“No one will be with you forever in this life. The door will always be swinging open and closed. Love the people who enter. Let go of the people who leave. Don’t hang on.”
— Yasmin Mogahed

Origami Around

ellievsbear

Kaledo Art
almost home
🪼
we're not kids anymore.
Today's Document

PR's Tumblrdome

祝日 / Permanent Vacation
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
RMH
cherry valley forever

izzy's playlists!
Three Goblin Art
Jules of Nature

❣ Chile in a Photography ❣
Xuebing Du
occasionally subtle

Product Placement
Not today Justin
seen from United States
seen from Iraq

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from Malaysia

seen from Brazil
seen from Ukraine

seen from France
seen from United States
seen from Malaysia
@khairibrahim
“No one will be with you forever in this life. The door will always be swinging open and closed. Love the people who enter. Let go of the people who leave. Don’t hang on.”
— Yasmin Mogahed
Tak usahlah....
Tak usahlah mengata orang itu jahat,
Tak usahlah mengata orang itu perampas "macam takde laki bujang", eh?
Tak usahlah mengata rumahtangga orang yang runtuh,
Tak usahlah mengata anak jiran mengandung anak luar nikah,
Tak usahlah mengata jiran hujung kampung kena tangkap khalwat,
Tak usahlah mengata orang itu begini, orang itu begitu.
Seronok ke share kisah aib orang pastu buat ulasan bajet kita paling suci?
Seronok ke share kisah aib orang pastu sejujut kawan-kawan tumpang mengata mengeji?
Sebab kita belum tahu untung nasib kita,
Sebab kita belum tahu bagaimana ujian menanti kita di depan,
Sebab kita belum tahu selama mana Allah akan tutup aib kita...
Pernah dengar tak hadis,
jika kita mencela dosa orang lain, Allah takkan mematikan kita tanpa kita membuat dosa tersebut?
Bacalah sekadar mengambil pengajaran sambil berdoa Allah tidak uji hidup kita dengan perkara seumpama itu.
Tak larat dik kita nak menjawab depan Allah kat mahsyar kelak. Jadi tak usahlah.....
Sumber :fb Miza Rahman
KITA HANYA MANUSIA
Adakalanya kita senyum sekadar untuk menutup luka di hati.
Adakalanya kita ketawa sekadar untuk mengubati Kesedihan yang melanda.
Adakalanya kita melangkah gagah sedangkan diri terasa goyah mahu rebah.
Tiada yang tahu tika kita menangis sendiri.
Tak mampu nak luahkan kerana tak tahu kepada Siapa dan Bagaimana berkongsi hiba.
Adakalanya bila rasa sedih ..
terasa nak pergi jauh.
Nak menyendiri.
Menyendiri bukan kerana marah, melainkan hanya untuk menenangkan hati dan cuba mengubati lara sendiri.
Menyendiri bukanlah bermakna kita benci. Cuma terasa berkecil hati dan tak tahu nak luah atau nak simpan.
Lalu kita melangkah jauh untuk jaga Hati sendiri agar tidak terus disakiti dan dikhianati.
Tidaklah mudah menjadi kuat saat lemah.
Tidaklah mudah menjadi sabar di saat resah.
Tidaklah mudah menjadi gembira di saat sedih.
Tetapi tidaklah sulit mengangkat tangan berdoa kepada ALLAH. Walau siapa pun kita, di mana kita berada, langit tetap di junjung, bumi tetap di pijak.
Lantai tempat bersujud.
Selagi hidup, tetaplah melangkah.
Jangan disesali nasib diri.
Usah Bertanya "Kenapa Aku?"
Kita kan makhluk ALLAH yang sedang diuji olehNYA.
Dugaan itu tanda kasih ALLAH pada hambaNYA.
SENYUMlah walau hati sedih dilukai
SENYUMlah walau perit dikhianati.
SENYUMlah walau berat diuji.
Dunia tempat Ujian untuk ke Negeri Abadi yang kekal Bahagia selamanya.
zk
hamba marhaen
Sumber : FB Zuraini Kamal, 2019
Sakit mana, meninggalkan atau ditinggalkan? Secara spontan, pasti lebih sakit ditinggalkan.
