam bahasa Inggris. Dia juga bisa mengikuti gerakan sang tokoh.
Tapiiiii, yang ku tak sanggup hadapi adalah bagaimana tantrumnya Umar ketika layar dimatikan atau mati sendiri karena baterai habis. Atau ketika waktunya tidur dan ia masih terjaga di depan layar karena video yang ditonton tak ada akhirnya. Parahnya bahkan bisa sampai tengah malam Umar belum tidur juga. Sungguh hari-hari paling mengerikan bagi seorang ibu.
Di momen itu kami selaku orang tua merasakan ketidakberesan pada perilaku Umar. Selain karena menjadi lebih apatis dengan tidak menjawab ketika dipanggil juga karen tantrumnya yang ga ketulungan. Alhasil kami putuskan untuk stop layar termasuk tidak menunjukkan penggunaan gadget di depan Umar.
Hari pertama kedua ketiga luar biasa rewelnya. Tapi kami akali dengan aktivitas fisik, makan yang teratur, baca buku, aktivitas rumah tangga dll. Alhamdulillah berhasil dialihkan dari layar dan saat ini sudah tidak ngamuk lagi kalau melihat HP karena ingin lihat layar.
Dulu sempat juga memberi video kartun tapi audio murottal quran. Namun, kami rasa itu hanya bom waktu yang akan meledak karena ada momennya Umar bosan dengan video tersebut. Akhirnya alibi murottal pun kami hapus dan ganti dengan suara kami sendiri secara langsung.
Ini semua terjadi selain karena taqdir Allah juga peran semua pihak terutama keluarga inti dan keluarga lain yang terlibat. Aku sempat menyuarakan kondisi Umar ke Mom dan Pop sehingga mereka ikut membantu memboikot layar dari hadapan Umar. Kalau tidak begini, penyakit tantrum Umar pasti akan ada terus dan seolah dicas setiap dia berkunjung ke rumah kakek dan neneknya.
Untuk usia sebelum SD sebaiknya fokus pada aktivitas fisik sebagai hiburan dan jangan memberikan layar atau silakan terima konsekuensi sakau nya. Karena usia anak sebelum SD bahkan ketika SD pun belum butuh keahlian penggunaan komputer. Mereka lebih butuh kehadiran orang tuanya sebagai teman bermain atau teman berbicara.
Memberikan layar pada awalnya memang sangat memudahkan para ibu agar bisa beristirahat atau me time dengan tenang tapi ia layaknya bom waktu yang bisa meledak tanpa aba-aba.
Beraktivitas bersama anak memang kadang menguras waktu. Semisal mengajak mereka membuat kue atau masakan menjadi lebih lama dan lebih berantakan. Tapi inilah momen kita mendidik mereka.
Semoga para ibu diberikan kesabaran mengiringi dan mendampingi tumbuh kembang anaknya sesuai dengan fitrahnya.
Barokalloh fikum 😍
Kenapa kamu mau sama dia?
Ada sebuah pertanyaan super penting yang harus kita ketahui jawabannya saat kita hendak menikah dengan seseorang. Pertanyaan yang kujuga mendapatkannya dari kaka ipar "kenapa kamu mau sama si dia?"
Aku pribadi dulu ketika proses taaruf yakin dengan (calon) suamiku karena tahu sifat beliau yang paling menonjol juga sifat yang beliau akui sendiri: sabar.
Waktu taaruf suamiku bilang dia tuh orangnya sabar. Aku akui karena beliau gurunya ibu-ibu. Kalau ada yang pernah mengajar ibu-ibu menuju masa keemasan pasti tahu gimana daya tangkap mereka yang sungguh menguras kesabaran.
Dulu waktu suamiku melamar, sebenarnya ada beberapa lamaran lain. Bingung? Kujawab tidak, karena kusempat menonton kajian ust Salim A Fillah mengenai "jika datang 2 pilihan maka pilih yang paling menyelisihi nafsu". Sehingga waktu itu visi-misiku paling cocok dengan suamiku ini selain karena kesabarannya.
