Akibat terlalu mengorek masa lalu, seorang gadis tidak sengaja menggaruk luka lama. Lalu, berdarah.
Segera cari petunjuk keselamatan. (via keringbungabicara)
Peluk ibu nak :)
Sayangnya, ia sedang sendiri. Ibunya anak ini sedang diseberang lautan..

❣ Chile in a Photography ❣
trying on a metaphor
Sweet Seals For You, Always
Misplaced Lens Cap
macklin celebrini has autism
No title available
he wasn't even looking at me and he found me
Xuebing Du

roma★

★

gracie abrams
No title available
𓃗
The Stonewall Inn
cherry valley forever
d e v o n
occasionally subtle
One Nice Bug Per Day
TVSTRANGERTHINGS
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
seen from United States

seen from Singapore

seen from United Kingdom
seen from Saudi Arabia
seen from United States

seen from Denmark

seen from Singapore

seen from Türkiye

seen from Brazil
seen from Russia
seen from T1
seen from United States
seen from Taiwan

seen from Australia

seen from Russia

seen from France

seen from United States

seen from T1

seen from United States
seen from Malaysia
@keringbungabicara
Akibat terlalu mengorek masa lalu, seorang gadis tidak sengaja menggaruk luka lama. Lalu, berdarah.
Segera cari petunjuk keselamatan. (via keringbungabicara)
Peluk ibu nak :)
Sayangnya, ia sedang sendiri. Ibunya anak ini sedang diseberang lautan..
Kita saling mengerti bagaimana rasanya berusaha keras. Berusaha untuk memperbaiki keadaan ataupun perasaan berulang kali hingga dirasa keadaan dan perasaan telah membaik. Kita juga saling mengerti rasanya jika diakhir perjuangan, usaha kita tak kunjung memperbaiki segala hal dengan sempurna. Sebelum kesal dan marah, ingatlah kembali sebesar apa kerusakan yg terjadi di masa silam. Sudahkah setimpal kadar usaha dengan kerusakannya? Cek kembali, apakah usaha kita cukup sebagai modal memperbaiki segalanya?
Kalau sedang sedih karena ulah sendiri begini, apakah harus ditambah dengan sedihmu akibat melihat diriku yang menyedihkan ini?
It's really sweet but hurt
Tempat dan Dirimu
Tempat yang kamu kunjungi tidak akan menjadikanmu lebih bijaksana kalau kamu hanya datang kemudian pergi, sekedar menikmati. Tempat yang kamu kunjungi pun tidak akan membuatmu menjadi lebih berarti dari orang lain. Sebab di tempat yang sedang kamu kunjungi, banyak sekali orang di sana yang merasa tempat itu biasa saja karena mereka tinggal di sana. Dan kamu hanya pendatang, tanpa memberikan dampak apapun ke masyarakat di sana selain dari uang yang kamu belanjakan.
Kita pernah menemukan, ketika seseorang merasa dirinya berbeda dan lebih hanya karena ia telah mengunjungi lebih banyak tempat dari kita, mendaki lebih banyak gunung dari kita, kemudian mengarungi lebih banyak laut dari kita.
Seolah-olah segala ilmu alam semesta bisa diserap hanya dengan mendatanginya, seolah kebijaksaan hidup pasti menghinggapi orang-orang yang bepergian.
Di sini, di sebuah tempat yang jauh dari keramaian kota. Di ujung sebuah kabupaten kecil yang tidak dikenal. Di tengah hamparan padang persawahan. Banyak sekali orang yang tidak pernah pergi jauh, tidak pernah melihat laut, bahkan mungkin belum pernah naik pesawat. Hanya bisa menyaksikannya melintas di atasnya saat berada di tengah sawah.
