tuhanku, aku patah hati pada perempuan ciptaan-mu, jadi bolehkah aku mulai mencintaimu?
tapi, bagaimanapun mengecewakannya, terima kasih karena sudah mengizinkanku untuk pernah merasakan butterfly era dengannya.
wallacepolsom
Not today Justin

No title available
Cosimo Galluzzi
art blog(derogatory)
Cosmic Funnies

titsay
tumblr dot com

★
No title available
hello vonnie
Sade Olutola
almost home

Love Begins

oozey mess

shark vs the universe
No title available
Jules of Nature
will byers stan first human second

PR's Tumblrdome

seen from United States

seen from Germany

seen from Germany

seen from United States

seen from United States
seen from Mexico
seen from United States
seen from United States
seen from New Zealand

seen from Canada

seen from United Kingdom

seen from Bulgaria
seen from France

seen from United States

seen from Germany

seen from Sweden
seen from France

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States
@kangdur
tuhanku, aku patah hati pada perempuan ciptaan-mu, jadi bolehkah aku mulai mencintaimu?
tapi, bagaimanapun mengecewakannya, terima kasih karena sudah mengizinkanku untuk pernah merasakan butterfly era dengannya.
Residu
Kejadiannya begitu cepat. Aku cuma ingin memilahnya pelan-pelan.
Sahur kurang 10menit lagi imsak. Aku baru bangun dan ikut sahur bersama bapak dan ibuk. Ini termasuk "setelah sekian lama", karena tahun kemarin aku ga mudik.
Di depanku udah ada piring berisi nasi putih dan sendok. Oh, oke, sudah beberapa kali aku sahur/buka cuma ingin makan pake tangan, gaperlu sendok, tapi gapapa, tinggal aku sisihin sendoknya. Ga ada masalah.
Di seberang sana, Ibuk sedang bikin teh hangat dengan gak tergesa. Setelah jadi ia membagikannya satu per satu. Aku cuma diam, masih ngantuk dan cuma ingin fokus makan.
Sehabis bikin teh hangat, Ibuk tidak lupa mengambil mie instan yang sudah ia seduh, lalu ia memasukkan bumbunya. Oh, sepertinya jam terbang membuat beliau dengan mudah melakukan timing pembagian pekerjaan (seperti yang aku pelajari waktu masih bekerja di rumah makan dulu).
Aku tebak, Ibuk bikin mie pasti biar sahurnya ada kuahnya. Pasti sebentar lagi aku disuruh ngambil pake kuah. Padahal aku ga suka ribet. Makan pakai tangan tapi nasinya pake kuah, itu ribet. Meskipun aku ga benci sama kuah.
Benar saja, setelah mie jadi, aku ditawarin sambil ia letakkan mangkok mie-nya di "tempat paling dekat" dengan piringku berada. Aku agak terpancing. "Sudahlah ga perlu harus didekatkan kayak gitu." Aku mengembalikannya, apapun namanya yang penting jauh dari piringku.
Sekali lagi, aku ga benci sama mie/kuahnya. Aku cuma benci karena dari kemarin, tiap makan bersama (sahur/berbuka) semua lauk didekatkan ke piringku.
"Plis lah, biasa aja, aku udah gede dan momen bukapuasa sudah bukan lagi momen rakus bagiku," batinku menahan kesal.
Selain itu, aku benci sama diriku sendiri karena harus menolak tawaran Ibuk. Aku tau beliau ingin yg terbaik. Masalahnya, kalo aku terima pake kuah (maksudku aku merasa mengalah karena aku ga gitu suka kuah saat makan pake tangan), nanti merembet ke yang lainnya. Semua lauk pasti ditawarkan, semua lauk pasti didekatkan ke piringku. Ini prediksi pake data, karena kemarin sudah pernah terjadi. Tidak hanya didekatkan, bahkan "dijejalkan" ke piringku.
Oh iya, aku ingetin lagi, waktu imsak kurang lima menit. Ibuk baru mulai menyantap nasi di piringnya.
Agak tenang. Aku mempercepat makan supaya ga ditawarin ini-itu. Singkatnya, nasi di piringku abis. Adekku di sebelahku sedang niupin teh hangan miliknya. Aku pegang gelas teh di dekatku. Panas.
