Terlalu menyakitkan saat kutahu kau datang hanya untuk mencari tahu, bukan melunasi rindu yang turut menggebu di dadamu. Kau datang hanya untuk mengacaukan tatanan hatiku jika begitu caramu.
WM
Show & Tell

Jimmy Eat World
𓃗

Origami Around
Fieri Frames
EXPECTATIONS
No title available

shark vs the universe

if i look back, i am lost
No title available
TMBGareOK. The Official They Might Be Giants tumblr

gracie abrams
official daine visual archive
Claire Keane
sheepfilms
Not today Justin
Keni
Today's Document

roma★
Color Me Curious

seen from United Kingdom
seen from Spain
seen from Türkiye
seen from Türkiye
seen from Malaysia

seen from United States

seen from Brazil
seen from United States

seen from United States
seen from Philippines
seen from United States
seen from United States

seen from Venezuela

seen from Sweden
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye
seen from Kenya

seen from Thailand
@kolaserasa
Terlalu menyakitkan saat kutahu kau datang hanya untuk mencari tahu, bukan melunasi rindu yang turut menggebu di dadamu. Kau datang hanya untuk mengacaukan tatanan hatiku jika begitu caramu.
WM
Setelah kamu memilih 'tuk melepasku, segala rasa yang kupunya untukmu biarlah menjadi urusanku. Semua akan tuntas dengan caraku.
WM
Jika ingin pergi, pergilah. Tak perlu menyediakan waktu untuk memastikan apakah aku telah sungguh melepas.
WM
Atas banyak waktu yang tak sedikit pun kau luangkan untukku, ada banyak hal yang kau tunda; rindu, peluk, hingga ucap yang akhirnya kuurungkan.
WM
Kembali melihatmu setelah sekian lama, malam ini aku bingung sendiri. Mana yang harus kususun lebih dulu: napas atau kata-kata. Mana yang harus aku sembunyikan lebih dulu: rindu atau air mata.
(via kotak-nasi)
Akhir tahun. Menyisakan kisah yang terpaksa berakhir. Kisah yang didoakan dengan lembut di tahun sebelumnya namun tak dikabulkan Tuhan di tahun selanjutnya..
(via mbeeer)
Dua Sisi Aku
Akhir-akhir ini, hidupku menyenangkan sekali! Aku bisa melakukan hal-hal yang kusukai setiap hari. Dari membuka mata hingga hendak menutup mata, aku nyaris tidak pernah lepas dari layar laptopku. Jari-jariku juga aktif sekali menari-nari di atas kotakan aksara. Aku bahagia punya banyak waktu untuk menulis, membaca, mendengarkan lagu serta cerita teman-temanku sepanjang hari.
Beberapa hari terakhir, aku mengunjungi berbagai event berturut-turut untuk melakukan liputan dan menjadikannya berita. Teman-temanku di Lembaga Pers Mahasiswa juga sedang giat-giatnya meliput berita dari daftar event yang telah kubuatkan. Setelah mereka liputan, aku tinggal menunggu berita mereka masuk ke email redaksi lalu kuedit dengan seteliti mungkin. Menyuri satu persatu kata, mengefektifkan kalimat, sudah menjadi makananku sehari-hari. Dan, senangnya, benar-benar terasa mengenyangkan hingga aku hanya perlu makan sepiring nasi setiap harinya. Itung-itung, bisa sekalian nurunin berat badan.
Memang benar kata orang-orang. Jika kita bekerja pada bidang yang kita sukai, kita tidak akan pernah merasa sedang bekerja.
♪♪♪
Aku bosan dengan hidupku yang monoton. Beberapa hari ini, aku menghabiskan waktu di depan laptop fuschiaku. Mengetik berita dari hasil liputanku sendiri, mengoreksi berita teman-temanku yang hendak naik ke portal online, mengejar-ngejar orang untuk liputan, menulis puisi-puisi tidak berfaedah, mendengarkan lagu yang itu-itu saja, melihat satu-persatu instagram story teman-temanku adalah kegiatan yang kulakukan setiap hari. Mungkin, hanya satu yang memberi sedikit warna dalam hidupku; berita. Berita selalu berubah setiap hari. Selalu ada informasi baru jika kita mau mengikuti.
