Jangan jadiin pencapaian orang lain jadi standar hidup kamu. Motivasi boleh, tapi kalau itu tidak berjalan di kamu, berarti bukan porsimu
tulisan aku, di Kabupaten Bandung, 15 April 2020
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

shark vs the universe
TVSTRANGERTHINGS
almost home

Love Begins
Keni
sheepfilms
No title available

Kiana Khansmith
Xuebing Du
$LAYYYTER

⁂

No title available
Misplaced Lens Cap

Andulka
DEAR READER
will byers stan first human second
Stranger Things

JBB: An Artblog!
tumblr dot com

seen from United States

seen from Germany
seen from Türkiye

seen from Netherlands
seen from France

seen from United States
seen from Canada

seen from United States
seen from United States
seen from Guernsey
seen from Türkiye
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Ireland
seen from United States
seen from Germany

seen from Germany
seen from Germany
seen from Germany

seen from Germany
@langitberaksara
Jangan jadiin pencapaian orang lain jadi standar hidup kamu. Motivasi boleh, tapi kalau itu tidak berjalan di kamu, berarti bukan porsimu
tulisan aku, di Kabupaten Bandung, 15 April 2020
Hidup penuh pembelajaran, hari ini belajar berjalan mungkin besok belajar berlari.
Belajar dari siapapun dari manapun dan kapanpun. Nah, salah satunya aku menggunakan waktu belajarku ditempat KKN. Menggunakan masa “mengabdi” yang hanya sebulan. Aku biarkan semua mengalir begitu saja termasuk ketika tiba-tiba diminta untuk membantu mengajar dan membimbing anak-anak di Taman Kanak-kanak.
Kalau ditanya pengalaman mengajar? Jelas belum ada. Karena pendidikan kuliahku di jurusan kesehatan dan secara teori tidak diajarkan bagaimana memberikan pembelajaran dengan memahami karakteristik anak-anak didik. Saat pertama kali menginjakkan kaki di kelas Taman Kanak-kanak dan menghadapi tingkah dan pola anak-anak aku hanya mencoba berpikir positif dan melakukan hal sesuai kemampuan serta kesesuaian anak-anak. Hahaha.
Pertama enjoy, kedua ketiga keempat mulai stres karena banyak yang tantrum, di kelas besar semua anak minta peluk, semua anak minta diperhatikan, semua anak minta dibimbing dan ditemani. Ditarik kesana-kesini.
Jadi tau kan gimana memahami karakter anak dan gimana cara menghadapinya *gils.
Udahannya, jadi ngerasa “gini to kalo menghadapi anak-anak?” “gini to kalo punya anak?” *eh hahahaha
Bermula tentang bagaimana orang-orang sering mengatakan pada orang lain tentang "Nggak Peka", gue jadi tergelitik untuk membahas ini sekaligus momentum gue untuk curhat (kecil-kecilan) sesuai apa yang pernah gue alami secara langsung mulai dari lawan jenis ataupun teman sesama perempuan —dan tentu memberikan cerita yang berbeda-beda. Tapi yang sering gue temukan dari kata "Nggak Peka" ini justru lebih sering terlontar dari perempuan ke seorang laki-laki yang mana biasanya si perempuan 'ngasih kode' tapi tidak direspon dengan baik oleh si laki-laki atau justru respon tidak sesuai dengan keinginan si perempuan. Itu sering banget. Gue ga munafik juga sih sebagai perempuan pasti pernah ngerasain di posisi kayak gitu. Nah, tapi kita ngga boleh men-judge kalo kata "Nggak Peka" ini ditujukan hanya untuk seorang laki-laki aja, ya. Harus melihat banyak sisi dan aspek yang perlu kita tangkap. Misalnya apa tuh? Misalnya, dalam kehidupan sehari-hari, kalo ada orang yang butuh bantuan yang sekiranya ditangkap oleh mata kita kalo dia 'kesusahan' ya mbok dibantu; sekecil apapun bantuannya. Kalo lagi di kelas ada dosen kesusahan nyalain LED proyektor, ya dibantu. Jangan nunggu disuruh atau disindir lah. —dan masih banyak lagi. Tapi kita tergolong untuk menjudge suatu sebutan dari segi perasaan. Perempuan, biasanya. Saking gregetnya makhluk yang bernama laki-laki itu dari kodratnya memang udah diciptakan buat misterius dan nggak peka mungkin, ya. Mungkin lho. (haha) Ternyata usut punya usut, setiap pembahasan setiap masalah pasti ada kausal atau penyebabnya; ya, paham sebab-akibat. "Nggak Peka" ini sebenernya bisa diajarkan dari sewaktu kecil lewat parenting yang diberikan setiap orangtua. Tapi lagi-lagi kita tidak boleh menjudge kalau orang-orang yang tidak peka itu karena didikan yang kurang baik. Bukan! Banyak penyebab lain seiring bertambahnya usia, seiring banyaknya fase adaptasi yang terlewati setiap orang lain, dengan siapa saja bergaul, lingkungannya seperti apa, atau mungkin ada trauma dibalik sifat 'nggak peka'-nya seseorang. Nobody knows. Tapi, jika sudah terlanjur atau merasa ada yang berbeda karena memiliki sifat 'nggak peka' harus ditelaah dan diresapi untuk mengambil langkah apa yang seharusnya dilakukan. Apakah memang sifat itu melahirkan sebuah keburukan untuk diri sendiri atau justru itu bisa melindungi diri sendiri dari keburukan dan fitnah.
