Hari ini aku pulang ke rumah.
Konsep rumah yang satu ini adalah kwajiban, kenyataan pahit yang sama sekali tidak nyaman. Itulah rumah. Sarang penderitaan.
No title available
đ©” avery cochrane đ©”

romaâ
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

⣠Chile in a Photography âŁ
Aqua Utopiaïœæ”·ăźćșă§èšæ¶ă玥ă

shark vs the universe
taylor price

blake kathryn
almost home
Cosmic Funnies
Lint Roller? I Barely Know Her
todays bird

oozey mess
YOU ARE THE REASON
occasionally subtle
No title available

Jimmy Eat World
No title available
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

seen from United States

seen from United States

seen from Brazil

seen from Australia
seen from Brazil

seen from Singapore
seen from Venezuela

seen from Kosovo
seen from Germany

seen from TĂŒrkiye

seen from United States

seen from Argentina
seen from United States

seen from Uruguay

seen from Philippines
seen from United States
seen from Germany
seen from TĂŒrkiye
seen from Ecuador
seen from Brazil
@lostandfoundwitchsstuff
Hari ini aku pulang ke rumah.
Konsep rumah yang satu ini adalah kwajiban, kenyataan pahit yang sama sekali tidak nyaman. Itulah rumah. Sarang penderitaan.
Early Friday
Last night was early friday!
I met someone quite unique. I was thinking of Li Shang in Mulan when I first saw him. I saw him look at me like this:
He is the live version of character, one of many in Mulan, that I love the most.
Indeed. he is very kind and sweet, and full of dreams.Â
And for that reason, me and him not going everywhere.
Done.Â
Isolasi Mandiri hari (ke-2)
butuh positif covid untuk akhirnya bisa punya waktu luang kembali dan menulis seperti ini. sudah cukup lama sejak dulu jadi penggangguran.Â
Hari Selasa di tanggal yang cantik (22/02/2022), aku divonis mengidap COVID-19,entah varian apa karena yang ku rasakan dari pulang kantor di hari Senin adalah badan meriang dan batuk. Demam dan batuk terus berlanjut hingga hari berikutnya.Â
Hari Rabu, hasil PCR ku keluar dan ta...da... positif. Pacarku yang super dan sempurna dalam segala hal selalu menemani sampai di hari Rabu ini.
âTidak ada gunanya aku ke Yogyakarta kalau kamu juga tidak berangkatâ, ujarnya pagi tadi. manis? iya manis sekali. aku beruntung punya pacar yang mengasihiku tanpa melihat penyakitku.
Kemudian dia tes PCR dan hasilnya adalah negatif. Aku bersyukur orang terdekatku dalam keadaan sehat. Setelah hasil keluar negatif, ia pun langsung pesan tiket malam ini ke Yogya.Â
Tidak bisa dipungkiri, kita belum siap menganggap COVID-19 sebagai flu biasa. perlakuan orang-orang setelah aku mendapatkan hasil antigen positif saja seakan-akan aku membuat kesalahan besar dan telah berkompromi dengan kebersihan. Setiap ada orang yang positif akan ditanyakan âdapat dari mana?â.Â
Hari ini gejala yang aku rasakan masih sekitar demam, nyeri punggung, radang tenggorokan dan batuk. Aku ingin membuat jadwal ISOMAN selama 7 hari kedepan. nanti haislnya akan ku posting lagi. peace.
We are the unit of so many experiences. What I felt yesterday, made me jump back into the complex nonstalgia of the past. The most dangerous kind of nostalgia.
Tasting the past will only make me feel greedy for sadness.
Malam ini, aku menimbang dengan neraca Libra.
Di sisi yang satu adalah bersama dengan kamu dan di sisi yang lain adalah kehilangan kamu.
