Kali ini, saat malas melanda, aku ingat bahwa aku seorang ibu.
Misplaced Lens Cap
Sweet Seals For You, Always
KIROKAZE
cherry valley forever

@theartofmadeline
Not today Justin
hello vonnie
No title available
occasionally subtle
𓃗

blake kathryn
d e v o n

Andulka
sheepfilms
we're not kids anymore.
Monterey Bay Aquarium
The Bowery Presents
ojovivo

Product Placement

Kiana Khansmith

seen from United States

seen from South Africa

seen from South Africa
seen from United States

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Singapore

seen from United States

seen from United States

seen from Germany

seen from Italy
seen from France

seen from Spain

seen from Japan

seen from United States

seen from Türkiye

seen from Canada

seen from United States
seen from Germany
seen from Germany
@krisanoranye
Kali ini, saat malas melanda, aku ingat bahwa aku seorang ibu.
Ada hal-hal yang pernah kulepas.
Ada hal-hal yang pernah hilang.
Ada fase yang berat.
Tapi aku tidak ingin menghapusnya.
Karena semua itu membawamu ke sini.
Ke tempat dimana aku telah belajar dan menjadi versi lebih tenang...
Semoga tenang ini bersama dengan Rahmat dan Ridho Allah.
Karena tenang adalah sebuah bentuk pertolongan Allah pada hambaNya yang meminta dalam kesempitan.
Aku masih berjalan. Hanya saja ada beberapa hal yang tidak bisa kubawa terus.
Mungkin harapan-harapan tertentu.
Mungkin kekecewaan yang sudah terlalu lama disimpan; terhadap makhluk ataupun kejadian tertentu.
Mungkin keinginan untuk selalu menjadi orang yang kuat.
Mungkin pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah mendapat jawaban yang memuaskan.
Aku masih berjalan. Bukan tersesat. Tidak juga lupa arah.
Di ujung jalan, belum terlihat rumah, atau gerbang kota. Tapi terlihat cahaya hangat di kejauhan.
Tidak cukup dekat untuk disentuh.
Tapi cukup terang untuk dijadikan arah.
Aku masih berjalan, bersama semesta dan keyakinanku yang tak pernah padam. Mungkin memang belum sampai, tapi aku menuju arah yang benar.
Jangan berhenti, kalau orang tak melihat, semesta menyaksikanmu.
Tanpa sadar, ternyata aku sedang kehilangan diriku. Aku tak lagi punya arah dan ambisi.
Salah satu ciri jelas yang ternyata aku abaikan adalah: aku sudah tidak bisa lagi menulis. Padahal ini kemampuan yang aku cintai dari diriku. Padahal ini satu satunya hobi dari seorang introvert ini.
Tapi lama sudah aku buntu.
Hari demi hari, kini tengah aku usahakan untuk kembali lagi. Mengetuk pintu yang aku tutup sendiri, meski tanpa sadar.
Aku perlu bergerak lagi.
Bukan aku tidak mencintai kehidupanku sekarang. Tapi justru karena aku mencintai kehidupanku, aku perlu bergerak. Aku tidak mungkin membiarkan kehidupanku ikut membeku bersama aku yang mematung.
Ada jiwa mungil yang perlu aku tumbuhkan tanpa dia tau luka apa yang sedang menggerogoti ibunya.
Malam ini, luang sekali waktu yang ada. Tapi aku hanya mematung. Layar tetap menyala, pikiran entah kemana. Jemari pun enggan mengetikkan kata demi kata.
Ah ada satu yang ramai, otakku. Pikiranku. Perasaanku.
Pantas saja energiku kini habis. Tidak tersisa untuk pekerjaan ril yang mestinya aku lakukan. Tidak tersisa untuk tugas wajib yang seharusnya aku tuntaskan.
Hobi? Aku sudah lama merindukan menulis tanpa beban. Tanpa takut dinilai. Tanpa takut ada yang tahu.
Kemana aku yang dulu? Aku terlalu tenggelam dalam peranku yang baru tanpa menengok "aku" sendiri. Meski aku sadari, peran ini adalah "aku", tapi aku versi lama juga perlu ditengok dan dipeluk.
Mi, perjalanan panjang ini memang melelahkan untuk kamu topang sendiri. Mari pelan pelan saja melangkah. Kita saling percaya, bahwa semua akan membaik.
Aku tak paham kenapa para wanita senang sekali adu nasib.
Apa benar hanya terjadi di dunia wanita? Atau semua begitu?
Apa sih tujuan dari adu nasib, adu kepunyaan, dan adu adu lainnya itu?
Mencari pengakuan? Mencari siapa pemenangnya? Ah, ga akan ada ujungnya. Malah cape sendiri
Aku sudah lama, ingin bercerita.
Atau lebih tepatnya, ingin meruntuhkan tebing aku aku buat sendiri. Tebing yang membentengi aku dan dunia luar.
Alih-alih menjaga ceritaku dari konsumsi orang lain, aku malah membuat jurang dengan diriku sendiri. Iya, bukan tak ingin ceritaku jadi diketahui orang lain, melainkan aku yang masih tak ingin terbuka terhadap diriku sendiri.
Jadi, bagaimana jika kita mulai lagi sekarang?
Hari ini aku libur. Rasanya deretan aktivitas self pampering hadir otomatis di kepala. Membayangkannya penuh kenikmatan. Sesederhana; membeli bunga potong untuk ruang tamuku.
Tapi, aku lihat sudut kamar dengan tumpukan pakaian yang belum disetrika. Aku ingat baju yang baru direndam dan belum dikucek. Terlihat jelas juga lantai yang absen dilap beberapa hari. Oh, masakan juga belum jadi. Janji temu guru di sekolah anak bujang juga masih tergantung begitu saja.