Kalau ini tentang Al-Qur'an, bagaimana bila ternyata Al-Qur'an yang meninggalkanmu disebabkan dosa-dosamu yang tiada selesainya itu? Meninggalkan kebiasaanmu, meninggalkan hafalanmu, juga meninggalkan hidupmu.
— Taufik Aulia
Deep
Inilah Aku
Inilah aku. Perempuan yang pernah terluka, sampai hatinya berdarah-darah, karena pernah begitu mencintai seseorang dan menganggapnya sebagai pusat dunianya, tapi ditinggalkan. Tanpa penjelasan apalagi salam perpisahan.
Inilah aku. Perempuan yang pernah berkhianat pada dirinya sendiri. Mencintai orang lain lebih besar dari cintanya pada dirinya sendiri. Meski kemudian ia menyesal dan tak bisa lagi kembali ke masa lalu. Namun ia berjanji akan terus belajar, belajar, dan belajar.
Inilah aku. Perempuan dengan salah yang tak terhitung. Perempuan dengan luka yang belum semuanya sembuh dan kering. Perempuan dengan semua kurang dan cela. Perempuan yang tidak sempurna. Namun ingin menjadi baik demi masa depannya.
Inilah aku. Perempuan yang sedang kau coba selami hatinya. Perempuan dengan banyak sesal dan lebam pada hatinya. Namun jika kau menginginkannya dan berjanji akan selamanya mencintainya dengan sebaik-baiknya hati, ia milikmu sepenuhnya.
—
© Tia Setiawati | Palembang, 17 Oktober 2017
Untuk siapa saja lelaki yang akan datang selanjutnya di masa depanku, jika kau mau menerima aku yang banyak kurangnya ini dengan segenap hatimu. Maka pastilah hati dan jiwaku sudah pasti milikmu ..
Menangislah Jika Itu Menenangkan
Perkara hati adalah perkara yang tak mudah diprediksi. Seorang lelaki gagah pun bisa saja tiba-tiba menangis karena kehilangan. Seorang lelaki parlente pun bisa saja berkali-kali menangis karena ditinggalkan. Rupanya hati tak pernah bergantung pada rupa, predikat, pekerjaan, kekayaan, dan kedudukan. Hati adalah alam sendiri yang bisa bahagia dan sedih semaunya.
Menangislah dan jangan berhenti jika itu menenangkanmu meski hanya untuk sesaat. Menangislah dan resapi jika itu mengurangi dukamu meski tak lama. Tangisan bukan tanda kelemahan. Menangis adalah tanda hatimu masih hidup meskipun redup, tanda masih bisa berharap dan membuat pilihan dalam hidup. Bersyukurlah karena rindu nan sendu itu berhasil membuatmu menangis, bahkan berkali-kali. Hatimu lembut. Jangan salah, yang menangis hari ini belum tentu akan terus hidup dalam sedu-sedan di masa depan.
Jika kamu adalah orang yang kehilangan, ditinggalkan, atau telah menyia-nyiakan kesempatan atas sebongkah hati manusia, sekalipun susah tapi bersyukurlah saja. Bersyukur karena kamu hanya kehilangan manusia, bukan kehilangan Allah. Bersyukur karena kamu hanya ditinggalkan manusia, bukan ditinggalkan Allah. Bersyukur karena Allah tak pernah berpaling dan selalu memberi kesempatan yang sangat luas sekalipun kamu terlalu sering menyia-nyiakan-Nya.
Jangan kamu tolak rasa sedih dan sendu itu. Kamu bisa jadikan itu energi untuk melawan balik. Bukan balas dendam, tapi untuk melanjutkan hidup dengan versi terbaik dari dirimu. Pengalaman pahitnya kehilangan adalah pengalaman yang berharga, yang mengajarkan kamu untuk menjadi pribadi lebih baik yang menghargai sesuatu dan kesempatan yang kamu punya.
Well, kehilangan memang berat. Tapi kita adalah orang-orang yang percaya. Yang percaya bahwa takdir itu ada, yang percaya bahwa jodoh itu ada. Saat kehilangan terasa begitu berat, bayangkan saja bahwa kamu akan dipertemukan dengan seseorang yang akan menyerahkan hati sepenuhnya untukmu. Jangan jadikan dia yang di masa depan itu menjadi sia-sia untuk yang kesekian kalinya, karena kamu berkewajiban memberikan hatimu padanya tanpa ada luka segores pun.
