“She didn’t want it to be 7. So they stopped at 6.”
He said.
She tought there will be a way, but he passed and moved. And seems happy.
He chose to be happy,
so she did.
17-08-2019
hello vonnie
Keni

★

No title available

Discoholic 🪩

Janaina Medeiros

⁂
Claire Keane
will byers stan first human second

if i look back, i am lost
we're not kids anymore.
ojovivo
sheepfilms
DEAR READER
Misplaced Lens Cap
i don't do bad sauce passes
styofa doing anything
Cosmic Funnies

Andulka

shark vs the universe

seen from United States
seen from Lithuania

seen from United Kingdom
seen from Latvia
seen from Colombia

seen from Germany

seen from United States
seen from Türkiye
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom

seen from Germany

seen from Germany
seen from United States
seen from France

seen from Spain

seen from United States
seen from Colombia
seen from United States
seen from Ecuador

seen from United States
@lorentialaras
“She didn’t want it to be 7. So they stopped at 6.”
He said.
She tought there will be a way, but he passed and moved. And seems happy.
He chose to be happy,
so she did.
17-08-2019
Aku “membersihkan” handphone lamaku semalam. Memilah mana yang perlu disimpan maupun dihilangkan. Menimbang relevansinya dengan keadaan saat ini.
Dan tentu saja aku menemukan beberapa hal. Seperti hukum kekekalan energi, ini juga berlaku di hidupku. Tidak ada yang benar-benar hilang, tidak ada yang tanpa jejak walau sudah dihapuskan. Dia hanya terkubur jauh di dalam, mungkin mati, mungkin sedang mencari cara untuk kembali tumbuh, atau mungkin memilih menikmati kesunyian.
How does it feel? Menilik kembali semua kejadian yang sudah membentukku hari ini tentu melelahkan dan membuatku campur aduk hingga tanpa sadar beberapa tetes jatuh.
Jujur ada bagian dari diriku yang berucap “what if” dan memikirkan possibilitiesnya. Tapi sebagian lainnya mengatakan “it is what it is”
…………..
Pagi ini aku kembali mengunduh tumblr yang sudah lama ku tinggalkan. Membaca tiap tulisan sambil merasakan berbagai sensasi tubuh karena teringat banyak hal. Ada perasaan bersyukur karena semua tidak berlalu begitu saja dan kini aku sungguh menghargai semua tulisanku. Ternyata menulis tidak hanya sebagai ungkapan emosi, tapi juga sarana refleksi dikemudian hari. Dan sepertinya mengunggah beberapa draft akan menjadi bentuk menghargai diri sendiri, sekaligus sebagai pengingat sejauh mana aku sudah melangkah.
Saya Benci Matahari
Nggak, bukan berarti saya takut panas, takut hitam, takut gosong, tapi benci bagaimana matahai datang begitu cepat disaat saat belum tidur sama sekali.
“Astaga, lingkaran matamu, lho!”
“Kok anget sih badanmu? Udah berapa hari tidur pas udah mulai terang?”
“Kesehatanmu, nak. Itu kasian badan sama otakmu.”
“Buset ada yang belom tidur, jam 4 masih sempat balesin chat nggak penting.”
Sejak lulus SMA karena terbiasa begadang buat belajar persiapan UNAS sebelumnya jam tidur memang mulai berantakan. Aturannya sebelum 11 atau diatas 2 yang artinya saya sudah harus tidur sebelum pukul 11 dengan konsekuensi terbangun jam 4 dan berujung goler-goler di kasur sampai semua sudah bangun, atau baru tidur lepas jam 2 dan bangun bebarengan saat semua orang bangun.
Kondisi makin parah ketika awal kuliah karena mengikuti metode belajar dan tidur seorang teman. Tugas-tugas menumpuk dan otak saya bekerja dengan lebih baik lewat tengah malam hingga subuh, padahal waktu itulah biasanya saya tidur. Barang 20-30 menit saya harus memejamkan mata. Akhirnya saya membuat kasur setidaknyaman mungkin, buku bertebaran, alat tulis dimana-mana, laptop menyala, lampu menyala sehingga dipastikan saya tidak dapat tidur pulas namun tugas-tugas saya beres dengan sangat memuaskan. Kalau ada yang mau tahu apa rahasianya beberapa kali menghasilkan best papper di kelas saat tahun pertama kuliah saya, ya inilah jawabannya. Tapi sebaiknya tidak dicontoh.
Ketika semester-semester berikutnya tidak menuntut banyak begadang, saya memilih melakukan aktivitas fisik sebelum tidur yang membantu saya mengantuk lebih cepat. Cukup berhasil walauppun tidak selalu. Lambat laun waktu tidur saya kembali menjadi 11/2. Lumayan. Bahkan sempat ada suatu masa ketika saya dapat tidur pukul 11 tanpa terbangun subuh.
Tapi sayangnya, begitu saya melanggar jam tidur, begitu pula seterusnya jam tidur akan berantakan. Sampai saat ini, Awalnya saya kira ini karena buku bacaan, karena gadget, karena internet, tapi buktinya juga saya tetap tidur larut walaupun tanpa mereka. Pengkondisian segala bentuk sudah dilakukan dan sayangnya cuma bersifat temporer. Mulai dari ruangan gelap, penutup mata, wewangian, sampai musik pengiring tidur juga cuma bisa bertahan beberapa hari membantu saya tidur lebih cepat.
