What are ur plans, God?
noise dept.
sheepfilms
RMH

★
Lint Roller? I Barely Know Her
I'd rather be in outer space 🛸
No title available
occasionally subtle

No title available
No title available

@theartofmadeline

Jar Jar Binks Fan Club
Not today Justin
Xuebing Du
d e v o n
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
we're not kids anymore.
untitled
Misplaced Lens Cap

Origami Around

seen from Romania

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Germany

seen from United Kingdom

seen from India
seen from Norway
seen from Venezuela
seen from Iraq
seen from United States
seen from Pakistan

seen from United States

seen from Malaysia
seen from Iraq

seen from South Korea

seen from Malaysia
seen from Libya
seen from Bangladesh
seen from Philippines
@kamaramaliaa
What are ur plans, God?
How can i move on? This situation kills me slowly
Sedari siang rasanya ingin marah dan melemparkan kata anjing, bangsat, keparat, tai, kepada siapapun. Semalam ini menangis. Memanglah hari pertama mens mampu mempermainkan aku.
Aku ini sagitarius. Aku mencintai perasaan, rasa. Meski kau lihat aku seperti batu, tapi tidak. Itu hanya tampak luarku. Jika kau percaya aku batu, maka kau berhasil kutipu.
Kesenduan adalah sendiri yang menyepi. Meraba-raba keterasingan dan tersesat dalam sembilu kesedihan
Aku dan isi kepalaku
So maybe it's true, that I can't live without you
Well maybe two is better than one
There's so much time, to figure out the rest of my life
And you've already got me coming undone
And I'm thinking two, is better than one
Lirik ini muter-muter di kepala selama perjalanan seharian itu. Thank you for being here with me. My hate love partner
Malu
Bagaimana tidak?
Hanya Lewat
Orang itu hanya mampir atau kamu yang menyuruhnya mampir?
Aku bukan orang yang dengan mudah menerima orang baru. Ya..kadang memang terlihat baik sekali. Kadang aku juga merasa jijik saja.
Kau ramu minuman manis, segar, dan nikmat. Saat kau teguk bersamanya, belum tentu minuman itu mampu membuatmu merasa lega. Sesaat saja.
Lalu aku menghampirimu dan bertanya, "apakah kamu tidak salam pilih minum? Apa ini minuman yg kamu mau?"
Aku akan selalu berada di belakangmu. Ya, karna kamu adalah imamku.
Sekeras apapun mencoba, jika memang sudah ditakdirkan untuk tersakiti, ya, terjadi saja demikian.
Jika memang kaki terasa berat, langkah tak pernah sampai ke tujuan, dan hati kelu dikikis kesedihan yang entah kapan usainya, aku hanya tersungkur dalam sujud yang dibasahi tangis
Ingin menangis pun air mataku sudah kering. Sesegukan, tapi tak ada air matanya.
Aku takut
Tumbuhlah sebagai Bijaksana
Kemarin aku sudah tidak meratapi keluh kesah dan rasa sedih yang menggila. Aku sempat tanya pada diriku sendiri, "sekarang apa yang kamu rasakan?". Lalu aku hanya bergeming termenung dan rasanya ingin bilang, "mati rasa".
Sempat muncul di beberapa media sosial dan kasih liat bahwa aku sedih. Ya, hanya ungkapan saja. Tidak berharap simpati dari orang lain. Hanya ingin mengurai kesedihan yang terlalu menumpuk dan menusuk-nusuk.
Ya, sebab akibat memang. Sahabat-sahabat mulai berdatangan dan bertanya-tanya. Aku tidak bisa cerita apa-apa. Aku hanya harap sebuah doa agar aku selalu diberi kekuatan dan kesabaran menjalani semua yang kadang naik turun. Tak selalu mulus dan lancar-lancar saja.
Aku tidak mau menceritakan hal-hal buruk yang menimpa kita. Iya, aku dan dia. Biar tangis dan keluh kesah hanya untukku saja. Kutelan pil pahit ini pelan-pelan. Menikmatinya dan merasakan bahwa ada loh rasa seperti ini di dunia. Bukan sakit perih saja, tapi pahit. Pahit untuk terima kenyataan.