Ahhh baiklah, memang seharusnya tidak ada libur. Istirahat di lain waktu saja yaa 🙃
Biarkan saja aku tetap menunggu dalam sepi akan keajaiban.
Entah kapan. Entah bagaimana. Semoga segera hampiri diri yang kian payah ini.
Karena tidak semua rasa, bisa dikalkulasikan.
Sebab tidak juga semua rasa, perlu sejuta alasan.
Allah, ini terlalu jauh. Aku harus berbelok kemana?
Ketika harapan harapan itu runtuh... Aku tak tahu lagi harus bagaimana
Allah, tolong. Peluk saja aku. Aku lelah dan tak tahu lagi harus bagaimana. Biar saja aku jatuh, tetap dalam dekapMu. Jatuh yang bawa aku lebih dekat denganMu. Semoga dengan itu, suatu hari nanti anak tangga bisa aku naiki perlahan hingga menuju puncak kenikmatan yang hanya ada di sisiMu.
Diantara rasa yang berkecamuk, kuizinkan kali ini, bahagia ini untuk hadir. Agar syukur beserta tafakur lengkapi langkah kita lagi dan lagi.
Biarkan saja kita begini. Sejenak. Sampai waktunya tiba. Menjadi dua orang asing. Saling kaku. Terbatas berbalas pesan. Tak bebas berbalas kisah.
Biarkan saja kita begini. Meski sudah melingkar sebuah janji yang dikalung simpul dalam jemari, tetapi tetap rapi mengeja hati. Tak ada kata melenakan rasa yang mesti sudah siap diujung lisan.
Biarkan saja kita tetap begini. Sementara hingga pekik sah terdengar dari atas meja akad habis bersalaman antara kau dan wali nikahku.
Menjaga jarak. Seperti dua asing. Berjalan masing-masing.
Biar Allah yang rawat rasa, menjagakan hati, dan merapikan pikir yang kian ingin bersama tiap saatnya. Kemudian, di hari yang telah datang nantinya rasa yang tertahan menjadi teramat manis. Terkecap setelah kian lama dinanti.
Boleh, kan?
Malam itu, aku baru saja menangis. Baru lagi. Tiga bulan sejak setelah umi pergi.
"Berikan dirimu ruang duka," pesan seorang kakak yang juga konselor. Saat aku terus saja mengabaikan duka, mencoba untuk tak pernah menangis di depan siapapun.
"Masih suka nangis?" Tanya seorang teman yang baru juga kehilangan suami. Aku hanya tersenyum. Hidup harus terus berlanjut, jika terus mengikuti sedih tentu tidak akan bisa bergerak. Apalagi, menggerakkan adik-adik yang menjadi tanggungan diriku sendiri sekarang. Maka, mengabaikan duka adalah satu-satunya pilihan. Pikirku saat itu. Tapi aku salah, aku pun kelelahan untuk berdiri sendiri terus.
Maka malam itu, aku hadirkan semua duka. Tentang cemas, tentang kesedihan, dan kesendirian dalam balutan lemahnya diri. Entah sudah tak tahu inginNya bagaimana. Rasanya, aku tak miliki pilihan apapun. Sesak...
"Oh Allah, urus saja semuanya." Keluhku menutup malam yang sudah berganti hari. Hari dimana aku pun harus melangkah mundur dari kelas pranikahan akibat keterlambatan mengikuti kelas. Rasanya, lengkap sudah alasan aku mengutuki diri sendiri. Tapi tidak hari itu, rasanya semua sedih direlakan begitu saja. Aku biarkan mengalir. Aku biarkan diriku runtuh, menangis sendirian.
***
"Cari jodoh ya Mi?" Kelakar seorang teman saat bulan lalu aku sampaikan telah mendaftar kelas pranikah. Aku terkekeh.
"Hanya agar Allah liat, aku ikhtiar," jawabku datar kemudian. Meski awalnya didorong dari rasa sepi. Kemudian dirorong dari rasa takut. Takut bila bertemu seorang yang salah lagi. Takut bila ternyata nanti aku tak miliki ilmu yang cukup. Takut, sebab aku belum pernah ikuti kelas pranikah manapun, tetapi kemudian Allah takdirkan menikah. Dan sebetulnya, takut tak punya circle positif untuk menemukan seseorang. Tapi semua hanya takutku sendiri, pada akhirnya berpucuk pada "biar keliatan ikhtiar".
***
Dalam tangis, aku berbisik pada Rabbku. "Allah, temani aku. Aku takut sendirian. Dan jika boleh aku meminta, kirim aku juga seseorang yang bisa menemani. Tapi aku takut salah memilih, maka pilihkan aku saja bagaimana dan siapa orang tersebut. Pilihkan untukku. Urus semua hidupku saja."
Tertidur. Mungkin, begitu penutup tangisan malam menuju subuh. Aku tak ingat betul. Namun di pagi hari yang sama, aku menemukan kabar seorang teman umi akan datang untuk takziyah. Aku mempersilakan.
Hari berganti malam, ternyata kunjungan bukan hanya sebatas kunjungan saja. Teman umi tadi meminta bertemu lagi esok harinya dengan membawa anak bujangnya, aku menimbang. Kepalaku berputar. Bagaimana bila aku mesti menolaknya nanti. Tapi sudahlah... Aku biarkan saja semua berjalan.
Pertemuan singkat di keesokan harinya. Tak membawaku pada sebuah rasa apapun. Tak ada kesan saat itu. Semua hanya datar, seperti biasanya aku bertemu dengan seorang lelaki lain dalam proses yang lalu lalu.
Tapi, saat malam berganti, aku baru sadari satu hal: Dia datang, tepat saat pintaku pada Rabb untuk dipilihkan seseorang.
Apakah ini jawaban?