Entah bagian mana dari episode hidup kita yang membuat kita merasa sangat dekat dengan Sang Pencipta Allah Azza wa Jalla. Adakah kita kenang masa2 manis itu, merasakan yang namanya halawatul iman. Adakah kita begitu merindunya saat2 itu? Ataukah justru bgtu sulitnya kita mengenang rasa itu? Bahkan jauh dari ingatan kita tentangnya. Secuil iman yang teguh, semanis iman yg lembut saat bersama-Nya apakah cukup menjadi dorongan yang cukup besar untuk kembali kepada-Nya? Dimana masa itu? Dimana rasa itu? Dimana cinta itu? Saat perhatian kita tertuju pada dunia dan isinya. Apakah kita tergolong hambanya yang syukur nikmat atau kufur nikmat? Allah beri kita kebaikan yang tak terhitung, adakah kita lalai atasnya? Dimana ingatan tentang manisnya iman? Dimana??? Tak cukupkah teguran dr Rabb semesta alam akan ketidaktaatan kita kepadaNya? Pernahkah doa kita terlantun "Ampuni kami, sesungguhnya kami mendzolimi diri kami sendiri?" lalu kita mulai bertanya2 bgmna akhir dr cerita hidup kita? Seorang yg mudah menangis karena dosa lalu mengulang kesalahan atau seorang yg ridho atas kesalahannya dan tak sedikitpun ingin mengulang kesalahan yang sama? Siapa kita yang berani mengundang murkaNya? Penyesalan sesaat yang dibalut penuh dengan air mata dusta. Pada akhirnya hanya mampu merasa seperti sampah yang paling kotor, menjijikkan, busuk, dan tak bernilai. Apakah itu cerminan dr jiwa yang gemar maksiat dan gemar bertobat? Tak berkesudahan...gelisah terus menyelimuti hingga tak ada lagi tempat utk meletakkan hati yg rindu akan cahayaNya.