Aku memang suka menulis, membaca, mendengarkan lagu, mendengarkan cerita. Ketika aku punya banyak waktu untuk melakukan semua itu sepanjang hari, tetap saja terasa ada yang kurang saat aku kehilangan sebuah sentuhan. Aku tetap manusia, bukan robot yang tak mungkin mengeluhkan kegiatannya yang monoton.
Ada yang kurindukan, yang entah bagaimana caraku menyentuhnya. Aku sudah memenuhi waktuku dengan banyak pekerjaan namun aku tetap saja merindukannya. Rasanya, rindu ini yang membuatku kenyang hingga aku merasa tak perlu makan.
Aku punya banyak teman yang tentu selalu siap untuk mendengarkan cerita dan keluh-kesahku namun tetap saja yang kunanti-nanti untuk mendengarkan ceritaku, hanya dirinya. Iya, aku tahu, tak seharusnya aku seperti ini. Aku pun sudah meneriaki diriku sendiri berkali-kali untuk menyadarkan bahwa semuanya telah berubah dan tak mungkin lagi ‘tuk terulang.
Jika dia bisa menenggelamkan dirinya dalam kesibukan lalu melupakan segala rasa, mengapa aku tidak?
Dia : Bentar, ya, Sayang. Aku harus selesaiin ini dulu. Aku : Oh, iya, gapapa. Dilanjutin aja. (Sambil ngelanjutin pekerjaanku juga) tiga jam kemudian..... Dia : Aku belum selesai :( Aku : Jangan lupa makan, Sayang. Kalau capek, istirahat. (Sambil masuk ruang rapat) Dia : Iya. Habis ini mau cari makan. Nanti aku habis makan langsung lanjutin kerjaanku, ya. Aku : Okaay. ........................................... Pasti banyak yang pernah merasa kesal saat ditinggal-tinggal. Tulisan ini kubuat atas seringnya aku mendengar keluhan teman-temanku ketika ditinggal sibuk oleh kekasihnya.
Aku pernah merasakan tidak menyenangkannya ditinggal saat ia sedang sibuk-sibuknya. Padahal, sebenarnya aku pun memiliki banyak kegiatan yang harus kuselesaikan. Namun, rasanya tetap saja tidak menyenangkan.
Aku juga pernah ditinggal saat ia sedang sibuk-sibuknya, sementara aku sedang tak ada urusan sedikit pun. Rasanya, aku seperti orang yang tidak berguna, tidak dibutuhkan oleh satu pun manusia. Jangan salah! Rasa kesal yang muncul akibat ditinggal-tinggal memang bisa melahirkan pikiran-pikiran seperti itu!
Saat aku sibuk maupun tidak, ditinggalkannya tetap menjadi hal yang tidak menyenangkan. Namun, setidak-menyenangkan apapun, akan tetap lebih menyenangkan ketika aku memiliki kesibukan juga. Jauh lebih baik saat dia menyelesaikan urusannya dan aku juga menyelesaikan urusanku. Karena dengan begitu, aku dapat bertemu dengan orang-orang yang setidaknya bisa membuatku tidak merasa sedang hidup sendirian. Lalu otakku juga terpakai untuk memikirkan permasalahan di luar kepentinganku sendiri dan tentunya jauh lebih bermanfaat bagi orang lain. Setidaknya, otakku tidak berkesempatan untuk memikirkan hal-hal yang berlebihan, yang akhirnya merusak suasana hatiku sendiri.
Maka, sebisa mungkin, sibuklah. Supaya ketika dia sedang sibuk, kamu bisa dengan santai mempersilakannya menyelesaikan kesibukannya karena kamu pun punya tanggungan yang menunggu dituntaskan.
Tapi, ini hanyalah konsep. Konsep yang sering kujalankan tiap berurusan dengan orang sibuk yang-kebetulan-kucintai. Ada kalanya berjalan, ada kalanya tidak.
