Lagi nyari rumah tiba-tiba kepikiran.
Sinarmas atau Ciputra jual ga ya rumah yang ada Bapak nya?
art blog(derogatory)
hello vonnie
Cosmic Funnies

Love Begins

No title available
No title available
h
Misplaced Lens Cap

oozey mess
The Stonewall Inn
RMH
EXPECTATIONS
Monterey Bay Aquarium
ojovivo

Kiana Khansmith
Doug Jones
Sade Olutola
d e v o n

blake kathryn

ellievsbear
seen from United Kingdom
seen from Nepal

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from France
seen from Russia

seen from United States
seen from Bangladesh
seen from China

seen from Indonesia

seen from Italy

seen from Malaysia
seen from Malaysia

seen from Russia

seen from Bangladesh
seen from Vietnam
seen from Indonesia
seen from Canada

seen from Germany

seen from Armenia
@kuebeludrumerah
Lagi nyari rumah tiba-tiba kepikiran.
Sinarmas atau Ciputra jual ga ya rumah yang ada Bapak nya?
Baru saja menuntaskan lari dengan performa paling jelek sepanjang masa.
Entah karena lari dalam keadaan berat 65kg atau karena MBG jelek.
Beberapa hari yang lalu, aku melakukan perjalanan ke salah satu kota indah di timur negara yang ajudan presidennya boti.
Seneng banget rasanya woy, uda menunggu hal ini sejak lama dan akhirnya kesampaian.
Memoriku banyak tiba-tiba muncul waktu melintasi jalanannya dari bandara menuju kota. Dulu aku beli tamiya sambil merengek ke Bapak di Onyx, sekarang entah kenapa liat bangunannya kok jelek banget. Pernah juga beli tamiya di Pasifik, tapi uda jadi hotel.
Waktu mau liat rumah sendiri emang ga terbendung sih senengnya. Pas liat langsung juga kaget sekarang bagus banget, ada pager tinggi. Tetangga kanan kiri uda nggak ada, terinfo ada yang pindah jogja entah surabaya.
Malemnya ganti outfit lari tapi dengan nilai kultural alias kalcer, mampir liat kantor bapak sambil videocall ibuk.
Ini tuh rasanya kaya yang aku rasakan tiap hari. Setiap aku punya pencapaian, punya sesuatu yang luar biasa, pengen banget cerita ke bapak, tapi ya nggak bisa.
Harusnya momen kemaren aku bisa kembali menengok kehidupan masa kecilku itu bakal seru banget kalau-kalau diceritakan.
Waktu aku belum berangkat, aku sedikit menebak-nebak sih kenapa kok Ibuk jadi sedih.
Waktu udah di sana, aku jadi paham.
Sayang banget emang di sana cuma bentar, Minggu jam 11 malam berangkat, sampai senin pagi, pulang lagi selasa jam 11 pagi. Soalnya kalau lama-lama ntar kena omel Mahfud MD. Kalau ada satu hari lagi aja, aku pengen mampir bentar liat sekolahku dulu.
Ada semacam sebuah ingatan yang kayanya ini membuka kebiasaan "positif" aku saat dewasa. Kenapa kukasih tanda kutip soalnya dibenci ama orang lelet yang manajemen waktunya buruk dan payah.
Pada saat aku melewati sebuah jalan raya aku teringat dulu sering berangkat sekolah naik ojek, macet, dan sampai sekolah telat. Akhirnya malu.
Besoknya Bapak berpesan entah bagaimana yang jelas aku jadi teringat kalau ada sesuatu itu kasih jeda 30 menit udah siap. Lupa sih ngomongnya gimana. Tapi kayanya, itu deh yang bikin jadi aku manusia paling disiplin versi @krisanmerah, iya ga sih kak? Masih jadi yang terdisiplin gak? Anjayyy.
Sebelum bertolak ke bandara, aku minta driver kantor buat mampir ke rumah sekali lagi buat nanya-nanya ke tetangga sekitar.
Ternyata emang tetangganya cuma sisa satu, aku inget banget warung Tante Tini ini adalah pelarian aku jajan setelah nangis diomelin bapak setelah disabet pake selang.
Waktu Tante Tini sadar itu aku, langsung aku videocall ibuk. Dari percakapannya, aku tau Ibuk emang beneran sekuangeennnn itu sama kampung ini.
Ibuk kangen, tapi ibuk ga siap untuk merasakan kangennya tanpa Bapak.
Kaya kangen, tapi pengennya semua masih lengkap, cuma gabisa, makanya mungkin agak takut untuk mengingat.
Akhirnya aku foto sama Tante Tini buat kirim ke Ibuk.
Dulu Tante Tini belum hijab dan belum setua ini, jadi aku sih lupa juga ya sesungguhnya. Tapi emang aku seneng banget waktu memperkenalkan diri dulu siapa dan beliau langsung ingat.