Ternyata, memang itulah sifat beliau, sabaaar. Apalagi menghadapi aku yang hhhh sudahlah yang kuyakin hanya suamiku ini yang mampu menghadapi kebedegonganku. Dan barangkali, momen ketika aku ditanya, "kenapa mau sama dia?" Adalah momen yang sangat menjadi penentu dan penguat hubungan kami.
Suamiku tak pernah menuntut selain satu: menyelesaikan hafalan. Yang mana ini adalah permintaan yang sangat aku syukuri. Walaupun tuntutan ini masih terus ia sabari hihihi. Tapi intinya, aku akui momen taaruf kami yang singkat itu 1.5 bulan sampai akad adalah momen terbaik dalam pengambilan keputusan hidupku. Aku merasa di kondisi ruhyah terbaik yang membuat jalanku ketika itu benar-benar dalam bimbingan ilahi, no baper, pasrah, dan berharap berkah. Alhamdulillah, apa yang kita tanam, itu yang kita tuai. Tinggal selesaikan sisa jalan sampai ajal menjemput.
Jadi, kamu kenapa mau sama dia?
Sabar bu
Salah satu momen yang menguras sabar dalam proses pendidikan anak adalah ketika anak sakit. Ditambah kondisi kehamilan sekarang yang sudah mencapai usia 6 bulan, kata Period Tracker 95 hari menuju pertemuan dengan bayi, semakin membuat momen ini menjadi lebih...berat.
Secara fisik harus digerus karena berat badan bertambah dratis, sudah +10 kg, juga nak sholih hafizh Quran ingin digendong alias +11kg, ditambah cedera lutut, ditambah SPD, alhamdulillah lengkap. Keluhan ya isi paragraf ini. Tapi aneh nya, aku masih hidup, masih kuat, bahkan kubilang jauh lebih sabar dari beberapa bulan yang lalu.
Kadang kusuka membayangkan gimana ya nanti kalau anak sudah lahir terus sakit berjamaah? Kalau dibayangkan rasanya aku...ah belum juga kejadian.
Tapi keadaan kita hari ini cukup dijalani saja dengan sebaik-baiknya. Ladang amal dan pahala yang barangkali adalah jawaban doa-doa kita atau orang tua kita atau siapapun yang mendoakan kita. Keadaan yang barangkali diimpikan oleh orang lain yang belum sampai takdirnya seperti kita. Maka, terus bersabar, karena semua momen di dunia pasti ada ujungnya. Sedih ada ujungnya, bahagia pun sama. Bukankah dunia ini tempat ujian? pasti isinya soal-soal yang minta dikerjakan!
Dialah Cinta
Saat mentari masih berselimut pekat, kudengar suara lantunan cintanya memohon pada Sang Maha Kuasa
Saat semua terlelap dalam hangatnya dipan, kudengar gemeretuk sendinya saling beradu mengusir debu
Disaat semua pergi meninggalkan rumah, kulihat tatapan sayu sembari mengucapkan banyak doa.
My beloved mom.
Bertemu Guru
Edisi pulkam ke Lampung sebenernya selalu kaya begini. Ya bisa dibilang biasa lah. Silaturahim ke semua lini termasuk ke guru suami yang super special itu. Tapi justru itu yang selalu meninggalkan kesan.
Beliau, guru kami ini adalah sesosok guru yang terlihat sangat menjaga adab-adab sebagai seorang guru. Bukan sekedar titel. Tetapi beliau menjadikan apa yang disematkan pada beliau begitu melekat di hati para muridnya.
Beliau yang mengantarkan suamiku dengan skill tilawatil qurannya hingga mencapai panggung-panggung MTQ, menjadi kebanggaan keluarga dan daerahnya.
Setiap kami bertemu, kuselalu melihat sorot harap dari wajahnya bahwa dakwah quran yang telah beliau rintis bisa dilanjutkan oleh murid-muridnya. Di usianya yang senja beliau terus berpesan tentang regenerasi.
