Simplexity [Jaerosé one-shot #5]
Jeong Jaehyun as River Orpheus Ramachandra
Roseanne Park as Aubrielle Ophelia Atmadja
River terdiam dengan wajah bingung begitu melihat anak kecil yang terlihat familiar, entah dari sisi mana ia kurang yakin itu, sedang berdiri, mendongak menatap kearah River dengan tangan memegang mobil-mobilan berwarna hitam pekat dengan corak seperti api berwarna merah.
“Hi?” Tanya River canggung. Jangan salahkan dia, lelaki berumur 25 tahun itu adalah yang terburuk jika menyangkut tentang anak kecil. Ia tidak ada niatan menikah, tidak ada niatan mempunyai anak, bahkan kehidupan malamnya baru benar-benar berhenti 1 tahun lalu saat dia terpaksa mengambil alih perusahaan raksasanya itu.
River masih ingin menikmati karirnya, dan segala privilege yang ia dapatkan sebagai pebisnis dari keluarga terpandang. Lajang pula.
Jadi saat berhadapan dengan anak kecil laki-laki yang berponi ini membuatnya canggung. Lagian siapa anak kecil di kediaman Atmadja pagi-pagi hari begini?
Ia berbalik, perlukah memanggil security? Jaga-jaga jika anak kecil ini tersesat. Tapi mana mungkin anak tersesat datangnya dari dalam rumah? Terlihat santai membawa mainan yang ia tahu adalah mainan resmi dari perusahaan mobil aslinya itu.
River tahu karena ia mempunyai satu mobil yang sama persis dengan mainan anak kecil ini, yang paling ia suka, namanya Bowie.
“Uhm good car you got there.” Lanjut River pada akhirnya, menunjuk mainan itu dengan senyum canggung. Pada akhirnya keduanya sama-sama diam. Bocah lelaki itu masih saja mendongak dengan wajah polosnya.
River menyugar rambutnya ke belakang, pada akhirnya mencoba melakukan pendekatan pada anak kecil yang biasa ia lihat pada orang-orang di sekitarnya. Lelaki itu menundukkan badannya, menggerakkan bibirnya berulang kali untuk membentuk senyum kecil.
“Little guy, can you open the door for me and let me in?” Tanya River pelan, bocah itu tanpa berfikir panjang langsung membukakan pintu kediaman Atmadja yang sebenarnya sangat besar itu, membuat bocah kecil itu kesusahan mencoba mendorong sekuat tenaga agar pintu tersebut bisa terbuka lebar.
River dengan cepat menegakkan tubuhnya, mendorong menggunakan satu tangan lalu diam-diam merutuki dirinya yang ingin terlihat keren. Jelas berat, sudah tahu Anton Atmadja adalah lelaki berkelas yang punya kesukaan tersendiri dengan semua hal yang disentuh emas. River yakin kerabat dekat keluarganya ini juga menaruh sejumlah emas pada pintu rumah tersebut.
“Can i come in?” Tanya River bertanya sekali lagi.
Bocah itu memiringkan wajahnya ke samping.
“Let’s meet mom.” Kalimat pertama yang datang dari anak kecil itu malah ajakkan agar River bertemu ibunya.
Meski sebenarnya pria itu tidak tahu menahu entah dari keluarga Atmadja bagian mana yang mempunyai anak lelaki ini. Karena sejujurnya ia tidak mendengar tentang adanya pernikahan.
Tidak mungkin kan Ophelianya yang cantik dan pemarah itu menikah? Memiliki anak pula?
Mendesah kecewa kalau memang benar, hati River mungkin batu dengan yang lain, tapi Ophelia selalu jadi pengecualian.
Perempuan manis dari keluarga Atmadja yang bersikap anggun dan jaga imagenya sudah melebihi tuan puteri resmi suatu kerajaan itu selalu membuat River tertarik.
Sederhananya karena Ophelia, yang biasa orang panggil sebagai Aubri atau Elle, itu selalu kelihatan malas dan jengah kalau sudah berhadapan dengannya.
Tapi sudah bertahun-tahun sejak Anton dan Yvonne, sang isteri, memberi jawaban kalau putri bungsu mereka sedang ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan.
Jadi rasanya tidak mungkin Ophelia menikah, apalagi tanpa terdengar kabar oleh lingkup sosial mereka yang berisik dan suka menggosip itu. Dimanapun perempuan itu ingin melangsungkan pernikahan, semuanya pasti akan datang dengan senang hati, kecuali River.