Kok jadi terdengar sentimental ya hahaha...
Baik, dikoreksi:
Di sisi yang satu memenangkan permainan ini dan di sisi lain mengalah.
Aku merasa terjebak dalam permainan yang aku buat. Aku sudah melanggar banyak aturan main. Mungkin ini saatnya untuk berhenti.
Bagian terberat dalam menimbang kali ini adalah: apakah mengalah akan bermakna signifikan untuk hidup yang akan kubangun.
Kamu selalu bilang soal waktu, sementara aku selalu acuh soal waktu. Mungkin karena orientasiku adalah keindahan, kenikmatan, eksplorasi. Banyak hal bisa dikompromi.
Malam ini, kamu membuat aku jadi berpikir banyak soal waktu. Kalau waktuku habis di kamu, berapa detik yang bisa aku alokasikan untuk menyelam, berapa menit yang bisa aku alokasikan untuk mengajar, apa bisa kamu terlibat dalam hidupku tanpa merasa jadi selingan?
Tidak. Tidak. Tidak.
Lebih baik tidak usah bersama.
Aku tidak melihat keintiman dan perasaan romantis saat bersama kamu bisa bernilai sama dengan waktu yang ku habiskan bersama anak-anak di kelas, atau duduk berbincang dengan orang-orang jalanan.
Kalau kamu hanya cari kesenangan, bermain dengan pelacur lainnya saja. Aku melacur pada tujuan kesengsaraan, bukan kesenangan.
Aku lebih baik hidup tanpa perasaan sentimental yang selalu membuat aku suram. Hatiku terlalu luas untuk cuma jadi taman bermain anak-anak.
Kenapa ya aku selalu saja mendapat orang-orang berhati gurita.
Saya sadar saya tidak istimewa.
Banyak orang lain yang menyukai hal-hal seperti yang saya senangi:
Kegirangan untuk bertemu dengan orang asing.
Keinginan untuk tahu cerita orang.
Kemauan untuk dipuaskan dan memuaskan.
Hasrat untuk dikuasai dan ditindas.
Dorongan untuk menikmati kekerasan dan dilecehkan.
Saya sadar saya tidak istimewa.
Hanya secara aktif mencari orang yang berpotensi membunuh saya.
Hanya ingin bercumbu dalam hening.
Merasakan rengkuhan sentimental sampai tingkat molekular.
Perasaan nyaman, tenang.
Kapan lagi bisa ku lumat bibirmu dengan damai.
where to go, little mind
I canât find any reason to leave
I canât find the reason to stay eitherÂ
I donât know where to go
many doors open
many keys given
but little mind canât decide, where to go
Kirimakuta
Mungkin,Â
ketika Tuhan membentukku
Ia memilin banyak tempat di sudut-sudut otakku
Aku adalah aku dengan segala rahasiaku
seperti menyulam kebenaran
kerahasiaan membuatku
seutuhnya aku
Mungkin.Â
mengeluh di hari ke-2.Â
berusaha untuk mendapatkan ketenangan batin dengan bangun lebih pagi, buat catatan apa aja yang harus dikerjakan hari ini, masak, dan bemeditasi.
sudah cukup lama tidak bermeditasi. Bersaat teduh dan merefleksikan hidup. Belajar menghargai waktu luang. Menumbuhkan harapan dan menjaga pikiran tetap positif.Â
Enam tahun belajar di sekolah dasar. Tiga tahun belajar di sekolah menengah. Tiga tahun belajar di sekolah menengah atas. Empat tahun di Universitas untuk gelar sarjana. Satu tahun di Universitas untuk gelar TUKANG OBAT.Â
Sekarang saya belajar untuk menelaah hidup lagi, sebelum belajar lagi. Saat ini di siklus hidup normal, harusnya saya sudah bekerja. Di sinilah saya, berkeluh, mengarsipkan hal-hal yang tidak saya kirimkan di Instagram (orang lain juga begitu).Â
Di sinilah saya, tukang obat yang sedang mencari pekerjaan, bicara dan bertutur keluh. Saya percaya tidak ada yang peduli pada kiriman saya. Jadi, menulis esensinya adalah terapi untuk diri saya sendiri.Â