Kemarin, kuberanikan diri untuk bercerita pada ibuku. Karna ialah yang tahu aku dan aku juga pernah di posisi seperti ini 7 tahun yang lalu. Aku lega. Ibuku bisa menerima segala keadaanku kini. Hatiku yang hancur dan terpuruk.
Ibuku bilang, tetaplah semangat, nak. Anggap saja kamu belajar untuk menjadi lebih dewasa dan lebih sabar. Segala cobaan itu diberikan kepada hamba sesuai kemampuannya. Dekatkan diri saja pada pencipta. Siapa lagi tempat kita berharap kalau bukan Yang Maha Kuasa? Yang Maha Mengendalikan hati manusia?
Tanpa kamu harus bercerita panjang lebar pada manusia, Allah sudah mengerti bagaimana sulitnya kamu bersabar, tentang bagaimana gemuruhnya hatimu saat ini.
Menangislah sejenak, kepasrahanmu padaNya akan mendatangkan jalan keluar, ribuan usaha yang kamu lakukan tidak akan pernah membawa pada puncaknya jika ternyata kamu tidak melibatkan Allah dalam rencanamu.
Rancang dan tuangkanlah setiap rencanamu dalam secarik kertas, pada bait akhir tulislah "Aku, usahaku, dan doaku harus seimbang, dan untuk hasilnya aku ikuti jalan dan kemauanmu ya Rabb". Ia akan menenangkanmu, sebab kini kamu tidak bergantung pada hasil manusia, tapi pada hasilNya.
Setiap yang bergemuruh dalam dada terkadang akan membuatmu harus sedikit menangis, tidak mengapa. Biarkan ia tertuang dalam aliran airmatamu, hingga ia tenang, dan setelah itu kamu harus kembali menghapusnya dan mulai berjalan lagi. Tersenyum.
Karena setiap kita akan ada gemuruh dalam dadanya masing-masing, dan setiap kita punya tujuan yang harus dicapai. Semangat bertumbuh.
Jangan lupa doa.
@jndmmsyhd
Kadang, ketenanganlah yang lebih kamu butuhkan ketimbang kesenangan. Karena kesenangan itu punya rasa, tapi ketenangan punya makna. Senang belum tentu ada makna, namun tenang ia ada makna dan rasa.
Menikmati setiap kesempatan bahagia tanpa sosial media, tidak terpaku pada berapa like yang didapat, dan tidak cemas jika tidak ada yang merespon. Sederhana.
@jndmmsyhd
Hidup Adalah Pilihan
Mengambil sikap jujur adalah pilihan, sebagaimana menjadi pendusta juga pilihan. Yang membedakan adalah, kejujuran menghantarkan pada kebaikan dan kemakmuran, sebagaimana dusta membawa pemiliknya menjadi nista dan hina.
Pilihan ada pada masing-masing darimu.
Semoga tidak salah dalam menentukan pilihan hidup ini. Apapun pilihan hatimu.
@jndmmsyhd
Harapan
Di malam-malam sendu tanpa pengharapan, aku hanya bisa terdiam di sudut kamar dan merenung. Iya, sesekali meneteskan air mata dan menangis sesegukan. Entahlah. Malam ini adalah malam yang kesekian kali aku mendapati diriku terjebak di goa gelap tanpa cahaya ini.
Aku masih menangisi kepergiannya yang memang aku sendiri yang mengharapkannya. Kepergiannya yang sungguh dari dalam lubuk hati tak kuinginkan, tapi harus kulakukan. Mungkin kini ia masih akan terus membenciku dengan apa yang aku lakukan. Ia akan menyimpan rasa itu diam-diam dan diletakkan di tempat yang tak bisa kutemukan.
Rasanya aku ingin mati saja melihat diriku yang semakin tersiksa tanpa ada dia. Diriku yang ternyata bukan hanya menyakitinya, tapi juga diriku sendiri. Pun aku sudah menjadi si bodoh yang sudah kelu bibirnya untuk berbicara. Aku menjadi orang lain yang sabarnya hanya sebanyak air di dalam gelas. Menyedihkannya.
Janji kami yang terngiang-ngiang di telingaku setiap harinya itu kini hanya bergema. Tak akan kemana-mana. Jadi kusudahi saja cerita tanpa arah ini karena hidup juga semakin tak berarah.
Selamat malam.