Aku bukan murid langsung beliau, kuhanya murid tahunan yang merasakan curahan kasih sayangnya setahun sekali tapi rasa-rasanya I'm part of his companions. Betapa aku kangen guru-guruku 😢
Selama aku berguru baik di tempat formal maupun informal, hanya sedikit sekali kutemukan guru model ini. Dan kukatakan beruntunglah kalian yang bisa bertemu dengan mereka!! Pegang erat dan ambil sebanyak-banyak adab dan ilmu dari mereka karena kita tak tahu kapan waktu dan tempat memisahkan kita darinya.
Di lain tempat, aku juga selalu membawa serta suamiku ketika aku bertemu guru quranku. Ternyata perlakuan guruku ke suamiku ma syaa Allah, sebagaimana ia memperlakukanku! Layaknya anak kesayangan! Penuh nasihat berharga. Walaupun suamiku bukan murid langsung beliau.
Semoga kami masih terus bisa berinteraksi dengan para guru kami dan mengambil sebanyak-banyak manfaat dan semoga Allah jadikan umur guru-guru kami berkah dan panjang agar terus dapat membimbing umat.
Kenapa Malah jadi Guru Tahfizh?
Ternyata pertanyaan ini muncul lagi walaupun kubelum mulai mengajar beneran. Baru sekedar diterima saja.
Buatku, keluarga selalu nomor satu terutama anak. Allah mengaruniai kami seorang anak segera setelah ijab terucap. Sebuah perasaan khawatir, takut juga gembira. Sebuah nikmat juga ujian di dunia yang akan menyeret kita sampai akhirat jika kita mengabaikannya.
Aku memang dibesarkan dengan kondisi akademik yang sangat dipacu. Harus pintar matematika, fisika, kimia, bahasa dll entah siapa yang membuat aturannya tetapi rasa-rasanya punya nilai jelek di pelajaran itu sungguh memalukan. Ibuku yang ibu rumah tangga itu selalu memotivasi kami untuk belajar belajar dan belajar. Uwaku juga seorang pengajar yang di sela-sela waktunga selalu mendorong kami untuk latihan soal, 'digecek' bahasanya.
Semakin dewasa, semakin bertambah usia, semakin ku berpikir tentang banyak hal dan ibuku adalah salah satu inspirasinya. Aku selalu kagum sampai detik ini mengenai betapa istiqomahnya beliau menjalani perannya sebagai ibu rumah tangga saat era ini begitu menggebu-gebu menggaungkan frasa 'wanita karir'. Sebenarnya era wanita karir sudah dimulai sejak zaman ibuku karena semua anak nenekku adalah wanita karir (maksudnya bekerja di luar rumah) sehingga ketika ibuku diam di rumah 'saja' semua kecewa berat. Tapi pengorbanan itu berbuah hasil. Kukira begitu.
Aku ditransfer nilai-nilai yang ibuku pegang teguh terutama terkait keluarga, bahwa ia yang utama. Tetapi di sisi lain aku pun terdoktrin untuk punya kiprah di lingkungan sekitar. Kadang ini juga menjadi kebimbangan pribadi.
Sampai aku di detik kenal dengan Alquran, bahwa ialah sumber segala ilmu, yang tanpa menghafalkannya belumlah kita disebut sebagai penuntut ilmu walaupun belasan tahun telah kita habiskan di bangku sekolah. Bagaimana kita bisa melewatkan 'sumber segala ilmu' dan mempelajari cabang-cabangnya? Sebuah kondisi yang menurutku menyedihkan. (What a pity!)
Sebenarnya aku sudah pernah hampir mondok di ma'had Alquran namun sayang ayah tak mengizinkan. Karena menurutku pondok adalah tempat akselerasi yang baik untuk menyelesaikan hafalan Alquran, maka aku berupaya bisa mondok walaupun saat itu aku sedang melakukan penelitian tugas akhir. Tapi dasar taqdir, mungkin aku diuji dengan kesungguhan lagi. Bisakah aku menyelesaikan tantangan ini dengan kondisi sibuk dengan kuliah? Yang kemudian berlanjut menjadi sibuk dengan urusan rumah tangga?
