Ini pengalaman pribadi. I'm 26 years old and will be 27 soon this December. Just got married last July and i feel like i'm the happiest woman-wife in this world cause i have a very wonderful husband. Suami ku hebat. Dia pekerja keras, dia sayang keluarganya, dia tunjukan ke betapa pentingnya aku untuk dia dan betapa pentingnya rumah tangga kami (yang padahal umurnya baru mau jalan 2 bulan). Rewind jauh, ada tiga orang yang terngiang di benakku ketika kata "mantan" tersebut. Akupun pernah pacaran, sayaaaang sekali sama seseorang. Betul-betul dunia ini isinya hanya dia. Jadi ketika kami putus, apapun itu alasannya, rasanya duniaku hancur. Makin hancur lagi saat orang tersebut dalam waktu singkat sudah punya pacar yang lain. Ouch. Separah apa aku ketika putus cinta dulu? Berat badan turun 4-5kg dalam seminggu (gausah program diet haha), prestasi akademik melonjak turun sehingga mengancam kelangsungan pendidikan ku yang berikutnya. Di rumah pun aku seperti tidak punya kesibukan lain selain melihat ke layar handphone sambil menangis. Cukup lama sembuhnya. Ini semua terjadi di masa SMA. Maka ketika akhirnya aku diterima di salah satu perguruan tinggi negeri paling elit di negara ini, aku pergi tanpa ragu dan tidak menengok ke belakang sama sekali. Oh ya, sementara itu mantanku hanya kuliah di perguruan tinggi yang biasa-biasa saja. Yes! "1-0", pikirku. Aku merantau, dari kota kecil yang biasa-biasa saja, menjadi anak ibukota (ups, sebentar lagi pindah ya haha). Tidak hanya penampilan dan gaya berpakaian, cara berpikir, lifestyle dan masih banyak lagi, ikut berubah menyesuaikan culture di kota yang ramai ini. Prestasi akademik ku pun bagus. Sehingga aku bisa lulus tanpa kendala dan dapat pekerjaan bagus sehingga aku terbilang mapan. Aku pun sangat mampu membiayai kehidupan ku sendiri tanpa bantuan uang dari orang tua. Mampu jalan-jalan keluar kota (yang mana sebagian dibiayai kantor karena memang untuk urusan pekerjaan), mampu beli gadget keren, baju bagus, makanan enak, dll. Sampai akhirnya aku melepas masa lajang dan menikah dengan suamiku saat ini. Alhamdulillah kami mapan, sangat mapan. Kemudian aku sering mengabadikan momen jalan-jalanku ini ke dalam instagram. Lumayan untuk pamer, padahal jalan-jalannya tidak seberapa dibanding bekerjanya but i'm happy and that's what matter for me. Setelah menikah, aku memberanikan diri mem-follow ketiga mantanku tersebut. Diaccept dan mereka follow aku balik. Seakan mau pamer bahwa, "Hei, aku sudah jadi pribadi yang jauuuh lebih baik." atau.. "Untungnya dulu kita putus ya, kalau tidak, mungkin hidupku tidak akan sebaik sekarang." atau.. "Ini aku, wanita yang dulu kamu buang, kamu injak-injak, sekarang sudah jadi seperti ini. Menyesal?" atau.. "Aku jauh lebih bahagia. Tanpa kamu." Jadi, ketika kita merasa hidup seperti hancur dan susah move on, gak papa, nikmatin aja masa-masa sedih itu kemudian bangkit. Tunjukan sama orang-orang yang sakitin kita bahwa kita jauh lebih berharga dari perlakuan mereka. Tunjukan kalau tanpa mereka justru kita bisa jadi jauh lebih baik. Tunjukan bahwa kita bisa berhasil dalam segala bahkan lebih baik dari mereka. Sedih boleh, tapi jangan mundur. Kita tetap harus maju. Ingat, Tuhan selalu menyimpan yang terbaik di belakang, setelah kita berusaha semaksimal mungkin. Dan sekarang, aku dengan bangganya bisa menunjukan itu semua ke mantan-mantanku, walaupun butuh waktu yang cukup lama, tapi aku berhasil. Kita semua bisa berhasil. Luv.