Barangkali kamu hanya butuh waktu untuk kembali pulih. Nikmati saja jika memang harus menangis. Al-Qur’an adalah obat dan penawar, cobalah sembuhkan hatimu dengan membacanya perlahan. Aku tak tahu kapan kamu akan pulih, tapi setidaknya percayalah bahwa Al-Qur’an adalah penawar hati yang luka. Tangismu itu akan lebih bernilai jika diiringi bacaan Al-Qur’an meskipun sambil terbata.
Jangan berhenti memikirkan masa depan. Masa lalu adalah bagian dari dirimu yang tak akan hilang, tapi kamu tak lagi hidup di situ. Dimensi tempatmu hidup adalah hari ini yang terus berjalan maju. Akan banyak sekali tempat yang kamu singgahi dan orang yang kamu temukan. Aku adalah orang yang sangat percaya, bahwa kelak kamu akan menemukan seseorang yang menjadi tempat pulangmu, yang akan membuatmu bersyukur memilikinya, dan yang akan menghapus penyesalanmu yang telah lalu.
Allah tak pernah meninggalkanmu, Sahabatku.
“Do not lose hope. Nor be sad.” (Surah Ali Imran: 139)
— Taufik Aulia
Sudah Padahal Belum
Ada yang sudah merasa kehilangan, padahal belum sempat memiliki. Ketika itu mungkin dia sedang lelah dengan kesendirian, sehingga butuh hangatnya sebuah rengkuhan. Bukankah itu lebih baik, ketimbang dia harus terus-menerus merutuki hilangnya sesuatu yang belum dimiliki.
Ada yang sudah patah, padahal belum sempat jatuh. Ketika itu mungkin dia sedang rapuh. Sehingga benteng pertahanannya mudah sekali terkoyak hingga runtuh. Bukankah itu lebih baik, ketimbang dia harus luruh akibat remehnya sebuah gemuruh.
Ada yang sudah merasa ditinggalkan, padahal belum pernah sekalipun melangkah bersisian. Mungkin ketika itu langkahnya sedang tak ringan, sehingga butuh genggaman yang harus memapah langkahnya ke tujuan. Bukankah itu lebih baik, ketimbang dia harus kelelahan mengejar langkah yang memang enggan dibersamakan.
Ada yang sudah merasakan pedihnya sebuah perpisahan, padahal belum sempat mengecap indahnya pertemuan. Apalagi menikmati manisnya sebuah kebersamaan. Saat itu mungkin hatinya sudah terlampau lelah dalam penantian, butuh jeda sejenak untuk menapaki perjalanan. Bukankah itu lebih baik, ketimbang dia harus berhenti memperjuangkan segala bentuk kata semoga yang masih menjadi rahasia Tuhan.
Ada, memang akan selalu ada yang demikian. Merasa sudah merasakan suatu akibat padahal belum melewati sebab. Barangkali baginya hidup hanya untuk menjawab serangkaian proses sebab akibat, dan menganggap bahwa prasangka yang mampu menjadi tolok ukurnya.
“Merasa sudah merasakan suatu akibat padahal belum melewati sebuah sebab”
Waaah diksi dan perbandingannya bagus sekali :’)
Begitu juga dalam kalimat-kalimat sebelumnya :’)
APA MAKNA “REZEKI”
Rezeki itu bukanlah bermakna kamu dapat apa kamu nak. Tapi bila kamu terima apa yang Tuhan beri.
Kita belajar tentang sirah mengenai Siti Mariam(as) tidak berkahwin tapi dapat anak. Itu adalah rezeki beliau.
Kita lihat pula sirah Sayyidatina Aishah(ra) . Beliau berkahwin namun tak dapat anak. Itu pula rezeki beliau.
Allah hantar Nabi Musa(as) ke rumah Firaun sebagai anak angkat untuk membawanya ke syurga. Tapi tetap juga Firaun menjadi manusia paling celaka yang memilih neraka.
Allah menghantar Nabi Nuh(as) untuk menyelamatkan kaumnya tapi anak isterinya sendiri derhaka dan enggan terima.