Orang-orang yang begitu rendah hati. Orang tua yang begitu paham tentang hakikat hidup. Anak-anak yang paham tentang berbudi pekerti. Mereka tidak pernah pergi lebih jauh dari kita. Tapi mereka paham bagaimana harus bahagia dan menjalani hidup dengan ikhlas.
Sementara kita tengah sibuk mengukur-ukur penjuru dunia. Seluruh tempat ingin kita kunjungi, seolah kebahagiaan hanya bisa diraih bila pergi ke sana. Seolah-olah kita akan menjadi berbeda dan bahagia bila telah ke sana. Dan kita lupa, untuk bersyukur.
©kurniawangunadi | yogyakarta, 14 maret 2017
Everything you love is here
Mencintai diri terkadang membentuk kita untuk tidak ingin terlihat buruk di mata orang lain. Memaniskan kata, memoles dan rias rupa, membawa diri semenyenangkan isi hati, dan memberi warna sikap tiap bertingkah laku kepada orang lain layaknya cermin sendiri. Justifikasi orang lain adalah penilaian untuk suatu pertimbangan atau sebaliknya, bukan hal besar untuk dipikirkan. Perbaikan atau kepuasan aktualisasi yang kita cari?
Pikiranmu berlari, ragamu tetap disini. Ada yang ingin kau lepas tanpa berani kau tinggal ia terbang. Kesalahan yang rapat hanya kerat yang padat. Melemparnya hanya memberi bekas disisi atau sudut. Kita perlu berlutut. Meminta Tuhan turun, mengelus nadi untuk hidup normal kembali.
Baru saja browsing akun instagram seseorang yang artsy banget. Apapun yang dia potret terlihat indah. Saya jadi melihat hidup dengan cara yang berbeda, lewat foto-fotonya. Padahal, kita hidup di realitas yang sama.
Lalu saya kembali ke akun instagram saya sendiri. Wah, hidup kembali terlihat sebagaimana saya melihatnya selama ini 😓 Kadang indah, seringnya terlihat biasa saja.
Saya pun berpikir, jangan-jangan, bagaimana kita memotret sebenarnya mencerminkan bagaimana kita melihat kehidupan. Ia mencerminkan sudut pandang, pemaknaan, dan apresiasi kita terhadap hal-hal dalam hidup.
Wah, rugi sekali jika selama ini saya hidup dengan lensa yang tidak tepat, menggunakan filter yang keliru, melihat dari angle yang buruk, menangkap objek yang salah. Rugi sekali jika saya menjalani hidup “begitu saja”, dan tidak pernah tahu ada cara yang lebih indah untuk menjalani kehidupan.
Kalau lagi marah, nangis, setel murattal qur'an atau lagu rohani, biar adem, inget Tuhan.
Bernafaslah yang banyak, sebelum kamu gak bisa nafas karena ingus yang berjejal dan tangis yang telak.
Saat laki laki sibuk dengan egonya, ia tidak sedang mengabaikan wanitanya. Tapi ia sedang kehilangan wanitanya.
(via jinggakalasenja)
Supernatural: Gak minum banyak, tapi bisa nangis berjam-jam.
Cewek ya gitu
Stop comparing yourself to the other people. The only man you should compare yourself with is your past self. Be a better you everyday. Your competitor is yourself.
(via yasirmukhtar)
Konon kabarnya, banyak orang India yang pintar, tetapi ia tidak bekerja membangun India. Hal yang sama, fenomena brain drain ini, juga mengancam Indonesia. Dengan kondisi dalam negeri yang tidak mendukung dan tawaran di luar negeri yang begitu memikat, masihkah ada alasan untuk membangun Indonesia?
Aku ingin membaik. Dulu juga harapmu begitu, sama. Walau kita sempat lupa dan aku terlena, semoga kamu mengilhami bahwa kita akan saling membaik jika segera.
Semoga perdamaian argumen dan kesepakatan yang kita perdebatkan dapat meredam dosa dan amarah Tuhan.
Diam dan dingin sikapmu mengundang tanyaku. Apa salah dan yang terlewat olehku? Atau hanya fikirku yang terlalu?