Sebenernya, masih banyak yang pengen aku ceritakan.
Nanti kalau kita ketemu, aku bakal cerita semuanya.
Sebenarnya yang pertama kali mengkampanyekan kondisi populasi dunia selalu lebih banyak wanita daripada pria tuh siapa sihhh? Bentar lagi kiamat? Buru-buru amat sih pengen kiamat, emang ada apaan di kiamat? Sejak dulu juga kampanyenya dekat-dekat doang ga sampe-sampe.
Dulu sekali pernah dengan lantang berpendapat seperti ini, ada wanita dengan polosnya “Masa sih mas? Di kelas ini aja lebih banyak perempuannya.” Sumpah yak saking bodohnya pernyataan itu otakku cukup lama renderring dan gabisa mengolah kata.
Bermain survey di 100 orang untuk menyatakan kepuasan kinerja pemimpin negara yang suka joget dengan ketek basah aja sangat-sangat tidak representatif, malah dibandingkan dengan personil di kelas.
Kenapa tidak dimulai dengan bertanya soal jumlah banyaknya kuli pria, ojol pria, atau orgil pria yang suka bertebaran di pinggir jalan ibukota? Sekedar info, terakhir kali jumlah wanita lebih banyak dari pria itu di 1971.
Dapat dipastikan, pernyataan pertama sotoy abis. Jadi, kalau dipake buat mendukung pernyataan kedua yang membela gender kaumnya, jujurrrr makin kacau.
Aku percaya mau pria mau wanita, ada yang kuat, ada yang mandiri, ada yang bisa apa-apa sendiri tanpa gengsi ditanya orang, bahkan yang cengeng, lembek, kemproh pun ada. Mau hidup sendiri boleh, nggak nikah boleh, mau hidup berpasangan pun silakan. Tiap gender pasti punya kendala dan rintangan tersendiri untuk mencapai haknya.
Jadi mau gerbong berbasis gender diletakkan di mana pun sebenarnya ga masalah. Yang lebih masalah sebenarnya berapa biji yang dibutuhkan pemimpin negara untuk berantas ormas?
Aku cukup beruntung pertama kali merasakan kereta listrik di 2013, di mana sudah rapi, tanpa pengamen, dan sistem tiketnya juga uda mumpuni. Pertama kali liat gerbong wanita di masing-masing penghujung aja aku uda bisa berasumsi ini emang untuk mempermudah ibu-ibu sepuh atau hamil barangkali.
Eh tapi aku turut berbela sungkawa pada semua korban beserta keluarga yang ditinggalkan. Sebagai orang yang komuteran dan buswayan, rasanya bisa jadi kapan-kapan giliranku. Tapi kalau bisa milih, aku pengennya mati di pesawat sih. Pokoknya, kalau bisa jangan kerasa sakit.
Nah, di suatu siang yang puanas menteng-menteng, di stasiun Bogor, aku masuk kereta, aku pengen duduk, maka dari itu aku sangat yakin gerbong ujung pasti sepi. Aku jalan terus melaju dengan teguh sampe ke gerbong kedua, ternyata tetep penuh. Tapi gerbong nomor satu banyak kosong.
Dalam hatiku, aku pengen buangetttttt berbicara kepada mbak-mbak berusia muda yang duduk di gerbong kedua ini “Mbak, saya boleh gak duduk di sini? Mbak duduk aja di gerbong sana.” tapi ga kesampean, karena aku emang laki-laki culun.
Hingga berjalannya waktu, aku paham, ga semua wanita suka dengan gerbong wanita.
Harusnya kalau jadi pemangku kebijakan, masalahnya bukan di letak gerbongnya. Lagian milih pemimpin gara-gara makan siang gratis, orang-orang terpilihnya ya cengo semua kalo ditanya.
Kalau dikatakan “wanita harus dijaga karena wanita bisa menciptakan peradaban”, ya tapi kan tanpa tytyd juga tidak tercipta dong peradaban yang indah tanpa makan siang gratis itu, mbak?
Jadi, gimana kalau kita saling menjaga aja? Saling kompak, rukun, dan bisa berpikir lebih saintifik supaya tidak akan tercipta lagi acara perayaan ulang tahun boti di hotel seharga 200 juta semalam.
Nanti kalau kita ketemu, aku bakal cerita semuanya.
Hasilnya baru keluar, dan aku terkaget sampai rasanya pengen beneran cari ijazah Jokowi. Seumur-umur belum pernah dapet kategori overweight. Walau agak membanggakan dikit sih soalnya lingkar perutnya menurun. Dan agak sedih karena tinggi badan memendek. Bajilak.