Memasuki masa bekerja di biro psikologi dan pembuatan skripsi-yang-tidak-kunjung-selesai ternyata membuat jam tidur lebih kacau lagi. Transference dari klien sampai keinginan muluk terhadap buah karya di akhir jenjang S1 seringkali buat saya baru tidur disaat orang-orang mulai keluar untuk jogging! Nggak cuma sehari, tapi bisa beberapa hari berturut. Capek. Akibatnya saya jadi kurang produktif. Otak tidak lagi seaktif masa 11/2 ataupun awal kuliah dulu, dan lebih parahnya saat siang hariu pun juga tidak dapat digunakan dengan maksimal karena ada yang lain yang butuh dicermati juga.
Tenang, tenang yang tak kunjung datang Menanti-nanti cahaya-Mu, beri aku petunjuk-Mu Tenang, tenang, oh, datanglah tenang hari ini
Unreal, but it’s happening. I’m here, Jakarta.
Dikabulkannya Doa
“Seneng nggak, Ras? Is he the one that you always looking for? Is he the answers of all of your pray?”
Nggak tahu. Sejauh yang diingat saya nggak pernah berdoa meminta teman hidup secara spesifik. Sepertinya saya sudah terlalu lelah meminta. Pelajaran 7 tahun kemarin juga membuat saya memilih untuk santai dan menikmati masa bebas mingle sana sini, mengingat hampir seluruh masa remaja akhir dan dewasa awal dihabiskan dengan cerita yang sama, konflik yang sama, nama yang sama. Bisa dibilang kemudiannya menjadi fase balas dendam dan mencari validasi diri mungkin. Mengumpulkan pecahan pride lewat memainkan api beberapa orang. Brengsek memang.
Mungkin lebih tepatnya, “Mama Bapak sudah berbuat baik apa saja sih, atau berdoa sekencang apa sampai anak perempuannya yang brengsek ini dipertemukan dengan orang seperti ini? Nggak hanya dipertemukan, tapi semuanya berjalan mulus. Nggak pernah terbayangkan sebelumnya karena di atas kertas sepertinya akan banyak sekali halangannya.”
.....
“Senang nggak, Kak? Bersyukur ya Kak, akhirnya yang selama ini diminta dalam doa dikabulkan.”
.....
Mungkin benar, di luar sana ada orang-orang yang selalu mendoakanmu, meminta segala hal yang baik dicurahkan buatmu. Atau mendoakan dirinya kelak akan saling bertemu dalam waktu yang tepat. Sedangkan saya, si malas berdoa dan bahkan terlalu tinggi hati untuk meminta kepada Yang Mencipta ini, ikut kebagian berkat dan sukacitanya.
Mereka yang berbahagia doanya dikabulkan, saya yang beruntung.
Beruntung kah saya?
Hidup Ternyata Memang Penuh Kejutan
Sudah lama saya nggak menulis, tepatnya nggak publish tulisan saya. Beberapa tulisan tersimpan di draft, masih berantakan tapi jujur dan spontan. Beberapa pemikiran terekam pada media yang lain, sebagian sudah tersampaikan dan cukup membuat lega sehingga nggak perlu dituliskan lagi.
Kalau melihat postingan saya terakhir, isinya ucapan syukur dan apresiasi diri sudah bertahan sejauh ini di Jakarta. Kota yang sama sekali nggak pernah ingin saya tinggali. But look at me now. Siapa yang sangka kalau seorang Laras akan menghabiskan setidaknya usia produktivitasnya di sini. Berusaha memelihara keluarga di sini.
Berangkat ke Jakarta diusia 26 tahun dalam kondisi habis patah hati, muak, kecewa, dan marah tehadap banyak hal. Patah arang dan ingin menyerah, berontak sambil memainkan api beberapa orang, sampai akhirnya berusaha menerima kondisi. Berdamai dengan diri sendiri, berusaha menikmati keruwetan hidup, dan disaat itulah semua berubah.
Siapa sangka, dalam dua tahun semua hal berbalik. I found someone who loves me, and finally I knew that it grows. Bukan lagi cerita masa muda yang penuh infatuation dan hasrat, tapi dipenuhi logika, sekaligus harapan, dan entahlah, mungkin doa.
Dalam sekejap semua jadi terasa begitu membahagiakan, bisa dibilang tanpa tantangan berarti dan banyak kepsarahan dan keikhlasan yang mengiringi. Mungkin ini yang namanya berkelimpahan berkat.
Bahkan ketika akhirnya ada yang terambil pun, walau belum sempat dimiliki, hangatnya berkat masih bisa dirasakan.
Cheers to me!
Been a year here, in Jakarta. I'm still alive this far. Yeay!
How does it feel like? To live here, to create stories and make some memories here, to learn something new, to be more brave and bold, to be more patient and appreciate all the small gestures from circles even strangers, to be less naive and reckless.
Thank you, Laras. Thank you for making this far. Thank you for your willingness to try, thank you for enjoying every day, thank you because you already grow, thank you for give it, this city a shot last year.