Aku beranjak dari tempat duduk untuk mencuci piringku. Selesai cuci piring, aku berjalan melewati tempat sahur dan menuju arah galon air minum. Aku membatin, "ini lho, buk, ga usah aneh-aneh. Air mineral aja cukup. 5menit kurang malah tehnya seperfect itu, alias masi panas."
Kembali, aku merasa kesal dengan diriku karena ga minum teh panas yang beliau bikin agak tergesa saat sahur kurang sepuluh menit.
Selesai minum air mineral, aku langsung balik ke kamar dan berniat curhat di sini. Baru saja menutup pintu kamar, suara imsak terdengar.
****
Aku bingung harus mulai dari mana, atau menceritakannya seperti apa. Intinya, sampai sekarang, saat aku di rumah, rasanya masih sama. Aku gampang emosi dengan Bapak/Ibuk.
Entah emang sudah tidak kompatibel dengan kebiasaanku (saat kurangkum menjadi semacam: orangtuaku suka memanjakanku, sementara aku ga ingin dimanjakan), atau jangan-jangan ini berkaitan dengan trauma/kemarahan masa lalu yang belum selesai, sehingga aku masih tidak tenang kembali ke rumah.
Di rumah. Aku sedih tapi gatau gimana. Aku ingin marah sekaligus aku benci diriku sendiri seandainya beneran jadi marah.
Pada titik tertentu, rumah tempat aku lahir ini tidak lagi terasa rumah untuk pulang bagiku.
Random
Saat kondisi badanku kurang seimbang, semacam aliran energi chi yang tidak mengalir lancar, aku tidak tau siapa yg bermain di pikiran ini. Yang kutahu, pasti aku jadi lebih gampang mengkritik, sekalipun itu hal kecil. Sebenarnya itu menyebalkan, tapi itulah yg belum bisa kupahami sampai saat ini.
Oke langsung saja, kenapa orang pintar suka sekali berbelit-belit? Maksudku, jika itu untuk menyamakan persepsi, kenapa tidak diungkapkan saja di awal bahwa itu untuk menyamakan persepsi?
Orang selalu berlaku setengah-setengah. Bersikap cool dengan membawa simbolisme dan pertanyaan retoris, tetapi dia lupa membawa kebijaksanaan penyikapan kepada audiens dan jenis persoalan. Antara urusan di ruang perkuliahan dan di pasar, misalnya, tentu tidak bisa disamaratakan penyikapannya.
Ada orang berhenti di jalan lalu bertanya, "Alamat X ini dimana, ya?" tentu tidak seharusnya dijawab "Kenapa nanya saya? Kenapa bersusah payah menuju Alamat X jika Anda sendiri tidak tahu jalannya kemana?" Itulah pola muter-muternya orang pintar. Padahal yang bertanya hanya butuh ditunjukkan, kalaupun tidak tahu ya tidak apa-apa, ia bisa mencoba bertanya lagi pada yang lain.
***
Ada satu premis yang masih kupercayai, yaitu sebenarnya tidak ada orang bodoh dan pintar secara keseluruhan. Orang bodoh pasti punya pinternya di tempat tertentu. Begitu pula orang pintar pasti punya bodohnya di tempat tertentu.
Yang terjadi kemudian adalah seringnya yang kesorot adalah orang terlihat bodoh karena berada di "tempat" si pintar. Kamu tahu maksudnya? Dia sebenarnya tidak bodoh, cuma sedang berada di "tempat" orang lain yang pintar itu. Karena sedang tidak berada di tempatnya, kemungkinan yg terjadi adalah kebingungan.
Lantas, benarkah orang yang "kebingungan" itu harus dibingungkan karena bagi si pintar penghuni tempat itu, berpikir "masa' begini aja ga tahu?"
Emang bagusnya apa jika menang dari orang yang tidak "satu tempat" itu? Lebih jauh lagi, emang bagusnya apa kalo bisa menang dan orang lain kalah?
Bagaimana jika suatu saat kamu yang berada di "tempat" pintar orang lain? Bukankah ini berarti hanya persoalan giliran, sebagaimana orang-orang dulu menasihati bahwa roda itu berputar, ada kalanya di atas, ada kalanya di bawah?
Sudah. Sepertinya saya lah yang akan jadi keterlaluan jika diteruskan. Maaf jika ada yang tersinggung.