Dalam hati aku selalu percaya bahwa suatu saat nanti aku bisa menyelesaikannya dan terus berusaha istiqomah dengannya dan meneruskan nilai ini kepada anak keturunan kami.
Maka menjadi guru tahfizh adalah salah satu wasilahnya. Cara tercepat untuk belajar adalah mengajarkannya.
Aku belum melupakan mimpi-mimpiku di dunia tentang biologi, tentang tugas akhirku, dll. Aku percaya akan ada masanya aku kembali ke titik itu dan menebar manfaat di keilmuan yang pernah aku pelajari.
Bismillaaah
Catatan Kakak Umar
14 Mei 2019 di usia Kaka Umar yang menuju 2 tahun (kurang 16 hari) berdasar penanggalan Masehi dan 2 tahun lebih 6 hari di penanggalan Hijriyah, kaka sudah bisa mengikuti apa yang Umi katakan. Sebuah titik dimana Umi harus sudah sangat fokus dan konsentrasi menghadapi potensi kaka juga untuk mencapai cita-cita Umi dan Abi supaya kaka hafal Quran di usia sebelum 7 tahun. Cita-cita yang Umi dan Abi ikhtiarkan sebagai bekal kaka menghadapi berbagai ujian di dunia dan akhirat juga sebagai kado terindah untuk Umi dan Abi.
Walaupun pengucapan kaka belum terlalu jelas di semua huruf tapi Umi yakin masa-masa itu sudah semakin dekat. Ikhtiar yang Umi lakukan dengan memutar audio quran 24 jam walaupun sekarang sedang rusak (semoga segera ada gantinya) kami gantikan dengan suara Umi dan Abi. Barangkali Allah ingin lihat kesungguhan keluarga ini untuk menjadi keluarga Allah di dunia dan akhirat.
Doa kami selalu agar Allah jadikan kami, pasangan kami, keturunan kami sebagai Ahlul Quran. Aamiin
Bisnis saya bukan seminar tapi jualan baju
Bu Dini Fitriyah. Beliau cerita tentang honor sebagai pembicara yang beragam mulai dari murah sekali sampai puluhan juta rupiah.
Aku mendengar ini setuju sekali. Apalagi bagi seorang dai. Ini pula yang membuat aku ingin terus berdagang walaupun masih kecil-kecilan. Buatku, mengajar Alquran memang boleh diupahi tapi aku khawatir suatu saat ada di posisi terjepit sehingga salah niat. Maka walau nanti aku sudah mulai mengajar dan digaji, aku masih akan terus berdagang. Bukan karena upah sebagai pengajar Alquran kecil tapi untuk terus menumbuhkan izzah dan meluruskan niat lillah.
Seminar Menjadi Enterpreneur Muslimah
Alhamdulillah, di hari Jumat kemarin Assyifa Wanareja kedatangan bintang tamu seorang muslimah, business woman sukses owner Mouza Indonesia. Jujur, aku baru tahu beliau kemaren. Nama beliau Dini Fitriyah.
Beliau cerita banyak hal yang menurutku sangat inspiratif. Kisah hidup beliau yang penuh dengan perjuangan. Beliau cerita bahwa beliau berasal dari keluarga kurang berada hingga di bangku SMA sempat hampir DO karena tidak ada biaya. Bahkan ketika kuliah pun beliau pontang panting mencari biaya sendiri sampai akhirnya lulus menjadi Sarjana Akuntasi.
Dengan berbagai tantangan hidup yang beliau hadapi, pengalaman bisnis beliau sangat banyak. Merintis berbagai usaha hingga sukses dan sempat bangkrut juga. Namun memang itulah titik dimana beliau akan bangkit ke tingkat yang lebih tinggi hingga saat ini memiliki perusahaan pakaian muslim/ah dengan omset entah berapa karena ribuan pakaian habis dalam 5 jam saja.