Ia akan merasa masam dan tidak senang, semata-mata fakta perempuan yang membuatnya sedikit tertarik dimiliki pria lain. Tapi proses move onnya tidak akan lama, ia yakin.
“Can i sit here?” Tanya River begitu ia masuk ke hunian keluarga Atmadja, bisa dilihatnya bocah itu tertawa menampilkan gigi kecilnya yang nampak bersih dan sehat. Sejujurnya gigi anak-anak terbaik yang pernah ia lihat, pasti orang tuanya pintar me manage makanan manis pada anak ini.
“Grandpa said, family can come and sit here whenever they want, daddy. Why would you asked me?” Tanya bocah itu dengan tawa geli.
River mengerjapkan matanya, anak ini barusan memanggilnya daddy ya? Atau telinganya sedang bermasalah?
“Uh…” Ucapnya terpotong begitu melihat sosok perempuan yang sudah lama sekali tak pernah ia lihat.
Aubrielle Ophelia Atmadja. Semakin cantik dengan menggunakan gaun dan kimono tidur yang sudah pasti terbuat dari kain sutera asli. Rambut pirang keemasan yang sangat sehat itu nampak dijepit dengan dengan rapi.
Lihat, setelah bertahun-tahun lamanya, bahkan saat pertemuan keduanya berlangsung di pagi hari saat kebanyakkan orang kelihatan berantakkan. Ophelia masih saja terlihat anggun dan cantik, tidak peduli dengan wajah tanpa riasan yang ditunjukkannya sekarang.
“Orion Phoenix Atmadja, i thought mommy always make it clear that no chocolate in the morning. And no eating or drinking—anything except water before you brushed your teeth.” Suara Aubrielle memenuhi ruang yang tadinya hening akibat panggilan tidak terduga dari bocah lelaki yang ternyata bernama Orion.
Dan yang ternyata adalah anak dari Ophelia manisnya.
“Maaf mommy, tadi Orion dream tentang swimming di sungai milk. Di mimpi rasanya enak banget, it makes Orion want to drink milk as soon as i wake up this morning. Sorry.” Ucapnya sedih karena disambut kekesalan sang ibu, Aubrielle yang tadinya ingin tegas, pada akhirnya luluh juga. Segera mendekatkan diri sebelum menaruh lututnya pada lantai, menarik anaknya mendekat.
“Dimaafkan untuk kali ini. Orion baby, you must remember, kalau mommy cuma memberi rules yang memang bagus buat baby ya? Inget kata beautiful dentist minggu lalu gak?”
Orion mengangguk, “It is better to brush your teeth before breakfast, because it protects your teeth from bad bacteria.”
Aubrielle tersenyum puas, kemudian segera menarik anak lelakinya itu ke dalam pelukan.
“Smart babyyy, you are so smart!” Seru perempuan itu dengan excited.
Nampaknya ia masih tidak sadar dengan kehadiran River yang berdiri di sofa paling ujung, sekarang melihat jelas figur Ophelianya itu dari berdiri di sudut ruangan dengan wajah merengut, menjadi penuh suka cita saat memeluk putranya.
Bisa terlihat jelas raut wajah Aubrielle yang tadinya nampak senang langsung menunjukkan wajah panik, ia segera melihat kearah pintu, tidak berfikir bahwa River sedang berdiri di dekat sofa ruang tengah tersebut.
Lelaki itu bahkan bisa melihat bagaimana Aubrielle menggumamkan namanya berkali-kali seakan ketakutan bahwa River memang ada disini.
Mata perempuan itu mengedar ke seluruh ruangan, dan begitu matanya menangkap figur River, ia segera terdiam berusaha menenangkan dirinya. Tidak ingin terlihat panik meskipun semua sudah terlambat.
Sedang River sekarang menatap lekat kearahnya.
Jadi, bocah lelaki bernama Orion itu memang anaknya dengan Ophelia ya?
Jika ditanya apa hubungannya dengan Aubrielle itu dekat, maka secara harfiah memang iya. Mereka tumbuh di lingkup sosial yang saling mengetahui, di satu titik juga rumah keduanya berdekatan.
River lebih tua dua tahun dari Aubrielle, lelaki itu dulu sering bermain bersama dengan kakak lelaki Aubrielle yang bernama Chase.
