Kepada T: Sebuah Ocehan Saja
Aku bersandar pada bantal yang membatasi punggungku dan dinding. Di hadapanku, sebuah meja lipat kecil menopang komputer mini yang sudah satu jam menyala. Satu jam. Jendela microsof word itu masih memampang lembaran putih bersih tanpa noktah. Jariku mulai meluncur di atas keyboard, akhirnya menambahkan dua baris deretan huruf kapital nan tebal: BAB I. PENDAHULUAN. Kusentuh tombol enter dua kali, lalu berhenti lagi. Detik berikutnya, yang terdengar adalah irama disharmoni, jariku mengetuk-ngetuk meja.
Seperti yang sudah-sudah, aku hafal betul apa yang akan terjadi. Perasaan yang kukenal dengan baik, akibat pengalaman empiris bertahun lalu di tempat yang berbeda. Aku, laptop, dan sebuah karya tulis ilmiah yang harus dituntaskan demi mengakhiri tekanan batin berkepanjangan ──skripsi. Kini ia hanya berganti nama. Naik jenjang strata. Tesis.
Gangguan itu merambat dari telapak kaki hingga kepala. Pertama-tama kau akan merasakan suhu di ruangan mendadak turun beberapa derajat. Membuat kau yang sudah terduduk di kursi harus beranjak ke lemari untuk mengambil kaus kaki. Setelah kau merasa agak nyaman, giliran jantungmu berdegup lebih kencang dan dingin itu merambat hingga tengkuk. Sejenak kau harus merentangkan tangan untuk meraih minyak kayu putih lalu memijit ringan belakang kepalamu. Saat tanganmu mengarahkan kursor ke folder sakral itu, pikiranmu terdistraksi lagi oleh teriakan kandung kemih. Minta dibongkar muatan.
Cobaan sesungguhnya, adalah ketika mulai menggunakan internet dengan dalih riset, mencari referensi, namun selalu berakhir pada situs jejaring sosial atau belanja online. Lengkaplah sudah. Folder itu tidak pernah dibuka.
Kini, di hadapan meja lipat kecil dan komputer mini, setelah beberapa tahun terlampaui, aku dihadapkan pada persoalan yang sama. Saat itu aku juga menulis untuk relaksasi. Kubayangkan poster The Beatles-ku bergerak-gerak sendiri hingga John Lennon menasehatiku untuk mulai ngerjakan skripsi. Tulisan itu aku post ke blog friendster (oh, ya friendster, apa kabar?!? Setiap orang pasti melewati masa alay, ya hihihihihhi)
Tak ada yang berubah. Same old same old... Kecuali satu hal yang kuayakini, dan membuat miris. Aku belum dewasa.
Aku menghindari pembicaraan seputar tesis, aku menepis ajakan teman-temanku ke perpustakaan. Kampus membuatku muak. Dan aku berusaha mencari kesibukan yang aku (pikir) dapat memanusiakanku. Membuatku (merasa) menjadi makhluk yang punya rasa, cipta dan karsa. Aku membeli buku-buku yang tidak ada hubungannya dengan penelitianku. Membaca tanpa henti. Semakin tebal bukunya, semakin baik. Sebab seperti ada yang terlepas ketika aku menamatkan sebuah buku. Hari-hari yang kosong, dan aku dihadapkan pada hantu yang selama ini mengejarku. Ia tidak pergi. Ia hanya bersembunyi.
Kadang-kadang aku berpikir, jika aku bisa membuat pencitraan aktivitas listrik di otakku setiap mendengar kata tesis, mungkin yang terlihat adalah gambaran sebagai berikut. Setengah bagian otakku kelam, mati, sedang sisanya menunjukkan loncatan-loncatan listrik tak beraturan, seperti sirkuit yang korslet.