Kalau masuk ke kategori obesitas sih aku sangat yakin itu tidak akan mungkin terjadi sih. Perut aku aja bagus banget ini. Aku berjanji kepada setan-setan di neraka, sampai meninggal perutku tidak akan buncit, perutku tidak akan menggelembung saat duduk, perutku tidak akan merusak bentuk pakaian manapun yang aku kenakan.
Apesnya, ketika aku mendapati badanku terlampau berat akibat makan rakus kaya babi, perlahan aku berasumsi kalau Bobby ini setipe dengan laki-laki narsis kedok agama, cuma versi suka dugem aja. Mesumnya sama, narsisnya sama, anti kritiknya sama, persis. Karena ketika mendapat tuduhan, jawabannya cuma defensif tanpa ada bantahan sedikitpun. Mirip rekan radio Nadya Julia lah. "Ya lu tau lah gue ga bakalan gitu" dih najis.
Nggak apa-apa, semoga dengan beredar secara cuma-cuma kisah pilu dari Aurelie beneran bisa menyelamatkan Aurelie-Aurelie lainnya di luar sana. Karena emang berhadapan sama orang manipulatif itu susah banget bejir. Kalian yang tiap hari berhadapan sama orang-orang muka dua najis di kantor aja nggak pernah menang kan sampe sekarang? Sama, sih.
Kalau gitu, tolong jaga kesehatan, ya. Meskipun kamu tau, banyak hal besar yang kamu lewatkan di tahun ini. Kaya BTN Jakim atau BFI Run misalnya. Semoga pas hari H kedua acara itu, terjadi hujan lebat yang deres plissss. Boleh dong saya berdoa jelek, orang jauh dari Tuhan mana mungkin doanya terkabul.
Tapi mungkin, pada taraf tertentu hal-hal kecil lainnya boleh jadi lebih berkesan. Jadi, tolong hal-hal sekecil apapun jangan sampai terlewat ya. Soalnya, ada beberapa peluang kita bisa jadi seperti ibunya Joshua, yang mampu dengan kecil menangkap gelisah dan cemasnya Aurelie.
Mungkin Aurelie aja sampe gemeter pas ngetik “ada harapan menyala di dadaku, cepat, dan terang” anjay.
Cuman kata Bobby, Aurelie ngetiknya pake prompt. Gapapa, sejak dulu yang namanya Bobby emang selalu bermasalah sih, termasuk menantunya … eh udahan dulu kali ya, mau angkat jemuran dulu takut ujan deres.
Nanti kalau kita ketemu, aku janji bakal cerita semuanya.
Separo marathon keempat dalam hidup 👌🏻 Separo marathon pertama setelah ACL 💪🏻 Separo marathon pertama setelah bapak nggak ada 🫶🏻
Yah, begitulah Pak.
Seandainya Bapak bisa liat, sekarang outfitku uda kalcer banget.
Sampai jumpa di festival tahun depan. Nanti kalau kita ketemu, aku janji bakal cerita semuanya.
Kaya prabowo
Pilih jadi yang pergi atau jadi yang ditinggalkan?
Ada video pendek yang beberapa saat lalu mampir di jelajah, yang ditanyakan kalau ga salah "kalau harus ada yang meninggal, pilih ibu atau suami ibu?"
Jawaban ibunya sih mending suaminya meninggal duluan, dan sebaliknya ketika bapak-bapak ditanya jawabnya "iya saya aja".
Alasan ibu-ibu, "karena suami nggak bisa ngurus rumah, nggak bisa ngurus anak". Sebenernya aku lagi nggak pengen salah-salahan sih, tapi jiwa iblisku tetep aja meronta kalau yang goblok ya yang memilih, ngapain ente memilih pasangan hidup yang pekok. Milih pasangan hidup kok ngurus anak yang dibikin bareng aja gabisa. Pasangan hidup lho ini, bukan pasangan buat badminton.
Ngurus rumah itu kemampuan dasar bertahan hidup, bertahan hidup aja kacau ngapain dipilih. Sudah tau semasa lajang punya kamar kos yang berantakan, kemproh, dan bau asap rokok. Pas udah nikah berharap pasangannya berubah, lahh mohon maaf buk, anda bukan Sore. Tapi coba jadi Maghrib.
Oke sebenernya gamau bahas itu.
Jadi, kalau dihadapkan dengan orang kesayangan, lebih pilih pergi duluan atau jadi yang ditinggalkan.
Menurut aku, yang "enak" adalah yang pergi duluan.
Dia yang pergi duluan tidak tau apa-apa. Dia cuma hilang aja. Yang ditinggalkan, harus tetap hidup. Dan secara bersamaan harus menghadapi kenyataan bahwa dunia tetap harus berjalan. Yang ditinggalkan, tetap harus turut berdiri, meski tertatih, meski harus kering air mata, bahkan yang paling sedih tetap harus menjalani semuanya meski sendirian.
