Dear Indonesiaku di Masa Depan
Aku menulis ini kurang lebih lima tahun lalu. Di Agustus 2018. Aku ingat, ini kutulis beberapa malam sebelum peringatan kemerdekaan Indonesia tahun itu. Entah kenapa aku mencoba membawakannya dengan beberapa sudut pandang. Pihak yang kuajak bercakap juga seolah kubuat beberapa.
Tahun itu tahun yang sangat penuh padahal bulannya saja belum genap 12. Baru Agustus. Di sela beberapa kegiatan kampus yang mana cukup menjadi momok di awal semester ganjil, sebut saja kaderisasi - bahasa lebih halusnya ospek. Bukan sebagai terkader, melainkan yang memelonco. Baru saja aku pulang dari liburan semester 4-ku. Sepekan pertama sibuk KRS-an, paralel dengan kegiatan malam yang cukup menyita pikiranku yang dulu amat mudah lelah - sampai sekarang juga kayanya masih. Pulang malam. Jenuh. Sambil tiduran menatap layar HP yang kuingat juga baru kubeli pakai uang beasiswa. Berharap jadi obat tidur, tapi makin lama makin asik dan tahu-tahu sudah berparagraf-paragraf. Tak lama kolase ini mengendap di Google Keep. Aku juga perlu mencerna beberapa kehebohan belakangan itu. Aku tak ingin salah tangkap berita heboh kala itu. Kubaca beberapa sumber. Eh, ternyata justru semakin dikulik semakin banyak fakta yang membuat nalar luguku waktu itu semakin mind-blown. Ada banyak yang positif, tapi yang konyol juga lebih banyak. Tak serta merta aku membuatnya selayaknya bentuk desperation. Tetap ada harapan besar untuk tanah yang seluruh bagian dari ragaku ini terbangun darinya.
Dear, Indonesiaku di masa depan,
Bagaimana kabar dirimu? Kuharap kau lebih baik dari dirimu saat ini. Jauh-jauh di sini aku mengirim narasi hanya untuk memberi reportase tentangmu di masa ini. Aku juga punya cerita tentang baik dan buruknya dirimu. Tentang apapun yang sudah diupayakan manusia-manusiamu. Tentang segala hasil kerja mereka. Bahkan tentang perilaku lucu mereka bermain-main dengan dirimu. Di akhir, kemudian aku hanya ingin mengungkapkan curahan harapan kepada sesamaku di negeriku saat ini. Tentang dambaan setiap insan di negeri ini menurut akal sehat dan kerja logika seharusnya.
Dear, Indonesiaku di masa depan,
Dirimu di saat ini sangatlah kaya. Semuanya tak mungkin tak bisa kami dapati di sini, karena alammu menyediakannya. Segala hal bisa dengan mudah kami peroleh, karena alammu memberi kami semuanya. Dan kabar gembira baru saja kami dapat. Bahwasanya salah satu ladang mineral terbesar di dunia yang ada di paling timur negeri ini bisa secara mayoritas kami kuasai. Setelah sebelumnya secara sangat menyedihkan kami dibodohi selama puluhan tahun dengan diberi bagian tak lebih dari sepersepuluh pendapatan. Kabar gembira, bahwasanya dirimu saat ini sudah berani menggertak dunia.
Dear, Indonesiaku di masa depan,
Manusia-manusiamu saat ini sudah sadar akan persaingan dengan dunia luar. Banyak di antaranya berhasil memuncaki tangga persaingan dalam berbagai bidang. Hal ini tentu baik untukmu. Ditambah di setiap perlombaan manusia-manusiamu sering bersatu padu, mewujudkan dukungan semaksimal mungkin hanya untuk dirimu. Namun, di saat satu sisi orang sangat keras dalam membela dirimu, di sisi lain ketika dalam kekalahan tak sedikit dan tak jarang hujatan langsung menghujan kepada mereka yang sudah lelah berjuang.
Dear, Indonesiaku di masa depan,
Aku ingin pula bercerita tentang lucunya dirimu saat ini. Beberapa waktu lalu, aku mendapatkan hiburan lucu yang dibawakan oleh beberapa orang yang mencoba melawak. Kisahnya tentang jeruji besi. Aku terbahak-bahak menyaksikan tingkah mereka. Mereka yang sedang dalam masa hukuman malah mencoba rileks menikmati masa liburan mereka di bui. Sel penjara mereka sulap menjadi ruangan penuh fasilitas mewah. Kau pasti merasa bingung, bagaimana bisa? Ini dia hal yang paling lucunya. Mereka mengorbankan sejumlah kecil dana pribadi untuk bisa memperoleh fasilitas tersebut. Mereka membayar ketua Lapas untuk mendapatkan semua itu.