Pelajarilah sesuatu dari kisah-kisah seperti itu. Sungguh. Rezeki masing-masing tak sama. Semua ada jalan ceritanya yang tersendiri! Semuanya untuk menceritakan kehebatan Allah dalam mengatur segala-galanya dengan indah.
Orang yang ada suami, ada isteri, ada anak, ini bermakna ada tanggungjawab yang dipikul juga. Mudah dapat pahala. Tapi mudah juga dapat dosa.
Yang tak bertemu jodoh, yang tak dikurniakan zuriat pun satu rezeki juga. Rezeki terlepas tanggungjawab dan risiko nak menjawab depan Allah nanti.
Jadi, sebelum kita terus mengeluh tentang itu ini, perlu difahami dulu konsep rezeki. Ada, tak semestinya untung. Tak ada, tak semestinya rugi.
Kalau dapat apa kamu nak, tak semestinya kamu boleh terus bergembira. Kalau tak dapat apa kamu nak, tak semestinya kau tak boleh bahagia.
Takdir Allah ini misteri sifatnya. Rahsia Allah dalam perbuatan-Nya. Entah-entah airmata redha yang kau titiskan dalam mengharung kecewa itulah yang menghanyutkan kau ke syurga.
Jadi…
“Rezeki tu bukan bermakna kamu dapat apa kamu nak. Tapi bila kamu terima apa yang Tuhan beri.”
Ya! Yang penting, kamu percaya.. kalau sudah itu takdirmu, itulah yang sebaik-baiknya.
Kamu hanya akan bahagia kalau kamu terima.
Percaya dan terima.
Wallahu'alam
SILA SHARE DAN SEBARKAN
“Kenapa doamu tidak dikabulkan. Mungkin apa yang kamu inginkan itu ada halangannya. Maka kamu perlu hilangkan halangan itu sebelum doa itu dikabulkan. Mungkin kamu belum bersedia. Maka sediakan apa yang seharusnya.”
@_serbanputih
Whatever you want in life, make sure that you always want God more.
Agar ujian terasa ringan, engkau harus mengetahui bahawa Allah swt lah yang memberimu ujian. Dzat yang menetapkan beragam takdir atasmu adalah dzat yang selalu memberimu pilihan terbaik
Ibnu Atha'illah
Setiap kehilangan adalah sukar.
Tapi, apakah bentuk kehilangan paling sukar?
Hilang tiba-tiba.
Sekelip mata.
Tiada.
Tiada buat selamanya.
Tanpa sebarang tanda, pesan,
bahkan kesempatan.
Sekelip mata - pulang bertemu Pencipta.
Demikianlah singkatnya kehidupan dunia.
Here comes December.
1. Accept or denied, this is your life. There’s no turning back. We can only move forward, grow stronger and fight again.
2. Maafkan orang lain, maafkan diri sendiri, berhenti mengenang, bersangka baik, cuba berubah dan serahkan semuanya kepada Tuhan.
3. You need to learn to let go as much as I you have learned how to love.
4. We all need times. Time to stand. Time to move on. Time to grow. But remember, time waits for no man. We don’t have forever. Change now.
5. Pain teaches you what you should avoid in the future, what you should choose at the present, and what you should let go from the past.
6. Kalau nak bahagia, jangan cakap benda buruk pasal orang lain.
7. Kalau tak mampu memaafkan, jangan berterusan membenci.
8. Kalau tak mampu berubah, jangan pernah berhenti berdoa.
9. Better to remain silent and be thought as a fool than to speak out with stupid ideas and horrible solution.
10. Stop looking for a better place to put your heart. Start doing something to make your heart better first.
11. Kehilangan itu lumrah, lepaskan. Mengingati yang hilang itu menyakitkan, maka redhalah.
12. Kadang-kadang kita habiskan terlalu banyak masa mengenang tentang sesuatu yang dah pergi dan menyesali apa yang dah terjadi, tetapi lupa kita sebenarnya masih ada banyak masa untuk mencari dan melakukan sesuatu yang lebih baik.
13. Pertemuanmu adalah perpisahan bagi yang lain. Perpisahanmu adalah pertemuan bagi yang lain. Begitulah takdir berkitar di dunia ini. Kadang-kadang kita kena ketepikan harapan yang telah kita rancang, supaya kita dapat terima apa yang takdir telah peruntukkan kepada kita.