Kita ini sedang sedih lho, bisa nggak kalian semua tenang dulu sejenak dan jangan ada yang tertawa?
Rasanya pengen ngomong gitu ke orang-orang tapi ya nggak mungkin dong, sayang. Kalau dipikir-pikir ya kematian itu emang jahat, yang pergi tidak tau. Yang ditinggalkan dipaksa bertarung sampai gilirannya datang.
Rasa ini tuh, mirip sama kaya waktu dulu aku diantar ke stasiun oleh Bapak Ibuk untuk kembali ke kota studi. Anjay kota studi syit syit syit.
Saat sampe stasiun, kita pasti duduk-duduk dulu sambil ngobrol. Entah ngomongin style orang, udah beli air mineral atau belum, bahkan kalau perlu adu lempar lawakan nggak lucu.
Sebelum aku masuk peron, biasanya aku nyuruh Bapak Ibuk buat pulang aja. Rasanya tuh kek gimana ya.
Pokoknya, jangan sampe ketika aku di pemeriksaan tiket, aku nengok ke belakang ada Bapak Ibuk berdiri sambai melambaikan tangan. Karena itu rasanya pasti sangat-sangat ultimate asu bajingan.
Yang aku mau, aku yang melambaikan tangan ke mereka. Jadi biar aku aja yang sendirian di stasiun, sisanya biar aku yang melanjutkan.
Ngono lho, piye yo le njelaske, mumet aku, uda hampir mau nangis lho ini wkwkwk.
Intinya, kalau disuruh memilih antara aku atau pasanganku yang pergi duluan. Biar pasanganku aja. Aku nggak apa-apa, aku bisa urus semuanya, biar aku yang menanggung beban rindu ke depan.
Bayangin kita harus menanggung rindu untuk orang yang nggak akan kita temui lagi, berat lho. Nah, untuk beban ini nggak apa-apa biar aku saja yang angkat.
Apalagi kalau ke orang tua, mengingat aku anak paling keren di rumah dan bisa membiayai adek sampe ... oke gaperlu. Membayangkan Bapak Ibuk setua, renta, dan sepayah itu harus menanggung beban rindu kehilangan anaknya sih nggak kuat sih aku membayangkannya. Nggak, sih. Jangan.
Aku sedang tidak menerima jawaban "nanti bisa ketemu di surga". Nggak, tolong ya. Tolong biasakan kalau berdiskusi tuh seolah sedang berada di sekretariat UKM Debat, anjay. Termasuk di kolom komentar, ya kali ada orang secara saintifik ngomongin potensi pencemaran berbagai daging ternak terus ente komen "haram haram" doang, kan keliatan kaya kurang pendidikan. Ehe ehehe bercanda sayang.
Walaupun aku ga suka, tapi kayanya Dilan ada benarnya, rindu emang berat.
Apalagi rindu itu udah sepaket sama air matanya, memori-memori yang selalu seketika teringat saat malam, belum lagi bertarung dengan rasa marah akan kesendiriannya. Capek banget. Dan melakukan hal itu semua tuh masih panjang. Haduh.
Ini aku aja baru ditinggal Bapak aja tiap malam kadang suka tetangisan.
Lantas, bagaimana Ibuk ya?
Gitu aja mungkin ya, udah nggak kuat ini.
Nanti kalau kita ketemu, aku janji bakal cerita semuanya.
Dulu aku nonton Sore itu lewat iklan di videonya Arif Muhammad, di awal video dia ngiklanin kalau ada seri baru dari Tropicana Slim. Dulu emang aku masih seneng sih nontonin youtube orang, tapi sekarang nggak karena sepintas ada pikiran ‘aku nonton, dia makin kaya, makin sombong, dan aku tetap miskin’.
Karena emang sejak awal konsepnya menarik, akhirnya aku ikutin terus dari awal episode sampe akhir. Sumpah itu dulu nunggunya udah ga sabaran, 2 minggu sekali apa yak per episodenya. Bahkan saking nunggu banget ampe tugas kuliah gada yang tak kerjain, soalnya aku emang anak punk.
Sebenarnya konsep ini yang pertama punya menurutku adalah Doraemon ya. Doraemon kembali ke masa lalu untuk memperbaiki hidup Nobita, biar nggak pemalas, biar nggak tolol kaya Gear Brand Truck Ass Booming Neraka yang semakin hari mukanya makin ngeselin. Ada yang merasa memilih beliau? Atau orang satunya lagi sejak 2014? Iya anda tolol, gara-gara anda dia ambisius terus ampe 2024 kemaren. Makan tuh gemoy.
Bisa dibilang juga, karena seri ini aku mulai ‘bisa’ minum air putih. Dulu aku hampir nggak pernah, kalau haus pasti jalan ke warung beli fruit tea atau teh kotak, kalau lagi miskin belinya teh pucuk.