Tuhan, Mengapa Aku Berbeda
Terkadang, sempat terpikir mengapa Allah menggariskan semua ini untuk saya? Mengapa Allah memberi ujian ini untuk saya? Mengapa aku tidak sebahagia mereka dengan orangtua yang lengkap? Mengapa aku tidak bisa selalu ada untuk orangtua saya? Namum, kembali lagi. Hidup ini tentang segala penerimaan. Mau kita menolak seperti apapun bentuknya, jika Allah telah menggariskan takdir untuk kita, semua akan terjadi sesuai kehendak-Nya. Kita bagaimana? Kita hanya bisa mempasrahkan semoga segalanya yang terbaik. Ikhlas tiada henti. Walau pada kenyataannya sangat sangat sulit. Menurut saya, ilmuwan dalam sejarah dunia yang cerdas dan geniusnya selangit apapun, belum ada yang pernah menemukan bagaimana cara ikhlas dengan mudah ditengah ujian hidup perihal kehilangan. Semua pasti bertanya kepada Allah. "Mengapa bisa begini?" "Mengapa bisa begitu?" Saya merasa, saya adalah orang yang teramat belum siap menerima segala ujian. Tapi Allah Maha Tahu. Untuk saya, ini sulit. Banyak sekali lika liku dan bukan lagi sekedar air mata. Perjuangan yang tiada habisnya. Sekuat tenaga mengikhlaskan apa yang sudah ditakdirkan. Sesungguhnya, saya takut sekali kufur nikmat. Sebab, saya seperti terkurung dalam kesedihan berlarut-larut dan pikiran yang terus menanyakan takdir ini. Namanya juga manusia, terkadang dibawah sekali dan rasa tidak punya siapa siapa selain Allah. Terkadang juga butuh pelukan. Hingga sekarang masih mempelajari dan terus mempelajari bagaimana caranya ikhlas dan berserah diri yang baik. Hingga sekarang masih berpikir bahwa ada yang lebih menyedihkan dari miskinnya harta, yaitu miskinnya hati dan miskinnya iman. Karena dari setiap ujian-lah Allah juga sedang mengukur batas keimanan seseorang. Dan saya, sedang diukur.
Kriteria
Belakangan ini suka mikir, suka merenung. Soal apapun, kali-kali aja dan mungkin memang banyak yang butuh di koreksi dan evaluasi. Termasuk keinginan diri untuk segera memiliki pasangan hidup. Waduh, kesannya berat sekali ya. Tapi jika di pikir dan di resapi kembali, rasa ingin menikah itu sebenarnya juga hidayah dari Allah, bukan? Terlebih menikah memang dapat menghindari dosa zina dan merupakan upaya dalam menyempurnakan setengah agama. Siapa yang tidak ingin?
Dibalik itu semua, kita dihadapkan pada fenomena "kriteria" atau bahasa lainnya "tipikal orang yang di harapkan". Semakin majunya jaman dan teknologi, orang semakin berusaha ingin lebih maju, itu pasti. Nah, kriteria ini juga mengikuti ke arah perkembangannya. Belum lagi, para akhwat (wanita) sedang gemar-gemarnya menonton drama korea, mengidolakan para Oppa-oppa yang berperan di dalam drama tersebut atau k-pop yang sedang marak-maraknya. Wajah idola hampir semua kalangan wanita. Tapi tidak termasuk saya. Hehe.
Terus? Emang nggak boleh punya kriteria cowok kayak oppa-oppa?
Bukan begitu, hidup juga harus memandang segi realita dan keadaan serta kesanggupan kita. Saya sendiri juga menyadari memang dahulu, saya ingin sekali punya pasangan yang ini yang itu yang seperti ini yang seperti itu. Hingga berjalannya waktu dan menghadapi serta berbaur dengan lingkungan yang membuat saya "melek realita", bahwa di dunia ini nggak semua di isi oppa-oppa maskulin dan klimis putih merona (?)
Saya bertemu dab berbaur banyak tipe-tipe orang termasuk ikhwan (kaum laki-laki) yang memang tidak boleh kita abaikan dan di pandang sebelah mata.
Meyakini mereka juga pasti memiliki kriteria "wanita shalihah idaman". Itu pasti.
Saya-pun memiki keinginan sebaliknya.