Mungkin karena kondisi badanku kurang seimbang, semacam energi chi yang tidak mengalir lancar, aku jadi mudah lepas kendali.
Oase
Di tempat saya sekarang, ada banyak buku, yang sialnya, belum pernah saya ambil lalu baca. Saya pikir, memang ada masanya di mana ketertarikan membaca buku itu akan semakin terkikis, semakin tipis bahkan hampir lenyap. Karena, sesedih apapun saya yg merasa kurang baca buku, tetap saja tidak akan terobati karena memang tiadanya ketertarikan membaca buku (jika dibanding dulu semasa masih kuliah).
Di tengah kegersangan asupan buku itu, saya merasa agak baikan ketika melihat teman saya kembali menulis di platform ini. Saya rasa, solusi efektif untuk ketiadaan membaca buku adalah membaca secara daring, terutama tulisan-tulisan di blog pribadi oleh orang yg kita kenal karena sifatnya yang personal. Jadi, kita serasa sedang diajak ngobrol, bukan didikte.
Terima kasih sudah menulis kembali. Saya bahkan bela-belain menginstall apk ini lagi cuma biar bisa baca tulisannya secara full, soalnya waktu dibaca lewat browser, baru dapat setengah udah ketutup pop-up untuk login tumblr. Hadeh, dasar tumblr pelit!
Tapi it's okay, saya malah jadi ikutan nulis (update) lagi kan.
Udah sih, itu aja. Saya cuma ingin berterima kasih karena berkat teman saya yang nulis lagi itu, ruang kecil dalam diri saya yg sangat menyukai dunia tulisan, pemikiran, perenungan, dapat sejenak tersenyum kembali karena bertemu kesukaannya.
Dah. Terima kasih.
***
Nb: menurut saya, tulisan ini juga jadi satu faktor/bukti bahwa jika kita jarang atau bahkan tidak suka membaca, maka stok/persediaan kata yg kita punya pun juga sedikit, sehingga uneg2 kita yg ingin kita tulis jadi seret, ga bisa mengalir panjang. (Setidaknya begitu yg saya rasakan sekarang)
Saya jadi terpikir untuk kagum/hormat ketika ada tulisan panjang dan mengalir dan enak dibaca. Pasti beliau rajin membaca. Respect bang! gabisa turun!
halo semesta, langsung aja nih. tolonglaaah, plis, jangan taro aku di kondisi yang mengharuskan "ngemong" mulu. mereka, yang usianya mepet 20an itu, kan sering merasa dan membanggakan diri sendiri bahwa mereka sudah dewasa. tapi, kenapa kau libatkan aku di (perintilan) urusan mereka? tahu sendiri kan kesabaranku setipis tisu. hadeeeh
Buku dan Kesepianku
Cukup sering aku merasa sepi. Biasalah, kan w suka mengaku sebagai introvert hwhwhw.
Dalam banyak lika-liku kesepian itu, aku juga sering merasa heboh sendiri dalam sepi. Maksudku, aku heboh sendiri saat sendiri. Malah kadang-kadang aku bicara sendiri dan asik sendiri kayak orang indihom, yg bisa lihat hal-hal tak kasat mata. Padahal aku sangat jereh, penakut dgn hal-hal sprti itu.
Oke, skip, kembali ke topik.
Jadi, kemarin, aku beli buku. Ada bazar di gedung Kampung Budaya.
Kukira bakal ada 5-10rb an ky bazaar biasanya yg kutahu. Ternyata ttp mahal-mahal. Misal, harganya 70rb, setelah didiskon jadi? Yap, 69rb!!!! -___-
Meski begitu, aku menekadkan diri untuk setidaknya dpt satu buku. Rasanya sudah lama aku tidak beli buku. Ada perasaan kangen yg aneh yg menjalar di seluruh tubuhku.
Dan, jeng jeng, ... aku dapat bukunya Bernard Batubara "Surat Untuk Ruth". Yeay yeay.
Padahal aku sudah pernah baca bukunya, dulu, saat KKN, pinjem temen satu kelompok.
Tapi ini bukan tentang bukunya, bukan tentang isinya gimana. Ini cuma tentang kerinduan anehku saat membeli/dapat buku baru.
Sesampai di kos, langsung saja kulakukan ritual suci tiap dapat buku baru: Nulis titimangsa, lalu tandanganku, dan namaku. Wkwkwk. Ini sebenernya sanadnya (atau sejarahnya) cukup unik, yaitu aku dan temen sekosku dulu berlomba-lomba siapa yg lebih banyak bukunya. Dan tandatangan itu ada sebab beberapa buku kami judulnya sama, meski beda waktu pembelian.