Aubrielle hidup dan besar seperti tuan puteri, selama ini juga lingkup pertemanan perempuan itu kecil, ia bukan sosok baik dan rendah hati. Hanya ingin berteman dengan sesamanya, jika ditanya kenapa, Aubrielle pasti menjawab dengan cara noble dan elegan, memberikan jawaban diplomatis yang terkesan halus.
“A famous saying once said, for us to associate ourselves with people of good quality. For it is to be alone than in bad company.”
Itu menjadi jawaban pamungkas dari Aubrielle Ophelia Atmadja, dan saat River memecah konsentrasi penuh kagum orang-orang pada Aubrielle dengan menanyakan.
“Standard dari orang berkualitas bagus itu gimana? Cuma memasukkan caviar, salmon, atau wagyu dalam tiap gigitan makanan yang ia santap? Kale, celery untuk vegetarian? Atau kalau mabuk harus cuma minum Dom Pérignon dan sekelasnya?” Pertanyaan tersebut terasa seperti olokan terhadap kelas yang selama ini Aubrielle berusaha tunjukkan.
Perempuan itu hanya tersenyum manis, lanjut menyesap teh sarapan inggrisnya dengan jari yang sudah di polish dengan rapi. Seakan diam dan senyumnya sudah jadi jawaban untuk pertanyaan mengejek River.
Tapi saat mereka berdekatan, Aubrielle langsung menegaskan kalau mereka adalah orang yang datang dari background yang sama. Standard yang River jabarkan sebagai ejekkan atas kehidupannya adalah hal yang memang berlaku di sekitar mereka.
“So the Atmadja’s princess not only know about the basic unwritten rich people law but have a sight about my life too? I’m honored that you keep an interest in me, princess. Truly.” Ucap River selanjutnya dengan senyum miring, andalannya untuk membuat Aubrielle kesal, memberi reaksi feisty yang selalu mendebarkan.
Rasanya selalu seperti tantangan.
“Listen here, River, aku bukan orang sok tahu. Aku memang tahu kalau itu adalah apa yang terjadi di kehidupan orang seperti kita, orang seperti kamu. Kamu kira berpesta tiap malam dengan teman-teman sepantaran, pulang sampai pagi, dan minum-minuman yang pada akhirnya minta bill puluhan atau ratusan juta rupiah itu normal? Enggak. Itu hanya normal di kalangan kita, jadi jangan merasa kalau kamu orang yang lebih baik.” Desis Aubrielle dengan wajah sinis.
River mengangkat tangan tanda menyerah, “Gak pernah bilang gue punya kehidupan yang lebih baik daripada lo, tuan puteri. Semua juga tau kalau nona muda keluarga Atmadja adalah model utama buat setiap keluarga membesarkan anak perempuannya. Table manners? Mengesankan. Public speaking? Even Martin Luther King, Jr ngerasa kesaing. Dan apa lagi hobby luar biasa lo itu? Yes doing charity, berkuda, main tennis, baca buku, kelas merangkai bunga, dan semuanya. Lo memang yang paling sempurna, Ophelia.”
Mendengar penjelasan panjang lebar yang keluar dari mulut manis River malah menyulut emosinya. Ia memang tumbuh dan besar disekitaran pria menyebalkan itu, tapi ia tahu lebih baik untuk tidak mengasosiasikan dirinya dengan River Orpheus Ramachandra, selalu berakhir dengan tangan mengepal erat.
Tuhan, Aubrielle harus menelfon instructor Yoganya malam ini juga, perlu mengeluarkan amarahnya yang selalu menggebu tiap kali berhadapan dengan River.
“Tiap kalimat ejekan kamu yang tertuju ke aku itu gak merubah fakta kalau kamu dan aku datang dari kelas yang sama. Kamu juga mengasosiasikan diri kamu dengan orang-orang yang sama dengan kamu kan?”
“Terus apa gunanya menyela pembicaraan aku dengan yang lain?” Tanya Aubrielle dengan tatap tajam, River menggigit bibir bawahnya, senang jika berhasil membuat Ophelianya kesal begini.
“Gue cuma nanya, Ophelia.”
