Tentang Lagu Lokal Favorit 2016
Memilih yang terbaik bukanlah pekerjaan mudah. Konsekuensi dari penempatan kata terhadap proses karya yang disebut ‘Yang Terbaik’, menjadi keharusan untuk dipertanggungjawabkan. Ia akan selalu mengandung polemik terkait mengenai batasan-batasan di antara yang ‘baik’ dan yang ‘tak terlalu baik’. Hal ini juga terjadi di musik. Saban tahun, acap kali majalah-majalah ternama akan mengumumkan karya-karya terbaik yang diproduksi dalam tahun tersebut. Tak jarang pula, daftar susunan terbaik tersebut dicecar dan dipertanyakan. “Kenapa album ini masuk, kok album dari band ini ngak ada di daftar?” Tidak sedikit yang nyinyir terhadap urutan ‘Terbaik’ yang dibuat. “ Ahhh.. Padahal, band A albumnya lebih kaya musikalitasnya dibanding band B”
Bagaimana harus mendebat subjektivitas penilaian terhadap satu karya? Bisakah kita memberi tempat untuk hal-hal seperti ini? Sebenarnya, sah-sah saja jika satu majalah atau instansi membuat album atau lagu terbaik versi mereka. Jika Anda tidak puas, silakan menyusun daftar terbaik versi pribadi.
Oleh sebab itu, menghindari penggunaan kata ‘Terbaik’, saya memilih untuk menyusunnya dengan pilihan kata ‘Favorit’. Pemilihan tersebut disusun atas pertimbangan pribadi dan pemahaman musik yang selama ini saya terima terhadap lagu yang dirilis oleh solois/grup musik atau band. Lantas, apakah menyusun lagu-lagu Favorit 2016 lebih mudah dari ‘Yang Terbaik’? Tidak juga.
Barangkali, setiap tahun melahirkan generasi dan zamannya sendiri. Keriuhan musisi lokal pada menjadi 2016 juga tak redup. Kehadiran album dari bangkitnya band yang telah tertidur begitu lamanya, ingar-bingar hentakan grindcore dan pasukan garis metal, new-wave yang bersiap memecahkan lantai dansa, shoegaze yang selalu hadir membawa kejutan, serta kembalinya pemberontakan punk-rock, hingga solois-solois muda nan menjanjikan.
Berikut susunan lagu-lagu favorit di 2016.
Menggambarkan band asal medan ini bukan perkara sulit. Jika Anda pernah mendengar Franz Ferdinand, maka Pijar adalah perwujudan lainnya di Indonesia. Pembenaran tersebut dengan segera kita temukan pada album perdana mereka yang berjudul Exposure. Saya yakin, mendengar Wajah Fana membuat Anda segera bangkit dan memecahkan lantai dansa tempat Anda berada. Niscaya, lagu ini akan menemani hentakkan tubuh Anda dari detik pertama hingga 200 detik kemudian. Tidak hanya itu, Wajah Fana merupakan salah satu lagu dengan luapan energi terbesar dalam album Exposure. Lagu yang terdengar dinamis dengan ketukan drum ala New-Wave mengingatkan kita dengan irisan lagu-lagu Franz Ferdinand. Meski tidak disengaja, saya merasa cukup beruntung menemukan Band ini dengan album yang sangat bergairah di tengah tumpukan rilisan fisik lainnya.
