Tiang listrik keropos di trotoar Jalan LRE Martadinata. Foto diambil tanggal 27 Desember 2019.

@theartofmadeline

#extradirty

pixel skylines
dirt enthusiast
hello vonnie
he wasn't even looking at me and he found me
AnasAbdin

No title available
Sweet Seals For You, Always
cherry valley forever

Origami Around
Claire Keane
almost home
No title available

❣ Chile in a Photography ❣

Product Placement
Keni
I'd rather be in outer space 🛸
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
$LAYYYTER
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from South Korea

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States
seen from Malaysia

seen from Finland
seen from United States
seen from United States
seen from Türkiye
seen from Mexico
seen from United Kingdom
seen from Germany
seen from Singapore
seen from Estonia

seen from United States
seen from Netherlands
@kukulintingan
Tiang listrik keropos di trotoar Jalan LRE Martadinata. Foto diambil tanggal 27 Desember 2019.
Jalur hijau di Jalan Taman Sari, sebelum perbaikan trotoar.
Google street view Februari 2017 (tangkapan layar 31 Mei 2018)
Walaupun beberapa bagian kurang terawat, namun secara umum jalur hijau memberikan kesan asri dan nyaman. Namun setelah perbaikan trotoar, jalur hijau dihilangkan, hanya disisakan petak-petak seukuran batang pohon:
Ruang tumbuh yang disediakan untuk pohon-pohon juga sangat terbatas:
Sementara itu, trotoar hasil “perbaikan” juga tampak tidak dikerjakan dengan baik.
Foto-foto diambil tanggal 31 Mei 2018.
Jalan Siliwangi dekat Simpang-Dago setelah perbaikan trotoar. Foto diambil tanggal 27 April 2018. (Kondisi sebelumnya)
Jalan Ir. H. Djuanda (Dago). Trotoar dan tempat berhenti angkot/bus digunakan untuk parkir sepeda motor. Foto diambil tanggal 27 April 2018.
Jalan Maulana Yusuf, fasilitas pejalan kaki minim, tidak menerus, atau terhalang kendaraan parkir. Foto diambil tanggal 27 April 2018.
Jalan Setiabudhi setelah Hegarmanah. Motor naik trotoar ketika macet. Video diambil tanggal 14 April 2018.
Jalur pemandu difabel yang hanya menjadi hiasan akibat selalu terkena halang rintang, baik oleh motor mobil gerobak yang parkir sembarangan, gerbang rumah toko yang kepanjangan, papan jadwal angkot atau baligo iklan, maupun pohon-pohon yang bertumbangan.
Lokasi: Jalan Sulanjana Diambil pada 11 Februari 2018
"Bandung adalah monumen, yang mengiris-iris akar-akar pepohonan sehingga warganya merasa rindu akan kehijauan dedaunan, bagi yang pernah tumbuh bersamanya, bagi yang pernah merasakan kerindangannya di jalan raya, dan kini mulai kehilangannya." Lokasi: Jalan Dago/Juanda depan La Belle. Difoto suatu saat setelah menonton Dilan
Pertigaan Siliwangi-Ciumbuleuit (Gandok) setelah perbaikan trotoar. Foto diambil tanggal 2 Februari 2018. Kondisi hujan rintik-rintik Kondisi sebelum (Desember 2015)
Jalan Setiabudi. Perkerasan di sekitar pohon. Sebagian sudah baik, namun masih banyak perkerasan yang terlalu rapat/menghalangi ruang tumbuh pohon. Foto diambil tanggal 17 Januari 2018.
Jalan Setiabudi setelah perbaikan trotoar. Foto diambil tanggal 17 Januari 2018. Kondisi sebelum (Februari 2016).
Dua tahun kemudian
Tak lama lagi, kukulintingan akan berumur dua tahun. Momen yang tidak terlalu jelek untuk melihat ke belakang. Banyak hal yang sudah berubah, entah lebih baik atau lebih buruk. Dan masih banyak pekerjaan rumah yang tersisa.
Kalau mau jujur, kukulintingan dimulai sebagai curhat visual saya dan teman-teman sebagai pejalan kaki, khususnya di Kota Bandung. Keinginan saya rasanya tidak aneh-aneh: trotoar rata dan bebas penghalang, supaya saat berjalan kaki saya tidak perlu berbelok-belok, melipir-melipir, apalagi harus turun ke jalan. Setidaknya ada dua hal yang membuat keinginan sederhana ini tak terpenuhi. Yang pertama fisik trotoarnya yang rusak. Yang kedua adalah segala jenis penghalang yang bisa ditemui di trotoar: PKL, tali air, pot kembang, pohon, tempat sampah, bangku, sebut saja.
Karena motivasinya curhat, harus diakui mudah sekali terjebak pada subyektivitas dan pilih-pilih obyek. Mata saya terlatih menemukan kekurangan-kekurangan trotoar, bahkan yang baru direnovasi sekalipun. Kadang-kadang mau saya jadi tidak jelas. Kali ini protes karena pohon menghalangi trotoar. Kali lain protes karena pohon ditebang.
Yang jelas, dua tahun ini saya belajar banyak. Dari pengalaman, diskusi dengan teman-teman, membaca, dan menulis seperti ini. Walkable City-nya Jeff Speck mungkin buku yang paling penting yang saya baca tahun ini. Tidak semua hal saya sepakati, terlebih titik tolak buku ini adalah Amerika Serikat, tapi setidaknya buku ini memberi perspektif baru bagi saya. Karena buku ini, juga pengalaman dua tahun kukulintingan (harfiah dan kiasan), pandangan saya juga banyak berubah. Ada hal-hal yang dua tahun lalu saya anggap sebagai gangguan misalnya, namun saat ini tidak lagi. Begitu juga sebaliknya.
