Dilema Ingin Kembali
Kadang aku rindu menjadi diriku yang dulu. Bangun pagi, bersiap untuk bekerja, sibuk dengan aktivitas di luar rumah, lalu pulang dengan rasa lelah yang terasa menyenangkan. Setelah lama di rumah bersama anak-anak, ternyata ada bagian dalam diriku yang masih ingin kembali merasakan itu semua lagi.
Aku masih ingin bekerja. Bukan karena bosan menjadi ibu, bukan juga karena tidak bersyukur bisa menemani anak setiap hari. Justru karena terlalu terbiasa bersama mereka, rasanya berat sekali membayangkan harus meninggalkan anak di rumah. Pikiran pertama yang selalu muncul adalah, âNanti mereka sama siapa?â Aku juga belum yakin bisa benar-benar tenang bekerja kalau hati masih tertinggal di rumah.
Selama ini hidupku penuh dengan suara anak-anak, pelukan kecil mereka, dan rutinitas sederhana yang setiap hari diulang tanpa terasa membosankan. Aku sudah nyaman berada di dekat mereka hampir 24 jam. Sampai kadang muncul rasa takut, apakah aku bisa beradaptasi lagi dengan dunia kerja setelah selama ini hanya fokus menjadi ibu di rumah.
Terkadang saat melihat kehidupan orang lain yang masih aktif bekerja, ada rasa yang diam-diam muncul di dalam hati. Melihat mereka berangkat kerja pagi-pagi, bercerita tentang lelahnya pekerjaan, tentang tekanan, tentang perjalanan pulang setelah seharian sibuk, anehnya membuatku rindu. Aku ingin merasakan lagi punya kesibukan sendiri, punya cerita di luar rumah, dan kembali merasa bahwa diriku juga masih punya mimpi yang ingin dijalani.
Mungkin sekarang aku hanya sedang belajar menenangkan diri di antara dua keinginan yang sama-sama penting. Ingin tetap dekat dengan anak-anak, tapi juga masih ingin kembali bekerja dan punya dunia sendiri lagi. Dan ternyata menjadi ibu memang seperti itu, hati kita sering berjalan ke dua arah sekaligus. Tapi satu hal yang aku tahu, keinginanku untuk kembali bekerja tidak pernah mengurangi rasa cintaku kepada anak-anak sedikit pun.
Mungkin nanti akan ada waktunya aku benar-benar siap melangkah lagi. Saat hati sudah lebih tenang, saat anak-anak juga mulai bisa mengerti, dan saat aku tidak lagi merasa bersalah karena ingin punya kehidupan di luar rumah. Sekarang, aku ingin menikmati proses memahami diriku sendiri pelan-pelan, tanpa terburu-buru menentukan semuanya.











