That umma.
we'll create that umma,
bi'aunillahi wa quwwatih.
اللهم تقبل منا يا ربنا الوهاب.

oozey mess
KIROKAZE
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

Kiana Khansmith

tannertan36
todays bird

Love Begins
tumblr dot com
Cosmic Funnies
taylor price
noise dept.
he wasn't even looking at me and he found me
NASA
trying on a metaphor

if i look back, i am lost
Not today Justin
No title available
Alisa U Zemlji Chuda
Show & Tell
Misplaced Lens Cap

seen from United States

seen from Argentina

seen from United States

seen from United States
seen from Brazil

seen from Malaysia
seen from Netherlands

seen from United States

seen from United States
seen from Brazil
seen from Türkiye
seen from United States

seen from United States

seen from China

seen from India
seen from United States

seen from Australia

seen from Brazil

seen from United States
seen from United States
@kphpdraisme
That umma.
we'll create that umma,
bi'aunillahi wa quwwatih.
اللهم تقبل منا يا ربنا الوهاب.
Faidza faraghta fanshab?
Postpartum era, sebutannya. Zaman ketika lepas berjihad dan masuk ke arena juang lainnya. Satu bagian dari zaman ini elok sekali untuk dikulik.
Kini jika tanya sampai padaku, 'Bagaimana cara membunuh kebiasaan menunda?' salah satu opsi jawaban yang tak ragu aku berikan ialah, 'going to postpartum era, umma..!'
Bila dahulu alokasi waktu belajar telah tertulis "2 jam", tak jarang untuk memulai gerak pada satu jam pertama akan sulit sekali. Tak sedikit jadinya, setelah tersisa satu jam saja baru ada hati yang terpantik. Boncos juga kan, 1 jam terbuang sia-sia hanya untuk memaksa diri pada kebaikan yang sudah jelas adanya.
Andai pun telah terpampang list to do today, simak ucapan fatimah pada fatimah ini, "ah bisa di nanti-nanti saja lah, toh hari masih panjang dan kali ini jadwalnya bisa sesuka hati aku otak atik sebab tiada insan yang terikat padanya."
Maka berakhir apa kisah ini? boncos, lagi dan lagi. Alokasi waktu kerap dikorupsi hawa sendiri, hingga tersisa sesal di akhir hari karena buang-buang usia lagi. haha. sampai kapan, sampai kapan akan begini~
And these days, this human get beautiful tarbiyah from her God untuk mengamalkan ayat indah-Nya:
فَاِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ Apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan/kebaikan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)
Kata sambung antara dua kata kerjanya menggunakan ف, terhimpun makna 'bergegas' disana, seakan artinya: jika telah selesai pada satu amal, bergegas berpindah pada satu amal yang lain.
Lihat, bagaimana ar Rahman memaksa hamba-Nya goin' into the best ver of Her!
Selepas al Abd tidur, kepalaku kini terlatih berputar: oke, tadi 2 jam kita telah habis membersamai al Abd untuk terlelapnya dia, sekarang to do list apa yang bisa dituntaskan? dalam waktu 30 menit? atau mungkin 2 jam? atau mungkin juga, dia hanya akan terlelap 15 menit? atau lebih singkat lagi? ayo putuskan sebelum akhirnya kita kembali memandang mata bundarnya dan mencari tahu atas alasan apa kali ini ia memanggil Ibuna dengan penuh cinta?
Dan selepasnya terbitlah kegiatan lari-lari tuntaskan itu dan ini mumpung al Abd sedang tertidur. haha, meski tak jarang dari berbagai opsi amal aku memilih tidur saja, demi menambal tidur semalam yang rombeng-rombeng itu.
Betul kata bunda-bunda hebat di semua kanal, selepas dihadiahi ayat indah Allah yang satu ini, sulit sekali rasanya mencari waktu sendiri, aih apalagi bila waktu sendiri itu dahulunya biasa aku isi dengan amal tak bermakna dan sulit hisabnya.