Salah satu yang berubah adalah pandangan saya tentang PKL. Dulu saya beranggapan PKL mutlak tidak boleh ada di trotoar. Sekarang saya beranggapan bahwa yang terpenting adalah pengaturan dan penyesuaian dengan situasi. Di trotoar yang lebarnya hanya satu meter, sudah tentu tidak layak untuk PKL. Namun di trotoar yang lebar, kenapa tidak, selama tidak menghalangi zona bebas untuk pedestrian. PKL bisa menjadi salah satu unsur interesting walk (perjalanan yang menarik) versi Jeff Speck. Keberadaan PKL di trotoar bahkan sudah diakomodasi dalam pedoman Kementerian PU tentang fasilitas untuk pejalan kaki.
Selain PKL, pandangan saya tentang pohon di trotoar juga berubah. Foto-foto awal kukulintingan masih sering memperlihatkan trotoar yang terhalang pohon. Hal ini memang sering tidak terhindarkan, karena banyak jalan di Bandung yang relatif sempit, sehingga pelebaran jalan sering memakan lahan untuk trotoar maupun pohon. Padahal, iklim adalah salah satu faktor penentu yang menyebabkan Bandung masih bisa dikategorikan walkable, dan banyaknya pohon memegang peranan yang krusial. Pendekatan yang paling sering dilakukan saat ini adalah menebang atau memotong akar pohon. Atau pendekatan konyol seperti menyemen pohon. Padahal ada teknik-teknik yang dapat diterapkan sehingga baik pohon maupun zona pedestrian bisa eksis bersama-sama.
Tidak hanya pohon di lahan trotoar yang sempit, entah mengapa di lahan yang cukup lebar pun, jalur hijau dihilangkan dan diganti perkerasan beton atau granit. Sering kali, penggusuran jalur hijau ini untuk memberi ruang bagi fasilitas-fasilitas penunjang yang tidak berkaitan langsung dengan fungsi utama trotoar. Padahal jalur hijau selain berfungsi sebagai zona penyangga antara trotoar dan jalan, juga berperan penting sebagai daerah resapan.
Hal yang sering ambigu buat saya di Bandung adalah jalur pemandu (tuna netra). Di satu sisi, saya tentunya berharap semua trotoar aman bagi tuna netra, antara lain dengan terdapatnya jalur pemandu. Berdasarkan logika, trotoar yang aman bagi pedestrian tuna netra sudah tentu aman bagi pedestrian berpenglihatan normal. Namun demikian, kebalikan logika ini juga berlaku. Trotoar yang tidak aman bagi pedestrian berpenglihatan normal sudah pasti tidak aman bagi pedestrian tuna netra, dan sialnya ini yang masih banyak ditemui.
Masalah jalur pemandu ini menjadi lebih rumit karena ada standar yang harus dipenuhi, namun sering diabaikan entah dalam proses perancangan maupun dalam eksekusi oleh kontraktor. Walhasil kerap kali jalur pemandu dibuat asal-asalan, seolah hanya menjadi hiasan trotoar. Padahal jalur pemandu yang dibuat asal-asalan ini lebih membingungkan, bahkan membahayakan bagi pedestrian tuna netra ketimbang tidak ada jalur pemandu sama sekali.
Hal yang tidak berubah, saya tetap beranggapan bahwa program Pemkot Bandung membuat trotoar mewah kurang tepat, karena menghabiskan dana yang sangat besar hanya di pusat kota. Lebih baik membuat trotoar sederhana namun fungsional di seluruh kota. Kasus yang sempat viral, turis asing yang terperosok di trotoar daerah Dago Atas, adalah contoh nyata. Lokasi kejadian hanya berjarak dua kilometer dari Simpang Dago yang merupakan titik awal renovasi trotoar yang konon berkelas internasional.
Pada akhirnya, penataan trotoar di Bandung menurut saya adalah masalah menentukan prioritas. Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah audit menyeluruh terhadap kondisi trotoar di seluruh Kota Bandung. Tindak lanjutnya dapat berupa program jangka pendek (perbaikan di lokasi-lokasi rawan) dan rencana jangka panjang yang sasarannya adalah trotoar yang memenuhi standar minimal layak jalan di seluruh kota, serta tetap mengedepankan fungsi ekologis ruang terbuka hijau.
~Rani Widya (blog, facebook)
Trotoar persis di sekeliling Gedung Sate Bandung.
Lubang-lubang besar berselang-seling dalam ukuran satu ubin, untuk ditanami rumput barangkali dengan maksud meningkatkan luasan ruang terbuka hijau (RTH). Namun, apa hendak dikata perkerasan di bawahnya terlalu padat sehingga rumput tidak dapat bertahan dan air tidak dapat terserap oleh tanah.
Beberapa korban tersandung keseleo ketika berdesak-desakan di keramaian seperti saat menonton karnaval kemerdekaan kemarin.
Foto tanggal 28 Agustus 2017 @RHR.
Jalan Pahlawan. Trotoar terhalang papan reklame dan parkir motor. Foto diambil tanggal 12 Agusus 2017.
Jl. A. Yani depan Terminal Cicaheum. Tidak ada jalur untuk pejalan kaki. Foto diambil tanggal 29 April 2017.
Jalan PHH Mustofa. Trotoar terhalang oleh pot bunga, PKL, halte TMB, dan utilitas. Penempatan pot bunga, tiang lampu, dll seharusnya seperti gambar paling bawah agar tidak menghalangi pejalan kaki. Foto diambil tanggal 29 April 2017.
Jalan Naripan, antara Jalan Sunda dan Kosambi. Perkerasan trotoar sudah banyak yang rusak. Sebagian badan trotoar dipakai parkir kendaraan. Foto diambil tanggal 30 Maret 2017.