Di suatu pagi berhujan, hari libur, entah Minggu atau tanggal merah lainnya kita berdua tidur saja sampai siang. Saling berpelukan di dalam selimut tebal yang hangat. Gemericik di luar jadi semacam lagu nina bobo yang makin melelapkan pejam. Rasa lelah yang kita tumpuk seminggu penuh cukup menjadi dalih untuk bermalas-malasan. Rasa laparlah yang akhirnya membuat kita terjaga, tetapi aku terlalu enggan memasak makanan. Lagipula, tak tersisa stok bahan di kulkas. Kau lalu mengajakku bersiap-siap untuk bersantap di luar. Bukan restoran mewah, cukup kedai yang menyediakan sup hangat dan secangkir kopi panas.
Setelahnya kita pergi ke toko buku karena beberapa waktu sebelumnya aku pernah berkata kepadamu, “Aku ingin membaca buku-buku baru.”
Hujan yang mulai reda kembali turun hingga sore. Cukup menambah alasan bagi kita untuk tinggal di sana lebih lama; membaca buku tanpa membayar. Kutahu kau tak terlalu suka membaca, Sayang, tetapi kau tetap berpura-pura larut dalam buku yang kaugenggam.
Kita bergegas pulang saat matahari tak lagi tampak di cakrawala. Kau mengajakku mampir ke kedai jajanan terdekat karena baik aku maupun engkau tak terlalu berselera untuk makan malam. Di beranda rumah, kita duduk dengan segelas cokelat hangat sambil menatap hujan dan bercerita tentang apa saja; betapa banyaknya orang di luar sana yang membutuhkan bantuan, tetapi sepertinya pemerintah terlalu sibuk membagi-bagi kekayaan bangsa ini ke tangan negara lain, sedang lembaga sosial yang kaukelola terasa amat kecil untuk merangkul semua. Atau tentang buku yang tak selesai-selesai kutulis dan entah kapan diterbitkan.
Kita tertidur di sana, aku bersandar di pundakmu dan kau bersandar di kepalaku…
Tak ada bintang atau bulan, tetapi ada kau dan aku. Kita berdua saja.
Sebuah dongeng yang kubangun di dalam kepala
Ah, iya hanya dongeng. Tak nyata.
Aku suka sekali menyakiti diri sendiri ya, Sayang?