Ini adalah part lanjutan dari postingan sebelumnya, yaitu: Terpapar Homeschooling.
5 tahun awal pernikahan, bagi saya itu adalah masa-masa yang soo hard. Menyedihkan. Banyak sekali ketidakcocokan saya dan suami. Jangankan ngobrolin hal-hal besar yang kontradiktif seperti homeschooling, ngobrolin hal sepele aja bisa berujung kesel dan berantem. Banyak banget ketidakcocokan yang saya rasakan di awal pernikahan. Diinget-inget dulu baru nikah seminggu aja kita tuh udah berantem heboh. Wkwk. Yaampun di saat orang-orang masih mengalami masa-masa honeymoon, kita udah pa-sebel-sebel. Siapa yang gini juga? :))
Hal yang memperkeruh suasana hati adalah saya merasa capek berjuang sendirian. Sebelum punya anak, saya merasa banyak sekali mencari tau, belajar, membaca, gabung komunitas2 berfaedah, ikut seminar/workshop dan apapun itu yang berhubungan dengan ilmu-ilmu seputar parenting. Mulai dari ilmu maternity, kelahiran, soal laktasi dan menyusui, WWL, MPASI dan gizi anak, ilmu-ilmu tentang tumbuh kembang anak, optimalisasi golden age, kesehatan anak, pre-school activity, dan juga berbagai metode untuk menstimulasi gaya belajar anak, mulai dari montessori, teori wardolf, charlotte mason sampai Fitrah based education dll. Warbyasaa. Banyaak sekali hal-hal yang harus saya pelajari. Di satu sisi saya merasa sangat haus ilmu, tapi di sisi lain saya merasa overwhelming dengan semua itu. Tired.
Sedangkan saya melihat pasangan, kok dia santai banget. Lebih sering saya melihat dia rebahan sambil scroll timeline sosmed daripada baca2 artikel atau buku yang berhubungan dengan parenting, ga nyari komunitas fatherhoood juga. Semua saya forward. Saya ajak ke seminar ini itu, kadang mau kadang engga. Saya share link tentang ina dan itu. Tapi keinginan belajarnya ga greget. Ga se-menggebu-gebu saya. You know, harapan yg terlalu tinggi itu memang bikin kecewa yaa kan :’))
Dan parahnya saya tidak bisa menyampaikan ketidaknyamanan ini kpd suami. Ini menyebalkan. Pengennya numpahin kata-kata dari a-z biar plong, tapi ditimbun-ditimbun-ditimbun teruus semuanya. Yang bisa keluar malah cuma secuil kata-kata yang bikin pasangan misspersepsi dan akhirnya marah-marah. Whyyy :’)
Banyak sekali ketidak-idealan kondisi kami di waktu itu. Mulai dari tinggal di rumah keluarga besar, karena tinggal dengan banyak manusia yg beragam, sering saya merasa seperti kurang dapat privacy. Kami berdua juga belum punya pekerjaan tetap. Adanya tunggakan hutang yg mencekik akibat kegagalan bisnis sebelumnya. Bab Hutang ini ngeri-ngeri sedap sih. Psikologis orang yang berhutang itu senggol bacok bener. Makin besar hutangnya, makin emosian. Di lain sisi, qadarullah harus mengurus orangtua yang stroke sehingga fokus kami sering terpecah.
Kondisi ini sangat membuat kami kacau. Sering berantem. Kami belum selesai dengan basic needs masing-masing. Lebih banyak saling menuntut daripada saling mengerti. Jadi sebenernya, bukan karena pasangan ga support saya, tapi kami belum get connected. Gimana mau kompak, belum nyambung. Masih banyak perselisihan di antara kami. Dan itu sangat menguras energi. Sementara, menurut saya mendidik anak adalah pekerjaan team work. Ada peran ayah yang ga bisa diambil ibu, begitupun sebaliknya.
Hingga suatu ketika, saya tersentil dengan sebuah kajian parenting yang dibawakan ust Budi Ashari. Singkatnya, seorang wanita belum bisa jadi ibu yang baik sebelum ia menjadi istri yang baik bagi suaminya.
Kata-kata ini terus terngiang2 di kepala saya. Dan juga menjadi bahan refleksi selama ini; apakah saya sudah menjadi istri yang baik bagi suami saya?”
Lalu saya pun mencari kajian2 serupa, dan hal yang sama dikatakan oleh Ust Bendri, bahwa menjadi istri yang baik adalah modal besar utk menjadi ibu yg baik. Dan ternyata ini adalah statement ulama2 terdahulu.
Saya merenungi dalam-dalam, apa yang disampaikan para asatidz ini. Diam-diam, saya jadi malu sendiri. Bener juga ya. Saya lebih banyak digging how to be good mother dibanding how to be good wife. Setelah punya anak, saya lebih banyak melayani anak, daripada nanya2 kebutuhan suami. Bener2 saya skiip jadi istri. Saya langusung JUMP ke chapter jadi ibu. Oke, walaupun niat saya baik ingin menjadi ibu yang terbaik utk anak2, tapi ternyata ini ga tepat. Ada tahapannya. Dan saya harus perbaiki.