6. Vira Talisa – Walking Back Home
Cobalah berjalan di sebuah pedestrian bergaya Eropa sambil mendengar lagu ini. Bisa jadi, kesempurnaan akan datang dengan sendirinya dan menggenapi seluruh imaji dengan paripurna. Apa yang lebih puitis dari vokal Vira? Seraya memejamkan mata dan menikmati suaranya yang bernyanyi lembut “The night was brighter/ when you lingered…..//” merupakan satu-satunya alasan konkret mencintai lagu ini. Walking Back Home menghadirkan kesederhanaan musik yang masih menggariskan sikap elegan ala Eropa, khususnya Perancis. Mendengar lagu-lagu Vira melalui Album EP Self-Titled (Orange Cliff Records), sejak lagu pertama hingga akhir, mengingatkan kita pada Françoise Hardy. Di sisi lain, melalui Vira, kita akan menemukan indahnya romantisme Benua Biru. Kehadiran Vira dengan intensitas musik bernuansa Eropa menjadikannya nilai lebih sekaligus oase di tengah pergumulan vokalis muda perempuan yang senantiasa cenderung memiliki selera yang sama. Yang patut menjadi perhatian adalah sajian apa yang akan dihadirkan Vira dalam Album penuhnya nanti?
Bahwa pada album terbaru mereka yang bertajuk Orkestrasi Kontra Senyap, Taring berhasil menunjukkan progresi yang mengesankan dari Album pertama mereka, Nazar Palagan. Mendengar 12 nomor lagu pada album ini, kita merasakan bagaimana amukan Gebeg dan liarnya gitar Angga saat menghantam senar-senarnya ala hardcore-punk dan metal. Kemudian seluruh kesatuan itu terasa lengkap dengan raungan vokal Hardy yang terdengar emosional. Sulit rasanya untuk memihak satu lagu terbaik pada album ini. Ia memberi kematangan yang nyaris sama rata. Jika itu diharuskan, maka saya memilih Insureksi. Saya tak paham, ketika memutarkan 32 menit duras total album ini, Insureksi(Setlist No. 10) menjadi pelekat yang beda. Barangkali, ia adalah perlawanan paling hakiki. Titik.
Saya menonton Bin Idris dua kali. Pertama, saat pembukaan pameran teman di Lawangwangi dan kali kedua dalam diskusi Noise-Experimental Music (lupa judulnya) di Platform, Bandung. Bin Idris yang merupakan alter-ego dari Haikal aziz atau sebuah kebalikan dari band yang juga dinaunginya, Sigmun. Ia tak menawarkan gitar yang dimainkan dengan standar permainan musik folk pada umumnya, justru ia mengupas lebih jauh soal komposisi estetik, distorsi dan surealnya bebunyian gitar itu sendiri. Berisikan 11 lagu, Album yang diberi nama yang sama dengan identitasnya tersebut, mengajak kita untuk berkelana sekaligus menikmati sebuah petualangan. Terlebih lagu pertama, Temaram yang menjadi penanda nuansa gelap atau bisa jadi pengejawantahan musik-musik gospel yang menguji kita dengan lirik “Aku berlindung dari gusar gelisah/ Aku bernaung dari bara amarah/ Aku sembunyi kan keraguan hati../”. Kekuatan lain dari Haikal adalah bagaiaman ia mampu mendedah kata menjadi kumpulan lirik-lirik yang begitu ekletik. Saya tak perlu menjelaskan magisnya lirik berikut ini “Di antara belantara asa/ Kan kusemai bunga segala rupa// Kelopaknya pancarkan cahaya/ Menjadi lampu yang selalu menyala//. Temaram adalah hal lain dari sebuah riwayat atau mungkin serangkaian petuah-petuah bagi subjek “Aku”.
3. Mondo Gascaro - Dan Bila
Apakah perlu lagi untuk berharap lebih dari yang disuguhkan Mondo melalui album penuh perdananya “RAJAKELANA”? Saya kira itu akan membuang waktu Anda. Yang disuguhkannya bahkan melampaui apa yang telah diharapkan. Dan bila.. bisa menjadi pengejawantahan yang mudah bagaimana Mondo dengan jeniusnya meracik ramuan jitu dalam adonan yang pas. Intro lagu ini merupakan bagian termanis dalam album perdananya. Membayangkan Dan Bila.. bisa jadi adalah sebuah garis sinematik yang berusaha menyusun dan menggabungkan fragmen-fragmen kehidupan secara puitis. Nada tinggi dari vokal Mondo saat berujar /Solusi naral melungkam di batas angan laga/ atau di lirik lain berganti menjadi Cakrawala, menyisakan kiasan dengan penciptaan intensi yang cukup lekat. Seyogyanya, tak perlu lagi meragukannya, terlebih beliau pernah menjadi “dapur” penting dari Band Sore. Kita cukup mendengarkannya sembari menyeruput teh atau kopi dan berdiri di batas pintu rumah. Cukup dan tak berlebih.