Sekarang ritual itu punya tambahan makna bagiku, yaitu setiap lihat titimangsa (tgl saat buku itu dibeli/didapat), seketika aku bisa bernostalgia bagaimana peristiwanya, nuansa di sekelilingnya, dll dll. Misal, aku lihat buku yg tulisan titimangsanya tahun 2016. Oh, itu dulu aku beli di gramed, dimana saat itu aku merasa kaya karena uang beasiswa cair, dan masuk ke gramed menjadi semacam prestis tersendiri bagiku (yg biasanya cuma berburu di bazaar satu ke bazaar buku lainnya).
Kurang lebih begitu. Dan buku "Surat Untuk Ruth" ini, mungkin di masa depan nanti, aku akan mengingat bahwa buku ini kubeli ditengah kejenuhanku disengeni, ke stres anku yg tidak kunjung mendapat pencerahan, juga keadaan mental breakdance ku yg sudah kurencanakan kuperbaiki setelah resign kerja dan sampai saat ini msh dibujuk untuk diperpanjang lg seminggu demi seminggu.
Buku ini akan kuingat sebagai kesenangan kecil yg sdh berjasa untuk sedikit meringankan semua beban itu.
Hehehe
Hoki
Karena sebel ngegame kalah terus, seorang pemuda berseloroh, "Wadoh, naseeeb naseb. Harus sercing cara meningkatkan hoki inih." Lalu, sembari nunggu dua temannya yg msh menyelesaikan game, pemuda itu googling beneran, ttg cara meningkatkan hoki.
Apa menurut kalian itu aneh? Menurutku tidak. Karena pemuda itu adalah aku, hwhwh.
Dan cukup mengejutkan. Kupikir, hasil sercingnya berupa petuah-petuah chinese yg kaya nan raya. Ternyata tidak juga. Salah satunya kalo ga salah dari website kompas, yaitu psikolog yg meneliti ttg hoki. Saat baca judulnya saja, reaksi pertamaku "Whtt? Hoki diteliti? Sadeez."
Tentu saja kuklik saja. Lagian, nungguin temen nyelesain game agar supaya bisa mabar lagi, itu memvvosankhan. Banget.
Ternyata isinya, kurang lebih seperti ini: (notes; saya bacanya scr sembarang dan tdk teliti, krn mlz)
Hoki/keberuntungan itu ternyata bisa jg semacam peristiwa psikologis, ato <<<mindset>>>. Sebagian besar orang beruntung, akan beruntung lagi. Sebaliknya, kebanyakan orang tdk beruntung, akan tidak beruntung lagi.
Peneliti itu mewawancarai orang beruntung. Narsum bilang, dia bersyukur dikaruniai ini itu, itu ini, dst dst. Shg menurut peneliti, hal "kurang beruntung" yg dialami narsum, menjadi tdk mengenaskan amat sebab pikiran si narsum penuh prasangka baik.
Begitu juga sebaliknya saat sang peneliti mewawancarai orang tdk beruntung. Kalian tentu bisa menebak sendiri. Saya mlz menuliskan panjang2 cm untuk menunjukkan kebalikannya.
In the end, saya tetap kalah trs ngegame, sekalipun sudah baca cara meningkatkan hoki tsb.
*
Setelah leyeh2 di kasur kos yg mirip karpet karena saking tipisnya, tiba-tiba seorang pemuda teringat sesuatu yg amat penting.
Pemuda itu, dulu sekali, tampak amat beruntung terus.
Ia membagi perjalanannya sendiri (sementara ini), menjadi 3 fase: fase masa kecil, fase remaja yg plonga-plongo, dan fase menginjak dunia kerja.
Masa kecilnya lumayan. Lumayan enak klo diinget enaknya. Ia sempet mencicipi kehidupan ibukota, maenan taksi yg dikayuh, memperbanyak tiket kayak timezone di Pasar Klender cm agar bisa dituker mobil2an jelek (pdhl klo tanpa tiket, itu mobil2an kykny lbh murah klo beli lgsung), dibeliin gitar mini dr kayu cm merengek seharian karena liat pengamen mampir lalu pengen, dst dst. Oh, ia jg inget perjalanan pertamanya, cm berdua bareng bapak yg mo beli mesin bor tembok, lewat kawasan pabrik di sekitaran bekasi, dan entah knp itu keinget terus. Terutama saat pulang ke Demak dgn jalur Lingkar Semarang-Pelabuhan. Baunya, yg gak sedap itu, aroma pabrik yg menyengat itu, menjadi aroma nostalgia tersendiri di benaknya. Ya ttg perjalanan brg bapaknya yg cm berdua itu.
