Sudah lama aku tidak ke tempat laundry, lagi pula aku tidak hendak mencuci baju melainkan hanya untuk minta disetrikakan beberapa pakaianku dan bibi yang tidak sempat disetrika. Beberapa waktu lalu, pemiliknya meninggal, seorang pria baik hati berumur 59 bernama Ateng Rachmat. Kabar tersebut tidak diduga-duga, bahkan dua minggu sebelum ia meninggal aku sempat bercengkerama dengannya dan walaupun sedang didera penyakit, di tatapanku ia tampak segar persis seperti anak muda dengan rambutnya yang basah klimis dibalut gel. Aku selalu menganggap dwi tunggal pak Ateng dan bu Ateng sebagai satu-satunya kawan akrabku di Antapani. Hanya dengan mereka di Antapani aku bisa menghabiskan waktu untuk bercakap-cakap panjang, bahkan aku sering diingatkan untuk segera menyelesaikan studiku yang membuat aku terpikir untuk memasukkan dua sejoli ini ke dalam kata pengantar skripsiku.
Dengan menjinjing sekantong plastik besar, aku melihat bu Ateng hanya sendiri dan ia sedang meratap. Ia duduk dengan menunduk, terlihat matanya sayu dan badannya lemas. Tentu aku mengerti apa yang ia rasakan, lantas aku menyapanya dengan sangat sopan dan senyumnya terlepas seketika. Sembari mengurus kantong baju di timbangan, ia meminta agar segala dosa bapak dimaafkan. Aku katakan kepadanya bahwa bapak selalu baik kepadaku dan tentu kepada orang-orang lain juga. Lalu aku bertanya bagaimana kejadian ketika pak Ateng meninggal. Kejadiannya cepat, ia sedang berada di kebun dan tiba-tiba terjatuh kemudian ia dibawa ke rumah sakit dan tak lama kemudian ia menghembuskan nafas terakhirnya. Berdasarkan hasil rontgen dan diagnosa dokter, pak Ateng meninggal karena pecah pembuluh darah.
Aku tidak mengerti bagaimana itu dapat terjadi, tetapi orang-orang yang hendak mati, selalu punya ceritanya sendiri. Mereka selalu memiliki firasat tentang kepulangannya, memberikan tanda-tanda, metafora-metafora tentang perpisahan, perangai yang tidak biasa, dan persis seperti jatuh cinta, pertanda-pertanda itu menciptakan perasaan yang mengakar dalam dan terkenang abadi bagi siapa-siapa yang dikehendaki.
Bu Ateng bercerita bagaimana pak Ateng yang kerap mudah marah menjadi begitu halus dan penyayang, suka membersihkan rumah hingga sangat bersih yang ketika ditanya mengapa ia melakukannya, pak Ateng menjawab, “takut ada yang datang.” Ia juga tidak ingin lagi berobat lagi rumah sakit dengan alasan ingin pulang saja, “pulang kemana?”, tanya bu Ateng yang dijawabnya dengan tawa.
Tiga minggu terakhir bu Ateng kerap diajaknya jalan-jalan ke alam dan sering minta untuk foto berduaan, “benar-benar aneh dia”. Bu Ateng semakin terisak deras ketika ia ingat pak Ateng menyerahkan satu bundel dokumen sambil mengatakan, “mah, ini papah sudah masukan semua berkas-berkas ke dalam bundel ini agar kalau terjadi apa-apa, mamah tidak perlu repot lagi harus mencari-cari”. Lalu persis sebelum berpulang, pak Ateng sempat datang ke kelurahan untuk mengurus sesuatu. Sebelum pulang, ia berkata, “ini terakhir kali ya saya ke sini da’ akan ke sini lagi, sudah pusing hehehe,” dan menyalami setiap orang yang ada di kecamatan hingga tangan pak camat tak luput dari telapaknya, “seperti lebaran saja pak,” seloroh seorang pegawai kecamatan yang kemudian datang menangis ke bu Ateng pada keesokan harinya.
Sudah hampir sejam aku mendengarkan cerita bu Ateng dan sebenarnya hendak pamit pulang walaupun tidak enak untuk meninggalkannya dalam keadaan seperti ini. Aku bangkit dari bangku. “A Kus, bapak juga di minggu pas dia meninggal juga nyariin A Kus, katanya, ‘Mah, kalau si Kus masih suka ke sini? Anak baik ya dia…’ dan waktu itu katanya, A Kus mirip keponakannya yang di Tasik yang dia sangat sayang.” Aku terenyuh, karena bahkan di saat-saat terakhirnya ia sempat terpikir tentangku, hanya seorang pemuda pelanggan laundry. Aku terenyuh tentang bagaimana bisa ia sempat terpikir tentangku, di saat aku selalu merasa kerdil di hadapan dunia, ada seseorang di saat menjelang ia berpulang mengingatku sebagai anak yang baik. Dari dalam hati, aku mengucapkan syukur dan rasa terima kasihku kepadanya. Aku tidak pernah merasa setersanjung itu dalam kehidupan sehari-hari, merasai perasaan belas-kasih masih tersisa di dunia modern.
Kematian, walaupun kerap diidentikkan dengan hal mistik dan kegelapan. Dalam kemisteriusannya, ia merupakan lentera yang mengingatkan manusia tentang bagaimana sepatutnya manusia mampu memperlakukan sesama manusia dengan lebih baik.