Teruntuk beberapa hal yang belum terselesaikan, biarkan saja hal itu tetap menjadi seperti itu. Dan teruntuk beberapa hal yang masih simpang siur, biarkan saja hal itu tetap menjadi misteri di antara kita.
Akhirnya saya kembali berceloteh lagi setelah sempat memutuskan untuk tidak mau membuat jurnal hidup apa-apa lagi semenjak sabahat saya meninggal. Tapi setelah saya pikir baik-baik setelah tiga bulan berlalu, mungkin jurnal hidup yang saya tulis bisa jadi sia-sia jika saya berhenti menulis. Bukanlah Tumblr ini sudah bertahun-tahun lamanya menjadi wadah berbagai perasaan dan kenangan saya? Ya memang begitu tujuannya. Untuk menampung semuanya yang terjadi. Mengenang, mempelajari, dan memikirkan yang sudah terjadi.
Memang tiga bulan terakhir ini dan yang dilalui sedikit "spinning out" dan wow sekali. Mulai dari kematian dan perihal berita yang sebenarnya tidak ingin saya dengar. Seorang teman bercerita tentang salah satu lelaki di masa lalu saya. Saya pun enggan menanggapi dan mendengarkan secara seksama. Karena saya pikir saya sudah memiliki kehidupan nyaman saya yang sekarang.
Dia bercerita jika lelaki itu sudah kembali lama ke indonesia. Bekerja dan menetap. Menjadi abdi pemerintah. Dan juga sudah menikah. Semua yang saya dengar menurut saya hal yang bagus. Dan saya pun turut lega. Karena dia sudah bisa menemukan kehidupan barunya dan pasangan barunya. Saya berharap seperti itu. Dia bisa menjadi lebih baik.
Tapi yang saya pikirkan adalah saya pikir dia bukanlah tipe lelaki yang menyerah dengan impiannya. Pernah saya bertanya apa ambisi dan cita-citanya. Dia pun berkata kalau untuk kembali ke indonesia hampir mustahil. Keahlian dan keterampilannya justru lebih dihargai di luar negeri ketimbang di negeri sendiri. Secara logika, memang benar seperti itu. Karena kita semua tau kalau pemerintah kurang peduli dengan riset.
Urusan dia menikah dengan siapa, saya tidak mau peduli dan mencari tahu. Karena saya pun tidak mau membuang waktu saya untuk hal-hal yang bukan urusan saya. Malahan saya berharap pasangannya tidak mengetahui keberadaan saya dan siapa saya. Itu justru lebih baik karena bisa meminimalisir konflik yang terjadi di antara mereka.
Jika kita bertemu suatu hari nanti secara tidak sengaja, ya itu berarti takdir karena semesta bersimpang. Tapi perasaan yang hadir sudah pasti berbeda karena dimakan waktu dan tahun. Saya sudah benar-benar mengampuni apapun yang pernah kamu lakukan. Perasaan sakit dan derita yang pernah kamu beri, dan juga luka yang sempat menganga lebar dan dalam, sudah saya maafkan semua. Jadi saya rasa saya tidak punya hutang perasaan marah, dendam, dan kesal padanya.
Mungkin ini adalah pesan kepadamu yang tidak pernah akan sampai: "berbahagialah! Jadilah dirimu sendiri. Dan jangan pernah menjadi diri yang bukan dirimu. Jangan pernah melepaskan cita-citamu yang besar. Aku ingat kau pernah bercerita tentang lab riset yang terdekat, entah di singapura atau di jepang. Bukankah kau ingin bekerja disana? Aku tidak ingin dirimu terjebak di dalam keadaan yang dimana gerak gerikmu terbatas. Dan sayangi dengan tulus pasanganmu. Jika sekiranya kau teringat tentang diriku, aku harap kau segera sadar kalau kita sudah berpisah lama. Aku pun sudah tidak memiliki kenangan yang tersisa tentang dirimu. Jika ada perasaan bersalah kepadaku, aku harap kau bisa berdamai dengan dirimu. Dan jika semua itu masih belum cukup, aku harap biar semesta yang bertindak, memastikan yang terbaik untuk kita berdua masing-masing seperti apa. Biarkan semesta menjawab segala kerisauan dan pertanyaan-pertanyaan yang masih belum bisa kita jawab masing-masing. Jika susah untukmu untuk melupakan, aku tidak bisa berbuat apa-apa untukmu. Biarkan semuanya berlalu saja.
I hope you find your peaceful in your heart then you find how to be yourself, Prof.
Your late talk in the highest building in Jakarta.