Lalu, fase remaja yg plonga-plongo. Remaja ini meliputi MI-MTS-MA. Pemuda itu msh merasa amat beruntung. Saat mengenang, ia melukis senyumnya sendiri terutama saat mengingat itu adalah saat-saat salah satu doanya kepada Tuhan adalah agar ia diberi keberuntungan selalu. Mungkinkah itu bener2 hasil dr doanya itu? Atau mmg ia msh polos dan plonga-plongo, sebab dicomblangin dgn cewek aja dia panik dan grogi, lalu gak berani bicara dgnnya (pdhl kykny yg nyomblangin mlh yg aslinya seneng sendiiri deh)? What a moment.
At least, dia msh sering beruntung. Tdk seperti fase ketiga berikut ini.
Fase ketiga: memasuki dunia kerja.
Sumvvvah, ini... au ah gelapp.
Seinget pemuda itu, sejak belajar ta'limul muta'allim di madrasah dulu, ia cm ingin belajar. Entah sudah berapa kali keadaan memaksanya kerja, dan ia lakukan, dan ia resign. Yg terakhir ini pun, konon pemuda itu akan resign setelah lebaran.
Kebetulan ia sarjana guru. Meskipun guru dan belajar tdk beda jauh, tp ia ttp cm ingin belajar. Di saat sebagian besar temannya sdh menjadi guru, ia msh aja takut jd guru. Pdhl bbrp kali lowongan guru sdh berkenan menghampirinya.
Dgn alasan yg ia buat2 sendiri. Misalnya, guru itu gajinya kecil. Profesi guru di negeri ini memprihatinkan. Profesi guru itu menakutkan sebab, bagaimana mungkin ada orang scr sukarela menetap di sana ---seumur hidup? Bukankah bnyk pengalaman lain yg belum dicoba?
Sementara ia memandang sbelah mata loker guru itu, ia pilih loker seadanya. Dan, yap, berkali2 ia resign dgn berbagai alasan (yg mgkin jg ia buat sendiri tanpa sadar).
Alasan yg ia selalu menangkan diam-diam di relung hatinya (agar resign tdk trll mengecewakan) adlh "Aku ingin belajar, siapa tau stlh resign ada peluang untuk bljr lagi? Entah kursus, ngaji, atau lainnya (karena kuliah lg tentu mahal wkwk :")
Karena dilema yg tampak tak berujung itu, pemuda itu kayaknya kehilangan arah. Ia tidak lagi tau solusinya gmn. Ia tdk lagi tau knp keadaan orang dewasa serumit ini. Tidak ada lagi bebas berekspresi. Tidak ada lagi kata-kata kreativitas tanpa bagas. Tidak ada lagi harapan-harapan untuk hidup bebas mengikuti nurani ato passion. Tidak ada lagi doa-doa yg tulus dan lugu tentang agar ia diberi keberuntungan selalu.
Jika kamu melihat kondisinya saat ini, tentu kamu akan bisa langsung paham apa definisi dari sebuah istilah yg sangat populer di dunia akhirat: madesu.
Semoga pemuda itu bukan aku ya Alloh... aaamiin. :"""""""
rutinitas tiap mau berangkat kerja: bentar, 15 menit lagi, batinku. lalu tidur lagi, alarm bunyi lagi. hoaaahm, enak sekali klo tidur lagi yaampon.
rutinitas tiap pulang kerja: pokoknya nanti tidur gasik, biar besok ky orang normal bangun pagi meski shift siang. dan ternyata sampai sekarang mendekati qori' subuh, mata masih seger. perut sedikit mules disertai sebuah praduga "apa makan dulu ya siapatau kalo kenyang trs tidur."
huffh apa-apaan permasalahan ini di tengah banyak orang yg sudah membuat rancangan untuk memajukan negeri tercinta ini.
ah sudahlah.
Akhirnya Tergerak Curhat,
Beberapa kali sudah kupikir. Aku ingin mencoba mengubah sedikit arah perahu kecil ini. Seperti orang-orang, aku berpikir cuma ingin membagikan hal-hal yang menyenangkan, dan lucu, kalau ada. Tentu agar bagus dan positive vibes. Selain itu, kata quotes yang banyak berseliweran di lini sosmed kita, bahwa orang lain tidak butuh cerita sedihmu. Belum lagi kalo kata temenku yg saleh dan berbudi pekerti luhur, "Orang yg sering mengumbar sambat itu imannya lumayan lemah."