Fa alhamdulillah, bein' a new ibuna, Allah kembali mendidik hamba-Nya untuk bertanggung jawab atas ayat yang mudah diingat itu.
Maka al Abd, ingatlah. ar Rahman ialah Zat Yang paling ingin menjadikanmu the best version of you. So enjoy His tarbiyah now and then, kiddos.
Kue sarang semut
Umi tersenyum menerimanya, ada sorot sendu yang terrtangkap mataku, untuk kemudian ia berkata sambil tersenyum lagi,
"Ini kue kesukaan kakek"
Aku menatap. Hujan di luar menambah panjang detik jeda ucapannya. Tante disampingku ikut tersenyum, menunggu.
Mata umi menatapku, ada derai yang berusaha diredam, "Umi suka memasakknya dulu. Sampai kala itu, kakek makan banyak sekali kuenya. Umi hentikan, khawatir jantungnya kambuh, toh masih ada esok hari. Rupanya, besok kakek betulan tak bisa menikmati lagi"
Umi tertawa, berusaha biasa saja. Padahal setiap kehilangan, seberapa pun lamanya, pasti berbekas.
"Haha, jadi sesal, mungkin harusnya tidak dilarang ya..?" candaan tiada makna. umi menutup kisah dengan menguyah kuenya, betulan enak sekali.
Tante menyahut juga dengan kisah serupa, tentang anak yang kala waktu tak menjawab ucapan "met tidur" ibunya. Rupanya, pesan terakhir, "Jadi sesal, andai saja..."
Tentang penyesalan, sulit rupanya menjauh dari tarbiyah ini. Dengan sesal bisa jadi pertanda bertambah kebijaksanaan kita terhadap suatu salah. Memelihara sesal, membuat langkah esok hari lebih berhati-hati. Menjadikan nafas lebih dinikmati, detik-detik lebih disadari.
Betulan, detik ini tidak terulang lagi rupanya. Betulan, perjuangan ini tidak akan ada gantinya lagi.
Maka menghadapi sisa juang yang tinggal hitungan hari saja, Apakah masih ada cara memaksimalkan persembahan kita?
hingga tiada sesal, jika memang juang terakhir rupanya. jika memang tiada Allah beri kesempatan keduanya.
Cukuplah cokelat hangat tadi siang menjadi pengingat lagi, bahwa selagi masih ada, upayakanlah apa-apanya. Yah kita sudah cukup menyesal menyadari sedikitnya rasa yang kita abadikan, namun yasudahlah, hari-hari lalu masih mampu bertahan saja sudah luar biasa. Alhamdulillah.
Mari tidak tambah sesal-sesal lainnya. Mari jadi hamba yang pandai mengambil pelajaran. Dari kisah-kisah terdahulu, ayat-ayat tertulis, ayat-ayat di hadapan.
How passionate they are, and i luv it
Combo combo aura pada manusia jadi menyala di hadapan ku setiap kali mereka serius menggarap sesuatu.
Bagian diriku seperti tersentrum. Entah akhirnya akan menangis berlinang, menatap dalam, atau cekikikan sendiri dalam mengamati.
Intinya: aku selalu takjub, selalu menikmati, ketika orang tengah hanyut pada pusaran fokusnya.
Serupa, topik skripsi pada mahasiswa. Aku senang sekali menguliknya, sebab acap kali mereka tak ingat matkul harian atau hikmah-hikmah pertemuan rutinan, namun langsung mengalun lancar bila menenun topik perihal skripsi.
Tentang penyakit langka, tingkat kebahagiaan pada pemeluk suatu agama, media dan baitul maqdisnya, etika jurnalisme juga marketing di penerbitan X, dan lain-lainnya.
Proses penyusunan skripsi yang selalu ada-aja-ceritanya jadi semakin menarik karena pancaran emosi itu berpadu dengan penjelasan sistematis temuannya. i lov i lov. Ayo bertemu, berbincang, dan gibahin skripsi kita~
Rupanya ini fitrah tak aneh, toh Tuhan Pemilik Alam semesta ini juga menyandingkan cintaNya pada sesiapa yang se-passionate itu in doing something;
إِنَّ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلَا أَنْ يُتَقِنَه
Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mencintai apabila ketika kalian beramal, kalian melakukan pekerjaan tersebut dengan itqan (terarah, jelas dan bersungguh- sungguh).
