TUHAN MENJAGA SEGALA SESUATU TETAP EKSIS
Semua muslihat ini sangat mengganggu, membuat kita tenggelam di dalam ketidakpastian, bahkan indera pun tidak dipercaya sebagai instrumen dalam membuktikan sesuatu. Satu yang pasti hanya interaksi yang ada di dalam pikiran seperti proses bernalar.
Rasionalisme seperti Rene Descartes memercayakan nalar sebagai sumber pengetahuan. Keraguan terhadap realita membuat manusia berusaha memegang suatu keyakinan. Keyakinan yang lain yaitu Empirisme, memercayakan indera yang mengalami kejadian-kejadian sebagai sumber pengetahuan.
Empirisme, seperti John Locke, berusaha membuktikan eksistensi dari realita itu sendiri dengan menggunakan indera. Namun, sebelumnya Descartes sudah menunjukkan bahwa indera pun tak dapat dipercayakan, dan Locke setuju dengan hal itu. Hanya saja, Locke tidak mau menganggap bahwa indera MUTLAK tidak dapat dipercaya, tetapi Locke mendefinisikan sesuatu agar indera yang digunakan untuk mengetahui realita itu benar-benar akurat. Locke mendefinisikan bagian-bagian dari objek yang dapat diamati semisal berat, rapat massa, panjang, lebar, dan tinggi yang digolongkan menjadi kualitas primer yaitu ciri khas yang berada di dalam objek tersebut, tidak berasal dari dalam pikiran (gerak dari objek juga termasuk).
Dari kualitas primer tersebut, diturunkan menjadi kualitas sekunder yang menurut Locke tidak nyata atau subjektif seperti warna, tekstur, rasa, dan bau dari objek tersebut. Kualitas tersebut menyatakan bahwa benda yang dapat diamati kualitasnya adalah benda-benda yang eksis. Alur berpikirnya dapat berupa: jika benda memiliki kualitas yang dapat diamati -> maka benda eksis. Dunia yang kita amati tentu eksis karena adanya kualitas primer sehingga realita yang diamati bukan persepsi (bagian dari kualitas sekunder) namun nyata dari materi itu sendiri.
Gagasan Locke sangat sederhana dan kuat, sayangnya George Berkeley menantang gagasan tersebut. Berkeley memberitahukan bahwa kualitas primer dan kualitas sekunder tidak memiliki perbedaan. Kualitas primer tidak akan ada apabila kualitas sekunder tidak ada. Bayangkan apel tanpa warna, tekstur, rasa, dan bau (tanpa kualitas sekunder). Apel tersebut tidak mungkin ada apabila kualitas sekunder tidak dipertimbangkan. Bahkan, jika apel tersebut berwarna transparan, warna transparan sudah masuk ke dalam kategori kualitas sekunder. Sehingga kualitas primer juga bukan sesuatu yang berasal dari objek, melainkan pikiran yang membentuk kualitas tersebut, sama seperti kualitas sekunder. Semuanya hanya persepsi, tidak ada hal seperti materi (objek-objek di dunia), malahan yang ada hanyalah persepsi. Perumusannya yaitu "Esse Est Percepi" yang bila diterjemahkan ke dalam bahasa inggris "to be is to be perceived" yang dalam terjemahan saya yaitu "agar sesuatu ada, maka sesuatu dipersepsikan dahulu". Mirip dengan rumusan Descartes yaitu Cogito Ergo Sum. Konsekuensi dari perumusan Berkeley adalah bila persepsi sudah tidak ada, maka tidak ada yang tersisa atau segalanya tiada. Apabila saya tidak mepersepsikan diri saya, semisal saya sedang tidur, maka saya hilang.
Supaya saya tetap ada dari keadaan tak berpersepsi, orang lain harus ada untuk mepersepsikan saya. Namun bila dia sekali mengedipkan mata, maka saya akan menghilang. Dari sini, ditunjukkan sesuatu yang membuat semuanya tetap ada meskipun tidak diperhatikan oleh kita, yaitu Tuhan. Tuhan yang dimaksud Berkeley adalah Tuhan yang dapat selalu mempersepsikan segala hal sehingga semua tidak menghilang bila kita tidak mempersepsikan hal itu. Oleh sebab itu, saya tetap terjaga (ada) karena ada Tuhan yang mempersepsikan saya.








