Hikmah pengasuhan, sejatinya…
Hari ini, masya Allah banyak orang tua berbondong-bondong belajar parenting, merencanakan konsep pengasuhan sematang mungkin, tak jarang pula yang niatnya ‘agar tidak mengulang kesalahan orang tuanya yang dahulu’, hingga praktisi parenting pun banyak alirannya. Tentu ini adalah sebuah kemajuan, sampai aku dan teman-teman selingkaranku pernah wondering: kira-kira apa ya, tantangan yang akan dihadapi oleh anak-anak yang orang tuanya belajar parenting? Masalah baru apa di masa depan yang muncul dalam satu generasi tersebut? Hehe. Agak lucu, orang tua belajar parenting tapi malah khawatir akan tantangan baru sebuah generasi🤣, tapi bener juga ya. Setiap generasi pasti ada masalahnya.
Kali ini aku ingin mengabadikan 2 hikmah pokok pengasuhan, yang aku sarikan dari nasehat Teh Karina Hakman dalam kelas Series Home Education yang aku ikuti. Menurutku, dua hal ini menjadi pondasi bagi seorang Ibu - terlepas dari apapun aliran parenting-nya- dalam pengasuhan seorang anak. Dua hal ini pula yang PASTI bisa diaplikasikan dari Ibu zaman baheula sampai Ibu-ibu sosyielita zaman ayeuna.
Dalam Qur’an, kisah pengasuhan oleh seorang Ibu dicatat bukan tentang bagaimana mempersiapkan anak menjadi Hafizh Qur’an, atau anak yang pintar, atau bagaimana mengajari anak agar rajin sholat, bukan pula tentang bagaimana seorang Ibu itu mempersiapkan permainan terbaik, ataupun nutrisi terbaik. Namun tentang do’a seorang Ibu. Potongan kisah Istri Imran (yang beberapa ulama tafsir menyebutkan nama beliau adalah Hannah), berdo’a ketika masa kehamilan seperti yang tercatat dalam surah berikut:
(Ingatlah), ketika istri Imran berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku bernazar kepada-Mu, apa (janin) yang dalam kandunganku (kelak) menjadi hamba yang mengabdi (kepada-Mu), maka terimalah (nazar itu) dariku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Ali Imran: 35)
Sang Ibu, mendo’akan agar janin yang ada di dalam kandungannya menjadi hamba Allah, mengabdikan dirinya kepada Allah sepenuhnya ketika di dunia. Allah Maha Tahu ketulusan dan kesungguhan do’a sang Ibu, maka Allah kabulkan do’a tersebut secara spesifik: menjadi hamba yang mengabdi kepada-Nya. Siapakah dia? Dialah Maryam binti Imran, yang tidak hanya diterima do’a sang Ibu agar Maryam menjadi hamba yang mengabdi sepenuhnya, tetapi Allah juga jamin kehidupannya Maryam, rezekinya, pendidikannya, serta kesuciannya. Allah kirimkan Zakaria, yang juga seorang Nabi sekaligus pamannya, sebagai orang yang membantu memenuhi kebutuhan Maryam. Hingga Allah takdirkan Maryam mengandung janin, yang juga merupakan seorang yang istimewa, nabi Allah, Nabi Isa as.
Ketulusan do’a Ibu, pintu keberkahan kehidupan seorang Maryam. Sang Ibu ‘hanya’ berdo’a agar anaknya menjadi hamba yang mengabdi kepada Allah, lalu Allah beri lebih banyak dari pintanya. Dan siapa lagi yang lebih baik pengasuhannya daripada anak yang dijaga oleh Allah?
Berkisah pula kehidupan Ibunda Hajar, istri dari Nabi Ibrahim as., Ibunda dari Nabi Ismail as. Tentu kita tidak asing mendengar sepenggal kisah tentang Ibunda Hajar bersama bayi Ismail, yang ditinggal oleh Nabi Ibrahim atas perintah Allah, di padang pasir gersang, tanpa makanan, tanpa air, tanpa rumah. Alih-alih bilang tak sanggup, Bunda Hajar justru menerima ketetapan Allah untuk bersama dengan Nabi Ismail as. karena keimanannya yang luhur bahwa Allah tidak akan menelantarkan keduanya. Tatkala Ismail kehausan, Hajar berangkat mencari air, bulak-balik dari bukit Safa ke bukit Marwah, hingga 7 kali. Jika pakai logika, buat apa kembali lagi bulak-balik, tadi kan sudah dilihat tidak ada apa-apa. Namun, jauh dari itu, perjuangan Ibunda Hajar mengajarkan tentang ikhtiar manusiawi yang maksimal, sebagai wasilah pertolongan Allah datang. Tawakkal tidak berarti berdiam diri. Tawakkal artinya berusaha-semampu yang sang Ibu bisa, walau mungkin ‘tak linear’ dengan hasil yang akan Allah beri, membawa keyakinan penuh dalam hati bahwa Allah akan memampukan. Kala mata air terpercik dekat kaki bayi Ismail, disitulah mula keberkahan dari ketaatan Ibunda Hajar. Zam-zam, tidak hanya menghilangkan dahaga Nabi Ismail kala itu, tapi juga menjadi awal berdirinya kota Mekkah. Karena mata air tersebut terus ada dan mengalir, banyak kafilah dagang dari banyak tempat singgah, hingga ramai, lalu berdirilah peradaban di sana.
Siapa yang sangka, ikhtiar Bunda Hajar untuk ‘lari-lari kecil’ dari Safa ke Marwah, yang disertai keikhlasan dan ketaatan kepada Allah, yang niatnya ‘hanya’ untuk mencari minum anaknya saja, ternyata berkontribusi atas peradaban baru yaitu kota Mekkah, sampai hari ini menjadi peradaban ummat Muslim di dunia, semua terpaut hatinya ingin berbondong-bondong datang ke sana.
Kisah-kisah di atas menjadi refleksi besar tentang cara pengasuhan yang tidak boleh lepas dari seorang Ibu. Terkadang, waktu dan tenaga kita sedikit, kemampuan kita terbatas, pengetahuan kita tak banyak. Kita sering disibukkan dengan masalah anak: kok belum bisa jalan, kok belum bicara, kok hiperaktif, kok makannya susah, kok BB nya seret, kok belum bisa baca, kok rewel terus, kok ini kok itu. Laa hawla walaa quwwata illa billaah. Tugas Ibu adalah ‘lari-lari’ kecil seperti Ibunda Hajar, dan langitkan do’a terbaik seperti Istri Imran. Dengan hati yang bertawakkal.
Carilah keberkahan, dengan do’a dan ketaatan. Allah yang akan tambah. Allah yang jaga anak-anak kita. Allah yang mampukan anak-anak kita. Dari jalan yang mungkin tidak pernah kita sangka.
Bandung, 9 Maret 2023 | 23.24 pm