Nah, daripada mematok dan memasang brand atau stempel dengan berbagai kriteria atau tipikal yang macem-macem, lebih baik meluruskan apakah itu semua sudah termasuk dengan keimanan dan ketaqwaannya. Jaman sekarang tidak boleh hanya memandang dari fisik dan ketampanan saja.
Dari semua itu, dipilihlah yang paling utama yaitu agamanya. Sehingga jika kelak berjodoh, jika pada saat marah dia tidak berbuat kasar, jika dia cinta maka dia memuliakan.
Lama kelamaan, semakin bertambahnya usia, semakin sadar juga apa yang sebenarnya diri ini butuhkan. Bukan sekedar nafsu pengen yang ini pengen yang itu macam-macam.
Paling utama paling penting sih, memantaskan diri terlebih dahulu. Sudah pantaskah kita berdampingan dengannya?
Sudah layakkah kita bersama dengannya sampai tua hingga jannah?
...
Untuk yang saat ini berada di puncak. Berapa kali terseok hingga kemudian mampu mengucap syukur ketika berada di atas?
Untuk yang saat ini tengah berbunga-bunga. Berapa kali terjatuh dan merasakan luka hingga akhirnya bisa menikmati suka?
Untuk yang saat ini telah mengerti apa itu salah apa itu benar setidaknya bagi diri sendiri. Berapa banyak caci serta makian yang pernah ditelan lalu sekarang berbuah pujian?
Mungkin betul, untuk tahu apa yang benar kita harus merasakan salah. Tapi, yang terpenting di atas itu semua adalah…kita telah belajar banyak untuk kemudian bisa mengerti sebuah kebenaran serta kebaikan.
Kalimat itu sering banget bermunculan pada jiwa-jiwa yang tak mendapatkan kejelasan pada jiwa-jiwa yang dihantui ketidak-jelasan. Hahaha. Bercanda. Nggak cuma itu aja sih sebenernya, tapi banyak banget selain soal "perasaan" orang satu ke-orang-lainnya. Kalimat kayak gitu sepele tapi "deep" banget maknanya. Kok bisa? Seringnya sih orang mengkaitkan tentang ketidak-pastian ungkapan (dalam artian) perasaan orang tersebut ke 'si target kode'. Namun tak kunjung di respon, maka biasanya sering banget bilang "Gue di gantungin men". Tapi definisi gue lebih kepada banyak hal, misalnya soal judul skripsi, skripsi yang tak kunjung dapat persetujuan dari dosen, laporan internship nggak di revisi revisi sama dosen, di sepelein orang lain, pokoknya hal apapun sih tentang "ketidak-pastian". (curhat detected) Kalo lo punya definisi lain, coba utarakan. (Utara? Arah mata angin?) maksudnya di sampaikan. Gue lebih sepakat sih kalimat diatas itu kalau misalnya mau dipake soal perasaan, pasti lebih 'ngena'. hahaha. Entah kenapa ya? Orang kalo ngebahas BAPER langsung deh nyaut gitu. Ngalir banget otaknye kayak aer. (Ini gue ngetik ngalor ngidul amat dah) Kalo lo nggak mau di 'gantungin', jangan 'gantungin' orang lain. Bayangin aja sesuatu yang misalnya harusnya lo udah dapatkan hari itu juga, karena lo 'gantungin' atau menunda sesuatu jadi lo ke-pending dapetnya. Beda judul kalo 'gantungin' berdasarkan dari kata "menggantungkan diri" itu lebih ke "ketergantungan" kita kepada Allah SWT. Beda ya. Tolong.
GENERASI MAGER? Pertama kali yang terpikirkan oleh gue dari kata "Mager" kirain suatu singkatan kayak waktu gue pertama kali denger kata BBM atau PHP atau Kopdar. Ternyata sebuah istilah :/males-gerak. Yailah. Terus gue telisik lebih jauh lagi nih, pernah baca disebuah artikel psikolog dan dokter umum gitu dilihat dari segi kesehatan dan kejiwaan, mager bikin mobilisasi kita terbatas. Bener gak? Lah iya soalnya mau gimana gimana MALES. Mau ngapa-ngapain MALES. Terus dosen gue bilang "hakikatnya seorang manusia itu 'bergerak' kalo dia gerak aja males, berarti ada suatu sistem yang disfungsi (tidak berfungsi secara semestinya)". Bener aja tuh. Hampir semua penyakit tidak menular diakibatkan dari MAGER tadi alias Males Gerak. Yah, gue jadi introspeksi juga sih. Kadang-kadang, buat ke kamar mandi aja males. Apalagi kalo hari libur. Setuju gak? Hahaha. (Eh, apa gue doang ya?) Terus dikaitkan sama agama, wah pasti banyak deh. Ya hal sepele aja, lo males gerak, berarti lo juga males sholat juga. Yha dong? Gerakan sholat hampir semua bagian jadi bergerak. Ujung kepala sampe kaki. (Yang ini udah kronis banget MAGER-nya. Harus cepetan taubat!) Di era yang udah millenial apa apa pake teknologi ini, segala sesuatu dijadikan mudah, ringkas, cepat, efisien, dan hemat tenaga. Ya itu, saking pengen hematnya tenaga sampe apa apa jadi males. Astaghfirullah. Tapi sisi positifnya sih, bikin ladang rezeki buat orang lain jadi terbuka. Contohnya membuka ladang