Akhirnya saya mulai lebih relax. Mengendurkan syarat dan otot yang sebelumnya tegang. “Oke, anakku ga kuliah besok kok. Sans”. Kita bukan robot parenting yang harus plek-plek ikutin teori. Semua teori harus disesuaikan dengan keadaan unik keluarga masing-masing. Dan kita harus memahami skala prioritas. Saat itu prioritas yang utama adalah menyelamatkan hubungan saya dan pasangan.
Saya mulai mengurangi intensitas asupan2 materi parenting dan lebih banyak menggali ke dalam diri.
“Aku tuh kenapa ya dijodohin Allah sama dia? memangnya apa kelebihanku utk melengkapi dia? Apa kelebihan dia utk melengkapi aku?”
Saya yakin setiap orang itu punya kelebihan atau cahayanya masing2. Saya memilih utk fokus kepada cahaya pasangan, sehingga segala kegelapannya menjadi tidak relevan dan mengerdil dengan sendirinya.
Saya lebih banyak bertanya dan ingin mendengarkan dia bercerita. Setiap malam, kami pillow talk. Saya ingin mendengar bagaimana masa kecilnya, bagaimana ia dibesarkan, seperti apa keluarganya, ayahnya, ibunya, adiknya. Saya ingin tau kejadian2 apa yg tidak bisa ia lupakan, apa yang membuat ia senang, apa yang membuat ia sedih, apa yg membuat ia bangga (pride)?
Ternyata pillow talk rutin ini membuat saya semakin memahami pasangan. Tidak sulit, yang saya lakukan hanya mendengarkan. Mendengarkan dan mencoba memahami. Oh ternyata ada innerchild atau unfinished business di masa lalu yg masih membekas. Saya jadi paham Kenapa dia begini, dan kenapa dia begitu. Saya jadi maklum.
Dulu saya pernah ikut family coaching. Di sana ada psikolog yg membahas tentang luka pengasuhan atau innerchild. Waktu itu saya bertanya kepada pemateri, “apa yang bisa kita lakukan sebagai istri/suami, agar pasangan kita pulih atau berdamai dengan innerchild?”
Dan jawabannya, jadilah salurannya. Saluran aliran rasanya. Orang-orang seperti itu memendam emosinya dalam waktu yang lama. Mereka menumpuk sampah emosi di dalam ransel yang masih mereka bawa kemanapun mereka pergi. Tugas kita hanya mendengar dan menerimanya. Itu home-therapy yang paling mudah. Jadilah pendengar yang baik. Untuk beberapa kasus yang parah saya sarankan harus bertemu dgn ahlinya ya (psikolog).
Berangsur-angsur, pola komunikasi kami pun membaik. Amarah-amarah yang saya pendam selama ini perlahan-lahan terkikis. Tergantikan dengan rasa nyaman. Rasa nyaman ini mahal banget yaa. Saya baru bisa mencurahakan perasaan saya kepada pasangan di tahun ke 6 pernikahan. Saat ini saya bisa ngobrol apapun dengan pasangan tanpa takut di-judge. Tanpa takut berantem. Kaya curhat ke sahabat gitu, ga ada yang ditutup-tutupi. Udahannya plong bangeet.
Saat itu kami pindah ke rumah baru. Sudah tidak bersama keluarga besar, tapi masih tinggal bersama orangtua (mertua saya). Ada tantangan2 baru yang menurut saya lebih beraat dari tempat tinggal sebelumnya. Tapi Alhamdulillah, suami saya mau menjadi pendengar setia setiap keluh kesah saya :’)
Sesimple pillow talk a.k.a ngobrol santuy tiap malem sebelum bobok, bisa memperbaiki hubungan kami. Durasi pillow talk bervariasi. kadang cuma setengah jam. Kadang bisa sampe berjam-jam tergantung keseruan obrolan kami :))
Menurut saya, sebelum masuk ke parenting, bab menjadi istri yang baik itu bener2 ga bisa diskip. Tugas kita sebagai istri itu banyak, ga sekedar memenuhi kebutuhan biologis pasangan tapi juga kebutuhan psikologisnya.
- sebagai pakaian (menutupi aib/kekurangan pasangan)
- sebagai sahabat (bisa menjadi pendengar yg baik, temen main, temen haha hihi, temen ngobrol yang nyambung, tempat yang nyaman untuk berbagi)
Hubungan yang sehat adalah fondasi penting dalam mendidik putra-putri kami. Terbukti, Ibu yang punya masalah dengan pasangannya, biasanya lebih galak ke anak dibanding ibu yang punya hubungan yg sehat dengan pasangannya, hehe. Setelah bisa ngobrol apapun dengan pasangan, baruu deh lebih enak merumuskan TUJUAN KELUARGA. Mau dibawa kemana keluarga ini.
To be continue lagi.. Anak udah bangun nih. Bye :D