Hidup Bukan Melulu Soal Bahagia
Mungkin terdengar naif ya, masa iya hidup bukan untuk bahagia? Tapi begitulah kenyataanya, hidup bukan hanya tentang kebahagiaan.
Kamu kira, bersekolah di tempat paling bagus ga ada tugas-tugas yang bikin begadang semalaman?
Mentang-mentang kerja sesuai passion, ga bakal ada cerita dimarahi bos?
Peliharakucing-kucing lucu yang kita sayang aja bisa dicakar sampe berdarah dan membekas kok.
Hidup di kota besar negara maju dengan berbagai fasilitas, dipikir pajaknya ga tinggi? Sebaliknya, apa hidup di desa berarti ketinggalan? Ga juga.
Apalagi menikah, apa kalau udah nikah sama orang yang dicintai lantas hari-hari diisi dengan romantisme tanpa emosi? Hei, bangun, tidurmu kelamaan!
A good life needs some bad days too.
Semalem sempet baca-lebih tepatnya scanning-skimming sih-buku berjudul Pillow Thought II tulisan Courtney Peppernell, âYou canât skip chapters, thatâs not how life works. You have to read every line, meet every character. You wonât enjoy all of it. Hell, some chapters will make you cry for weeks. You will read things you donât want to read, you will have moments when you donât want the pages to end. But, you have to keep going. Stories keep the world revolving. Live yours, donât miss out.â
Life is like a book. Itâs not about happy ending. Itâs rather about the story. Not all things have a happy ending, but everything that has a beginning has an ending.
Jadi, jadilah manusia yang lumrah. We are human, of course it hurts. Jangan mengelak rasa sedih, kecewa, sakit hati, dan semacamnya. Itu bagian dari hidup.Kalau kata buku Never Split the Difference karya Chris Voss, seorang mantan negosiator FBI, â in life, you oftentimes donât get what you deserve you get what you negotiate. We negotiate with people, with human, in daily basis. Nobody leaves negotiation happy. But, when you negotiate, everybody wins.â
Ini buku udah lama banget dibaca, merasuk sampai sekarang. Sering kali dalam hidup, kita tidak mendapatkan apa yang pantas kita dapatkan, kita mendapatkan apa yang kita rundingkan dan sepakati. Kita bernegosiasi dengan orang-orang dengan sesama manusia, dalam keseharian.
Negosiasi mungkin tidak membawa kebahagiaan untuk siapa pun yang melakukannya, tapi dengannya semua orang menang-bahwa hidup itu bukan hanya tentang diri sendiri. Arahnya ke memahami kebahagiaan secara lebih luas dengan tidak mengerdilkannya hanya pada perasaan diri sendiri.
Kemarin lihat percakapan di Twitter isinya gini:
X:Â âThis sucks.â
Y:Â âWhat sucks.â
X:Â âBeing someoneâs 2nd.â
Y:âYou know what sucks even more?â
X:Â âWhat?â
Y:Â âNot even being someoneâs choice.â
Pasti akan banyak yang berdebat. Yah mending jadi back-up doing daripada ga dipilih sama sekali. Eh, ya mending ga dipilih daripada jadi yang kedua. See? It is about the way you see something. Bahagia itu seperti itu.
Refleksi lain, tentang harta kekayaan. Iya betul, bahagia bisa diperoleh dari materi duniawi, tapi tahukah kamu âno matter how much we have, we always want more: we always want what we donât have worse, people want what they canât have? Begitu terus siklusnya ga berhenti.
Percaya atau ga, coba jujur, beli barang yang bikin bahagia, rasa bahagianya sementara kan? lebih ke kepuasan bukan? Setelah itu ganti lagi pengen yang lain. Itulah kenapa sebagian pakar menyebut uang sebagai penyewa kebahagiaan. Karena kebahagiaan yang dihasilkan dari material possession itu bersifat sementara.
Belum lagi kalau kita hitung berapa banyak hal di dunia ini yang tidak bisa dibeli dengan uang?
Terus apa esensi hidup kalau bukan bahagia?
A simple life is a good life, but only if you can enjoy it. Enjoyment can be in many forms: CONTENTMENT, HAPPINESS, USEFULNESS.
Bisa dimaknai contentment < happiness < usefulness (dibaca: contentment sebagai fondasi happiness, usefulness jaih lebih besar daripada happiness).
Contentment itu merasa cukup (qanaâah), bersyukur dengan apa yang diberi dan dimiliki sehingga mandiri/tidak bergantung pada orang lain. Usefulness artinya bermanfaat, kebermanfaatan menjadi tolak ukur.
âSebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaaat.â (HR Ahmad)
Tujuan hidup bukan untuk mengejar kebahagiaan (happiness), melainkan untuk kebermanfaatan (usefulness)
Bahagia itu bukan why - jadi bukan tujuan. Bahagia adalah how.