Mungkin, jika seseorang berubah tabiat, itu karena mengalami luka yang hebat.
Kau bilang, aku terlalu angkuh untuk pura-pura sederhana.
Aku terlalu tinggi untuk membumi.
Menjelma langit yang lupa caranya rendah hati, seolah aku hanya tercipta hanya untuk dipandangi.
Tentu saja, sambil menyeduh kopi, dan menyilangkan kaki.
Ah, tapi mulutmu pun sama busuknya dengan mereka yang kau sebut dungu itu.
Lelaki-lelaki yang datang seperti jamaah tanpa kitab, yang merubah kagum menjadi agama, dan yang diam-diam merubah arah sujudnya.
Menyembah, memuja-muji tanpa tapi.
Ya, dan sama sepertimu, mereka menjadikan vagina sebagai gerbang kemenangan, menjadikan orgasme sebagai piala tertinggi kehidupan.
Lucu bukan, aku berdiri congkak, diatas hasrat-hasrat serupa anjing yang menyalak.
Karna sesekali, aku ingin menjadi bajingan. Melihat mereka berebut kupanggil "sayang".
Jadi, jika kau masih menginginkan singgasana itu, maka datang saja. Bawa semua kesombonganmu yang paling mahal. Mengemislah bersama mereka. Mereka yang sedikit kupuji, sudah rela menjilat kaki.
Tidak usah membawa omong kosong cinta, karena kali ini aku ingin kau sembah sampai lututmu patah.