INSPIRASI DARI PELOSOK NEGERI
Oleh : Intan Aprilisa Ilhami
Assalamu'alaikum, perkenalkan Aku Intan Aprilisa Ilhami, panggil saja Intan. Tumbuh sebagai seorang anak desa dengan fasilitas serta lingkungan belajar yang tidak sebaik dan selengkap di kota besar tidak pernah menurunkan cita-citaku sejak kecil : menjadi dokter. Entah sudah ada berapa ujian, masalah, atau ocehan meremehkan oleh orang-orang tidak penting yang sudah kulalui selama ini, dan.... Here i am, the first doctor in my family and from my village! Terdengar cukup membanggakan, tapi tentu saja semua itu bukan karena diriku sendiri tapi atas kekuatan-Nya, do'a, dan support dari banyak orang. Meski kadang langkah kita terasa berat karena bisikan orang lain yang meremehkan, tenang.. jangan berhenti, tapi kokohkan dan percepat langkah. Karena keberhasilan kita adalah cara terbaik untuk membungkamnya.
Perjalanan meraih gelar dokter itu memang panjang dan menarik jika diceritakan. Tapi kali ini izinkan aku menceritakan satu part terbaik dalam kehidupanku menjadi dokter, yaitu menjadi dokter di Pelosok Timur Indonesia, meski hanya beberapa hari.
Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.
Apa yang pertama kali terpikirkan ketika mendengar daerah itu? surga Indonesia? komodo? tempat wisata yang indah? Pulau Padar yang ada di uang 50 ribumu? dream destination to go?
Keindahan dan liburan, adalah hal pertama yang mungkin terlintas di mayoritas benak warga Indonesia jika mendengar salah satu nama daerah timur Indonesia. Tidak salah sama sekali memang, dan bahkan kata indah tidak bisa mewakili keindahan yang sebenarnya dari Negeri Seribu Sunset itu. Tapi ternyata kualitas hidup masyarakat di sana tidak seindah bayangan kita tentang wisata alamnya. Ya, aku menyaksikannya langsung ketika menjadi volunteer fully funded Ekspedisi Seribu Pulau #7 oleh Kapal Ekspedisi di Desa Golo Sepang, NTT beberapa bulan lalu. Perjalanan singkat itu memberi banyak pelajaran berharga yang tidak akan terlupa seumur hidup, dan akan kuceritakan disini agar teman-teman bisa mengambil inspirasi meski belum pernah ke sana secara langsung.
Pelajaran pertama - "Hidup Kita Saat Ini Sangatlah Mewah"
Ternyata kehidupan kita di kota kecil bernama Blora ini bisa dibilang sudah sangat mewah. Iya mewah, meski mungkin keadaan ekonomi kita berbeda-beda, tapi jika melihat saudara kita di pelosok timur Indonesia sana, atas sebab keuntungan geografis kita mendapat banyak kemewahan.
Kenapa begitu? Karena saat kita bisa naik motor di jalan yang bagus dan cukup landai untuk sekedar beli jajan di minimarket, di sana butuh kurang lebih 3 jam lewat jalan yang naik turunnya curam di kelilingi hutan untuk ke minimarket terdekat di kota.
Saat disini dan sedang sakit kita masih bisa memilih mau periksa dimana, dengan dokter siapa, dan jika butuh ke Rumah Sakit hanya perlu perjalanan beberapa menit. Di sana fasilitas kesehatan terdekat adalah Puskesmas tanpa dokter, dan Rumah Sakit hanya ada di kota.
Bagi yang laki-laki pasti sudah sunat kan? Nah, bagaimana pengalaman sunatmu? Kalau kamu sunat di Rumah Sakit, atau klinik, atau rumah sendiri sekalipun itu masih terhitung mewah, sedangkan anak-anak di sana harus mengandalkan sunatan massal yang diadakan di sekolah, di atas meja belajar, di dalam ruangan penuh debu dan dengan fasilitas yang apa adanya.
Jangan tanya tentang pendidikan, yang pasti bersyukurlah kalau sekarang kita bisa duduk dengan nyaman di sekolah terbaik di daerah, dengan guru serta fasilitas terbaik. Di sana pendidikan adalah nomor ke sekian. Jangan bicara tentang fasilitas dulu, mindset mereka masih di tahap sekolah ya seperlunya dan sebisanya saja.
Pelajaran kedua - "Bersyukur"
Dari pelajaran pertama yang kita dapatkan, maka ujungnya pasti haruslah tumbuh rasa syukur dengan apapun yang kita miliki hari ini. Bersyukurlah kalau kita hidup di Blora yang meski tidak secanggih kota besar, tapi sangat maju dibandingkan pelosok timur Indonesia. Bersyukur punya sekolah yang bagus. Bersyukur bisa berobat dan sunat dengan memadai. Bersyukur bisa menggunakan internet 24 jam sehari, karena di sana sinyal hanya ada di jam 11 malam sampai jam 5 subuh.
Pelajaran ketiga - "Tidak ada batas untuk melakukan kebaikan"
Meski di dua paragraf sebelumnya banyak kuceritakan tentang keterbatasan masyarakat di pelosok sana, tapi percayalah itu semua tidak membatasi kebaikan mereka sedikitpun. Masyarakat Golo Sepang adalah masyarakat yang sangat ramah, menjamu tamunya dengan totalitas, menyayangi kami meski baru bertemu dalam waktu yang singkat. Di sana, aku dan volunteer lain mendapat tempat tinggal di rumah warga serta dibuatkan menu makanan yang enak-enak seperti kepiting, sop daging, ayam, hingga ikan. Kebaikan mereka sangat menampar kita yang bisa hidup di tempat dengan fasilitas lebih baik tapi saat akan melakukan kebaikan kecil saja beuhh perhitungan sekali.
Pelajaran terakhir - "Jangan lupakan saudara kita yang jauh daerahnya"
Jadi apapun kita hari ini atau nanti, ternyata kebaikan tidak cukup hanya untuk kita sendiri teman-teman. Ingatlah anak-anak, mama papa, dan kakek nenek di pelosok itu membutuhkan kita. Begitu pula di Palestina, Suriah, dan tempat konflik lain. Meski belum bisa beraksi apa-apa, memberikan sedikit perhatian kita kepada mereka setidaknya sementara cukup. Semoga suatu hari nanti, kemajuan di Indonesia dan kemerdekaan seluruh dunia adalah berkat andil pemuda-pemuda hebat yang saat ini bersungguh-sungguh belajar dan menambah skill serta pengalamannya. Dan semoga itu adalah kita.
Cerita ini bukan untuk menggurui, tapi untuk menginspirasi. Semoga setelah membacanya, teman-teman punya semangat untuk terus mencintai Indonesia, dan bercita-cita mengelilingi seluruh pelosok negeri yang penuh dengan surga, baik wisatanya, alamnya, budayanya, juga manusianya.
- Salam, dariku yang dijuluki "Dokter Sunat" oleh anak-anak NTT -
Hubungi aku kalau kamu ingin merasakan serunya berkelana ke pelosok Indonesia!
*ditulis dalam rangka permintaan adik sepupu buat tugas Bahasa Indonesianya