Just as this hubby xixi, alhamdulillah hari ini aku banyak cekikikan sendiri melihat itqannya ia so sudden menggarap 'proyek swasembada' kami. Aku ga ngetawain kakak loh ya, i am admiring you, wakakak.
Diupayakannya sudah, kemudian mari rayu Sang Penguasa bumi untuk menumbuhkan tumbuhan-tumbuhannya 🤍
Lil fade away from glimpse of life
Lately kisah-kisah yang Allah unjukkan di hadapanku kerap memiliki satu benang merah: tentang mereka yang merawat asanya.
Betapa pun Allah hadirkan rintang, betapa pun Allah uji coba rencana hidupnya, betapa pun strategi diacak, lawan tampak semakin op, kawan tampak semakin kasat mata,
Asa, tetap harus berpijar.
Kala waktu fase hidup berganti, kemudian kaki dan tangan dirimu yang lalu tampak tak serupa hari ini. Suara yang mendorong langkah juga berubah tangga nadanya. Waktu-waktu, nyawa di depan wajahmu, semuanya Allah hadirkan wujud baru.
Fase hidup berganti, namun asa harus tetap berpijar.
Entah dengan pahatan yang lama, atau ini waktunya pahatan baru kau pelajari. Tenanglah, fase berganti, tujuan akhirmu tidak pernah mati. Seberapa pun tenggelamnya mata kanan dan kirimu. Tiada baik dan buruk menjadi penting kecuali kau tahu Ia pintanya apa.
Dan hanya lewat ayat, hanya lewat Kalam akan kau temukan nyala kemarin, seberapa pun tidak relevan hari ini wajah dunia menghampirimu, ayat keabadian itu selalu sama: kegigihan sesiapa pun hamba menghadapi guratan indah yang dipetakan Dia.
Jadi ayo, nyalakan lagi asa mu. Tidak mungkin fase yang Allah hadirkan menyumbat potensi amal yang hanya untuk itu alasan mu hidup.
Fase Bodoh
Hai, hari ini ucapanku menyakitkan ya? Maaf ternyata kali ini aku salah lagi membaca keadaan, kukira kamu sedang ingin bercanda, ternyata lebih pelik ya masalahnya
Terima kasih ya untuk tetap disini Aku masih sayang kamu, kok. Aku masih memperjuangkan asa kita, tujuan akhir kakiku masih disana.
Alias, Mungkin tadi ucapanku mengoyak-ngoyak hatimu Aku salah, aku sadar, maaf ya
Tapi, Aku tetap sayang kamu. Apa dengan berbekal tujuan yang masih searah ini pintu maaf untukku masih terbuka? Atau berarti, menuju kesana kita akan berbeda kendaraan?
Baiklah, aku ikut maumu. Melihat dari kejauhan dan memeluk dari doa-doa juga bentuk sayang yang kubiasakan, kok. Targetnya memang kamu, salah satunya. hehe. Nanti kalo sudah ada ruang maaf untukku, berkabar ya Sepeda merah akan segera kulesatkan kesana!
---------------------
Aku ingin berterimakasih ribuan kasih pada mereka yang menggenggam tanganku ketika aku bersuara lantang.
Namun, aku ingin menyeduh teh hangat sembari menggegam mantap, pada mereka yang mengulurkan tangan ketika aku masih terbata. mereka yang tetap memasang senyum meski perbuatanku perlu disapu dan dipoles setelahnya.
Mendewasa artinya menerima fakta bahwa duniaku tidak sebesar sekolah saja. Dahulu membuat bahagia satu sekolah adalah hal yang bisa diperkirakan, hari ini dunia tanpa batas, jakarta juga berisiknya minta ampun.
Kebodohanku, salah perhitunganku, jelek-jeleknya aku, semakin tampak. Apalagi serba-serbi hari pertama, atau kami menyebutnya: fase bodoh.
Dalam fase hidup, menjadi bodoh sudah kumaklumi benar akan terjadinya, meski tak senantiasa bisa aku dealing with the condition. Seumpama, membaca kitab faraidh pertama kali; aku sudah briefing diri, 'thats fine loh untuk tidak tahu apa-apa dan mendengar duktur berbicara seperti bangku pertama'.
atau ketika pertama kali menawarkan diri membantu seorang guru ia pun berujar: 'tak apa Fatimah, senantiasa ada hari pertama pada setiap manusia'.