Walau latar belakang beliau dari kalangan ekonomi bawah, beliau selalu optimis dan penuh harap juga penuh cita. Beliau tidak menyerah dengan keadaan justru beliau ingin membuktikan bahwa beliau bisa di depan para penghinanya. Saat ini beliau tunjukkan itu semua kepada orang-orang yang dengan teganya mengata-ngatai beliau karena status ekonomi beliau.
Beliau bilang bahwa beliau tidak menyesal dengan masa lalunya. Beliau justru bersyukur karena masa lalunya itulah beliau bisa ada disini. Beliau bisa punya mindset seperti hari ini karena pengalaman berjuang dalam kondisi serba sulit. Karena beliau pernah ada di kondisi super parah, beliau tidak pernah 'lebay' lagi kalau suatu ketika beliau menghadapi keadaan tersebut lagi.
Beliau bilang ketika kita pernah kehilangan sesuatu yang besar, maka kehilangan-kehilangan yang kecil tidak akan ada artinua lagi. Semisal pernah kehilangan mobil, maka kehilangan motor tuh biasa saja. Ya memang sudah bukan rezekinya.
Pengalaman beliau di dunia bisnis pun membuat beliau semakin dewasa dan santai menghadapi keadaan. Tapi justru itu yang menjadi daya tarik keloyalan para pekerjanya. Selain bisa saling mendakwahi juga bisa menolong kehidupan banyak keluarga. Dan itulah motivasi beliau untuk terus berbisnis.
Aku terpesona dengan aura beliau. Sangat positif, sangat optimis, I wish I could be her student.
Saran dari beliau untukku adalah membuat business plan karena aku bertanya kok bisnis ku rasanya stagnan. In syaa Allah aku akan buat.
Aku berharap bisa dapat mentor bisnis di tahun ini, bismillaaah!
Puasa hari ke5
Berhasil sampai maghrib!!
Tipsnya masih sama tiap sahur minum susu kurma dan seporsi protein+karbo. Tapi ingat di waktu berbuka pun makan makanan yang berenergi tinggi, disarankan 2 porsi protein. Kalau kemarin aku minum susu kurma juga setelah makan besar. Jadi sehari minum 2 gelas susu kurma.
Jangan lupa air mineral! Apalagi bumil yang super beser, minum air mineral tuh wajib 2L per hari (ada hitungannya tergantung kg berat badan tapi aku lupa). Minum air bisa dicicil di waktu berbuka, bada isya, bada tarawih, pukul 3, pukul 4 dan sesaat sebelum adzan. In syaa Allah kuat!
Bumil strong, ibadah plong!
Pentingnya bertemu orang yang sevisi
Hehe
Tetiba kepikiran ingin menulis ini karena semalam habis ngedate sama suami dan isinya ngobrolin politik. Ngedumel ya lebih tepatnya 😂. Tapi suamiku sudah paham bahwa istrinya harus bicara 20.000 kata sehari jadilah beliau khusyu sekali entah apa yang sebenarnya beliau pikirkan 😂.
Dulu sebelum menikah aku buat daftar pertanyaan yang cukup panjang berisi hal-hal yang penting menurutku untuk disamakan antara calon suami dan istri. Di antaranya adalah aqidah, iman, ibadah, akhlak, quran, mindset pendidikan (anak maupun pribadi), pandangan politik, pandangan terhadap fiqih, pandangan tentang rezeki, poligami, juga dakwah.
Ada hal-hal yang bersifat sangat subjektif semisal apa yang kita benci tidak boleh hadir pada calon kita. Kenapa? Apa ada mau hidup bersama sesuatu yang anda benci? Tentu tidak! Setidaknya aku tidak mau bersama laki-laki yang bermudah-mudahan dalam komunikasi dengan lawan jenisnya. Bukan sebatas tidak berteman di media sosial tapi benar-benar cara dia berinteraksi dengan lawan jenis. Aku sih tidak masalah kalau ada followersnya yg berbeda jenis tapi dia istiqomah menjaga pandangannya dan tidak mudah menyelipkan icon imut-lucu-lovey serta terbuka dengan istrinya ketika mulai ada serangan fajar dari akhawat gemash 😈. Apalagi sampai makan bersama semeja, mohon maap hubungan kita sebatas tahu saja 😇.