rezeki mamang Go-Jek buat anterin orderan makanan, belanjaan atau nganterin kesana kemari buat sekedar menghindari macet atau emang buat nganterin karena nggak ada kendaraan, kayak gue ini misalnya. Hhehe. Dari atas sampe bawah ini tulisan gue buat, hampir semuanya nyindir gue sendiri sih. Gue pengen aja orang lain juga merenungi dan menyesali perilaku 'nggak baik'-nya itu biar nggak 'kebablasan' atau kelewatan batas. Ada lah pasti sekali-dua-kali orang pasti males atau jenuh terhadap suatu hal dan kegiatan apapun. Pasti ada. Tapi terus-terusan diladenin malesnya keterusan badan jadi nggak sehat, otak nggak lancar mikirnya alias 'belet' atau jadi roaming. Itu sih yang pernah gue rasain. Terus mobilitas kita jadi sangat terbatas. Bukan terbatas sih sebenernya, tapi kita sendiri yang membatasi diri karena dari MAGER ith tadi. Gue-dan mungkin jutaan umat (wuidih!) sedang berpikir dan melakukan sedikit-atau-banyak perubahan supaya nggak jadi Generasi yang MAGER-an. Misalnya banyak melakukan aktifitas yang ringan ringan dulu, atau bikin batre smartphone lowbatt atau di off-kan dulu supaya nggak melulu pegang handphone atau gadget terus menerus seharian. Kecuali emang ada kegiatan penting yang membutuhkan hal itu banget. Banyak banyakin istighfar dan dzikir juga. Soalnya itu bisa jadi hasutan syaiton-nirrojim ke dalam diri kita supaya jadi followernya. Amit-amit. Naudzubillah. Selanjutnya, itu gimana ide dan cara lo buat to-handle-it aja sih. 👌 Semoga kita semua terhindar dari sifat, perilaku dan kebiasaan MAGER yang keterusan, yhaaa! Aamiin~
Saat ini, tepatnya baru-baru ini gue sering termenung "mau jadi apa ya di masa depan nanti?" lebih tepatnya "what will i do for the next step and fase?" Bingung coy. Pasalnya, gue tipe orang yang segalanya pengen di coba. Sampe suatu ketika gue menyadari "apa sebenarnya bakat dan potensi gue?" lalu "mau dibawa dan diteruskan kemana?" soalnya tiap yang gue lakoni kok banyak banget tapi jadinya nggak ada yang full up gitu. Setengah-setengah. Sedangkan jurusan kuliah yang gue ambil ini menyangkut urusan umat (ceileh). Gue ga boleh asal-asalan ambil langkah dan tindakan. Makin kepikiran aja dong. Apalagi menginjak semester yang-katanya udeh semester "tua" ini. Judul tugas akhir aja harus di pikirin mateng-mateng, apalagi masa depan ya, gak? Sebentar, baru kali ini gue ngomongin passion gue. Ini adalah dilemanisasi (halah). Dari kecil, memang gue udah 'ngerasa' dan orangtua gue menyadari bakat seni gue ngalir deras (emang kran). Sampe bokap gue kepengen masukin gue di sekolah seni. Sampe pada akhirnya.... gue masuk sekolah di keperawatan. (Lah kok?) Soalnya pas itu gue kekeuh pengen masuk di bidang kesehatan dan bereksplorasi sama yang berbau alat-alat medis, nyuntik, hecting (jahit luka), balut luka, dan sebagainya gue lakuin. -karena sebelumnya waktu kecil kerjaan gue ngebedah laron (binatang kecil-kecil kalo pas musimnya pada ngerubung di lampu) Mungkin bokap kasian ngeliat gue yang kayak anak kecil mikir keras gitu sampe ngebedah perut laron (ada anaknya pa kagak) *yakale Akhirnya disetujuilah gue masuk di keperawatan. Long short story... Pas sekolah di keperawatan gue gamer game jadul. Gamer berat. Tapi gue udah ga pernah bikin sketsa lagi. Hingga suatu hari gue dikirimin pesan di twitter oleh salah satu folower gue, dia suka sketsa baju yang gue gambar dan gue share di twitter beberapa waktu lalu sebelum gue vakum menggambar. Waktu itu belom ngerti nyari duit :") belom ngerti kalo ternyata itu bisa jadi lahan rejeki dan bisnis. Sedih. Tapi ga apa-apa dah. Long short story lagi. Skip ke masa kini aja. Hobi menggambar mulai digeluti lagi, tapi cuma modal iseng-iseng aja. Belom ada yang ngajak bikin project atau berani bikin project gede sih. Lalu gue jadi mikir, di satu sisi banyak permasalahan kesehatan orang banyak. Ya hal kecil aja deh, belum semua orang bisa makan cukup, memiliki hak berpendidikan layak, sandang pangan papan banyak yang belum terpenuhi, fasilitas kesehatan masih banyak yang perlu di tingkatkan, pemikiran dan stigma masyarakat yang musti dikembangkan dan digeser ke arah yang lebih baik, atau hal lainnya. (Sebentar, itu bukan hal kecil ya.. Hal gede ternyata) Banyak banget. Why my passion not still related with in my specific-education? Lagi banyak mempertanyakan kepada diri sendiri dan minta petunjuk Allah aja. Kalo kalian jadi gue, what should you do?
