seen from United States

seen from Poland

seen from Poland

seen from Finland
seen from Canada
seen from Türkiye
seen from United Kingdom

seen from Singapore

seen from United States
seen from China
seen from India
seen from United States
seen from China
seen from China
seen from Türkiye

seen from Finland
seen from China
seen from Australia
seen from Germany
seen from Finland
Selisih Waktu Orang Miskin Masuk Surga
Orang miskin yang sabar dan tekun beribadah lebih mulia kedudukannya di sisi Allah.
Rasulullah SAW dalam hidupnya pernah memberikan wasiat kepada orang-orang fakir.
Ia mewasiatkan tentang selisih waktu orang fakir saat masuk surga.
Dalam hadits shahih Bukhari, Nabi SAW berkata, "Wahai orang-orang fakir, apakah aku tidak memberi kabar gembira kepadamu, sesungguhnya orang Muslim yang miskin akan masuk surga sebelum orang-orang Muslim atau mukmin yang fakir akan masuk surga, sebelum orang-orang mukmin yang kaya dengan jarak setengah hari akhirat, yang itu setara dengan 500 tahun.”
Dalam buku Wasiat Rasulullah SAW kepada para Sahabat karya Fitriani GS, dijelaskan jika orang miskin yang sabar dan tekun beribadah lebih mulia kedudukannya di sisi Allah SWT dibandingkan mereka yang kaya. Di akhirat nanti, orang kaya akan lebih lama dihisab.
Mereka akan ditanya tentang hartanya, dari mana perolehannya, serta kemana harta itu digunakan. Saking banyaknya pertanyaan yang diajukan, waktu hisab mereka menjadi lama.
Kaum Muslim yang miskin bisa masuk surga terlebih dahulu karena perbuatan yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT sedikit. Utamanya yang berkaitan dengan harta.
Fakir miskin selama di dunia kerap dipandang sebelah mata. Bahkan tidak jarang mereka dianggap sebagai gembel dan berada dalam strata terbawah kehidupan sosial masyarakat. Namun, di hadapan Allah, mereka adalah yang lebih mulia dan masuk surga lebih dulu.
Meski demikian, perlu diingat jika tidak lantas otomatis semua mukmin yang miskin bisa masuk surga. Yang dimaksud orang miskin yang mulia adalah mereka yang beriman, sabar, dan mematuhi segala perintah dan larangan Allah SWT.
Orang fakir yang dimaksud bukanlah sembarangan. Karena, banyak pula orang miskin lantas melakukan tindakan kejahatan, ahli maksiat, dan tidak beriman. Mereka yang seperti ini tidak termasuk golongan orang yang mulia dan masuk surga terlebih dulu.
Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda, "Aku melihat ke dalam surga, maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah fuqara’ (orang-orang fakir), ...."
Dalam hadits lainnya, Nabi SAW bersabda, "Saya pernah berdiri di pintu surga, ternyata umumnya orang yang memasukinya adalah orang miskin. Sementara orang kaya tertahan dulu (masuk surga). Hanya saja, penduduk neraka sudah dimasukkan ke dalam neraka."
*) https://m.republika.co.id/amp/qcfe9p366
Terdapat disebuah hadits Qudsi, dari Allah Azza Wajalla
Bahsawannya jika seorang hamba mengangkat kedua tangannya ke langit sementara dia adalah orang yang bermaksiat, lalu dia memanggil Tuhannya
“Ya Rabb…” Kemudian malaikat menghalangi suaranya.
Lalu seorang hamba memanggil Tuhannya lagi.
“Ya Rabb…” Kemudian malaikat menghalangi lagi suaranya.
Lalu dia mengulangi lagi untuk yang keempat kalinya.
Maka Allah Azza Wajalla berkata,
“Sampai kapan kalian (Malaikat) menghalangi suara hamba-Ku dari Ku?”
“Labbaika ‘Abdi.. (Aku menyambut panggilanmu wahai hamba-Ku)”
“Labbaika ‘Abdi.. (Aku menyambut panggilanmu wahai hamba-Ku)”
“Wahai anak-anak Adam, Aku menciptakanmu dengan kedua tangan-Ku & Aku membimbingmu dengan nikmat-Ku. Sementara engkau menyimpang dari-Ku dan bermaksiat pada-Ku. Apabila engkau kembali pada-Ku, maka Aku akan memberimu taubat.”
“Maka dimana lagi engkau temukan Tuhan seperti-Ku?”
“Aku adalah Maha Pengampun”
“Aku adalah Maha Pengampun & Maha Penyayang”
“Hamba-Ku, Aku mengeluarkanmu dari ketiadaan menjadi ada, dan Aku ciptakan untuk kalian pendengaran, penglihatan, dan akal.”
“Hamba-Ku, Aku menyembunyikan aibmu sementara engkau tidak takut kepada-Ku”
“Aku mengingatmu sementara engkau lupa terhadap-Ku”
“Aku malu terhadap engkau wahai hamba-Ku, sementara engkau tidak malu terhadap-Ku”
“Siapa lagi yang lebih Dermawan dari-Ku?
“Adakah seorang hamba yang mengetuk pintu-Ku lantas tidak Aku buka?, Adakah seorang hamba yang meminta kepada-Ku lantas Aku tidak memberinya?”
“Apakah Aku ini pelit sehingga hamba-Ku pelit kepada-Ku?”
“Ya Rabb…”
“Wahai dzat yang keutamaan-Nya selalu tercurah atas hamba-hamba-Nya”
“Wahai dzat yang membentangkan kedua tangan-Nya dengan pemberian”
