Menuju Tahap Kehidupan Selanjutnya
Sambil merenungi jawaban apa yang akan aku berikan untuk ujian di esok hari, sudah lama terpikir untuk merenungi masalah ini, yang diharapkan menjadi pengingat agar aku senantiasa menjadi hamba-Nya yang bersyukur.
Setelah melalui hari-hari menimbang-nimbang dengan segala keragu-raguan, akhirnya aku memutuskan untuk meyakinkan diri melangkah ke jalan ini, go back to school! Oho. Dengan segunung modal nekat karena kemampuanku yang rasanya sepercik pun tidak.
Keputusan ini mulai diawali lagi setelah perbincangan malam itu (mungkin sekitar 1,5 tahun lebih yang lalu?) dengan seorang senior saat sedang jaga malam, dengan aku yang sedang gelisah dengan masa depan.
“Kang, gimana ya kang caranya biar tau ke depannya mau ngapain? Asa ngga kebayang..”
Pertanyaan yang muncul di saat aku berada di tahap mulai ingin menyerah untuk sekolah lagi, karena toh hidup seperti ini nampaknya tidak apa-apa.
“Ya itu mah gimana kamu, tapi kalau saya mah ke orang orang kaya kamu suka bilangnya gini, jangan terjebak zona nyaman. Jadi dokter jaga kan nyaman tuh, jaga, beres jaga pulang..”
Jawaban beliau langsung menyentil keinginan dalam hati yang tidak diungkap saat itu. Sehingga hari-hari nyaman selanjutnya malah membuat aku semakin gelisah, ditambah kebodohan yang rasanya makin nampak dan kesadaran bahwa aku memang harus belajar lagi. Dan sulit sekali belajar tanpa bimbingan, yang menghasilkan kesimpulan bahwa cara aku dapat belajar di bawah bimbingan adalah dengan melanjutkan sekolah. Tapi kemudian, sekolah apa?
Maka aku menilik kembali cita-cita yang sebelumnya perlahan-lahan ingin aku kubur, dan mencari inti alasan kenapa aku memilih cita-cita itu, daripada berpatokan terhadap akan menjadi apa aku nantinya. Setelah alasan itu didapat, aku mencari pilihan-pilihan mana saja yang bisa membuat aku mempelajari hal yang menjadi alasan untuk aku ingin bersekolah, dan munculah 2 pilihan. Kemudian aku menimbang-nimbang sisi positif negatif dari setiap pilihan, dan akhirnya pilihanku saat itu muncul di nomor 2. Dimulailah tahapan mencari tau apa yang akan aku pelajari jika aku memilih pilihan tersebut. Namun, baru saja aku menjalani tahap awal, aku sadar bukan ini yang aku cari.
Pilihan pertama saat itu masih terlihat menakutkan, dan lama-lama aku merasa makin muncul ketakutan-ketakutan yang tidak jelas. Maka Allah tunjukkan jalan untuk aku mencari tahu, lewat kesempatan untuk magang di bagian tersebut, yang meskipun di awal jalan ada beberapa tantangan yang tidak mudah, tapi Alhamdulillah Allah berikan jalan keluar.
Agak OOT, tapi saat itu di benakku, aku merasa seperti musafir di padang pasir yang membawa seonggok gembolan di punggung dan sedang menatap jalan yang silau tak terlihat ujungnya. Saat itu hanya bisa berkata, “Ya sudahlah, mari kita lihat apakah ketakutan-ketakutanku beralasan, dan bagaimana nanti saja apakah selanjutnya aku akan meneruskan pilihan ini atau berbelok, semoga Allah tunjukkan jalan yang Allah ridhai..”
Dengan aku dan kelemahan-kelemahan yang aku tau ada dalam diri, akhirnya dimulailah langkah pertama. Dan Alhamdulillah, Allah berikan aku jalan yang mempertemukan aku dengan guru yang bisa aku jadikan teladan, yang membuat aku bisa mendapatkan banyak pelajaran dari beliau, dan pelajaran tersebut tidak hanya mengenai pelajaran yang nampak pada buku.
Sehingga keinginan yang aku kira sudah terkubur, lama-lama muncul lagi, sampai aku merasa bisa jadi ketakutan-ketakutan itu merupakan harga yang pantas untuk aku hadapi jika aku bisa melanjutkan pilihan ini. Meskipun tentu saja ketidakyakinan terhadap diri masih besar, tapi yasudah, melangkah dulu, semoga Allah mampukan, dan jika memang menurut Allah bukan ini jalannya, semoga Allah lapangkan dan tunjukkan jalan yang lebih baik.
Tapi memang, masa-masa perjalanan itu masih aku yang sering melupakan Allah yang Maha Besar, masih sering lalai, dan masih sering malah bergantung pada makhluk-Nya. Dan di tahapan ini, bisa jadi Allah maksudkan untuk mengingatkan aku bahwa benar-benar hanya Dia lah tempat bergantung. Fase persiapan ujian, Allah panggil kedua orang tuaku untuk menjadi tamu di rumah-Nya dengan berhaji, sehingga bahkan sampai nanti pengumuman pun belum akan ada orang tuaku di rumah, semoga Allah takdirkan untuk masih bisa berkumpul dalam keadaan kuat dan sehat dan menjadi haji mabrur. Dan karena bulan lalu aku membayangkan akan kesepian di rumah dan mungkin akan menghabiskan banyak tangisan dalam proses persiapan, menyebabkan adikku yang bekerja di luar pulau akhirnya berencana untuk pulang ke rumah lebih awal. Tapi, MasyaAllah, dari rencana-Nya bahkan jadwal ujianku mendadak dimajukan sehingga proses ujian akan selesai tepat sebelum adikku datang. Besok ujian terakhir, dan lusa Adikku InsyaaAllah tiba.
Alhamdulillah, dengan bayangan-bayangan ketakutanku bulan lalu, ternyata Allah karuniakan ketenangan dalam menjalani setiap proses. Meskipun rasa berdebar dan tegang itu pasti ada, tapi gambaran aku yang dulu benar-benar bisa tegang sampai tidak bisa melakukan apa-apa ternyata Allah kehendaki tidak muncul, dan semoga tidak akan muncul InsyaaAllah.
Meskipun belum selesai, dan terlepas dari hasilnya, aku harus mengingat bahwa ini memang karunia Allah, dan semoga terus Allah bimbing, tunjukkan, dan diberikan kekuatan pada jalan yang Allah ridhai. Aamiin..