“First of all, berhenti panggil aku Ophelia. Gak ada yang pernah panggil Ophelia kecuali opa, dan kedua, bertanya kamu bilang? Kamu jelas ingin menggiring opini kalau aku adalah orang yang jahat karena punya standard seperti itu dalam menilai orang. Like? Come on, River, we born and live like this. Don’t make me look like i’m a lunatic and bad rich people by saying pointless stuff like that in front of many people!” Serunya, kali ini mengeluarkan amarahnya dengan kesal. Tidak hanya sekali, atau dua, atau tiga.
River selalu saja mempunyai berbagai cara yang membuat Ophelia rasanya harus terdiam dan memasang senyum dibuat-buat karena ucapannya selalu memojokkan gadis itu.
“Princess you’re not lunatic and bad rich people. There’s only 2 kind of rich people in our society you know? ‘Boring-reserved-too-much-persona’ rich people and ‘Know-how-to-use-the-money-and-have-so-much-fun’ rich people.” Jelas River, mengangkat tangannya.
Kemudian ia menunjuk kearah Aubrielle, “Lo tipe pertama.” Lanjut menunjuk dirinya, kali ini tersenyum menunjukkan lesung pipi tanda senang.
“Gue tipe kedua, yang tau caranya bersenang-senang.”
Aubrielle menganga tidak percaya, kali ini tidak tahan untuk tidak mengeluarkan dengusan dan tawa tidak percaya.
“Cara have fun kamu itu gak berkelas sama sekali.” Ucap gadis itu pedas, perkataannya mengundang senyum tertarik dari River, ia mengangkat alisnya, menantang gadis itu untuk berbicara lebih banyak.
“Tau darimana? Lo gak pernah coba.”
“I’m a person with class, River. I only do things that contribute to well-being of people around me.” Ucapnya angkuh. Pria yang disebut namanya tadi terkekeh, tidak berhenti melihat kearah bibir ranum kepunyaan sang tuan puteri, ingin mengecapnya, gemas karena Ophelianya pandai bicara.
“I only do things that contribute to well-being of my mental-health and young spirit too! Lihat gue stress-free, berfikiran positive, gak melulu sinis ngeliat orang, dan terpenting orangnya suka senyum daripada alisnya dikerutin terus. Nanti keriputnya cepet loh disini kalau marah-marah” Jawab River. Tangannya terangkat, mengelus dahi perempuan dihadapannya dengan lembut.
Aubrielle menepis tangan itu kesal, paling sebal kalau River bertingkah semaunya seperti sekarang. Mereka tidak dekat, dan akan Aubrielle pastikan, mereka tidak akan pernah dekat.
“How going to a club to drink alcohol dan jelas-jelas terpaan asap rokok ke kulit itu bisa lebih bagus? Itu malah bikin lebih banyak bahaya untuk kamu.” Jawabnya.
River menahan tawa akibat Aubrielle yang tiba-tiba mengguruinya.
“You are such a perfect wife for me. When you finished college, let’s get married, Ophelia.” Ucap lelaki itu tiba-tiba.
Aubrielle bahkan tidak habis fikir kenapa ajakkan paling tiba-tiba dan tidak masuk akal itu ia keluarkan dengan seenaknya seperti itu, pemikiran menikah dengan River saja rasanya ia enggan.
“Not in this lifetime, and NEVER in million years.” Tegasnya sebelum berniat untuk melenggang pergi. River dengan cepat mengambil tangannya.
“Sabtu malam nanti, semua anak-anak dari perkumpulan nyokap kita bakal ke club bareng. Even your brother, dateng ya? Bareng gue?” Ajak River.
“Mau kesana aja tuh gak mungkin, apalagi bareng kamu.”
“Kali ini aja, kesana bareng. Lo harus familiar sama hal kayak gini, Ophelia. Gini deh, lo udah 18 tahun, bentar lagi masuk college. Di luar negeri kan? What we have here in our so called ‘club’, is nothing compared with their casual weekly college party there. Get used to it, i mean, coba aja dulu nanti lo bakal jadi orang paling ketertinggalan disana. Semua orang akan anggap lo aneh yang gak bisa membaur dan akhirnya semuanya gak mau berurusan sama lo. Persona lo bener bener hilang.”
Penyampaian River mengenai kehidupan kuliah di luar negeri membuat Aubrielle terdiam tak bergeming, pria licik itu tahu betul kelemahan Aubrielle betapa takutnya gadis itu menjadi outcast yang tidak bisa diterima oleh sekitarnya. Ia tahu pada satu titik, dirinya harus ikut ke acara seperti itu sesekali— dan River benar, ia tidak punya pengalaman sama sekali.