14. You don’t have to be perfect. You just need to be good.
15. Sometimes we hold on too tight to the things that are not meant for us although we know, that they are not really belong to us.
16. Everybody leaves in the end. You can only hold them tight in your heart and in your du'a, but not in your arms.
17. Yang takkan pernah berubah cuma Tuhan. Manusia, selalu berbolak-balik. Jadi, adalah lebih baik jika tak terlalu terikat.
18. For every rain, inshaAllah there’s a rainbow and for every tears, inshaAllah there’s a smile. Tapi kena serahkan jiwa pada Tuhan sepenuhnya.
19. Honestly, musim bertukar hati berubah, right? And promises fade away.
So keep your expectation low.
20. Make peace with yourself, so you will be able to start rebuilding your own happiness. If you can’t find happiness within yourself, how can you find happiness with others?
21. Takdir ; sesiapa pun yang datang dan pergi, tetaplah mendoakan kebaikan mereka, juga diri sendiri.
22. Takdir ; kadang indah kadang pahit, kadang baik kadang buruk, tapi kita tetap kena terima, sebab itu adalah bahagian yang telah Tuhan tetapkan untuk kita.
23. Grow wiser and try harder. Think clearly and love better.
24. Tears have come and gone, there are thing to realize that
we have no place to run except to Allah so pray, for Him to guide us to a better way.
25. Come rain or shine, lets make every moment counts. Don’t dream of the past, it’s over. Prepare for the future, it’s coming. Lets change.
26. Kita tak boleh pilih untuk tak terluka tapi kita sentiasa boleh mencari Dia bagi memulihkan luka tu.
27. It’s okay if you want to forget about yesterday. Tomorrow is a brand new day. We’ll be there, waiting and fighting for a better future.
28. Time is short so carry on. Carry on, even if you have to pretend. Because if you don’t, you will never move forward. So carry on, carry on.
29. Wake up and grow up. Banyak lagi yang masih perlu kita lakukan kat dunia ni. Dan kita kena sedar tak ada siapa akan tolong kita melainkan diri sendiri. Dan jangan lupa, Tuhan selalu ada bersama kita. Maka kuatlah. Maka tabahlah. Stay good!
- sederhanaindah
Visit me here :
blog : http://anatomijiwa.blogspot.com
twitter : @sederhannaindah
instagram : @sederhanaindah
“Kau ni memang taknak kahwin ke?"
Soal seorang teman secara tiba-tiba. Saya yang sedang menulis terhenti seketika, memandangnya sekilas sambil kembali menghadap buku. "Apa kau merepek?"
Saya membalas ringkas. "Yela, kau ni asyik busy je macam tak fikir pun nak kahwin, peliklah aku.” “Kenapa kau nak kahwin?"
Pen saya letakkan sebentar di atas meja sambil mengurut-urut bahu sendiri. Penat. "So, betullah kau taknak kahwin?” Soalan saya dibalas soalan.
Saya senyum.
“Aku pernah pergi satu talk tu, ada sesuatu yang ahli panel tu cakap yang buat aku berfikir sampai sekarang.” “Apa dia?”
“Kalau nak kahwin, bagi sebab nak kahwin dan sebab tu dibentangkan depan Allah dan Rasulullah, mereka boleh senyum dan suka maka kahwinlah."
Saya menarik nafas,
"Sebab tu aku tanya kau kenapa nak kahwin.” “Sebab nak elak maksiat?”
“Bagi aku, orang yang bagi sebab nak kahwin sebab nak elak maksiat adalah orang-orang yang jalan hidupnya penuh dengan jalan-jalan menuju kemaksiatan. Tak mungkin orang yang tidak mendekati jalan-jalan maksiat perlu khuatir akan terjebak dengan maksiat. Macam kau lalu jalan KL tapi khuatir sampai London."