How Lucky I am To Be Your Daughter
Gue sangat beruntung menjadi putri yang besarkan oleh kedua orang tua yang nggak menya-menye manjain anaknya. Gue teramat dekat dengan Bapak maupun Mama. Ada banyak transfer energi kasih sayang dari mereka yang di salurkan buat gue. Misalnya aja, sentuhan atau kasih sayang Bapak akan menjadikan pribadi yang kuat dan pantang menyerah, sering berdialog, berdiskusi bersama Bapak akan menjadikan pribadi yang memiliki visi misi kuat serta tidak mudah terpengaruh. Transfer yang disalurkan dari Mama dapat berupa sikap saling peduli, tulus, sabar dan penyayang. Tentu dibalik tulisan ini gue rindu berat mereka berdua yang dimana gue udah kehilangan Bapak sebelum gue menemukan pendamping, padahal sejatinya seorang anak perempuan harus memiliki bekal yang cukup sebelum dipinang oleh jodohnya (ceileh). Tapi semua udah yang terbaik dari Allah. Dibalik tulisan ini, gue juga prihatin dengan anak yang hanya dirawat atau diasuh oleh salah satu orangtua (bapak atau ibu). bukan keduanya. tentu mereka akan menjadi pribadi dan karakter dengan versi yang cukup berbeda. Peran keluarga sangat erat kaitannya dengan pembentukan karakter. Seorang anak yang dididik dengan pola asuh dari orangtua yang sibuk bekerja dengan orangtua yang menyediakan waktu banyak dalam 24 jam untuk anaknya tentu sangat berbeda. Bila tidak terlihat saat anak masih kecil, bisa jadi terakumulasi dan terlihat hasil perkembangan karakternya di usia dewasa. Nggak ada sekolah buat jadi orangtua yang baik dan sempurna, karena setiap orangtua punya cara mendidik dan merawat anaknya dengan versinya sendiri.
Gue berpikir, apa yang salah dengan sistem transportasi di kota enyak babe gue tinggal seperti kota Serang Banten dan sekitarnya itu? Sehingga penuh sesak dada gue saking seringnya denger banyak KLL (Kecelakaan Lalu Lintas). Mirisnya sampe korban badannya hancur (mohon maap nih ye). Dibandingkan dengan keadaan lalu lintas di tempat gue kuliah ini, Yogyakarta. Yang mau semraut apapun masih terhandle dengan baik. selama gue tinggal disini juga hampir nggak pernah denger ada KLL serupa kayak di kota Serang. :") Baru pagi tadi gue baca status facebook seorang teman gue yang bersekolah di UI dan sedang pulang ke asalnya, Kota Serang tentang terjadinya kecelakaan dan meninggalkan sisa sisa badan korban pengendara yang hancur. Innalillahi.. Coba deh di renungi, APA YANG SALAH DENGAN SISTEM TRANSPORTASI DI BANTEN? ataukah orang-orangnya yang meng-ACUHKAN SISTEM DAN TATANAN yang ada? Sering sih gue mikir gitu, soalnya kejadian kayak gitu udah serriiiing banget banget sampe kayaknya udah biasa terjadi gitu :") miris kan. Tapi dari gue pribadi, perbedaan tempat tinggal gue dan tempat gue bersekolah ini ya beda banget sih dari orang-orangnya. Orang Jogja di tegur Polisi di jalan "Helmnya kemana?" udah pada takut. Anak sekolah juga nurut sih walau emang dah banyak yang pake motor. Gue tidak membandingkan banget banget sih, tapi emang banyak banget bedanya. Ya karena bingung aja gitu sampe segitu parahnya kah sistem lalu lintas dan transportasi di Banten? Kita nggak boleh cuma 'ngarepin' Polisi dan petinggi daerah atau pemerintah doang. Yang ngedarain kendaraan kita, elu-elu pada, ya kalo mau enak juga 'nurut sama sistem'. Semua harus kerjasama, semua sektor. Nggak bisa nunjuk-nunjuk siapa yang salah. Udah gitu jangan cuma bilang "udah takdienya gitu kali". Semua udah di gariskan Allah, tapi apa mau pasrah aja dengan takdir yang sebenernya lo buat sendiri dengan tidak menjadi pengendara-pengemudi yang bijak dan disiplin? Padahal masa iya Allah mau nyusahin hamba-Nya? Simpelnya aja, lo pake helm bukan karena lo takut ditilang polisi, tapi lo pake helm karena lo sayang diri lo sendiri. - dikutip dari omongan temen gue. Buka mindset lo, mindset kita semua, mindset orang-orang terdekat kita, keluarga kita, seantero Indonesia kalo perlu, jangan kebanyakan nyalahin orang dan petinggi negeri mulu, mereka kerja mati-matian juga percuma kalo kita nggak ngerubah cara pandang dan pola pikir kita tentang-yang-sebenernya-manfaat-buat-kita. Jangan ngejerumusin diri sendiri. Kalo orang lain nggak bener, bukan terus lo ikutan nggak bener juga. Jangan membiasakan yang tidak baik. (ok) Tolong benarkan jika ada informasi dan pemahaman gue yang kurang sesuai kaidah dan informasi aslinya. Terimakasih.