Kesemua hal diatas adalah yang menurutku super penting karena berkaitan dengan pemahaman aku terhadal Islam juga bagaimana cita-cita ku untuk keluargaku kelak. Bagaimana kita hendak mewujudkan cita-cita kalau di ranah konsep saja sudah saling tidak sepakat?
Metode mungkin bisa berbeda tapi jangan sampai bertolak belakang. Semisal istri provaksin dan suami antivaksin 😂 agak repot ya apalagi kalo saling keras dengan pendapatnya. Walaupun keduanya punya tujuan yang sama yaitu agar anak sehat tapi caranya saling berbeda, nah ini menurutku harus dihindari.
Dulu aku pernah bertemu seseorang yang kukira sangat baik dalam pemahaman agama. Hafizh Quran, sarjana pendidikan Islam, guru Quran, orangnya terlihat sabar, namun sayang terlalu bermudah-mudahan dalam konsep poligami juga berbeda pandangan dalam dakwah politik. Hal ini kemudian baru kusyukuri ketika Allah membuka tabir-tabir penutup setelah pernikahan ku dengan suamiku. Bisa gawat kalau aku bersama orang semacam ini karena akan terjadi perang hebat setiap hari apalagi 3 tahun terakhir rasa-rasanya media sibuk memberitakan politik.
Tapi yang paling utama dari itu semua, kita harus selesai mengenali diri sendiri, kita mau apa mau kemana suka apa benci apa dll.
Sekian dulu..
Ramadhan hari ke-4
Alhamdulillah hari ini bisa shaum dari shubuh-maghrib. Kalau kuevaluasi, perbedaannya terletak pada susu kurma di waktu sahur. Kalau di hari 1 dan 3 aku minum air rendaman kurma + kurmanya juga, di hari ke-4 kucoba minum jus susu kurma. Tapi yang lebih wow lagi adalah di sahur hari ke-4 aku hanya makan susu kurma dan seekor ikan mas goreng tanpa nasi karena telat bangun sehingga nasi baru matang tepat saat adzan shubuh 😂. Tapi Alhamdulillah masih ada nasi tadi malam untuk suami tercinta mah. Aku aja yang tidak makan nasi.
Kalau dilihat aktivitas hari ini masih agak mirip, seperti berkegiatan bersama Umar, cuci-cuci, dll tapi di siang hari kami kedatangan nene-kake Umar dari Bandung. Alhamdulillah pekerjaan rumah dibantu ibunda 😂. Jadilah mungkin ini yang membuat energi banyak tersimpan sampai maghrib tiba.
Hikmahnya, ternyata aku harus kembali ke pemahaman awal bahwa aku bisa kok kaya ibu-ibu hamil lain yang berpuasa. Gatau hari ini mah 😂 tapi ikhtiar sudah dimaksimalkan. In syaa Allah dedebayi juga kuat, kalo ga kuat bilang Ummi ya, Nak!
Puasa
Setelah 2 tahun tidak bisa full puasa karena masa nifas dan di tahun kedua hanya mampu berpuasa 10 hari karena menyusui, di tahun ke 3 pernikahan ini ternyata masih belum bisa puasa sebagaimana para bumil dan busui strong di luar sana.
Niat sudah dimaksimalkan dengan ikhtiar mengatur pola makan dan menambah kuantitas dan kualitas makanannya. Namun dasar takdir, diri ini masih harus legowo menerima bahwa tidak semua kondisi para bunda serupa. Awalnya aku menganggap ketika orang lain bisa kok aku gabisa? Atau aku bisa kok orang lain gabisa? Harusnya kalau ada yang bisa, yang lain pasti bisa!! Faktanya, tidak begitu, bu!