Beberapa hal atau momen yang menurut aku sayang banget di film itu tuh kaya nggak ada peristiwa Dion gendong Sheila sambil bertanya kita bakal punya anak nggak, nanti nikah papa aku datang atau nggak, nyuruh pulang ke Jakarta untuk kenalan sama Sore, OMG itu tuh skrip yang sangat gemes nggak sih breee?
Aku sih belum menonton kembali yang seri ya, karena sepertinya terlalu takut untuk nyesek kembali apalagi mengingat sekarang Bapak sudah nggak ada, hiks.
Tapi yang menurut aku paling mengena dan sangat-sangat ultimate adalah waktu Tika marah untuk terakhirnya kalinya ke Dion sambil bilang “harusnya kamu tau rasanya nggak punya bapak”. Gile bro, mati ga lu bro dengernya.
Jadi, kalau ditanya bagusan seri atau film, dengan sangat yakin dan mantap akan kujawab jauh lebih bagus yang seri. Sore lebih galak, lebih keibuan, dan entah kenapa waktu dia marah yang terakhir sambil nyeritain Fajar aku ikut terisak. Udah gitu ceritanya teguh, nggak berbelit, aku nggak nangkep deh di film itu Sheila tiba-tiba nyari kerjaan itu tuh maksudnya mau dibawa kemane braderr?
Eh tapi tetep bagus kok ehehe. Cuma tetep lebih bagus yang seri, ehehe.
Satu lagi yang bikin kurang enak, kalau di film, Sheila dan Dion pada akhirnya sama-sama tau kalau Sheila dari masa depan dan Dion dari masa lalu/kini.
Kalau di seri, cukup di Dion aja, Tika cukup dari masa kini. Kataku lebih baik gitu sih, soalnya yang salah kan Dion, Tika cukup menjalani hidup seperti biasa, dan Dion anda silakan berbenah ya bangsat di masa depan. Sehingga orang yang baik, tidak perlu menanggung beban perih.
Iya kan? Orang yang memikul beban tuh harusnya yang salah, yang perokok, yang nggak sehat. Ya kali kita hidup sehat dan baik, tidak makan asal-asalan, tidak malas-malasan di kasur dan selalu rajin olahraga, eh harus ikut memitigasi risiko di masa depan untuk orang gendut pemalas yang kalau makan kaya orang rakus.
Itulah kenapa pas selesai film, aku kayak “yahhh kok gini”.
***
Tapi tapi tapi, intinya salah satu hal besar yang bisa kita petik ini adalah rasa sakit hati seorang pasangan Ketika nggak mau berubah ke arah yang secara dasar emang bener-bener hal baik gitu lho, mau olahraga, punya badan yang sehat, termasuk nggak merokok. Kalau emang sayang dan cinta beneran cobalah ayok balas dengan hidup sehat supaya kita bisa hidup lebih lama.
Tapi tidak dengan cara menghapus file foto seperti yang dilakukan Tika ya, itu brutal banget sih anjerrr.
Kalau kita punya anak, dia pasti juga pengen kita hidup lebih lama, melihat dia tumbuh besar, bisa wisuda sarjana, bahkan sampai bisa punya penghasilan sendiri. Kalaupun nggak punya anak juga nggak apa-apa, sengganya kita bisa hidup lebih lama untuk pasangan kita nantinya.
Maka dari itu, plis deh buat yang belum nonton serinya, menurut aku itu seri terbaik di Indonesia sih. Bahkan masuk dalam salah satu daftar tontonan yang merubah hidupku, anjayy.
Tapi aku tidak akan mengemis kalian buat nonton dan mempersempahkan 2 jam dalam hidup kalian seperti Timo Tjahjanto di twitter, kalo gamau ya gapapa akwokawoka. Menurutku emang seri di Indo yang bagus banget itu ada 2, satu Sore ini, kedua Induk Gajah.
Jadi, kalau belum nonton yang seri emang aman aja sih nonton yang film. Biar nggak berekspektasi banyak, tapi saranku abis itu nonton yang seri. Dijamin beuhhhh.
Ayo hidup lebih lama, banyak minum air putih seenggaknya 2 liter sehari, punya perut yang rata, dan jangan lupa investasi di otot paha supaya bisa lincah kemanapun sampai tua nanti.
Dah gitu aja, aku bingung mau bercerita apa lagi, nanti kalau kita ketemu aku janji bakal cerita semuanya.
Kan bener kan tadi aku satu pesawat ama beliau. Masa kata pramugarinya bukan.
Waktu jalan sembari melirik sinis manusya bisnis yang entah kekayaannya darimana, kok ada satu kaya ngga asing, kaya pernah ada sesuatu ama Mas Duta, kaya pernah jadi playlist aku di Alhur, ternyata bener Haddad Alwi.