Mendapati banyaknya fase belajarku yang Allah pertemukan dengan orang-orang baik, aku jadi bertekad serupa. Mari berupaya sabar membersamai. Mari mempertebal husnuzhon dan perluas hati lagi.
Fase belajar, memang pedih dan kerap gompel-gompel tak elok. tapi, waktunya menanam memang selalu begini rupanya.
Sesiapa yang gagal menanam, akan gagal memanen esok hari, kan?
Sekali lagi, aku haturkan ribuan terimakasih untuk setiap hamba yang Allah hadirkan kala masih terbata.
Terimakasih untuk tetap ada disini, pada pusaran dunia penuh tukar rugi. Baiknya, engkau tetap menggenggam tanganku meski mengetahui betapa banyak darah yang terbit akibatnya.
Untuk punggung yang selalu ditempa tanpa tanya
Hingga sampai pintu gerbang, ia hantarkan aku dengan apiknya. Kusut mukaku juga tak dia persoalkan, benangnya ia urai satu-satu, tanggung jawabnya ia tunaikan satu-satu.
Mendekati hari, banyak tangan menggapai pundakku sembari berkata, "ayahmu berbinar sekali, seakan satu provinsi ingin diajaknya berbahagia"
Aku tahu, sangat tahu. Berbekas di kepalaku..
Pagi yang ia belah dengan to-do-list persiapanku. Malam yang ia gulung dengan memastikan evaluasi progress setiap harinya. Meski tertekuk aku menapakinya, ayah dan umi menggenggam, anak kecil mereka tak boleh takluk pada perasaan abstrak tak berbayang, "itu bukan anak ayah".
Kala itu sumber tangisku selalu dua; satu, suara di kepala. Dua, membaca wajah yang akan melepasku dari rumah, mata yang sedih dengan guratan wajah menyala sekali. unik.
Jika kugoda, "kenapa sih semangat betul merangkai momen pengusiranku dari rumah!" Ia hanya mendengus geli, menyahut, ingin menghantar tanggung jawab dengan sebaik-baiknya.
Sejak mula, ia pemegang medali itu: lelaki tanpa kata, cukup lakunya yang berbicara.
Dengan tamu undangan yang bertambah tiba-tiba. Dengan kertas akad yang ia simpan baik-baik di sakunya. Dengan sofa yang bolak-balik diangkatnya. Dengan setiap sudut rumah yang ia benahi dengan tangannya. Dengan rerumputan yang ia jaga presisinya. Dengan kenyamanan tamu yang ia upayakan sebisanya. Dengan sakit kepalanya yang ia telan dan lamatnya mata ketika ia pandang aku di meja makan pada detik-detik terakhirnya.
Ah, ukiran tanggung jawab itu. Tak mungkin kulukis semua. Padahal baru satu momen itu saja, rupanya sudah banyak sekali bukti cintanya. Aku, kenapa lama sekali ya belajar membaca ayah.
Ia juga jarang menangis—dihadapanku minimal. Tapi dua dari tiga momen tangisnya aku saksikan sendiri; satu, melepasku merantau pertama kalinya. dua, pertemuan online pertama ayah dan si mas—dengan gumpalan tisu yang ia remuk sembari tersenyum di layar. tiga, pada hari berlututnya aku setelah lepas satu beban tanggung jawab di pundaknya—ia tak berkata apa-apa, betulan menangis saja, di telingaku, untuk pertama kalinya.
Semoga Allah balas ayah dengan sebaik-baik balasan—atas ikhtiar penjagaannya padaku, ikhtiar pendidikannya padaku, ikhtiarnya memeluk kami sesempurna mungkin, para wanita yang sering menjadi sumber sakit kepalanya.
Esok lusa aku baru tau, banyak tingkah lakunya yang kukira biasa, ternyata ia berupaya. Pada tanggung jawabnya, ternyata ia sama sekali tidak pernah bercanda.
Terimakasih sudah menjadi teladan, terimakasih sudah tidak pernah berhenti belajar 🤍
After these all, i am still cryin' too
Tadinya memasuki jenjang ini aku berasa sedap-sedap-tapi-pede-dikit ya. Dalam beberapa aspek cukup tenang jika tengah menghitung faktor-faktor terindera pada kendaliku: "aku udah belajar dikit ya Allah, aku udah berdoa sampe last minute ya Allah, aku suangat berupaya ya Allah ini-itu-ini-itu"
