Niat & Jalan Cahaya ***** Teruntuk yang terkasih guru-guruku ***** "Tyas, dalam hidup, kata2 dan perbuatan itu bisa dikoreksi. Tapi tidak dengan niat dan komitmen; seperti kertas, sekali kamu rusak dia tdk akan kembali seperti semula, sekeras apapun usahamu mengoreksinya" Adalah salah satu petuah Pak Guru saya yang paling menguatkan. Saat itu, penghujung november tahun yang lalu, angin takdir saya tiba-tiba berbalik arah. Seperti angin ribut yang bising, saya benar2 habis akal akan dibawa kemana jalan hidup saya. Di antara kekalutan dan kebingungan krn hilang pegangan; sebuah sosok bijak penuh hikmat, datang membuka pintu. Menantang akal, menghitung kemungkinan, membantu menyusun kepingan. Ya, hidup tidak selamanya menawarkan kemewahan pilihan. Berbekal niat, sebuah mantra dari surat sang guru lainnya pun dirapal: faidza azamta, fatawakkal 'alallah. Dengan mengubur impian masa depan yang tersusun rapih sebelumnya, di penghujung november tahun yang lalu, pelan2 saya merubah haluan. Mengembangkan layar, menuju angin takdir yang tak tahu entah kemana. Kini lautan saya penuh ombak dan palung dan angin ribut dan sesekali monster laut. Sosok kecil dan ringkih ini tentu saja sesekali gamang, sesekali bingung, dan sesekali ketakutan. Takut menenggelamkan kapal, takut berbelok arah yang salah, takut memilih medan yg salah. Ah, kalau saja dengan menenggelamkan diri maka saya bisa menyelamatkan seisi kapal, alangkah mudahnya pilihan. Namun tentu saja hidup tidak mungkin sesederhana itu. Ada kala mata hati silau dengan segala rintangan, menyembunyikan niat dalam bilik berkelambu, sehingga tumpul akal dan nyali. Beruntung hidup menjodohkan dengan guru2 bijak dalam perjalanan. Niatkanlah semua untuk anakmu, maka kau akan kebal penderitaan - begitu bisik seorang guru. Tapi angan akan anak cucu tentu jauh di awang2. Beruntung lagi Tuhan mengirim guru lewat sosok kakek bumi yang tidak biasa. Mandala itu tidak mati, telusuri, kamu akan menemukan hikmat dan hakikat nusantara. Hidup ini tidak hanya sekedar hukum, anak kecil, buka mata hati lebar2 dan coba resapi hikmat. Kemudian dia mengajak saya berkeliling, pada pendopo2 dan panggung2 rakyat dan punggung2 bukit, menjelajah panil2 relief berisi jutaan simbol. Lihatlah cerita ini, ini cerita tentang burung pipit. Yang ringkih dan kecil. Di tengah hutannya yang terbakar. Hutan yang menaunginya dan segenap jiwa yang lain. Dg sayap kecilnya bolak balik dia mencelupkan diri di danau dan mengepakkan sayap mencoba memadamkan api. Walau tentu saja akhirnya dia jatuh kelelahan. Tapi bukan ukuran, pun bukan hasil, niat. Niat itu yg membawa sang pipit menemui jalan cahaya, dia moksa, bukan mati. Jadilah burung pipit, lakukan apa yang kamu bisa walau semustahil apapun itu, sesederhana krn itu hal yang benar dilakukan - Toh bukan sinar silau yg kamu benci yg kamu cari, tapi cahaya putih. Seolah belum lengkap alam memberi pertanda, guru berkisah burung pipit di depan lukisan kaca yudhistira dalam kereta kencana. Tiba2 ingatan masa kecil yg entah kenapa lekat sekali di kepala muncul kembali. Tentang Yudhistira yg kehilangan kesucian karena curang terhadap Durna. Yang walau tanpa menipu namun berniat menipu tentang kematian Aswatama. Seketika itu juga, Yudhistira yang sucipun menapak bumi. Niat tidak bs dikoreksi. Pun oleh sosok suci Yudhistira. Kata2 dan perbuatan bisa dikoreksi, tapi tdk dengan niat. Di penghujung November ini, demi sosok2 guru kehidupan, sebait doa kembali dirapal "Tuhan, luruskan niatku, pelihara imanku, tunjukkan jalan cahayaMu". Faidza azamta, fatawakkal 'alallah. ***** Terima kasih guru-guruku – View on Path.