Jarak terjauh kita dengan seseorang adalah saat tiadanya komunikasi. Kesibukan bisa mengurangi frekuensi komunikasi yang akhirnya berujung pada perasaan "jauh". Dijauhkan oleh kesibukan? Hmm.
Eh, tetapi, aku tetap tidak menyarankan adanya saling larang untuk mengembangkan diri atau memupuk potensi. Sebisamungkin, bijaklah dalam mengatur komunikasi, apalagi saat kesibukan sedang memisahkan.
Ngomong-ngomong, aku rindu rasanya bermusuhan diam-diam dengan kesibukannya yang selalu kuiyakan. Hihi
Pengakuan yang Tertunda
Pada dua semester terakhir di perkuliahanku kemarin, prokerku berbaris rapi –minta kusambut satu-persatu. Selesai satu, aku harus langsung menyambung satunya lagi. Belum sampai selesai, aku sudah harus siap memulai yang baru. Selalu begitu. Tak berbeda dengan tugas yang diberikan dosen-dosenku.
Lalu, dengan angkuhnya, aku sempat merasa, aku tidak punya waktu untuk merasakan kesedihanku. Aku tidak punya waktu untuk menyesap pahit.
Ada temanku yang sempat bertanya, “Met, gimana sih caranya tetep baik-baik aja setelah berpisah dengan orang yang kamu sayang? Gimana caranya buat tetep kelihatan bahagia kayak kamu?” Lalu, saat video call dengan temanku yang lain, dia mengernyit heran lalu bertanya, “Kamu nggak nangis sama sekali?” Dan banyak pertanyaan-pertanyaan serupa yang kudapat saat orang-orang menganggap seharusnya aku bersedih.
Aku tahu, sebenarnya aku sedih namun aku sedang tak mau bersedih karena besok aku masih harus menemui banyak orang, besok aku masih harus sehari penuh bekerjasama dengan orang-orang yang mengharap profesionalitasku, aku masih perlu berkonsentrasi untuk menyelesaikan tugas-tugasku, dsb.
Namun, setelah proker-proker itu berakhir, setelah gaduh beralih tenang, barulah aku bisa mendengar suaraku sendiri. Barulah aku bisa jujur dengan diriku sendiri. Lalu menangislah aku di malam-malam akhir pekan. Heheee
Aku hanya ingin menyampaikan; jangan menjadi aku yang terlalu malu dengan air mata sendiri. Tidak ada salahnya bersedih. Toh, siapa yang tak sedih saat mendapat pengkhianatan? Siapa yang tak sedih saat kepercayaannya dikacaukan? Siapa yang tak sedih saat berpisah dengan orang yang ia sayang?
Benar, kita tidak bisa menghindar dari rasa sedih. Namun, kita dapat mengatur hati kita untuk tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Temukanlah tiap cara yang mampu memperbaiki suasana hatimu. Ada banyak alasan untuk berbahagia hidup. Sedihlah sebentar, jangan sampai cahayamu meredup!
Semoga bahagia selalu menyertaimu. Tertanda,
-yang sebenarmya sedang butuh pelukan.
Berpisah?
Setiap hari, aku merasa seperti menghitung waktu mundur. Aku akan kehilangan kamu. Kamu akan pergi dalam waktu cepat atau lambat. Dan aku tidak mungkin memaksamu untuk tetap tinggal.
Harus merengek seperti apa aku? Rasanya, sedikit pun aku tak pantas melakukannya.
Aku tak bisa menjanjikanmu apa-apa meskipun aku mengenali perasaanku yang sangat menginginkanmu setiap hari. Kita hanya akan menjadi sementara yang menunda perpisahan bila dipaksakan bersama.
Dan, rasanya, aku tak pernah merasa cukup siap untuk melepasmu. Seolah Tuhan tak pernah memberiku cukup umur untuk mampu berpisah denganmu.
Aku memang mencintaimu. Aku selalu bahagia melihatmu datang.
Meski begitu, tak berarti kamu harus memaksakan diri menemaniku. Kau tak harus tetap di sisiku dalam rasa hambar yang menyergap tiap denyut nadimu. Aku mengerti, semua hal akan berubah. Tak terkecuali, rasamu. Aku tak mungkin memaksa agar kau tetap berperasaan sama. Aku tak bisa menuntutmu untuk menatapku dengan cara yang sama seperti hari-hari lalu.