Masalahnya ia akan kuliah di Amerika, tahu betul college party disana adalah salah satu highlightnya.
River tersenyum senang melihat raut ragu mulai memenuhi wajah cantik Aubrielle, melihat jelas bagaimana wanita itu mnggigit bibir bawahnya, mempertimbangkan penawaran dari River.
“Tapi ada Chase juga kan kata kamu?”
“Iya tapi Chase berangkat sama Gio, they told me they’ll go from Gio’s. Jadi mending lo sama gue.”
Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya Aubrielle mengangguk kecil, masih nampak raut angkuh.
“Oke, tolong jemput tepat waktu. Kalau terlambat, aku gak akan berhadir.” Ucapnya lagi, melepaskan genggaman River dan melanjutkan langkahnya dengan elegan. Sedang River yang melihat punggung wanita itu menjauh hanya bisa menatap dengan tatap tertarik.
Bangun dengan keadaan tubuh yang sakit dan kepala berdenyut tidak kalah parah membuat Aubrielle rasanya tidak ingin pergi dari kasur ini.
Mata perempuan itu tadinya berhasil terbuka, tapi semuanya terasa blur dan menyakitkan. Akhirnya ia memutuskan untuk memejamkan lagi matanya, mengeluarkan lenguhan karena rasa sakit yang melanda sebelum mencoba duduk dengan segala kekuatan yang tersisa.
Saat ia benar-benar duduk, Aubrielle berusaha membuka matanya lagi, denyutan di kepalanya tidak bisa berhenti. Tangannya mulai menyusuri surai keemasan yang agak lepek pagi ini.
Akhirnya setelah beberapa lama, ia membuka matanya, melihat ke sekeliling dengan setengah sadar.
Aubrielle berada di kamar yang tampak membosankan, warna-warna monokrom mendominasi kamar tersebut.
Tunggu— kamar siapa ini? Kamar siapa yang ia sebut membosankan ini?
“Aahh” Pekiknya sakit, Aubrielle yang tadinya kesulitan membuka mata kini membuka matanya lebar.
Degup jantung tak beraturan kini ia rasakan. Aubrielle merasa bagian intinya kesakitan— dan ia jelas tahu itu pertanda apa.
Perempuan itu meremas kuat selimut yang menutupi tubuhnya itu, menatap nyalang ke sekeliling— mencari tau siapa pemilik kamar yang bisa ia simpulkan juga merupakan orang yang sama yang menghabiskan malam panas dengannya.
Serpihan ingatan mulai keluar, dialog-dialog tidak jelas berkeliaran di kepalanya malam ini.
“I’m not drunk— STOP TELLING ME TO STOP.”
“Is this magic potion? Look like tea but taste like— WHAT IS THIS?”
“I want to feel it too huhu”
“Tired and sick of riding horse, can i ride you instead, River?”
Ingatan terakhir hampir membuat Aubrielle muntah di tempat, dia tidak percaya dirinya bisa melakukan hal serendah dan sekeji itu? Dan apa katanya tadi? Kalimat terakhir yang ia minta dan tanyakan pada orang tersebut membuatnya tidak habis fikir bahwa ada jiwanya yang begitu murahan.
Dan bahkan bukan itu bagian terburuk, nama yang disebut adalah mimpi buruknya. Tolong yakinkan Aubrielle bahwa bukan River itu yang menghabiskan malam dan melihat dirinya yang bukan dirinya sungguhan itu.
Perempuan itu menoleh ke samping, mendapati bagian kasur yang kosong, dan secarik kertas diatasnya.
“Kita harus bicara nanti, Ophelia. Sekarang gue harus pulang ke rumah, banyak makanan atau bahan makanan di rumah. Do as you please.
-River (Yes, the same River that you know)”
Aubrielle mengeluh tidak senang, benci dengan fakta bahkan disaat seperti ini River terlalu tahu tentang dirinya. Tahu bahkan fakta bahwa dirinya berusaha meyakinkan diri bahwa ia melakukan dengan orang bernama River, yang bukan dari lingkupnya.
Sekarang Aubrielle harus bagaimana? Ia kepalang malu kalau harus bertemu River dan membicarakan ini semua? Apa akhir dari pembicaraan ini? Lelaki itu mana mau tanggung jawab, apalagi dari serpihan memorinya memang Aubrielle yang berperan aktif menggoda pria tersebut.