Tapi, pada akhirnya, aku "tidak kuat" juga. Banyak hal positif yg ingin kubagikan, dengan berandai-andai cuma modal hape bisa ngetik naskah panjang, ternyata tidak terlaksana. Ternyata aku memang lebih nyaman ngetik di laptop, dimana hal itu sudah tidak bisa kujangkau karena aku tidak lagi punya alasan untuk bawa laptop kemana-mana. Laptopku yg masih bisa hidup dgn bantuan keyboard eksternal sudah kutaruh di rumah, dan karena gak ada alasan lagi untuk megang laptop, jadi aku juga tidak bisa memprioritaskan untuk nabung agar bisa beli laptop seken (lagi).
Ya, aku sudah nyerah dengan rencana sistematis soal berkarya di bidang tulis-menulis itu. Aku sudah tidak berharap bisa membiasakan untuk menulis lagi. Entah puisi, opini, ataupun prosa. Sudahlah, memang keadaannya sedang tidak memungkinkan.
Dan, pada akhirnya, lagi, aku sampai pada ujung kebingungan atas banyak hal yang tidak kusukai (dan kupendam saja), terus bertambah dan bertambah sampai sedemikian menumpuk.
Kadang-kadang, aku hanya ingin teriak bebas, lalu menangis lepas, lalu tertawa dengan tangisan yang tersisa. Apalagi kalau bukan menertawakan alur perjalanan perahu kecil ini. Semua terasa di liar kendali. Tanpa tahu ujung. Seperti sedang termenung menatap lorong gelap tanpa ujung. Dan itu yg menurutku lebih menakutkan dari apapun.
Bagaimana ini semua bisa berubah?
Bagaimana aku bisa mengambil kemungkinan yg isinya sama seperti sebelum aku mengambil rute perjalanan ini?
Aku ingin menumpahkannya dengan bercerita pada orang. Tapi ternyata aku sudah tidak punya teman.
Teman yang maknanya teman. Kalo teman secara permukaan, tentu aku masih punya, walopun tetep saja tidak banyak. Tapi, entah kenapa, sebagai seorang introvert akut, sering sekali aku merasa tiba-tiba seolah bisa tahu isi hati mereka. Maksudku, kayak adegan saat Conan (ya, anime detektif conan edogawa itu) menyadari sesuatu. Seperti ada garis mak cling, dimana aku tahu bahwa ia hanya ingin mengenalku, tetapi tidak butuh cerita-ceritaku. Sudah, itu saja. Makanya aku seketika urung untuk membicarakannya.
Dan karena itulah aku menginstall aplikasi ini lagi. Rumah kecil. Sebuah pulau mungil untuk bersandar sejenak dari perahu kecil yg lelah dihempaskan ombak lepas lautan.
Disini aku tidak ingin nulis. Tidak ingin memikirkan bagaimana pembukaannya, isinya, penutupnya. Masabodo dengan itu semua. Aku cuma ingin menumpahkan cerita.
***
Pemicu atas bom waktu itu datang dari telepon Ibuk. Ibuk menyuruhku untuk segera pulang, dan ikut sanak sodara ke Jakarta.
"Buk, aku ingin ttp di Semarang, di gunungpati bareng temen-temen." Aku ingin bilang gitu sambil nyesek, tapi nyatanya itu cuma tertahan di batin, dan cuma iya-iya aja saat di video call.
Tentu aku tidak berani sebebas dulu. Terakhir kuingat saat aku merasa bebas berekspresi, hal yg terjadi adalah banyak teman2ku me"ramal" bahwa sumber ketidakjelasanku adalah karena aku tidak nurut sama orang tua, terutama Ibuk. Dan lagi, yang trjadi adalah aku bertengkar dengan Ibuk dan beliau sempat me"nyumpahi"ku dengan sesuatu yg pasti tidak bisa kuungkapkan disini. Sebenrnya tidak menyumpahi, tapi bayangkan saja saat orang yg kamu hormati marah denganmu, kecewa denganmu, dan meledak pada sebuah pertengkaran.
Sejak saat itu, aku dan Ibuk sempat perang dingin. Dan perlahan mencair dengan canggung. Kecanggungan itu yg membuatku mencoba iya-iya aja dan kembali ke Semarang. Nyari kerja, yg penting kerja. Bisa survive sambil menenangkan diri, siapa tau langkah selanjutnya bisa terbersit di kepala.