Meskipun semua ikhtiar itu tentu rombeng sekali bila disandingkan dengan berbagai rahmat dan kemudahan yang Allah banjirkan sepanjang perjalanannya.
But at least, i know that i did some efforts. Jadi mayan tenang aja awal-awal menapaki, meski...
ternyata nasihat-nasihat guru tentang badai pada bahtera ini, tetap shick-shack-shock ketika dihadapi. ternyata menyelami mata manusia yang jadi potensi syurgaku itu, tetap butuh equipment tambahan bahkan setelah teorinya sudah terbayang di kepala. ternyata yang kutahu-tahu itu, tetap memantik rasa ketika melaluinya.
Ternyata, i'm still cryin' too when facing all these miracles.
Meski sering kali, that oppa tak berbuat apa-apa. litereli bernafas saja, bahkan berupaya menggenapi kewajibannya, rupanya bising kepalaku tetap saja bermunculan. Seakan diri tak sekadar berkenalan dengan ia saja, aku pun berkenalan dengan aku yang baru.
Ah, ternyata aku bisa seemosional ini. Ah, ternyata aku bisa se-clingy ini. Ah, ternyata aku bisa sebingung ini menimbang-nimbang. Ah, ternyata...
Bahkan pada satu paham yang sedari lama kukira sudah aku unduh dengan baik pada diri: bahwa setiap upaya cukup Allah saja Pemberi hadiahnya. Tetap diuji--- ey kala waktu jiwa mungilku setelah mengambilkan gelas, ingin diusap-usap juga rupanya!
That's the point when i realize, ah bila tidak kenal Allah pantas sulit sekali bahtera ini berjalan.
Kotak cinta itu ingin selalu diisi, kotak apresiasi itu ingin dipenuhi, sedangkan tak pernah pada pasanganmu bahan isiannya berada. Tak ubahlah engkau hanya menuntut sesuatu yang ia pun tak pernah dimampukan memenuhinya.
And yap, begitulah keseruan dua insan yang suka lupa sudah berapa bulan menikah (saya sih tepatnya, jujurly rasanya seperti sudah lama, alhamdulillah)
Anw kata orang, pernikahan di bawah 3 tahun tak usah didengar cuap-cuapnya wkwk. Ini pun saya tengah mengumpulkan kepingan saja. Sebab jari telah lama tak berdansa di khalayak dan hikmah terdekat yang sering Allah hadirkan ajarnya lewat saya belakangan ini adalah bahtera indah ini.
Doakan upaya menaati Allah, dari saya dan that oppa, diterima. Doakan juga, pada milestone esok-esok hari, Allah bersamai kami menapakinya.
Jyujyur........... yang sudah disiapkan saja tetap seru sekali begini, agak panick ya membayangkan berjalan pada milestone yang akan datang tiba-tiba itu. hehey. mari belajar, mari terus belajar. sudah belajar saja tetap kalang kabut apalagi jika tidak belajar. ayo ulangi jutaan kali pada kepalamu.
ya, setidaknya sekarang saya panik-paniknya sudah berdua ya. meski dia masih harus semangat belajar mendengar yapping saya yang katanya, "50.000 kata per hari, kamu mah"
featuring nasi uduk telor dadar andalan mas. w lupa momennya. tapi keknya ya another weekend pagi saya yang malas makan tapi dipaksa makan. vibesnya naha kek dingin-dingin gitu padahal manada dingin, cih sungguh kekuatan teknologi.
Put ur momma kitchen into urs
Setelah berdapur sendiri, kebahagiaan yang sering membuat air mataku menetes, manakala menyendok menu yang menerbangkanku pada meja rumah ungu itu.
Aih.
Dulu pertama kali, tauco ikan. Setelah mengepul menunya, sendokan pertama aku malah meneteskan air mata. Seperti tengah duduk di hadapan mata yang menunggu nasiku bertambah dengan lauk hasil tangannya.
Esok-esok, banyak menu umi yang berhasil kutemukan di dapurku. Alhamdulillah. Meski tak jarang jumpalitan bentuk dan rasanya, namun saya belajar meramu, si dia belajar mengunyah ya.