Ia rasanya ingin menangis sekarang juga. Pada akhirnya, Aubrielle memutuskan untuk mengabaikan pesan pada secarik kertas itu.
Pulang ke rumah dengan perasaan hancur, semua yang ia berusaha bangun selama ini hancur berantakkan. Tidak ada lagi Aubrielle Ophelia Atmadja, sosok nona muda sempurna yang jadi panutan dalam membesarkan seorang putri di keluarganya.
Karena apa yang Aubrielle lakukan adalah membawa aib bagi keluarga. Apalagi dua minggu kemudian, setelah ia menemukan dirinya mondar-mandir ke toilet untuk mengeluarkan isi perutnya.
Aubrielle memang menjadi pendiam di rumah, memberi pesan agar tidak memberi akses sedikit pun pada lelaki bernama River itu. Sehingga kehamilan yang diketahui dari test pack yang ia beli saat perjalanan pulang ke rumah pada malam itu menjadi tangis pilu ibunya.
Perempuan itu, malam itu juga atas keinginannya sendiri, diterbangkan ke Amerika atas alasan pendidikan.
Tidak pernah mau tahu tentang Jakarta, ataupun tentang River Orpheus Ramachandra, ayah dari anak yang ia kandung. Sama sekali.
Setelah berhasil menyeret River keluar dari rumah, dengan tangan bergetar ia menghubungi ibunya, bertanya kenapa Orion bisa memanggil River dengan sebutan ayah dengan lugas.
Ibunya yang saat itu sedang berada di luar kota menjelaskan bahwa selama ini, Orion jika sedang bersama dirinya selalu ingin tahu tentang sang ayah. Mengaku sedih karena rindu pada sosok yang tidak pernah bertemu dengannya sejak lahir itu, Yvonne, dipenuhi dengan rasa iba akhirnya menunjukkan wajah River.
Mengatakan kalau Orion memiliki ayah yang sedang giat bekerja di negara lain, memperkenalkan dengan nama lengkapnya, River Orpheus Ramachandra, penerus perusahaan muda yang suka koleksi mobil paling keren di Jakarta.
Orion jadi suka minta mainan mobil pada kakeknya, sedang Yvonne merasa cemas takut bahwa ia ketahuan membeberkan hal tersebut pada cucu kesayangannya. Tapi mau bagaimana lagi, ia begitu menyayangi Orion sampai tidak tega mendengar pengakuan sedih cucunya itu.
Aubrielle terduduk, memijat pelipisnya dengan wajah gusar, pertemuan yang paling tidak ia inginkan terjadi. Kenapa Orion bisa secepat ini bertemu dengan River?
“Kenapa River bisa ke rumah? Memang orang rumah gak ada yang diberitahu kalau dia dilarang masuk ke rumah ini? Aku pergi ke Jakarta karena dijanjikan aman di rumah sini, kalau tahu akan seperti ini, lebih baik aku balik ke New York City sama-sama Orion lagi.” Tukasnya dengan marah, bertahun-tahun membesarkan Orion, berusaha menjadi ayah dan ibu sekaligus semata-mata karena ia ingin seterusnya akan seperti itu.
Tidak mendengar jawab dari sang ibu, karena entah bagaimana caranya River kembali di hadapnya lagi, kali ini merampas handphone kepunyaan Aubrielle dengan tatap dingin.
Siapa yang tidak akan marah, shock, dan kecewa saat mengetahui fakta bahwa dirinya mempunyai anak. Apalagi tahu bahwa anak itu tumbuh selama 4 tahun tanpa dirinya, River mungkin akan ikhlas kalau memang dia yang bersikap brengsek dari awal dan menolak kehadiran janin yang dia buat bersama Aubrielle,
Tapi kenyataan sekarang adalah dia yang tidak tahu menahu, dan berusaha disingkirkan dari kehidupan yang mungkin saja memang seharusnya dimiliki oleh River.
“Ikut gue.” Ucap pria itu dengan cepat, mengambil tangan Aubrielle, ingin membawanya menjauh.
“Mau ke tempat lain atau gue teriak disini? Do you really want Orion to see his parents fight and scream? Do you really want to give that kind of experience to OUR child?” Tanya River berusaha tenang.