Kok jadi ngalor ngidul gini
Hahahapasih
Untuk kamu, laki-laki.. Semenjak Bokap udah ngga ada, gue jadi semakin respect sama laki-laki, perjuangannya, jatuh bangun seorang laki-laki untuk bertahan hidup dan membahagiakan orang yg ia sayangi. Cinta dan sayangnya seorang laki-laki memang beda dari perempuan, apalagi jika ia sudah menjadi seorang Bapak, tentu akan menjadi tambahan tanggungjawab yang lebih besar beda saat ia masih menjadi lajang atau baru beristri. Umumnya wajah lelaki yang tegar, memang sangat berbanding terbalik dengan hatinya. Masya Allah, gue sendiri terharu menceritakan hal ketegaran seorang laki-laki. Wajah keras, tegas dan membawa wibawa, terkadang harus menjadi tumpuan untuk hatinya yang mungkin sedang sedih atau badannya yang sedang lelah. Seorang laki-laki atau Bapak pasti tidak akan merasakan melahirkan seorang anak, tapi dari nafkahnya mengalir hingga ke darah istri dan anak-anaknya, belum lagi dia harus menanggung pula dosa anak dan istrinya. Subhanallah. Jadi perempuan itu juga nggak gampang, pun laki-laki. Semua ada peranan dan porsinya masing-masing tanpa harus mengurangi kodratnya. Di jaman yang serba ada dan mutakhir ini, laki-laki dan perempuan nyaris di garis yang sama. Apalagi soal sosial dan ekonomi, banyak perempuan yang bekerja banting tulang mencari nafkah, bahkan ada yang menggantikan pekerjaan suaminya. Harus bekerja ekstra tentu. Disamping ia harus mendidik dan merawat anak-anak serta keluarganya. Beberapa cukup miris, beberapa memang harus di lihat dari banyak sisi mengapa wanita mau menggantikan posisi laki-laki dalam hal mencari nafkah. Kita tidak boleh tutup mata soal ini, tapi kembali lagi pada pergeseran jaman. Secara islam, perempuan memang tidak dilarang dalam hal bekerja, tapi akankah lebih baik jika perempuan fokus dalam mendidik anak-anaknya dan merawat keluarga di rumah. Yang ditakutkan justru perempuan yang bekerja terlalu keras daripada laki-laki. Tentu semua tergantung individu menyikapinya. Kembali kepada ke-respect-an gue kepada kaum laki-laki yang (mau) bekerja keras dan lebih bertanggungjawab, akan ada masa dimana gue akan mengungkapkan rasa bangga dan cinta gue kepada seorang laki-laki, tunggu saja. Entah itu siapa dan dimana. Entah itu siapa dan dimana, semoga laki-laki itu juga sedang menahan mengungkapkan rasa bangga dan cintanya kepada gue. (Oke stop baper) --- Apapun itu, Allah sudah buatkan jalan untuk kita. Rezeki, jodoh, maut. Dari mana arah datangnya itu juga gimana Allah. Yang penting jalan terus, doa terus, dzikir terus, usaha terus. Jatuh, bangun. Bingung, berdoa. Pasrah itu alternatif lain. Bulatkan tekad tentu lebih baik. Jadi mau nanti atau sekarang itu pilihanmu, mau nanti atau sekarang itu keputusanmu. Tulisan ini akan jadi cerita, penyemangat dan ungkapan dan pesan untuk sesiapa saja yang membacanya. Terlebih untuk gue sendiri.
Indonesian People is KEPO-ers?