Aku memang bahagia melihatmu datang. Namun, aku akan lebih bahagia jika aku mampu melihat senyum nyatamu, meski tak lagi di dekatku.
Aku mencintaimu. Apa yang bisa membuatku lebih bahagia selain melihatmu berbahagia?
Dear 2017,
Terima kasih sudah menjadi latar ceritaku yang luar biasa. Aku tak butuh waktu lama untuk merindukan memori yang bersemayam pada hari-harimu. Namun, aku tak bisa membiarkan diriku terpaku dalam segala kenang. Aku ingin melangkah ke depan, memulai hal-hal baru yang akan kumulai dari; halaman satu.
Selamat datang 2018-ku!! Jadilah tahun dikabulkannya mimpi-mimpiku!
Cerita Cinta 2017
Melepaskan
Aku pernah mencintai seseorang dengan begitu dalam. Sangat dalam hingga tak mudah bagiku melepaskannya. Selama empat tahun lebih, hidupku tidak pernah lepas dari kehadirannya. Aku sempat mencoba berpindah ke lain hati namun tetap terjatuh lagi pada hatinya. Rasanya, kala itu, cuma dia yang bisa kuajak berdiskusi mengenai dunia ini, menyunting tulisan bersama, dan hal-hal lainnya yang sudah malas untuk kukenang.
Di tahun 2017, akhirnya aku bisa benar-benar melepaskannya. Iya, karena dia telah melukaiku –tentu saja. Terlalu banyak maaf dan kesempatan yang kuberikan. Dia hobi sekali datang dan pergi sesuka hati. Kalau mau berpikir positif, yah, mungkin dia memang hanya menganggapku teman saja namun aku terlalu terbawa perasaan. Mungkin, dia yang memaksaku mengiriminya foto setiap jam, mengirimiku permainan gitarnya, bujuk-rayunya, hingga cemburu-cemburu yang ia tunjukkan, semua itu bagian dari caranya berteman dengan siapa saja.
Ah, syukurlah. Di tahun 2017, aku bisa lepas dari seorang yang tak kupahami tata caranya dalam berteman itu. Sekarang, dia sudah menjadi laki-laki yang jauh lebih baik dari yang dulu kukenali –setahuku. Dia lebih baik dalam menjaga kekasihnya Bahkan, caranya dalam menjaga mampu menumbuhkan rasa hormatku pada hubungan mereka. Semoga seterusnya mereka bisa seharmonis kini karena aku turut bahagia melihatnya.
Aku hanya menghilangkan rasa cintaku, bukan menumbuhkan kebencian pada seseorang yang pernah memberi warna dalam kehidupanku.
Menemukan
Ini adalah bagian yang paling kusuka di tahun 2017. Meskipun banyak kepahitan pula yang tercipta tapi aku sangat mensyukurinya karena pada bagian ini aku mampu menjadi lebih berani dalam mengambil peran dalam kehidupanku sendiri. Pada bagian ini, aku lebih banyak mendengar perkataan hatiku sendiri daripada perkataan orang-orang di sekelilingku.
Aku menemukannya di saat hatiku sedang perlahan-lahan kutata selepas aku mengosongkannya dari seorang yang mendiami selama empat tahun lebih. Dalam rangkaian kisah yang tak pernah kubayangkan sebelumnya, dia menjadi pengisi ceritaku sepanjang Mei hingga 2017 berakhir.
Banyak kisah yang kami lalui. Tak sedikit kepahitan yang kami dapati. Sekarang, yang kutemukan dengan begitu bahagia, sudah tak lagi bersamaku. Sudah bukan milikku. Namun, aku akan selalu mendoakan kebaikan untuknya.
Atas segala hal kami lalui, aku yakin, dia tidak akan melukaiku dengan sengaja.
Cerita Sahabat 2017
Aku hanya mengisahkan hal-hal mengesankan dari beberapa sahabatku. Kuharap, tidak ada yang cemburu. Hihi :p