Aubrielle melihat ke samping, merasa dadanya terhimpit karena rasa bersalah. Pada akhirnya ia berjalan duluan kearah ruang kerja ayahnya, terdekat dan yang terpenting, kedap suara.
Sesampainya disana, River segera mengunci ruangan, mengambil tangan Aubrielle untuk menghadap kearahnya.
“Kenapa nyalahin orang lain? Emang gue gak berhak tau tentang ini? Kenapa segininya mau nyingkirin gue?” Tanya River menggenggam erat dan mengangkat benda pipih kepunyaan Aubrielle itu, melemparnya sembarang tidak peduli dengan nasibnya.
Begitu marah sampai rasanya bukan hanya handphone yang bisa ia hancurkan sekarang.
“RIVER! Do you have any idea about what you’ve done? Kenapa kamu bersikap semaunya?”
“Lo yang bersikap semaunya! Gimana bisa lo ngejauhin gue yang notabenenya ayah Orion dari anak gue sendiri. I’ve missed the most important years of his life, you are so fucking selfish for doing this to me and Orion. DO YOU KNOW THAT?” Tanya River.
Niatnya ke rumah Atmadja adalah ingin meminta maaf kepada Anton karena kelalaian pegawainya tempo hari menyebabkan kekacauan pada perusahaan Ramachandra, integrity yang goyah bahkan sangat berdampak pada perusahaan keluarga Atmadja, maka dadi itu sebagai CEO, River ke kediaman ini untuk menemui Anton, ayah dari Aubrielle.
Ternyata apa yang ia temui malah fakta mengejutkan. Seperti kenyataan bahwa dirinya mempunya anak lelaki, yang berarti keturunan resmi keluarga Ramachandra.
Perasaan tidak enak itu mendorong River untuk bersikap semarah ini.
Aubrielle terdiam beberapa saat, “Maaf, River. Bukan maksud aku untuk memisahkan kalian, tapi semua yang terjadi malam itu salah aku. Kamu gak perlu menanggung semuanya, gak perlu mengikatkan diri kamu karena terpaksa. Aku memberi kamu kehidupan yang lebih sederhana tanpa ada aku dan Orion.” Jelas perempuan itu lugas, meminta maaf tapi masih merasa bahwa pemikirannya benar.
Membuat River ingin menghancurkan semua yang ada di ruangan ini sekarang, jika saja ia lupa bahwa pemilik ruangan ini adalah Anton, orang yang ia hormati seumur hidupnya.
“Gue gak mau sederhana, lo gak tau apa yang gue mau. Gue mau rumit, gue mau jadi ayahnya Orion. Apa itu gak ada terbesit di fikiran lo, hah?” Tanya River dengan nada menggebu.
“Lalu kamu mau apa? Tahu pasti kalau 5 tahun yang lalu aku hadir ke keluarga kamu dan mengaku sedang mengandung, gak ada pilihan lain selain menikahkan kita. Karena ini aib, karena apa yang kamu dan aku perbuat itu aib!” Balas Aubrielle tidak kalah emosi.
River terdiam, wajah datar memandangi Aubrielle.
“Lo fikir gue tau sekarang ada bedanya dengan 5 tahun yang lalu? Besok gue datang bersama keluarga, bicara pernikahan. Hari ini gue bakal disini mau akrab sama anak gue sendiri.”
“Kamu bicara apa? Jangan seenaknya! Orion itu bukan anak kamu, dia anak aku!”
Mendengar itu River menatap nyalang kearah Aubrielle.
“Ophelia, gue gak peduli dengan semua gertakkan lo. Orion is my child, your child, our child. I am his father, and you should never take that away from me and Orion.” Ia menatap tajam pada Aubrielle sekali lagi sebelum tersenyum menunjukkan lesung pipinya.
“Gue bakal bicara sama Uncle Anton malam ini, pertemuan akan terjadi besok. Sekarang sudah waktunya buat Orion main sama daddy.” ucapnya santai, seolah beberapa detik yang lalu tidak ada tatap tajam, nyalang, teriakkan, dan gertakkan yang tercipta antara keduanya.
Aubrielle terduduk lemas, ingin menangis dan tidak habis fikir. Kenapa River tidak bisa menerima pilihan sederhana saja? Kenapa harus mencari jalan yang rumit seperti pernikahan?
Sekarang Aubrielle dan River dihadapkan pada situasi rumit. Sederhana bagi River, rumit bagi Aubrielle.
Such simplexity for both of them.