Hari ini, wedang jahe. Setelah sekian lama membuat wedang yang tak kunjung mirip untuk that oppa, kemarin aku terdorong untuk bertanya pada umi, setelah that oppa bilang,
"Jujur, wedangmu good. Tapi wedang bubun another level"
Oke, thats enough. Ayo kita kejar resepnya—nasihat seorang mamak dahulu kala: kejar lidah suamimu selama pemilik resep masih bernyawa.
Then tara...............
Tentu tidak 100% serupa namun cukup bisa menerbangkanku kembali pada menu wedang hangat kala berbuka + suguhan otak-otak atau pempek air fyer.
Hafizhahallah, ummi 🤍
Rindu sekali deh. tapi telfonan setiap hari piye bisa tetep rindu yah.
-------------
Draft kemarin-kemarin, namun ingin belajar mengolah dentuman hatiku lagi. Oiya, perihal resep ada yang sulit sekali: nasi goreng.
Masalahnya empu resep adalah dirinya sendiri. Syulit diduplikat bos.
Yasudahlah, untuk yang satu itu biarlah jadi menu spesial meja kami bila ia sedang ingin unjuk cinta lewat sepiring nasi.
Lapisan selempang yang kerap tak tampak matamu.
Entah sebab anginnya, entah sebab jutaan kesabaran sang mayit, entah sebab teguhnya hati ayahanda, atau entah sebab yang mana.
Kala membaca rentetan ini tadi, hatiku berdesir. Allahummaghfirlahaa warhamhaa. Allahumma taqabbal minhaa.
Semoga setiap yang ditinggalkan, Allah gantikan dengan kebaikan jauh berlebih. Semoga ayahanda - ibunda, mendapat tabungan yang besar di keabadian.
--------------
Malam dan kesesakannya, malam dan anginnya. Bila aku adalah ia, aku tentu tak seteguh itu menghadapi hari. Dan benar, hanya Dia yang tahu betul sesiapa yang pantas mencicipi nikmatnya uji.
Untuk semilir angin dengan langit hitam berkelabu tadi, mari kita tancapkan sebuah nyata bahwa dibalik setiap kepala, setiap wajah di depan mata, ada hidupnya.
Kala waktu dudukmu di suatu temu, teman duduk diseberangmu itu, berselempang amanah lainnya pada waktu serupa.
Ia pula seorang anak dengan kewajiban mendakwahi keluarganya. Ia pula pejuang mimpi yang perlu mengobarkan pendidikannya. Ia pula seorang gadis kecil yang mendapat nikmat harus bekerja. Ia pula pendekar teguh yang Allah cintai dengan sakitnya. Ia pula yang tertatih setiap hari menepis ombak luar untuk kufur nikmat atas rumahnya.
Sebab ia diam saja. sebab ia penuh tawa saja di kampusnya. sebab ia tak berkisah pada caption statusnya. sebab ia menghadiri acara serupa denganmu. sebab ia juga tetap keras kepala pada forum-forum kalian,
Siapa sangka, nyatanya teman dudukmu selempang amanahnya tebal sekali. Bahwa hidupnya, nyatanya bukan hanya untuk duduk satu meja denganmu saja.
Wahai..... semoga setiap kita mampu menghadapi setiap insan dengan sebaik-baik adab. Sebaik-baik prasangka. Sebaik-baik ucap.
Berikut, semoga dianugerahkan pula kita ini kemampuan husnuzon yang luar biasa, untuk setiap cara Allah mencintai hamba-Nya.
Kopi dan mengomeli diri
Setelah berapa tahun!
Ternyata aku..........beneran mampu....tanpa si hitam imut itu, hiks!!!
Alhamdulillah. Agak too much ya, tapi super happy hari ini karena Allah bahagiain, lewat si hitam dingin yang sudah lama tak mengalir di tenggorokanku setelah berpekan, yea dan akhirnya -biidznillah- yuhuuu turun izin dari pulisi cool, mas mas yang terdepan ikhtiarnya menjaga gue wkwk, berkah selalu dear 😋
Ala kulli haal, efek kopi, jadi tergerak untuk lil bit -not- deep clean kulkas rumah. Kepalaku pening melihatnya. Cih, sisa lauk semangkuk yang sayang dibuang, sisa potongan bahan terlupakan, sisa buah yang elha kenapa ga langsung di eksekusi kala itu raaaaawr, sisa sisa sisa. argh.