Saya ketawa sendiri,
"Lagipun siapa jamin lepas kahwin kau tak mendekati maksiat? Kau tengok sendiri surat khabar berapa banyak kes-kes suami isteri curang.” Dia merenung jauh,
“Sebab nak lengkapkan separuh Agama?” Saya tersenyum,
“Aku teringat kata-kata prof dr Yusuf Al-Qaradhawi. kau nak dengar?” “Ceritalah.”
“Katanya, semata-mata bernikah belumlah menunaikan makna melengkapkan separuh Agama, bahkan bernikah dengan wanita solehah, yang dapat membantu urusan Agama sang lelaki itulah dapat menunaikan maksud itu. Yang mengingatkan tatkala pasangannya lupa dengan urusan kepada Tuhannya. Yang mengingatkan apabila dia lalai dari kewajipannya, yang menguatkan pasanganya apabila dia lemah dari menunaikan tanggungjawab dakwahnya.”
Saya berhenti, menarik nafas panjang, terasa sebak didada mengenangkan bait-bait kalimah ulama’ tersohor itu, “Bahkan, boleh jadi nikah dengan pasangan yang kurang agamanya akan menjadi punca kemerosotan pasangannya. Dalam kalangan ikhwan, apabila seorang lelaki berkahwin dengan seorang wanita lalu semakin susut dari dakwah dan tanggungjawabnya maka mereka akan berkata, semoga Allah merahmatinya, dia telah pun meninggal pergi disibukkan dengan isterinya!”
Dia diam lama, sebelum kembali bertanya,
“So kau tak nak usaha ke? ke kau ni memilih sangat?”
“Aku tengah usahalah ni. Usaha perbaiki diri, kalau ada pasangan aku kat dunia pun aku harap dia sedang memperbaiki diri, bersabar dan bersangka baik dengan Allah.”
“Kau tak takut ke orang cerca kau kahwin lambat.”
“Aku baru 26 kot.” Saya tergelak besar,
“lagipun kahwin lambat tu subjektif, kat negara arab maybe 18 tahun dah tua, kat korea 30 tahun pun muda lagi nak kahwin, kat England takde cop too old to get married. Benda subjektif, kau nak fikir cakap orang buat apa, asalkan Allah tak marah sudahlah.”
“Kau ni mas, ade je nak menjawab kan.” Kami ketawa bersama,
“Yang aku pelik, baju pengantin atau kain kapan, yang mana satu aku akan pakai dulu takde siapa tahu tapi tak pernah pula ada orang tanya aku — macam mana? dah ready ke nak jumpa Allah.”
Kami sama-sama diam. Cuba meneliti hati masing-masing.
Yang paling penting — menilik-nilik diri, siapalah aku di hadapanMu, Ilahi. Bernikah atau tidak, ia rahsia mutlak pemilik diri, maka fokuslah pada apa yang pasti. Agama ini. Jalan ini. Bukankah terlalu banyak masa yang kita buang pergi — Sampai saudara-saudara kita pun kita tak peduli lagi. Bagi sahabat-sahabat yang awal melangkah ke dalam ‘masjid’ itu, dan kita yang masih duduk di luar masjid maka bersabarlah menunggu. Menunggu dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.
Allah Maha Adil lagi Maha Penyayang. Mana mungkin Dia tidak mengendahkan kita yang tetap setia beriman kepadaNya? Mana mungkin, Dia tidak mempedulikan rintihan jiwa kita, jeritan batin kita sedang Allah lagi sangat Memahami semua rasa itu lebih dari manusia? Tenang-tenanglah. Semakin hebat amal dan kedekatan seseorang itu kepadaNya, semakin Allah sayang.
Bila Allah semakin sayang, pastinya Allah nak serahkan diri kita kepada hamba yang paling terbaik. Yang akan menyayangi dan menghargai kita sepenuh hati kelak. InshaAllah Ta'ala, amin. “Selagi bergelar bujang, kita masih bisa merebut 'cinta ekslusif’ dari Tuhan. Yakinlah, pasti cinta insan yang paling 'ekslusif’ juga yang akan Allah berikan!” Barakallah buat mereka yang telah selamat menyempurnakan deenNya. Semoga sempurna jua cinta itu untuk dibawa hingga ke syurga Illahi. Wallahhu Ta'ala A'lam.