2. The Trees & The Wild - Empati Tamako
Yang telah lama pergi dan hilang, kemudian hadir dan kembali. TTATW adalah bentuk yang sebenarnya dari kerinduan yang lama. Medio September 2016, mereka merilis album penuh kedua setalah 7 tahun lamanya berhibernasi. Album kedua yang diberi judul Zaman, zaman, kita akan menemukan rotasi penuh musikalitas yang ditawarkan TTATW dari album pertama mereka, Rasuk (2009). Tak ada bekas Rasuk dalam album ini. Anda tak akan lagi menemukan Remedy bermodalkan gitar bolong memainkan lagu seperti Honeymoon on Ice, atau Kata. Kita juga tak akan lagi menjumpai set panggung nan sederhana dari setiap aksi mereka. Kini, TTATW hadir dengan poros-poros yang tak lagi sederhana, baik dari segi musik maupun teknis panggung mereka. Sesungguhnya Empati Tamako bukanlah materi baru. Mungkin ini akan terdengar berlebihan, bagi saya Empati Tamako adalah sebuah masterpiece. Lagu dengan durasi hampir menyentuh seperempat jam ini mengalami perubahan radikal dari pertama kali saya dengar pada 2012 lalu. Barangkali, Empati Tamako juga sebuah zaman yang mengalami peralihan. Ia adalah pergumulan panjang dari kesediaan suatu band dalam menghadapi zamannya sendiri. Repetisi lirik bercampur distorsi vokal “Terang yang kau dambakan/ Hilanglah semua yang kau tanya” menjadi sebuah pencapaian agung yang dikemas dengan gebukkan drum yang sungguh emosional dari Hertri Nur Pamungkas. Pada akhirnya TTATW memilih bereksperimentasi total dengan Zaman, zaman-nya sendiri.
1. Indische Party - Khilaf
Kuartet asal Jakarta ini berhasil menyuguhkan Album penuh yang bertajuk Analog secara konsisten mengusung sentuhan rock’n roll era 60’-an. Melalui menu berisikan 10 setlist lagu, kita akan melihat bagaimana Band yang pernah rekaman di Studio Abbey Road mendapatkan titik terang dalam sikap bermusik mereka. Namun, di antara sajian Album ini, Setlist ke-8 yang berjudul “Khilaf” merupakan yang terbaik. Intro gitar dari kubil yang melodious dan dilanjutkan ketukan drum yang begitu harmonis dari Tika, kemudian verse dari Japs Shadiq secara perlahan membawa kita merenungi kembali romantisme hidup yang terlampau beringas ini. Barangkali, Khilaf adalah antitesa dari ketergesa-gesaan. Dengan durasi 3’47”, lagu ini mengajak kita berdialog tentang hiruk-pikuk dunia yang begitu bangsat. Tidak hanya itu, petikan gitar Kubil pada bagian bridge dalam lagu ini, menjadi puncak adiluhungnya lagu ini. Secara pribadi, lagu ini memiliki lirik yang kuat di antara semua bait-bait lagu yang tersusun dalam Analog. “Aku tak inginkan yang kau inginkan/ Aku tak impikan yang kau impikan”, sungguh lirik ini begitu genting untuk dipikirkan.
*Pertenghan Januari 2017*
**Untuk mereka yang bertanya tentang yang terbaik di 2016