Ya, inilah pelajaran untuk tidak menggeneralisasi keadaan. Kalau aku, hanya berhasil di hari pertama, hari kedua dan ketiga tidak mampu kulanjutkan puasa sampai maghrib karena kepala sudah nyut-nyut dan ingin istirahat saja. Kalau kuevaluasi, makanan sih sudah lumayan hanya porsi pekerjaan rumah tangga di hari ke-3 memang lebih berat dari hari ke-1. Namun khusus di hari ke-2 aku memang tidak sahur karena kesiangan 😂. Ini mah hipotesis aja yaa 😁, sungguh bukan pembenaran karena aku pun sedang mengandung trimester 2 awal yang ternyata masih dianugerahi mual-muntah-pusing sebagaimana trimester 1.
Ketika aku mulai pusing suami langsung menyarankan berbuka maka aku pun langsung berbuka karena khawatir pada diriku sendiri. Kalau dede bayi sulit melihat kondisinya. Sehingga indikator paling nyata tentu adalah diri sendiri. Akhirnya kurelakan berbuka.
Sedih mungkin tidak ya karena ibu hamil dapat keringanan sehingga aku sih menerima saja karena ladang pahala in syaa Allah masih berlimpah. Tapi memikirkan hutang-hutang puasa itulah yang terkadang ku tak kuasa memikirkannya karena banyak 😂. Kalau aku saat ini karena sedang mempelajari dan menerapkan madzhab syafii maka di kondisiku hari ini aku harus membayar qodho di lain hari.
Anyway, Ramadhan tahun ini mungkin kupikir adalah yang terbaik dari 3 tahun pernikahan karena rasa-rasanya aku bisa memaksimalkan peran istri dengan menyiapkan makanan sahur dan berbuka walaupun belum istiqomah di setiap waktu, tapi aku senang sekali. Ya berhubung pesantren ini pun menyiapkan makanan sahur dan berbuka maka kadang kami tidak memasak dan langsung mengambil saja 😁 dan inilah momen terbaik nya haha.
Selamat berpuasa kawan-kawan! Semoga Allah menerima amal ibadah kita 😍
Ummi: bi tau ga kaka tuh sholih banget. Kan ceritanya Ummi teh lagi sedih, trus dia pegang pipi Ummi coba, terus hapus air mata Ummi, trus peluk Ummi sambil tepuk-tepuk lembut punggung Ummi. Ma syaa Allah ya bi
Abi: iya lah, like his father
Ummi: *ga kedengeran kalimat terakhirnya* Apa?
Abi: like his father
Ummi: *antara mau denial tapi emang bener soalnya aku ga ngajarin gitu* iya deh 😆😑
Sederhana
Ada momennya ketika kami mengalami keterbatasan dalam mendidik Umar, rada sedih. Semisal belum punya high chair. Khawatir Umar gabisa makan sambil duduk. Etapi ternyata dengan perintah pun dia bisa kok duduk. Artinya, high hair atau baby chair ga se urgent itu.
Khawatir ga bisa makan sendiri karena sibuk mondar mandir. Etapi dia makan juga pas laper mah. Artinya makan atau tidak makan bukan karena high chair. Khawatir ga bisa makan sendiri karena ga pake sistem BLW dan masih rajin menyuapi. Etapi Umar bisa kok makan pakai sendok walaupun latihannya bukan makan sendiri terus tapi belajar menyendok di luar jam makan, semisal nyendok biji kopi, kacang, dll. Aku pribadi bersama Umar tidak melalui fase melempar makanan yang sedang dimakan sehingga kondisi makan saat itu bisa seperti kapal pecah. Dan Umar pun makannya sudah cukup rapi.
Waktu belajar jalan, khawatir lama prosesnya akhirnya beli lah baby walker. Ternyata anaknya ga betah dan akhirnya bisa jalan sendiri sambil merayap.