Aku pikir sedikit rekreasi bisa membuatku lebih baik. Terakhir, aku memutuskan untuk ikut latihan menembak seperti Robin Scherbatsky di How I Met Your Mother. Dude, DIA KEREN BANGET! Mungkin setelahnya aku akan belajar menerbangkan helikopter. Sebanding lah dengan apa yang sudah kualami setengah tahun terakhir─merasakan sakitnya membuat keputusan bodoh yang aku sesali seumur hidup, mengubahku menjadi seperti mainan rusak yang dibuang (iya, ini curhat colongan)─latihan menembak mungkin akan menjadi keputusan terbaik yang bisa kubuat sejauh ini. Namun, semangatku surut begitu tahu biaya yang dibutuhkan sangat besar. Dan mengemudikan helikopter... oh c’mon! Menyetir saja aku belum lancar. Belakangan aku menyadari, itu hanya bentuk pelarian yang menyedihkan (hihihihihi).
Jika benar tanaman enteogen dapat digunakan oleh para shaman untuk menghubungkan dunia spirit dan dunia materi, aku ingin memanggil aku yang bertahun lalu, yang lebih baik, lebih tahan distraksi untuk mengerjakan tesis ini. Sayang Iboga dan Ayahuasca sangat sulit ditemukan di sini. Dan aku tak mengenal seorang pun shaman. Lebih daripada itu, aku tak yakin diriku siap untuk menyeberang ke dunia spirit bersama Iboga. Aku tidak dapat bersatu dengan alam, dan sulit untuk bisa percaya. apalagi jaman sekarang, tanaman se’sakral’ ganja lebih dikenal di kalangan muda-mudi untuk rekreasi.
Jadi, tak mungkin kan aku duduk di depan laptop, menenggak jus jamur champignon dan berharap mengalami semacam trance hingga tesisku jadi dengan sendirinya. Lagipula champignon itu bukan tanaman enteogen, man. Ia digunakan sebagai sayur seperti brokoli atau sawi. Hahahahahaha :)) Oke, semua informasi di atas kudapat dari membaca Partikel (kalian pasti tahu. Seri ke empat Supernova yang superkeren itu). Dan jujur, aku memang jadi berkhayal betulan bisa mengerjakan tesis sambil mengalami trance hehehehehe. Hingga aku sampai pada bagian paragraf yang membuka pikiranku. Tanpa tanaman entogen. Tanpa harus mengalami trance. Sadar sepenuhnya...
... Dan tiba-tiba saja, muncul kesadaran entah dari mana, bahwa akulah yang menyabotase hidupku (...) Bukan siapapun yang kuanggap pernah mengkhianatiku. Melainkan rongga yang kupelihara sendiri. Kehancuranku adalah makanan baginya. Momen ketika aku membaca kalimat itu adalah─seperti yang dikatakan anak gaul twitter─jleb momen. Titik balik, ketika kau duduk dan berpikir ulang, lalu mulai menata hidupmu kembali. Bukan lingkunganku yang membuat tesisku mandeg. Bukan dosen pembimbingku, bukan teman-tmanku, bukan rentetan penyesalan yang kualami, bukan karena aku harus mengulang satu mata kuliah, bukan karena pekerjaanku atau kegiatanku di luar kuliah. Tapi diriku sendiri.
Sayangnya momen seperti itu berlangsung singkat pada sebagian orang, termasuk aku. Berlalu dan mulai terlenakan lagi oleh sisi melankolis; suka mengasihani diri sendiri. Hedeeeehhh...
Jadi intinya? Aku malas, hingga harus menampar diriku bolak-balik lalu menyeret kaki ke depan meja untuk mulai mengerjakan tesis jika aku masih ingin lulus. Hehehehehe.
Terdengar kurang oke ya? Ah sudahlah. Seperti yang dikatakan Clara Ng, penulis bukan filsuf yang harus menyertakan pesan moral di akhir cerita. Kasian betul penulis kalau begitu :P Begitu juga ocehan serampangan ini. Kuserahkan sepenuhnya pada pembaca (seolah ada yang baca saja hihihihhi).
Aku sendiri sebenarnya takjub bisa menulis hampir tiga setengah halaman tanpa henti. Mungkin aku sedang mengalami trance atau lucid dream. Esok pagi aku terjaga dan terkejut oleh file ‘Kepada T: Sebuah Ocehan Saja’ yang aku sendiri tidak pernah merasa membuatnya.