I'm sorry because sometimes I pushed hard. I am apologize because sometimes I love you because and it means conditional love. I am really sorry for the moment I refused to listen and start throwing shits to you.
You made this far, Laras. You're doing good, you're doing great, you survived, just like what you've said.
Many more years to come and live here? Maybe. It might be.
Yes, it is worth it to let people in
One small crack doesn’t mean you’re broken. It means you were put to the test and you didn’t fall apart.
Linda Poindexter (via onlinecounsellingcollege)
Euphoria (2019-)
Menulis
Ternyata sudah lama saya nggak nulis, yah. Menulis yang benar-benar menulis. Menulis gagasan pikiran, maupun perasaan. Ada beberapa tulisan mengendap di draft, menunggu entah kapan akan dipost karena masih menimbang kelayakan dan perasaan pihak-pihak terkait kalau terbaca. Yah sekali lagi, kalau terbaca.
Sebenarnya aktivitas menulis saya tetap berjalan, hanya saja belakangan ini tulisannya amburadul. Hanya satu-dua kalimat panjang, terpotong-potong, nggak utuh. Yah mungkin ini gambaran kondisi saya saat ini yah. Tapi karena bekerja dikelilingi editor dan penulis, saya jadi malu dengan tulisan saya sendiri. Padahal kalau dipikir-pikir lagi saya menulis buat diri sendiri, untuk katarsis, untuk jurnal pribadi yang masih oke bila dibaca segelintir orang, bukan untuk kepentingan pasar, jadi kenapa saya malah behenti ya.
Disatu sisi saya berharap menulis kembali jadi kebiasaan, apapun kontennya, bagaimanapun kondisinya. Semoga setelah hari ini, kebiasaan dan pola lama saya ini kembali. Ayo, menulis!
Pesan dari Seorang Teman
Jujur atas apa yang dirasakan, jujur atas apa yang dipikirkan, jujur atas apa yang terjadi pada diri, kemudian menerima kondisinya yang merupakan bagian dari pengalaman hidup
Social Distancing Day 9
Disaat-saat seperti ini bersyukur banget punya keluarga dan kerabat yang tersebar di mana-mana.
Ketika sakit dan badan butuh booster yang sudah mulai susah dicari, ada kerabat orang tua yang baik banget kirim beberapa botol jamu dan vitamin ke kosan. Padahal nggak pernah ketemu, bahkan kenal sebelumnya.
Ibu kosan baru yang belum ada seminggu saya tinggali, yang terlihat galak tapi care banget, yang suka tanya kabar karena tau saya lagi kurang fit, sampai menyediakan air dan sabun cuci tangan di depan kos supaya bisa dipakai siapa saja yang lewat.
Saudara dan teman-teman yang saling peduli menanyakan kabar dan menyemangati, memberikan afirmasi positif.
Sampai keluarga yang bersedia “nampung” anak kosan yang mulai susah cari makan dan super bosan karena terkurung di kamar kos yang nggak seberapa.
Pernah baca suatu kisah tentang anak yang tinggal jauh dari keluarganya dan mengalami kesusahan, kemudian mendapatkan bantuan dari orang tidak dikenal, dan disisi lain keluarga si anak walau dalam kondisi yang tidak berlebihan bersedia membantu siapa saja yang membutuhkan bantuan. Singkat kata bantuan yang diterima anak merupakan karma baik orang tua.
Jadi apakah sekarang saya juga sedang menerima karma baik orang tua?
Surreal
Been almost a month here. It wasn't my first time living alone, far from home, far from whose I called family, but this is the hardest time for sure. This used to be the place that I never dreamt of, place that I swear I'm not living in.
But sometimes life is a joke and he gives you lemons.
I still remember cried on car, in the middle of traffic jam on my day 3. Denied the fact thay I have to live here and dealing with all the bad and bright side my birthplace could give.
First two weeks was nightmare. Thousands protest against new criminal code affect my office. There was a moment I went to Bogor and couldn't went back to office because of the chaos. Even getting out from KRL station to get some transport was that hard. Yeah, my office close to DPR building. Even I pretend to be cool and okay that time, it was terrified. The moment I crossed the road with Bang Gojek in between people who threw the rocks or everything they can grab, 300m away from my office. Police yelled and told them to back off. I just can hold my tears and anger, and for the very first time I pray for my safety. The security guard helped me to get in to the office. I said to mom "I'm okay, no worries" while my eyes burnt because of the tear gas and I was cried to sleep that night.
It just feels like hell and this remind me the reasons why I don't want to live here.
But let it be....
I can survive.
I will survive.
As always.
I'm a survivor.
Kebon Jeruk, October 10th 2019