Berangkat dari cerita gue yang belom sempet gue ceritakan di sosial media➖ atau di tulisan manapun, berawal dari sebuah perbincangan bersama adik gue saat kita sedang di jalan (-jalan menuju kemana aja) soal KEPO (Knowing Every Particular Object) yaps, bahasa yang sering dipake buat orang yang 'kepengen tau banget soal apapun'. Hari gini siapa sih yang ga tau soal KEPO? Tapi masalahnya nih, gara-gara istilah itu orang yang pengen bersimpati dan peka sama suatu hal yang emang perlu di perhatiin jadi disalah-artikan. Ngga percaya? Gini contohnya; Misalnya kita lagi kepengen tau banget nih cara membuat atau DIY prakarya atau wawasan ilmu pengetahuan lainnya yang belom kita tau atau dibilang kepo saat lagi pentingnya banget buat tau keadaan orang lain (mohon maaf nih) misalnya ada orang yang sakit atau marah karena sikap kita yang kurang enak. Jujur aja sih, gue curhat dikit ya, gue juga pernah di perlakukan gitu oleh beberapa orang. Kedua, percaya atau terima ngga kalo orang Indonesia KEPO-ers atau KEPO-an banget jadi manusia, gue sih terima-terima aja asal istilah itu ditempatkan pada keadaan dan bahasan yang sesuai. Ngga terima kalo orang Indonesia dibilang 'terlalu kepengen tau (alias KEPO)' sama hal yang ngga penting. Misalnya, ada orang yang (mohon maaf lagi nih) kecelakaan di jalan, badannya berlumuran darah atau orang terkena bencana dan orang yang butuh privasinya di jaga, bukannya di bantu atau di hargai malah di KEPO-in atau nanya-nanya tapi ngga pada situasi kondisi yang tepat. Jujur aja nih ya, mohon maaf lahir dan batin, gue sendiripun juga ngga mau diperlakukan kayak gitu disaat emang (kalo) butuh bantuan malah cuma di korek-korek informasinya (alias di tanya-tanya) bukan diberikan tindakan dan conclusion. Jadi inget nih pas gue nonton video Youtube-nya Gitasav soal perilaku dan sikap orang-orang eropa khususnya di Jerman kayak gimana, kemudian dibandingin nih sama perilaku (mayoritas) orang Indonesia seperti apa. Bedanya, ya itu tadi seperti yang udah di tuturkan di atas ➖ (mayoritas) orang Indonesia kurang bisa menempatkan istilah dan maksud KEPO itu sendiri untuk apa. Sebenernya sih, balik lagi ke pribadi masing-masing. Apakah kita mau bersikap baik dan memilih untuk tidak menjadi orang yang (salah kaprah) dalam menempatkan posisi KEPO didalam kehidupan kita sehari-hari. Gue yakin sih, mau itu di dunia maya atau dunia nyata, hidup bakal jauh lebih damai kalo kita bisa menempatkan mana yang perlu jadi prioritas untuk dibahas mana yang harus jadi angin lalu dan pelajaran, mana yang perlu dijadiin becandaan, mana yang perlu diseriusin, mana yang perlu diberikan rasa simpati dan perhatian khusus mana yang perlu diabaikan. Gitu, sih, ya menurut opini gue. Pasti ada banyak hal/opini yang sekiranya jadi unek-unek tentang di keseharian kita. Tapi balik lagi, jangan nyudutin satu orang, tapi kayaknya ngomongin populasi (banyak orang) buat jadi gambaran perilaku apa yang harus (minimal) di geser ke arah yang lebih positif daripada membiarkan sesuatu seolah itu ngga pernah terjadi padahal kita sendiri udah mabok. Percaya aja, mungkin hari ini kita bukan jadi siapa-siapa, tapi mungkin besok bisa jadi manusia yang mengubah pemikiran atau perilaku jutaan umat menjadi lebih berfaedah. Aamiin. (Tulis komentar, saran dan opini atau apa aja deh yang baik-baik, soal UAS buat lusa juga boleh. Haha) thanks anyway.
Alasan kenapa #1
Alasan kenapa gue pake nama akun tumblr ini bukan pake nama sendiri: 1. Karena udah banyak banget akun sosial media yang pake identitas full nama gue. 2. Merubah style keseriusan gue dalam menulis sesuatu menjadi agak lebih jenaka atau jenaka lebih ke serius dan puitis (walau masih biasa banget sih). 3. Biar berasa di "dunia tumblr" banget dan no identy own account gitu lah. Jadi ada nama samaran gitu deh. 4. Platform tumblr ini terlalu bagus buat sekedar nulis pendek atau galau-galauan alay abg kayak di platform sosial media lainnya. Tumblr ini juga lebih banyak variasi postingannya (walaupun gue punya blog tapi yaa udah ga se-begitu-aktif kayak disini sih). Tumblr jadi pilihan ketika lo mau curhat atau ber-uneg-uneg tapi nggak pengen banyak orang tau, salah satunya ya pake nama samaran. Palingan orang tertentu aja yang tau karena pada dasarnya platform ini tidak begitu banyak di gandrungi anak-anak 'gaul sosmed'. 5. Bebas menulis apapun disini. Dari mulai posting gambar dan bercerita soal gambar yang di post-kan sampe lagu dan video. 6. Dah gitu bakal banyak penulis keren yang sebelum mereka mengorbitkan karya tulis berupa buku-buku keren mereka, sebagian dari mereka 'melahirkan' tulisan dan pemikiran ciamik mereka disini.