Pejabat merupakan pihak yang rawan untuk diperdaya perilaku korupsi. Statistik mencatat dalam empat tahun terakhir sebanyak 362 kasus korupsi menggeret jajaran elit pemerintahan maupun legislatif dengan tren naik setiap tahunnya. Tindakannya bermacam-macam dengan tindak dominan adalah perilaku penyuapan. Dan angka ini bukan angka kritisnya. Masih banyak di bawah permukaan yang belum terkuak. Ditilik dari jumlah antara yang patuh dan yang tidak patuh untuk melaporkan kekayaannya, perbandingan si tidak patuh adalah 1:2 jumlah patuh.
Negeriku ini memang lucu. Entah bagaimana bisa predikat negara hukum bisa terus disandangnya. Padahal sudah jelas kenyataan yang ada menunjukkan hukum yang sebegitu konyolnya banyak dilanggar oleh oknum yang berada di lingkar paham hukum. Sebut saja Ketua MK, Ketua DPR RI dan Menteri, banyak yang menjadi bagian dari kegiatan haram ini.
Entah bagaimana lagi seharusnya kami bereaksi, antara sedih, kecewa, marah, atau malah merasa terhibur karena masih tidak percaya bahwa ini semua tak ubahnya drama yang kami sering saksikan di layar lebar.
Dear, Indonesiaku di masa depan,
Beberapa waktu lalu, kami dihadapkan pada suatu bencana dahsyat. Gempa bumi yang mengejutkan dunia. Begitu hebat dampaknya. Kurasa itu teguran bagi kami karena tak bisa dengan baik menjaga bumimu.
Banjir dan longsor pun sering kami dapati. Dan tak bisa dipungkiri memang itu hasil dari apa yang telah manusiamu perbuat. Alammu yang semakin miris teriris dengan kenyataan bahwa kaulah salah satu yang paling kotor sedunia.
Lautmu penuh sampah. Akibat konsumtifnya manusia-manusiamu, 187,2 juta ton sampah terbuang tiap tahunnya. Dan sebagian besar yang seharusnya bisa dipergunakan kembali, terbuang tak berharga.
Udaramu penuh polutan. Kau di peringkat ke-8 dari 200an negara di dunia sebagai yang paling mematikan berkontribusi polusi untuk udara bumimu. Tak asing bisa disaksikan di langit-langit pusat peradabanmu penuh asap hitam yang gelap bergumul tak beda dengan mendung.
Tanahmu semakin gersang tanpa hijau pepohonan. Tamaknya manusiamu menghanguskan bumimu. Deforestasi untuk kepentingan bersama katanya. Seakan tak sadar bahwa mereka telah membakar paru-paru nafas dunia. Mereka juga menyebabkan bahaya bagi diri mereka sendiri.
Bumimu kini sudah renta. Segala upaya sepatutnya untuk memeliharanya, bukan melukainya. Ya, kuakui kami lalai dan durhaka.
Dear, Indonesiaku di masa depan,
Tercatat pendapatan per kapita pendudukmu adalah salah satu yang tertinggi di dunia. Seharusnya ini jadi kabar gembira karena hal ini menjadi indikator manusiamu hidup sejahtera. Namun, mengagetkan saat fakta mengatakan bahwa hampir seperlima dari total manusia-manusiamu adalah miskin. Jumlah yang sangat besar tentunya dari seperempat miliar penghuni Sabang-Merauke. Dan ini mengungkap kenyataan bahwa kau adalah salah satu negara dengan penduduk kaya sekaligus miskin di dunia dengan selisih yang sangat kentara. Satu hal yang sangat keras menghabisi stereotipe bahwa Indonesia adalah negara dengan penduduk yang peduli satu sama lain.
Dear, Indonesiaku di masa depan,
Cukup banyak sudah kuceritakan, apa-apa yang belakangan memenuhi kepalaku. Aku hanya mau mengeluarkan semua isi kepala ini. Kegelisahanku. Kekecewaanku. Kekhawatiranku. Aku sudah lemas menghimpun kemuakan di dalam dada yang sering sesak menghimpit jantungku. Ku harap kau tak masalah apabila ku angkat masa lalumu.
Sekarang aku ingin mengungkapkan curahan rasaku tentangmu kepada kawan-kawanku. Impian dan pengharapan.
Dan izinkan aku untuk mengganti lawan bicaraku menjadi teruntuk kawanku semua.
Negeri ini bukan lagi muda. Hanyakah kita dengan begitu konyolnya berdiam diri membiarkannya menua dalam ketertinggalan? Begitu sesak dada ini ketika negara lain memandang rendah negara besar ini. Eyang kita tidak menyandangkan predikat ‘Indonesia adalah Bangsa yang Besar’hanya untuk sekedar menjadi klausa yang begitu jumawa diucap kosong si omong besar maha benar, manusia Indonesia, yang tidak mau bersaing dan malahan hanya gemar berkomentar.