Paling bikin sedih, tentu proses 'mengenyahkan'nya. Melihat bentuknya saja aku merinding sudah, jangan tanya baunya, jangan tanya teksturnya. Kepalaku, duar!
Ingin rasanya kenyal kental berminyak itu kubungkus dalam satu plastik hitam, plung plung plung, dan aku enyahkan dari mata. Agar segera bersih, senang, bahagia.
Namun, sampah, sejak kapan 'terenyahkan' dengan mudah ya. At the end atas lalai ini hanya berpindah dari depan mata menuju bantargebang sana. Kacau, khalifah.
Sudahlah tak bertanggung jawab menghabiskan tanpa sisa, tak apik mensyukurinya, kini pun ingin cuci tangan dari limbah hasil tanganku sendiri? Cih, fat, cih.
Perlahan aku pisahkan kembali sampah organik - non organik. Plastik dan kardus. Jangan lupakan hoek-hoeknya, itu teman setia sepanjang keseruan. Rasakan saja, supaya tak mengulangi.
Perlahan, perlahan, perlahan. Dengan mengulan di kepala : Kenapa banyak sekali. Kenapa harus kutumpuk. Kenapa memasukkan jika memang belum pandai mengeluarkannya. Hisabnya fat, hisabnya.
Jika yang kecil, hasil tanganku sendiri, remehan saja, mudah kulupakan begini 'sisa-sisanya', apa kabar yang besar ya.
Gelondongan kayu. Limbah tekstil baju. Air mencuci tambang.
Ah, aktivis-aktivis. Ucapkan selamat tinggal pada langkah besar bila yang kecil saja kamu lupakan, Fat. Bermudah-mudah saja terus mengenyahkan yang dihadapan mata.
Padahal sejak kapan, sisa-sisa, mudah enyahnya? tanggung jawab itu ditarbiyah, ya.
Hari kelima uas, belum mau cerita uas. Masih sedih dengan kelalaianku atas sampahku sendiri. Hiks. Semoga Allah ampuni aku.
Karena semua yang kau cinta
akan pergi, maka tunjukkan cintamu, sebelum terlambat.
--------
sepenggal tuturan nosstress yang tiba-tiba menyeruak di kepalaku pagi tadi ketika di jalan.
Selamat, seperti biasanya, hari-hari ini tidak akan pernah bisa diulang. berikut seluruh berputarnya dunia yang melelahkan, kucuran peluh yang membingungkan.
selamat juga, sudah jumat sore lagi, kali ini asa mana yang ingin kita langitkan?
"Kak disini, detak jantungmu besar sekali"
Kak, berpekan lalu, detak, bersama guncangan bahumu dan senyum lembut yang susah payah kau upayakan. Terimakasih untuk usaha tetap hangat kala kelabu sedang pekat-pekatnya.
Hari setelahnya, detak, bersama birunya langit dan tawa lepasmu menyapu bola. Kukira pantai ini tidak bisa lebih indah lagi, ternyata ayat barunya sungguh memukau.
Kemarin, detak, bersama semilir angin dan tubuhmu yang bergidik kedinginan. hehe, apa kali ini kau percaya ucapku bahwa usia memang betulan faktornya?
Pagi tadi, detak, bersama kepulan singkong hangat dan mata menyalamu merakit asa dakwah, hasil bibit yang ditanam sahabat-sahabat kita.
Sore tadi, detak, bersama lucu-lucu bor hitam-merah yang ternyata op sekali. meski kau sangsi, aku tetap optimis kok, berbekal si kecil ini kita bisa membangun rumah!
Namun esok kak, detak, akan bagaimana ya?
Tidak, niscaya bersamanya kita tidak Allah taala ajarkan padaku kala pertama kali pandangmu dengan balutan baju putih bersih. Tidak.
Diajarkannya aku, pada detak kesekian di keheningan malam, ketika Allah taala memancangkan sadar: bersama detak ini, seluruh episode mentari dan rembulanku. hari berat dan ringan. jalan mendaki dan menurun. sapuan pedang dan balutan perban.
Lalu, bagaimana rupaku esok lusa membersamai seluruh niscayanya, ya?
Ketika detak berpacu kencang, yang mungkin ketika rpg ada di tanganmu, atau kala denting sendok dan garpu, ketika meja makan mulai terisi selain oleh kita berdua sahaja. atau pada niscaya silang-pendapat kata semua nasihat—yang merupakan episode paling aku takutkan, dan kau tahu sekali bukan.
