Sejujurnya ketika pertama kali tahu Tumblr diblokir, reaksi gue hanyalah oh. Udah, gitu aja. Gue langsung nyalain VPN dan yaudah menggulir Tumblr seperti biasa.
Sebelum para akun influencers menyebarkan cara membuka Tumblr, atau mengajak menandatangani petisi, gue sebenarnya sedikit senang ketika buka Tumblr dan isi dash hanyalah akun-akun luar negeri yang gue follow. Gue tidak merasa cemas, takut, sedih, atau apapun terkait pemblokiran tersebut. Biasa aja. Gue tidak peduli tulisan gue dibaca khalayak atau tidak. Yaudah aja gitu.
Gue somehow merindukan Tumblr yang tidak hiruk pikuk, apalag dengan konten yang serupa. Salah satu alasan utama gue pindah ke Tumblr 7 tahun yang lalu dari wordpress adalah karena disini sepi. Bahkan bisa diatur agar tidak terlihat saat di-search di google. Tenang aja rasanya gitu. Ngga pusing baca dash yang berisik, ngga pusing nerima hate comment dari anon, gue bahkan menulis Senandika dalam bahasa Indonesia sejak Tumbr diblokir karena yakin yang baca dikit ahay.
Pada dasarnya tergantung bagaimana memaknai Tumblr aja sih. Gue menulis untuk membuat mesin waktu yang kelak ketika gue butuh jalan-jalan ke masa lalu, gue punya rekamannya. Digital diary, like Kak Akhyar said. Segala fame di Tumblr itu cuma bonus.
Tapi gue tidak memungkiri, Tumblr mempertemukan gue dengan banyak teman-teman baru, bahkan orang-orang yang akhirnya jadi dekat sudah seperti saudara sendiri. Tumblr memberi keistimewaan itu, saling mengenal dalam level yang lebih intim, tidak seperti media sosial lain.
Gue juga bangga melihat antusias dan perjuangan akun-akun yang menggeriliyakan petisi untuk gain awareness. Kalian keren sekali, berinisiatif untuk bergerak membela yang kalian yakini. Ku juga sign, kok. Teruskan semangat seperti ini untuk berbagai hal dalam hidup ya.
On a lighter note, mari kita nikmati Tumblr yang hening sejenak sebelum kembali merayakan keriuhan ~