Dewi, seperti biasa. Dia selalu menjadi orang yang paling kupercaya untuk kutumpahi cerita. Kembalinya kami di satu kota membuat kami jadi lebih sering bertemu. Setiap kali ada masalah, kami bisa bergantian berkunjung atau mencari tempat makan yang bisa jadi tempat bercerita. Di tahun ini, kami sering mengagendakan pertemuan di akhir pekan untuk menceritakan apa saja yang telah kami lalui selama satu hingga dua minggu terakhir, mencacati kelakuan sendiri di masa lalu, dan hal-hal yang bisa melegakan dan menyenangkan kami. Di tahun ini, dia juga menjadi seseorang yang kukagumi karena kekuatan hatinya. Aku bersumpah, siapapun laki-laki yang seenaknya menyia-nyiakan hatinya akan menyesal saat melihat bahagianya kelak. Rasain wlek!
Piki, ternyata dia tetap bisa kuajak berkonyol-ria setiap saat. Yah, walaupun kadang lebih sibuk juga karena tugas negara sebagai Duta Wisata di Kebumen. Dia juga sahabatku yang sangat kuaaatt.
Dio, Chella, tetap lucu seperti biasa. Berkumpul bersama mereka selalu menjadi penutup pekan yang menyenangkan. Sayangnya, jarang sekali ya, kita punya kesempatan. Oh, iya. Dio. Walaupun sekarang rumah kami sudah kembali berdekatan, dia tetap menjadi orang yang paling sering mengajak video call sepanjang 2017.
Teman-temanku mantulsquad; Tika, Bunga, Dita, Gabby, Rina, Viqi, There, Tata menjadi warna baru pertemananku di 2017. Baru sebentar bersama namun sudah banyak sekali cerita yang kami ukir. Bisa dikatakan, mereka adalah perantaraku belajar. Bukan hanya tentang satu hal, namun berjuta hal yang mungkin tak bisa kudapat di tempat lain. Pokoknya, mereka punya kesan tersendiri di tahun 2017-ku.
Cerita Kuliah 2017
Tahun 2017 merupakan tahun pertama debar-debarku menanti nilai keluar di Siakad. Aku berharap, nilai yang keluar di 2018 nanti tidak turun dari nilai di 2017 karena aku tidak tahu harus beralasan apa pada Pembimbing Akademikku yang tidak mungkin tidak menanyaiku.
2017 adalah tahun yang begitu berani untukku. Aku memberanikan diri untuk mengikuti kegiatan apa saja yang ingin kuikuti meskipun aku belum benar-benar memahami bagaimana dunia perkuliahan itu. Sebanyak tiga UKM dan satu sekolah politik kuikuti. Keempatnya menuntut tanggung jawabku. Tentu saja, bangku kelasku pun demikian. Aku harus bisa membagi waktu antara kuliah, keempat kegiatan itu, dan –tak ketinggalan- urusan pribadiku.
Tetapi, aku senang dengan kesibukanku. Aku bahagia ketika aku tak sempat untuk memikirkan hal-hal bodoh atau pun hal-hal yang hanya menyita waktu untuk dipikirkan. Sibuk dengan banyak kegiatan justru bikin aku lebih cepat mengerjakan tugas. Aku jadi merasa punya tanggung jawab untuk menyelesaikan tugasku di awal sebelum menyelesaikan tugas-tugas dari UKM.
Di UKM-UKM yang kuikuti, aku pun diberi kesempatan untuk menanggung berbagai tanggung jawab yang datang silih berganti. Semuanya menjadi tempat belajar yang luar biasa. Suatu saat, aku akan punya cukup nyali untuk memamerkannya pada anak-anakku.
Oh iya, UKM-UKM yang kuikuti, selain memperluas relasi, juga memberiku kehangatan keluarga baru di luar rumah. Meskipun, tak jarang aku menganggap ‘istilah’ keluarga sebagai omong kosong namun aku masih dapat merasakannya dalam porsi yang berbeda-beda pada setiap tempatnya. Dan aku bangga menjadi bagian dari mereka.
Cerita 2017
Aku akan menutup 2017 sekaligus memulai 2018 dengan cerita.
Aku senang bila kamu banyak bicara. Bicara apa saja sampai aku kesal. Bicara apa saja sampai aku tetiba merasakan ada yang hilang dari diammu. Begitu.
(via kotak-nasi)