Peralatan MPASI pun cuma saringan biasa. Tapi anaknya bisa kok makan dan sampai hari ini lahap banget makan nasi, ikan, ayam dll. Artinya urusan makan pun bisa dibuat sederhana.
Dan masih banyak lagi...
Akhirnya dengan berbagai pengalaman ini aku simpulkan, mengurus anak itu ga selalu harus beli apa yang ada di iklan. Karena kadang, produk itu dibuat ga selalu untuk tujuan kita, kadang mereka produsen buat supaya kita beli aja, begitu kata anak desain produk.
Jadi, hati-hati dalam berbelanja, daripada menuhin rumah, nambah urusan, kan? Nambah cucian, kan? Nambah pikiran pula!
Dua Tahun Kaka
Kaka Umar
Kaka Umar adalah guru pertama Ummi dari kalangan bayi 😆. Kaka ajarkan Ummi banyak hal. Kaka belajar sangat cepat, kalau istilah matematika namanya eksponensial. Dalam 2 tahun pertama hidup kaka (kaka lahir 4 Ramadhan pukul 2.33), kaka sudah bisa melakukan banyak hal yang sebelumnya tidak bisa kaka lakukan. Ummi bangga!
Kaka sudah bisa berjalan menuju lari, sudah pandai BAK di toilet, sudah pandai makan pakai sendok sendiri, sudah pandai minum sendiri, senang baca buku, kalau baca Quran sudah punya nada sendiri dengan pengucapan sendiri 😁, tapi yang paling Ummi banggakan adalah bagaimana kaka begitu perhatian terhadap Ummi.
Waktu Ummi sedang bersedih, kaka sentuh kedua pipi Ummi seperti Abi menenangkan Ummi sambil menatap Ummi penuh simpati. Kaka peluk Ummi sambil menepuk lembut punggung Ummi. Kaka hapus air mata Ummi sambil menenangkan Ummi dengan kalimat-kalimat yang Ummi belum mengerti. Kadang kaka hibur Ummi dengan lelucon ala kaka yang Ummi juga belum mengerti tapi Ummi tertawa karena kaka lucu sekali.
Kaka selalu bilang "iya" ketika Ummi tanya, "kaka suka bantu Ummi?" Walaupun kenyataannya yabegitulah, tapi Ummi bangga dengan niat kaka dan jawaban polos kaka yang Ummi belum tahu apa maksudnya tapi berharap ketika kaka dewasa memang itulah yang kaka lakukan. Kaka selalu bantu Ummi cuci baju, masak, jemur baju, menyapu, mengepel sampai mengusap halus perut Ummi karena ada dedebayi. Tiap Ummi perlihatkan perut Ummi kaka pasti mengusap lembut dan bermain di perut Ummi.
Duhai anakku, sungguh hanya kebaikan yang Ummi harapkan dari lahirnya Engkau ke dunia juga calon-calon anak Ummi lainnya bila Allah anugerahkan sampai di pangkuan Ummi. Harapan Ummi selalu agar kaka menjadi penyejuk mata dan hati Ummi & Abi, menjadi ulama, hafizh Quran, berakhlak mulia, berbakti kepada orang tua, dan bermanfaat bagi umat. Sampai hari ini sungguh Engkau tunjukkan potensi-potensi kebaikan, Ummi harap selalu mendapat kekuatan dari Allah agar Ummi mampu mengantarkan kaka menjadi apa yang Allah perintahka juga yang Umi&Abi cita-citakan
Waktu 2 tahun cepat sekali berlalu, Nak. Ummi masih ingat wajahmu di foto USG di usia 4 bulanmu tapi sekarang anakku ini sudah tumbuh hampir setengah tinggi badan Ummi. Ummi tidak tahu sampai kapan kita bersama di dunia, sampai tiba masanya pertemuan kedua kita di akhirat, semoga Allah jadikan kita keluargaNya di dunia dan istiqomah sampai surga-Nya.
Ummi selalu sayang kaka 😘