Jurnal Pekan 8 - Tahap Kupu-Kupu
Alhamdulillah alladzi bini’matihi tatimmush shalihat. Syukur tak terhingga karena bisa sampai di tujuan akhir perjalanan. Kalau bukan karena Allah yang menolong dan memudahkan, tentu saya tidak akan bisa melewati tahap demi tahap perjalanan menjadi kupu-kupu.
Bagaimana rasanya menjalani perkuliahan bunda cekatan, menjelajah di Hutan Kupu-Kupu Cekatan?
Masya Allah, luar biasa rasanya. Berbagai emosi saya rasakan selama perkuliahan bunda cekatan ini. Dari yang excited, semangat, deg-degan, tak jarang rasa malas menghampiri, sampai terbesit untuk skip setor jurnal. Dari kesemua rasa itu, alhamdulillah saya menikmati semua prosesnya.
Selama kurang lebih 6-7 bulan di hutan kupu cekatan, saya belajar banyak hal. Mulai dari mengetahui potensi diri, menilai kapasitas diri, berani mengatakan tidak tertarik pada materi yang menarik karena harus fokus dengan hal yang ingin ditekuni. Saling berbagi hal yang kita miliki, tidak melulu menerima dari orang lain. Untuk saya yang sering insecure, satu hal berharga yang saya latih kembali adalah untuk tidak membandingkan kemajuan diri dengan orang lain. Karena saya berkompetisi dengan diri saya sendiri. Perjalanan ini juga mengajarkan tentang konsistensi dan kesabaran.
Bagaimana perasaan selama mentorship di tahap kupu-kupu?
Aliran rasa selama mentorship sedikit banyak sudah saya ceritakan pada jurnal pekan sebelumnya. Pastinya saya bahagia karena Allah rezekikan saya untuk bertemu dengan mentor yang ahli dalam bidang yang ingin ditekuni. Mentorship ini mengajarkan saya untuk berproses dengan tetap menjaga adab-adab belajar. Tentunya selama dua bulan mentorship ini tak luput dari kekurangan, terutama saya sebagai mentee. Tapi ilmu yang saya dapatkan dari mentor, insyaa Allah amat berguna dan akan terpakai terus dalam keseharian.
Apa yang membuatku terus bertahan?
Saya ingin menyelesaikan dengan baik apa yang sudah saya mulai. Saat ada rasa malas muncul, saya mencoba mengingat kembali alasan kenapa saya ada di sini. Karena proses yang sedang dijalani ini, hasilnya untuk diri sendiri, baru kemudian bisa ditularkan ke orang lain, maka tidak ada alasan untuk menyerah. Selain itu, karena saya merasa jika melewatkan kesempatan ini, belum tentu ke depannya saya bisa dapat kesempatan lagi. Maka selagi pintu ilmu Allah buka lebar di hadapan saya, sebisa mungkin saya tidak ingin menyia-nyiakannya.
Menyelesaikan metamorfosis di hutan kupu cekatan bukan berarti pembelajaran saya selesai, malah justru ini adalah awal untuk mengendapkan ilmu dan menjadikannya laku hidup. Tujuan yang saya tuliskan di awal, belum seratus persen saya raih, tapi alhamdulillah saya bisa melihat bahwa saya terus mendekati goals tersebut.
Jazakumullahu khairan untuk semua rekan, Magika, peri hutan, dan seluruh tim Bunda Cekatan batch 2 IIP. Barakallahu fiikum :)