Coba kalo tadi beliau lagi nggak ngaji, pasti akan kusapa dengan hangat "pagi Ustadz, kopyahnya bagus, boleh bagi link?", lalu kutanyakan bagaimana pendapat beliau tentang makan siang gratis, pendapat beliau tentang orang taat agama tapi beranak 12 tapi gada yang disekolahin, setelah itu akan aku lanjutkan dengan ngerap Muhammad Nabiku. Kali aja jadi diajak duduk di bisnis, kan.
Teman-teman, kalau kalian duduk di jendela atau di selasar, sandaran tangan yang di tengah itu buat orang sebelah kalian ya amjinc.
Pagi ini, untuk pertama kalinya aku eek jongkok. Semenjak pertengahan 2022 aku sakit, eek selalu di tempat kloset duduk. Tapi pagi tadi kayanya efek bear brand semalam lumayan telat, akhirnya ngecek kamar mandi kosan yang kloset duduk ternyata lagi dipake orang, yaudah langsung meluncur ke kamar mandi kesayangan.
Sumpah ternyata emang seenak itu eek dengan metode jongkok. Karena sudah lama nggak eek jongkok juga, aku baru sadar ternyata jarak silit ke air itu lumayan jauh ya, beda dengan kalo kita pake kloset duduk. Nggak penting sih, tapi seengganya itu hal yang selama ini telat kusadari. Anjay.
Kalau kata penulis yang sejak kecil makan pake sendok emas, “orang yang bisa BAB di mana saja selain di rumah sendiri adalah orang yang beruntung”. Kalau kataku, orang yang bisa eek dengan jongkok itu baru beruntung, karena emang ga semua orang bisa jongkok, mungkin ada hubungannya dengan dunia medis, panjang tulang barangkali (?). Kalau eek di mana saja, ya orang menengah ke bawah mah gapunya pilihan bos, eek ya eek aja gausah banyak minta booking hotel dulu lah cari WC nyaman lah atau gimana lah, heran dah. Oke bercanda ya, takut ada yang ngambek. Tapi emang anak orang kaya apapun pendapatnya suka aneh sih.
Tentu saja setelah jongkok lama, waktu berdiri agak nyeri dikit. Tapi nggak apa-apa, daripada kehilangan bapak, nyerinya sampe sekarang. Adawchhh.
Oke sekian laporan hari ini, saya kembalikan kepada Mas Parto di studio Trans TV, dan sampai jumpa di podium Jakarta Running Festival 2025.
Nanti kalau kita ketemu, aku bakal cerita semuanya.
Capek sih, tapi seru, Pak.
Sebenernya aku agak ragu sih sama kehidupan setelah mati.
Tapi seandainya Bapak bisa lihat ini, sumpah aku keren banget, Pak.
Hari ketiga lebaran
Tanggal 23 April kemarin tepat setahun bapak.
Aku kira lebaran di rumah tanpa Bapak bakal terasa sedih, justru ternyata rasanya malah makin remukkkkkkkkkkk. Cukkkk suuubadjingan.
Padahal di rumah ada sofa baru, aku bawa Clairmont, aku beli banyak tuna, aku beli 2 sepatu Ortus untuk masing-masing ponakan, aku beli pistol air otomatis yang harganya 200ribu, dan punya topi MLB baru kaya punya Chanyeol.
Mau pamer, tapi pamer ke siapa.
Udah mulai terbiasa untuk ingat tanpa menangis, tapi kalau masuk dalam lingkaran yatim dan disuruh menceritakan sosok bapak, masih aja cengeng wkwkwk asyuuu gobloug. Boleh sih tukar cerita, tapi jangan terlalu dalam kali ya.
Aku selalu nanya kepada yatim-yatim senior, "butuh berapa lama untuk ingat tanpa menangis?" jawabannya beda-beda. Setahun, dua tahun, malah ada juga jawaban yang malah bikin penanya jadi turut berempati dan turut sedih mendengarnya.
Ya gimana lagi, nggak semua orang bisa memilih lahir dari siapa, kan? Kaya Binar, misalnya.
Sebagai anak yang kelakuannya kaya setan iblis dajjal, sering mempertanyakan diri sendiri, "kelak aku bisa sesabar Bapak ga, ya?"
06.25 26 April 2024, aku terbang dulu lah Pak. Nggo Garuda iki, rodo kemlinthi sithik rapopo lah.
Tapi aku kangen pak, masih banyak yang pengen dipamerin.
Curang itu kalau misal hasil real berbeda jauh dengan quick.
Misal ada 5 lembaga survey dengan kredibilitas tinggi melaksanakan survey mengumumkan hasil kemenangan oleh pak Joged, ketika nanti di real keluar hasil pemenangnya malah pak Tantrum maka dari situlah jadi pertanyaan besar. Baru deh deklarasi Terstruktur, Sistematis, dan Masif itu pas banget buat diserukan secara sporadis. Kalau yang 5 tahun lalu mah itu emang goblok aja.
