Jejak Yang Tak Pernah Hilang
Enam bulan sudah sejak melahirkan anak keduaku dan setiap kali berdiri di depan cermin, tubuh ini masih menyimpan begitu banyak cerita. Garis-garis halus yang membentang di perut, pinggul, dan paha belum juga memudar. Di bawahnya, ada bekas sayatan operasi caesar yang mungkin akan menemaniku seumur hidup. Dulu aku mengira waktu akan menghapus semuanya. Ternyata, ada jejak yang memang tidak ditakdirkan untuk hilang.
Sesekali aku merindukan tubuhku yang dulu. Tubuh yang belum memiliki bekas luka. Ada perasaan sedih ketika menyadari bahwa beberapa hal memang tidak bisa dikembalikan seperti semula. Rasanya seperti kehilangan sesuatu yang tak pernah benar-benar sempat kuucapkan selamat tinggal.
Namun perlahan aku belajar melihat dari sisi yang berbeda. Stretch mark itu bukan sekadar perubahan pada kulit, melainkan peta perjalanan panjang seorang ibu. Bekas operasi itu bukan hanya luka, melainkan pintu tempat seorang anak lahir ke dunia dengan selamat. Mungkin indahnya tidak lagi seperti yang selama ini digambarkan banyak orang, tetapi ia tetap memiliki makna yang tak bisa digantikan oleh apa pun.
Aku masih belajar menerima tubuh ini apa adanya. Tidak setiap hari berhasil, tidak setiap kali bercermin aku langsung tersenyum. Tapi aku ingin percaya bahwa berdamai bukan berarti berhenti merasa sedih, melainkan memilih untuk tetap menyayangi diri sendiri di tengah segala perubahan yang ada. Sebab tubuh ini mungkin tak lagi sempurna di mataku, tetapi ia telah menjadi rumah yang mengandung, melahirkan, dan menjaga dua kehidupan. Dan untuk itu, ia pantas dipeluk, bukan disesali.