***
Aku kerja di sebuah rumah makan (resto kecil) yg dulu aku pernah kerja sebentar di sana. Ini sedikt banyak berkaitan dgn postingan terdahulu soal menulis dan memasak. Karena pekerjaan menulis belum jelas, aku pilih yg sementara ini jelas saja.
Aku ulangi, aku kerja di tempat yg aku pernah kerja sebelumnya. Ya, dulu aku keluar tentu bukan tanpa alasan. Aku keluar karena secara logis dan teoretis pedagogis *awokwokwok :"), di sana tidak baik untuk perkembanganku dan mentalku. Mungkin sebab aku pernah kuliah (ini bukan bermaksud ngece), tp bekas kuliahan memang biasanya minimal terbiasa untuk logis (ini jg tdk saklek ya, apalahi urusan cinta). Aku disana sering disengeni bahkan tanpa sebab. Biasanya kan orang disengeni tanpa sebab yg jelas, lah ini bener-bener tanpa sebab. Malah mirip hobi. Aku nyampe mikir mungkin mereka diam2 psikopat, tapi itu sedikit ditenangkan dan diperhalus saat aku cerita ke Yoga, bahwa itu bukan psikopat, itu namanya mood swing. :v
Yap. Aku akhirnya kembali ke sana. Sengaja. Sebab prioritasnya adalah yang penting kerja dan survive.
***
Ada jeda setahun ketika aku keluar dari sana. Saat aku masuk lagi, sebab orang-orangnya masih sama, yg terjadi pun masih sama. Bener-bener pingin nangis sambil garuk2 tembok bahwa hidup kok gini amat. Lalu samar2 terdengar suara ghoib bahwa gpp, penting sabar.
Dengan amunisi rompi berupa pertengakaran dari rumah itu, aku bisa sedikit bertahan. Minimal, saat aku sangat tidak betah, yg penting aku berangkat dulu saja. Sebelum dapat pengganti kerjanya, aku harus bisa menjalaninya apapun yg terjadi. Yg penting survive. Yg penting survive. Inget, self, kamu sudah bertengkar di rumah. Jgn ada perang dingin lagi. Kalobisa cukup sekali itu saja.
Lalu aku menjelma mayat hidup. Sangat kacau.
Aku mengabaikan (atau mungkin memendam?) semua kekacauan ini. Mulai dari aku stress. Lalu aku insomnia tiap malem, bener2 gabisa tidur. Pdhl dulu aku sempet jarang tidur malem hari itu karena aku eman dengan suasananya, nuansanya. Malem yg tenang, malam yg kontemplatif. Tp skrg disaat shift pagi, aku paksa untuk tidur, tidak juga bisa. Pdhl badan sgt capek, mata sgt berat. Tetapi saat dipejamkan, otak begitu keras berputar, begitu hidup, dan aku kembali terjaga.
***
Selain itu, selama aku kerja lagi di sini, aku juga kehilangan banyak teman berharga. Mulai dari temenku sejak madrasah. Karena komunikasi cm lewat WA, saat aku bar disengeni di kerjaan dan masih ditengah kerjaan, aku membalas dgn cukup "aneh" panjang lebar saat temenku itu memintaku pulang (sebab sahabat lain menikah) dan tentu aku tidak bisa karena liburnya sudah paten (tdk bisa diubah). Saat itulah kesalahpahaman terjadi dan lost kontak.
Lalu teman berharga sejak kuliah. Karena aku begitu mumet dgn kerjaan dan disengeni tanpa sebab, aku sering motoran gajelas dan ngemper gajelas dimana saja, dan karena itu mungkin benih kesalahpahaman tumbuh subur, dan lost kontak.
Lalu teman-teman berharga lain yg cukup banyak menemaniku sehari-hari. Karena mentalku tiap hari seperti roller coaster, dan pulang selesai kerja adalah titik terendah mentalku berada. Aku jarang menemui mereka sebab memang rasanya sangat mbuh dan, aaargggh. Lalu perlahan aku mulai menghilang, setidaknya tersisih, dari circle mereka.
Akhirnya aku benar-benar sendirian. Cuma berteman yutup dan nonton anime sesekali dan nonton story tmn2 yg masih ngesave nomerku di wasap dan story2 bagus di instegram. :v
Oh, aku jg hrs mengakui bahwa teman satu2nya skrg sprtinya adlh rokok. Meski jika kakak sulungku baca ini (mungkin di suatu hari nanti yg tdk disengaja) dan Ibuk tahunya aku tdk merokok.