Maka dari itu gugur sudah argumen tentang bawaslu typo, KPPS ngantuk, salah tulis, atau apalah itu. Omong-omong jadi tim KPPS tuh capek lho, kataku ga sepadan sih ama bayarannya wgwgwg. Jadi, misal nanti tuh semua typo dibenerin pun tidak akan merubah kedudukan yorobun.
Jadi, salah satu fungsi hitung cepat itu ya sebagai pengawasan di hasil real, jangan sampai hasil quick menyatakan A tapi di real yang menang malah keponakan pak RT.
Lebih sederhana lagi, ketika nanti menemukan perhitungan cepat telah mencapai sampel sebesar 80%, silakan legowo dengan hasilnya. Serius deh, membangun kredibilitas lembaga survey tuh ga gampang lho. Tanya deh ama temen kalian yang kuliah di bidang tersebut.
Makanya lembaga survey yang punya hasil berbeda di tahun 2014 itu nggak muncul lagi di 2019. Habis sudah ditelanjangin Indikator, LSI, SMRC, dkk.
Aku pribadi punya janji ke diri sendiri misal sebelum 13 Februari nanti ada ketua umum partai yang meninggal aku bakalan pilih pasangan calon yang di usung partai tersebut. Cuma kok aku lihat 13 Februari masih hidup dan teriak-teriak di panggung jadinya ya gajadi lah.
Lha piye meneh, ada pasangan yang sudah dibuat kecewa merasakan mulut manisnya dan sebel tiap ditanya solusi oleh wartawan yang keluar cuma retorika. Ada juga yang malah kaya lawak, kek anak kecil dikasi permen langsung seneng, bedanya ini bukan permen, tapi jabatan. Mana tiap beres debat selalu ngumpulin gerombolannya buat curhat dan ngomel-ngomel. Ada juga yang diusung sebenernya ga terlalu buruk, walaupun tetep jelek, kebantu ama wakilnya sih, tapi ya aku sebel banget ama ketua partainya.
Jadi gausa bangga ah pilihanmu menang, calonnya jelek semua.
Nah, seharusnya nih, seharusnya ya yang memprihatinkan bukan di bagian soal curang-curangan, tapi pada tingkat kepercayaan komunitas masyarakat kita ini yang percaya kalau makan siang gratis itu solusi stunting.
Itu yang seharusnya jadi diskursus besar di dunia maya, bukannya nuduh curang-curang, itu sih anda ketinggalan jauh peradaban modern, mending anda gabung bersama orang-orang yang ngomong TSM di 5 tahun lalu aowkaowkaokw.
Ada banyak bias opini tentang ini, tapi kalau hematku kayanya ya cuma 3. Satu emang masyarakat berhasil berempati dengan calon pilihannya, kena bully, mau nangis, kasihan, dll. Dua, masyarakat suka sama hasil yang fisik dan cepat kayak beras, bansos, makan siang, susu gratis dan lain-lain.
Atau ya emang tolol aja.
Tapi nggak ya, argumen mentolol-tololkan yang menang ini gugur oleh opini di mana pasangan yang menang ini emang bener-bener dan sungguh-sungguh paham dengan apa yang dibutuhkan oleh seluruh berbagai lapisan masyarakat.
Jadi nggak cuma ngerti sama apa yang dibutuh ama orang-orang kaya, tapi yang miskin juga ngerasa aspirasinya bisa dipenuhi oleh pasangan ini. Gitchuu.
Yah, semoga ya, ehe ehehe ehehehe.
Baru beres Ep 1 sih tapi aku masih tetep lebih cinta yang film.
Gara-gara seri ini aku jadi tau ternyata yang nulis One Day bukan Mas John Green, kukira sama dengan penulis The Fault In Our Star mengingat desain covernya mirip.
Aku jarang banget ngikutin film seri, tapi karena One Day adalah film roman terbaik versiku jadi kayanya wajib buat diikutin. Me Before You terbaik kedua. Sisanya mboh.
Seharusnya adegan Emma salah jalan putar balik waktu ketemu orang tua Dexter itu tetep ada karena itu bener-bener lucu-lucu salting yang gemes. Emma yang ini juga kurang nerd, entah lebih akurat mana sih dengan buku, atau nggak tau deng, kayanya emang aku uda cinta buta aja ama Mbak Anne.
Satu lagi yang kureng, karakter bapak Dexter bener-bener bagusan di film, galak-galak kasar tapi nggak terlalu maksa. Yang ini lebih ke bapak-bapak tantrum gara-gara ngga dapet suara pas nyaleg.
Okeh kita lanjut besok Episode 2 abis jumatan.
Saya kembalikan kepada Pak Trisno di studio MNC.