“Wahai dzat yang memiliki pemberian-pemberian yang luhur”
“Limpahkanlah Rahmat kepada kami, dan salam kepada Rasulullah & Keluarganya, sebaik-baiknya manusia di dalam budi pekerti.”
“Dan ampunilah kami wahai dzat yang mempunyai keluhuran di malam ini, dan di setiap malam. Rizkikanlah pada kami kehidupan yang Ridho dan di Ridhoi”
Semoga bermanfaat, baarakallahu fiikum.
MasyaAllah, tabarakallah. Sesungguhnya, kita manusia tidak luput salah dan lupa. Semoga dilebutkan dan dimudahkan langkahnya untuk senantiasa mengikuti kajian dan menghantarkan jiwa kita untuk mengingat kembali hakikat hidup di dunia.
-
Jangan pernah takut berteman dengan lelah karena kita tidak pernah tahu lelah yang mana yang Allah terima sebagai pahala. Sudah yakinkah amal kita mampu menghantarkan ke surgaNya? Karena surga itu mahal, tidak akan pernah dicapai oleh orang yang tidak bersungguh-sungguh. Dan ingat, ketika Allah memberi amanah, Allah tahu kita pasti bisa. Teori yang pasti kita tahu, tetapi untuk meyakininya membutuhkan iman dan taqwa. Dan tentu panjangkan niat dan senantiasa memperbaiki niat hanya untuk Allah.
Tentang Syukur
"Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Setelah menemukan hadits di atas (kenapa baru nemu sekarang, betapa hamba sangat kurang belajar selama ini hiks), akhirnya legaaaa~ lega karena selama ini para netizen sering berdebat masalah kayak gini,
"kenapa sih mesti lihat orang di bawah kita dulu baru kita mau bersyukur?!!"
"Kenapa harus menjadikan orang di bawah kita sebagai acuan dan motivasi untuk bersyukur?!"
"Kalau mau bersyukur jangan bikin orang lain kelihatan rendah juga!"
Yang aku pahami ialah jangan sampai kita bersyukur tepat ketika masih berada di depan orang tersebut, apalagi jika ucapan syukur kita terdengar oleh orang tersebut.
Lagi pula, belum tentu yang lebih berada yang lebih bersyukur. Barangkali orang yang jauh di bawah kita justru lebih luas lahan di hatinya untuk menyuburkan benih-benih syukur. Karena syukur bukan hanya dalam lisan, tapi juga dirasakan oleh hati. Tentunya hati yang lapang! Lapang menerima setiap ketetapan-Nya. :)
Catatan pagi ini dari atas kereta yang melaju ke kota rantauku. Dua stasiun lagi, aku turun. Siap-siap.
Otw, 10 Agustus 2020 | 06.00 | @wedangrondehangat
"O Allah! I ask You for Your love and the love of those who love You, and for the love of every action which will bring me closer to Your love." --At-Tirmidhi
What Makes A Good Muslim?
The word "Muslim" means "a person who submits their will to Almighty God".
By doing various good deeds in the name of the one God who created the heavens and the earth and what exists within them, will bring us closer to Him and leads us into becoming better Muslims.
First and foremost, the good deed that serves as the foundation of all other good deeds in Islam is believing and acknowledging the message as follows:
“Say, "He is Allah, who is one. Allah, the Eternal Refuge. He neither begets nor is born. Nor is there to Him any equivalent."”
— (Q.S. Al-ikhlas, 112:1-4)
To accept the oneness of God and to worship Him alone, without assosiating partners with Him, as well as acknowledging that He has no beginning nor an end and that there is none equivalent to Him is the fundamental teachings of Islam.
Abu Huraira reported: The Messenger of Allah, peace and blessings be upon him, said:
“The happiest of people who earn my intercession on the Day of Resurrection are those who say there is no God but Allah sincerely from the heart.”
— (Sahih Bukhari 99, Grade: Sahih)
Good character is one of the heaviest of good deeds upon the Scale of Allah on the Heareafter.
Amr ibn Shuaib reported: The Messenger of Allah, peace and blessings be upon him, said:
“Shall I tell you about the most beloved to me and the closest to my assembly on the Day of Resurrection? They are those with the best character.”
— (Source: Musnad Ahmad 6696, Grade: Sahih)
Jabir ibn Abdullah reported: The Messenger of Allah, peace and blessings be upon him, said, “Verily, the most beloved and nearest to my gathering on the Day of Resurrection are those of you with the best character. Verily, the most reprehensible of you to me and the furthest from my gathering on the Day of Resurrection will be the pompous, the extravagant, and the pretentious.” They said, “O Messenger of Allah, we know the pompous and the extravagant, but who are the pretentious?” The Prophet (ﷺ) said, “The arrogant.”
— (Source: Sunan al-Tirmidhi, Grade: Sahih according to Al-Albani)
For sources, and more information, click here.