Hari ke-1 Papah meninggal
Harusnya aku dan anak-anak nanti malam berangkat rekreasi sekolah dan minta diantarkan Papah. Tapi, malah aku yg harus mengantarkan Papah pulang. Pulang untuk selamanya. Pulang kepada pemilik sesungguhnya.
"Papa kecelakaan neng RS panglegur"
"Duli kadinnak. Jhak pekkeren kalakoan ghelluh"
Biasanya Papahku kuat sehat. Sakitnya seperti apa, selalu bilang tidak apa apa. Tapi, aku mulai gamang saat dokter melakukan RJP begitu aku sampai di UGD. Saat mereka berhenti, aku tau aku harus ikhlas. Aku sentuh kakimu dingin, Pa.
Aku antarkan Papah ke tempat peristirahatan terakhir Papah dengan banyak penyesalan yang entah harus aku runut dari mana.
Wajah tua Papah masih terbayang jelas. Suara dan nadanya masih terdengar jernih.
Aku menyesal harusnya aku turuti saat Papah minta diperiksa gula darah. "Papah sering kencing, Dek." Begitu katanya. Tapi, aku abai karena Papah tidak pernah ada riwayat penyakit.
Aku menyesal saat Papah minta uang sekedar 20rb. Aku lagi abai. Kupikir kau bercanda karena buat apa, toh Papah punya lebih dari yg kupunya
Aku menyesal karena semua kebiasaanmu masih berotasi di pikiranku. Pulang sholat shubuh dari masjid, mengantar jemput anak-anak sekolah, pulang ke rumah jam setengah 5, sholat maghrib dan isya' ke masjid, mengunci pagar rumah, menonton tv dan tidur. Biasa saja tapi kami akan rindu, Pah.
Setiap ada suara motor beat mendekat, aku berharap itu adalah Papa yang pulang tapi hanya lebih larut dari biasanya.
Tadi, Biyu bilang mau ke masjid. "Aku mau ke masjid, Bun. Mana Kakek?"
رَّبِّ اغْفِرْلِي وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيراً
Ditulis dengan kepala berdenyut sakit, mata panas, hidung berair, dada terasa sesak
___________________________________________