"Tenanglah, semua sudah mempunyai porsi sendiri di dalam hidup ini.
Kau tidak perlu khawatir, apalagi merasa takut, sebab duka dan sedihmu hanya sementara. Semua akan berlalu, dan itu adalah satu satunya kepastian yang nanti kau dapatkan dan harus kau yakini.
Lalu, sekarang mengapa kau sedih karena dia menghabiskan waktu dengan orang lain yang sudah menjadi pasangannya? disana dia berbahagia, dia sudah melupakanmu dan tidak memperdulikanmu.
Apa baiknya untuk dirimu sendiri? Sudahlah! Kau tidak perlu sekeras itu kepada dirimu. Mungkin, memang saat ini waktunya dia berbahagia.
Bagaimanapun yang dia rasakan saat ini, itu sudah bukan urusan dan tanggung jawabmu, karena saat kalian bersama, kau sudah mengusahakan yang paling baik, kita tahu itu.
Dan, jika gagal dan kau harus kehilangan bukan berarti selama kalian bersama kau bukan pasangan yang baik, namun pasangannya yang saat ini mungkin lebih tepat untuknya.
Jika dia bisa berbahagia dengan orang lain, maka kau harus lebih pintar bagaimana menghabiskan waktu dengan hal-hal terbaik.
Bukankah banyak hal yang ingin kau lakukan? sekadar menyusuri lagi trotoar Kebun Raya Bogor yang suasananya begitu kau suka, atau sekadar menghafal dan melancarkan lagi kunci-kunci gitar yang masih kau lihat sesekali saat jarimu belum terbiasa memindahkan dari kunci satu ke kunci lainnya, dan tak jarang jari jarimu keram karena senarnya, biasanya kamu terhenti dan menyerah setelahnya, namun kali ini jangan! sekarang lakukanlah, kau berhak atas bahagiamu.
Tuhanmu, yang selalu kau jadikan tempat dari beribu banyakanya harap yang kau punya pasti sedang mempersiapkan hal yang lebih indah. Dan sekarang, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri, yang baik akan selalu menemukan yang baik pula.
Berhentilah menyakiti dirimu sendiri, hadapi sakitnya, karena kau kuat melebihi yang kau tahu."