Seumur hidup aku merantau, belum pernah sama sekali bawa baju kotor ke rumah. Baru kemarin ini aja. Saking penuhnya hidup ga sempat tenggo buat nyuci, entah tiba-tiba dinas, ada acara divisi, dan kemarin karena pulang lama jadi rasanya tolol aja gitu kalau ninggal baju kotor sebanyak itu. Mana seragam baju senin belum dicuci pula.
Tapi daridulu Ibuk selalu ngegampangin, malah lebih cenderung kalau emang ada baju kotor bawa aja ke rumah. Mungkin, Ibuk udah sampai di fase kangen nyuci baju anak-anaknya. Bisa jadi, sih. Aku aja kalau bisa pengen loh dianter ke kantor sama Ibuk seperti dulu lagi.
Pertama kalinya juga, aku pulang pake kereta eksekutif. Saking udah habisnya dan rindu banget sama Ibuk, yaudalah trabas PP sejuta aowkaokwoa.
Enak sih dapet selimut, tapi pas tak ambu kok mampu penguk, akhirnya aku gapake deh berhubung sweaterku uda cukup hangat meski tak cukup untuk menghangatkan suasana politik di negara ini.
Aku memperhatikan, kalau naik dari Gambir itu slot atas rapi penuh dengan koper-koper gagah dan mahal. Kalau dari Pasar Senen, itu bisa kardus indomie, kresek, tas belanja pasar, keranjang ayam, kotak-kotak kayu, kotak suara pemilu, kertas suara yang uda dicoblos, telur untuk serangan fajar, dan lain lain.
Yaa walaupun diriku terlihat sebagai menungso paling ndeso di kereta itu, tapi seengganya pernah mencicipi Bima Suites aowkaokwoakwoak.
Ini dibayarin perusahaan kok ~
Dah aku mah apa atuh cuma manusia biasa yang tak sempurna dan kadang salah.
Hal yang paling aku tunggu di rumah adalah melihat sofa baruku, nggak mahal sih, tapi cukup lah buat beli 2 ultraboost. Berhubung sofa rumah uda jelek dan berdebu, jadi kayanya oke-oke aja kalo diganti.
Pas kemarin uda liat sofa di depan mata, sumpah ya Jatuh Cinta Seperti Di Film-film itu nyata banget gaes. Untuk merasakan bahagia setelah orang yang kita sayangi pergi tuh agak aneh, bukan merasa berdosa, lebih ke sedih. Kaya “seandainya Bapak masih ada di sini ngerasain sofa baruku” dan kurang lebih demikian. Sedih, bahkan saking sedihnya seketika pengen kuganti sofanya jadi sofa latjuba. Duh.
Aku bawa banyak kalender dari kantor dan beberapa mitra, perlu diakui kalender KB Bukopin lucu banget waaakkk. Sewaktu masang kalender 2024 di tempat lain, aku liat di belakang kalender 2024 dekat kulkas masih ada kalender PLN 2023, satu lembar, bulan April, dan tanggal 23-nya dilingkari pake spidol merah.
Kayanya aku juga ngerasanya demikian, ketika ada orang yang kita sayang pergi, pengennya waktu tuh nggak berjalan terus, diem di tempat, freeze. Semakin jauh rasanya semakin sedih. Bahkan ketika tau udah mau April lagi aja kaya bawaannya sendu-sendu konyol gitu.
Mungkin Ibuk pengennya 23 April 2023 selalu terkenang di rumah itu. Mungkin ya, akusih sok tau yes.
Untungnya, kemarin Ibuk malah kedatangan teman baru.
Kayanya sih kucing tetangga, tapi emang sejak dulu kucing-kucing komplek seneng banget nongkinya di teras rumah, bahkan nelek dan pipisnya sekalian. Mungkin karena menghadap selatan, jadinya silir dan isis.
Filosofi Bapak dalam membeli rumah: harus menghadap selatan dan jemuran gaboleh ada di luar.
Yah, semoga si uching ini seengganya jadi teman Ibuk waktu lagi sendirian di rumah. Sama Ibuk sih ga dibolehin masuk, takut nyakar-nyakar sofa, hahayyy.
Uching bersama Ibyuk ~
Hadehh, pokoknya banyak cerita yang mestinya kau saksikan lah, Pak.
Yang jelas, aku bener-bener belum siap kalau harus melanjutkan hidup tanpa Ibuk juga.
Kemarin nonton Blue Beetle, sengaja cari yang Cinepolis karena pengen yang soundnya marem sekalian.
Malah dibikin nangis, dari penyakit bapaknya, proses meninggalnya, udah gitu pas Milagros nangis langsung kek sekelibat teringat persis ama tangisan adek pas di IGD.
Uda gitu momen ngobrol berdua di teras ama bapak bener-bener bikin CUKKKKKKKK!!!!
Akhirnya sampai pada kesimpulan, jangan-jangan aku juga Blue Beetle ~