Setengah Tahun
6 bulan sudah banyak hal berlalu dan banyak hal yang tetap tinggal. Mungkin aku yang belum beranjak atau aku yang memang tak ingin pergi. Aku telah melewatkan banyak hal di tahun ini. Sedih dan bahagia. Bangga dan kecewa. Marah dan sabar. Pada awalnya aku hanyalah perempuan biasa hingga aku ingin menjadi luar biasa. Kisahku di penghujung pertengahan-tahun memang sangatlah kontras akan kehidupan yang cukup berbeda, walau tidak signifikan meningkat. Mulai dari mencoba organisasi diluar kampus hingga mencoba peruntungan-peruntungan lainnya yang belum pernah aku lakukan. Rasa pahit masih saja menyelimuti sebab aku masih selalu (dan akan tetap selalu) merindukan Bapak. Ramadhan di tahun ini sangatlah berbeda. Walau aku terbiasa hidup di perantauan yang jauh dari orangtua di rumah. Tapi, buatku kehilangan sosok Bapak sangatlah menjadi hal yang sangat pahit di dalam hidup ini. Siapa sangka, setiap hari aku selalu ingin merasa didekatnya, selalu ingin bercerita dan mendapatkan 'wejangan' bijaknya. Walau bagaimanapun, aku tetaplah gadis kecilnya. Ramadhan di tahun ini berbeda, keinginan Bapak telah terpenuhi untuk memberangkatkan umroh ibunya, tak lain adalah nenekku. Ramadhan di tahun berbeda, rindu rumah semakin terasa dan bila aku datang sambutan tawa Bapak tak lagi menyambutku di ujung stasiun atau di depan rumah. Bapak, tawamu selalu jadi pengingat aku untuk terus ikhlas dan bersyukur. Insya Allah, Allah tempatkan Bapak bersama ahli surga-NYA. Aamiin. Telah begitu banyak suka dan duka di "setengah tahun" ini. Teman-teman yang datang dan pergi atau hal-hal baru lainnya yang aku jumpai. Aku percaya, Allah telah siapkan kejutan-kejutan indah lainnya di "setengah tahun" kedepan.
[CAUTION! Caption ini akan gue buat layaknya cerpen] Hahaha. Jakarta, 25 Februari 2017. Eh, format amat yak kayak bikin surat. Awalnya, gue sih emang pengen ngerasain balik (dengan cara ribet ala ala nekad travelling gitu lah. wakwak) bareng @nurafandiagustiar sama @taufikmttq padahal ngajak @putrimdywt juga. Karena, udah di Jakarta dan pas weekend juga akhirnya sekalian lah ketemuan sama ibu suri The 9's a.k.a kakak alumni tercinta (ceileh) @widiwonka, lah si Opik ada saudara plus temennya juga (Rara sama Ket) dari Bogor (IPB), rame deh. Namanya juga gue ya, kaga dimana mana, kalo udah kenal sama orang langsung rame (SKSD kale) 😄 Ini lucu, agak mainstream dan bingung juga mau kemana haha pertama ke Kota Tua, foto maksa pake tongsis disulap jadi tripod bertumpu tas-tas ransel kita, karena ga foto bareng semua, yaudah ga gue pasang disini. Haha tapi setelah lewat waktu maghrib, mulailah ada hal-hal konyol. Ke rumah teh Widi daaaaan tereeeeengg akhirnya bisa ketemu secara nyata sama Gendhis keponakannya teh Widi yang super kawaii menggemaskan 😍 Terus jalan kaki ke Pasar Buah Angke walau yang di jual bukan cuma buah 😂 Nah ini, the bottom line is... Ke St. Pasar Senen naik Bajaj ber-7 empet-empetan!! 💢 Bersama abang supirnya kita bertanya-tanya. Biasanya bisa muat ber-11 org! (Lumayan bisa dibikin transkip. Tapi yaudin lah ya. Ga perlu juga) 😄 Rara & Ket, beli tiket pada umumnya ke Bogor karna mereka ga mau nginep. Kita panik karena kirain mereka naik ke kereta jurusan Depok. Panik sampe Opik nyusul ke dalem kereta. Taunya, Rara sama Ket masih di luar liat kita ketawa-ketawa ngetawain paniknya kita (?) mana gue sama bang Fandi cuma sendal jepitan, celana kotor pula 😂 Pulangnya lagi, mau nekad jalan kaki. Hahaha. Tapi ga jadi. Begitu di jalan, THIS IS JAKARTA ON THE TRAFIC! Supir bajaj begitu yakinnya berasa punya nyawa 9 nyelip tajem. Not to used in Jogja lah walau Jogja juga ga l'empeng-lempeng' juga sih 😅 Pagi tiba, kita akhirnya harus balik ke realita 😂 Terimakasih banyak & sampai bertemu kembali Jakarta, teh @widiwonka dan keluarga! ❤