Negara ini bukan lagi muda. Sadarkah kita, sudah bersiap mewariskan apa untuk cucu cicit kita? Hanyakah tragedi menyedihkan betapa gilanya negeri ini dibodohi orang-orangnya? Hanyakah elegi ngeri yang siap disambut tawaan sinis oleh bergenerasi-generasi setelah kita?
Namun negeri ini belum juga tua. Dan akankah hanya berusia tak lama lagi? Banyak orang di luar sana memberi gelar ‘Indonesia calon hancur’. Begitu banyak fakta yang menohok naluri seorang pribumi seharusnya. Namun, seakan praktis terbagi dua jalan orang indonesia menanggapinya. Tak semestinya kita acuh, karena kita tahu, hancurnya negeri ini adalah karena kita dan untuk kita. Dosa sekaligus balasan yang tak seorang pun menginginkannya. Dan bukan seharusnya kita menyela semua kata-kata itu, mendeklarasikan pembelaan soal negeri yang besar ini akan terus abadi. Menyalahkan semua fakta yang sudah jelas ada. Menebas kenyataan dengan opini dan argumen alibi. Bukan diriku hendak setuju dengan itu semua, tapi ku sangat khawatir dan hanya berwaspada.
Memang bangsa ini tidak sempurna. Banyak celah yang pantas untuk dicela. Satu masalah besar ada pada kita. Ya. Saya, kamu, dia, mereka — kita semua. Laku kita memang mungkin tidak sesuai. Sekali lagi, bangsa ini memang tidak sempurna karena begitu juga manusia-manusianya yang jauh dari sempurna.
Mari melangkah bersama kawan, dengan tatapan optimis penuh pengharapan. Tidaklah perlu mengingat buruk masa lalu, meratapi ataupun memaki diri sendiri. Memang tidak mulus jalan setapak di belakang. Namun, sayang kiranya waktu untuk bangkit sekedar kita gunakan untuk sibuk mengungkit. Yang lalu, biarlah masa lalu. Tetaplah menjadi sebatas bahan pembelajar, bukan pemberat untuk mimpi-mimpi besar.
Begitu banyak hal buruk yang kita lakukan selama ini. Tingkah lucu begitu konyol kita lakukan. Tingkah nista yang tak bisa untuk mudah dimaafkan. Namun, tak serta merta seharusnya, kita buta dari semua kelebihan yang kita punya.
menjadi saksi manusia-manusia Indonesia yang telah membanggakan negeri dengan handal bersaing dan meneriakkan, “Inilah kami, bangsa yang tak bisa kalian remehkan”;
menjadi saksi betapa masifnya pembangunan di negeri ini. Menara menjulang mencakar langit menyimbol cakar garuda. Pembangunan dalam berbagai lini semakin pesat melesat bersama sayap sang garuda. Semua sibuk saling membahu demi satu tuju : tegak dengan gagahnya garudaku.
Sang waktu ikut berbangga — memang kaya negeri ini –Dari Sabang hingga Merauke, bak zamrud ditebar di kilau samudera biru, dengan segala keberhargaan yang dibawa, dengan arif manusianya menjaga, Apapun yang dimau kita, dari bumi bisa kita memperolehnya.
Sang waktu pun heran menyaksikan — Oh inilah dia, negeri dongeng di dunia nyata. Dengan indahnya penyair menyiratkan — tongkat, kayu dan batu pun bisa berubah tanaman.
Soekarno-Hatta berdiri melantangkan kepada dunia deklarasi menuju bangsa merdeka bukan mudah. Tujuh puluh tiga tahun lalu rumput dan pohon berayun, bangku dan pena ikut merembug, serta kertas dan tinta turut bangga, ikut menyaksikan dengan singkatnya waktu sebuah momen besar dalam sejarah, bahwa inilah Indonesia. Adalah bangsa yang patut dipertimbangkan. Tak butuh waktu lama, dengan sigapnya melihat kesempatan yang ada, sekelompok pemuda dan orang tua menjadi wakil bangsa yang menunjukkan solid dan mantapnya persatuan kala itu. Beda pendapat tak menjadi halangan untuk mencapai tahap akhir proklamasi kemerdekaan.
Sebagai epilog, dari hati yang paling dalam, dengan air mata menggenang, dengan merah putih tergenggam, dengan berakhirnya alunan Tanah Airku,
tanahku yang kucintai, engkau kuhargai. ~
Publication of Environment Statistics of Indonesia