ssstt
“Solitude matters, and for some people, it’s the air they breathe”
Apa yang salah dengan menjadi seorang introver? Teka-teki itu pertama kali mengemuka di pikiran saya pas umur 13. Pas lagi gemes-gemesnya. Memilih untuk menyendiri karena ada kesenangan dalam kemandirian, dibilang angkuh enggak mau merengkuh. Membisu karena ada ketenteraman dalam kesenyapan, dibilang sombong enggak mau ngomong. Aduh. Enggak, bukan gitu!
Karena dulu enggak masuk TK, saya terbiasa gilsen alias gila sendirian. Selalu asyik dengan atlas dunia atau tamagotchi di genggaman. Enggak pernah ada masalah. Semua permai, semua damai. Satu Dollar Amerika waktu itu, setara dengan 2300 Rupiah. Stok boneka Pikachu pun aman terkendali di pasaran. Tapi kaya yang saya ceritain di awal, kegelisahan sebagai seorang introver tumbuh lirih sampai sewindu kemudian. Enggak heran kalau buku-buku psikologi jadi pelarian masa remaja. Saya terus nyari jawaban.
Emang enggak semua orang paham setelan alami kaum introver. Enggak jarang kami disebut aneh. Lebih aneh lagi karena hobinya sensi dan mikirin segala rupa dari A-Z. Nyatanya, karakter seseorang enggak pernah mateng semaleman. Ada rentetan waktu, kejadian, pembelajaran dan pilihan yang campur aduk. Enggak adil kalau introver dicap sebagai golongan kelas dua karena social judgment.
Sampai akhirnya saya ngeh kalau judgment yang dimaksud, nongol di bahasan buku Quiet-nya Susan Cain. Istilahnya, extrovert ideal. Quiet jadi harta karun karena akhirnya saya nemu jawaban kegelisahan setelah sekian lama. Extrovert ideal diartikan sebagai keyakinan kalau para extrover punya kepribadian sempurna: suka berteman, dominan dan nyaman dalam sorotan.
Pandangan ini dateng dari histori kebudayaan Yunani-Romawi yang lagi gandrung berpidato, kala itu. Simak aja di film-film sejarah. Mereka yang ngandelin orasi lebih diunggulkan ketimbang mereka yang ngandelin kontemplasi. Per saat itu, golongan introver dillat sebagai golongan yang akrab dengan kekecewaan dan kesedihan. Jauh dari gambaran ekstrover yang bergelora dan gegap gempita. Seolah lebih hidup.
Extrovert ideal akhirnya jadi jebakan buat banyak orang. Contohnya, kerja rame-rame dinilai jadi cara kerja paling bener. Sekat-sekat di kantor makin memendek atau bahkan lenyap enggak bersisa. Sementara kan enggak semua orang jadi produktif dengan cara kerja begitu. Ada sebagian yang risih, butuh konsentrasi lebih dan keramaian cuma bikin pikiran gampang mendidih. Mereka pengennya bilang “please kindly go away, i’m introverting” di waktu tertentu, tapi enggak bisa.
Alhasil, jebakan itu ngerugiin kaum introver untuk dua hal. Pertama, mereka suka dipandang sebelah mata karena kecanggungan yang khas. Kedua, mereka sering maksain diri pura-pura jadi ekstrover. Mereka lupa kalau kelebihan dan kekurangan bak dua sisi koin yang selalu hadir di setiap hal. Ekstrover itu keren, tapi ada jeleknya. Introver juga. Yang jago ngomong tuh menawan, yang jago nulis juga. Keramaian itu seru, ketenangan juga syahdu.
Kepura-puraan cuma mengaburkan jati diri. Saya masih suka protes sih sama diri sendiri: come on, why can’t you just be yourself?
Kalau Susan Cain boleh kasih masukan ciamik untuk mereka yang introver, dia bakal bilang “stay true to your own nature. If you like to do things in a slow and steady way, don’t let others make you feel as if you have to race. If you enjoy depth, don’t force yourself to seek breadth”. Tinggal atur-atur aja supaya semuanya harmonis.
Semakin jadi diri sendiri, semakin besar kesempatan kita untuk ngerasa hepi. Duduk sendiri di toko eskrim dan larut bersama buku kesayangan. Melipir ke bioskop beli satu tiket untuk nonton film kekinian. Parkir mundur kendaraan dengan pemutar musik yang dimatikan. Semua dilakukan demi sensasi tenteram yang susah dijelaskan. Absurd, ya? Mungkin. Abis perkara saat ternyata cara absurd itu justru bikin saya dan banyak orang di luar sana bahagia.
Jangan menghakimi kesendirian, jangan meremehkan kesunyian. Kita enggak pernah tau, apakah keduanya lahir dari sebab-akibat atau emang sebuah pilihan.
Kalau menyendiri adalah dosa terlarang, mungkin sampai sekarang budaya Barat enggak akan mengenal komputer Apple, teori relativitas, kisah Harry Potter atau lukisan bunga matahari nya Van Gogh. Karya-karya monumental itu lahir dari kesendirian yang disengaja dan malam-malam panjang tanpa suara.
Jadi, ssstt. Jangan berisik dulu, ya.