Entah sdh brp batang yg menjadi jelaga.
Aku bener2 seperti totalitas mempertahankan pekerjaan ini dgn menghiraukan segala kekacauannya. Kamar kacau, pikiran kacau, mental kacau, jam tidur kacau, relasi kacau, dan sholat... jg kacau.
Aku ingin nangis. Aku ingin nangis. Aku ingin nangis.
Tapi sistem masyarakat saat ini menyebutkan bahwa laki-laki tdk diijinkan nangis selain waktu mahalul qiyam. Itupun aku jg sudah saaaangat jarangggg.
Aku jarang mauludan. Aku jarang ziarah lagi. Aku jarang baca quran.
Dan msh berangan2 bisa ketemu kamu. Sebuah angan2 yg sangat tdk tahu diri dan tidak layak sekali. Tentu kamu risih melihat ada manusia seperti ini disini. Kamu yg baik, manis, penyayang anak2 yg dipandang sebelah mata, tentu sepantasnya bertemu orang yg sekualitas dgnmu. Tp aku begitu mencintaimu, meski tdk terjangkau. Yodah mau gmn lagi.
Mengingatmu sdh cukup sedikit menghiburku saat ini. Terima kasih. Dan karena itu pula, aku tidak tahu harus melanjutkan curhatan sambat ini kemana.
Terima kasih.
Sdh jam segini. Besok aku shift pagi. Lagi2 insomnia. Aku takut besok. Aku takut hari esok. Aku inget pas aku cukup tidur dan kinerjaku cukup fit aja aku disengeni. Apalagi saat kurang tidur dan sempoyongan.
Apakah besok aku akan masak sambil nyenggol wajan? Atau malah nyenggol orang yg nyengeni?
Aku takut. Aaaaaaa wtfffffffffffff.
***
Oh iya, aku inget. Sbnrnya pokok masalahnya adlh aku disuruh ke jakarta ikut sanak sodara. Tp aku takut.
Aku gak kerasanan kerja, apalagi dgn orang yg dikenal keluarga? Bagaimana jika aku tdk kerasan dan membuat malu keluarga?
Plis, ya Alloh, aku minta petunjuk. :((((((((((((((((
*maap aku minta tp jarang sholat.
Trauma
- Sebuah puisi
ia trauma banyak bicara
segalanya menjauh, termasuk kata-kata.
ia trauma banyak diam
kini segalanya memberinya kata-kata, termasuk tanda kurung yg mengintip di balik punggung.
ia trauma menjadi ramah
sebab baik hari ini menjadi biasa besok, lusa menyulapnya serupa jahat.
ia trauma cuek
di malam minggu, ya, terutama di saat-saat seperti itu.
ia trauma kepada dirinya sendiri
sebab,
gaya-gayanya mau kayak vintage-lonely-sadbutokay, tp ternyata pas ngeditnya jiannn... filtere gak ono sing pas.
credit:
aplikasi: capcut (kyknya msh enak kinemaster, cm skrg susah cari yg mod)
lokasi: mejid mua
backsong: Hal - L
artist: iwak koi
thanks!
lagu ini nuansanya aneh tapi manis, fa. dengerin deh.
Kyu
tiap denger ibu-ibu pengajian baca quran/entah apa di mushola, pikiranku selalu mirip orang dihipnotis. semacam trance, ato gelombang alfa-beta.
singkatnya, rasanya dunia ini fana dan, oh, gini amat aku merawat mental breakdance cuma demi pekerjaan yg uangnya (jika tujuan utamaku mmg agar dpt uang) msh di bawah umr.
tp, ... gak ada tapinya.
Go
Ikigai
Shi
Tuhan, aku baru saja ngelike postingan orang yg capek nganggur lalu berdoa agar dapat kerjaan.
di sisi lain, yakni aku, udah dapet kerjaan tp rasa-rasanya ini bukan kerjaan yg tepat. maksudku, dengan retorika sederhana: jika aku bisa lebih dekat denganmu saat aku tdk di kerjaan ini, apa tidak sebaiknya aku resign saja?
meski begitu, aku jg tau bahwa ini seperti lubang yg sama seperti kemarin2 saat aku kesandung di dalamnya, yaitu kalo aku nganggur, tentu tdk ada pemasukan sama sekali.
tapi, tapi, tapi.... :(
ini gimana, aku tidak bisa berkata-kata lagi.
San
bu, aku ingin berkreativitas.
Ichi
menapaki hidup demi orang lain:
agar tdk dihina (pdhl mmg hina)
agar tdk direndahkan (pdhl mmg rendah, a.k.a sholat aja bolong-bolong)
tp yg terjd ttp yg di luar kurung. yg di dlm kurung msh terkurung. enth smpe kpn