atau ketika detak melambat, mungkin di atas genangan cairan merah hangat? atau langit-langit putih dan aroma bersih yang tajam? atau ketika genggamanmu mulai melemah, atau ketika keringnya kulitku bukan sekedar di jari saja, atau... entahlah. nafasku berat pada niscaya yang ini, pada malam itu, bayangannya Allah taala hadirkan sangat jelas, kak.
Kau tahu, rupanya menghadapi sunnatullah detak-detak, aku tetap khawatir saja.
Namun, takut dan harap memang harus seirama, kan? Maka, semoga Allah taala kuatkan aku untuk bisa memeluk semua takutnya dan Allah taala tumbuhkan milyaran harap pada setiap langkah jihad kita.
------------------ ciaaaaaaaa, allahumma baarik.
Berpekan belakangan berbagai ayat betulan menjadi nyata. Ucap-ucap guruku di kelas, berduyun-duyun bisa diindera. Alhamdulillah.
Mau abadikan-abadikan tapi.......
Satu hari kala itu, jarak siang dan sorenya seperti sepekan. Pada pagi dan siang kami bersinar air mata memuji nikmat-Nya Pada sore dan malam kami berlinang air mata meneguk sabar pada ujian-Nya.
Esok-esoknya, guliran waktu cepatnya tak terbendung. Sungguh, al Wahhab ketika melimpahkan cinta, mengukir bentuknya, beragam sekali.
"Bukakan untukku, al hadid"
Terima kasih, kakak. Sudah menyertakan aku pada momen runtuhnya duniamu yang tiada mencari pegangan kecuali pada apa kalam ar Rahman untuk kita. Semoga sahabat-sahabat kita, Allah ta'ala bariskan pada setinggi-tinggi derajat. Semoga bertumbuh seribu setelahnya, pejuang-pejuang berhati ikhlas untuk rumah Allah ta'ala itu.
Khayyr insyaAllah. Khayyr, insyaAllah. insyaAllah.
Itu mantranya, bukan?
bila gantinya, memandang-Nya,
bagaimana mujahidah?
yaa rabb, yassir yaa rabb, yaa rabb, yassir.
Abadikanlah, bila esok luput rupa Kalam ketika berfungsi, pada hari-hari ini.
Tak tergambar rasanya, mengecap ayat, menelaah bisyarah, membanjiri nafas dengan semata-mata harap pada janjiNya saja.
Abadikanlah. serupa ini ruh pengampu iman, seharusnya.
رجونا الشهادة فرزق
الرزاق أحسن المجاهدة
وَقِيلَ يَٰٓأَرْضُ ٱبْلَعِى مَآءَكِ
وَيَٰسَمَآءُ أَقْلِعِى
وَغِيضَ ٱلْمَآءُ
وَقُضِىَ ٱلْأَمْرُ
Thats the same Zat that listens, to every single soul.
Fat, sudahlah. sudahlah. sudahlah.
Kita bukan bagian mereka yang membangkang dan terus menjawab ketika diberikan.
Kita bukan mereka yang dilaknat berulang kali karena tak apik menanggapi berkilaunya kasih sayang Rabbil 'Alamiin.
Kita bukan mereka, yang setiap malam disampaikan padamu sifat-sifatnya hingga terjanjikan untuk ditumpas.
Kita bukan mereka, sudahlah. kita menarget izin memandang seumpama memandang rembulan. sangat wajar, pendakiannya pedih dan menyesakkan, sangat wajar.
Ratusan kali, tidak, jutaan kali kuulangi padamu,
ما عندكم ينفد وما عند الله باق
Kau bukan keledai, hafalan itu paksa telan, jangan dibiarkan teronggok di kerongkongan.
Kau bukan hewan ternak, panca indera itu dipakai, ayat-ayatnya setelah ditampakkan, renungkan.
sudahlah. kau tidak sedang menjaga Kalam. Bukan begitu cara hamba berjalan.
bukan begitu hamba-Nya ar Rahman, ar Rahim. Segala asma elok yang kau sumpal-sumpal di kepala. Paham tidak sih konsekuensi mengenal Rabb semesta? yasudah. laksanakan.
tahu-tahumu itu, telan. paksa telan. suntikkan ke dalam darah, paksakan dia mengalir. paksakan dia menyelebungi kulit. menghidupkan paras. paksakan. diam, aku tahu kau sangat mampu memaksa diri. diamlah.
wahai. kau sangat tahu taruhannya, pelaku tahu namun abai. kau sangat tahu pedihnya ancaman tahu namun membangkang. sudahlah.
semuanya fana, sudahlah. sudahlah.