Evander-Valerie and How Is It For Them Right After (Special Short Chapter #1)
From : Twenty One (Switch!) AU by lscribdaisy on twitter 💖
“Sayang, angkat telfonnya. Aku minta maaf..” Pesan itu Valerie terima dengan mata bengkak dan bibir yang masih menunjukkan raut cemberut.
Kembali ke beberapa jam sebelum kejadian ini dimana Valerie menangis dengan perasaan buruk.
Sebenarnya hari ini Valerie bangun dengan perasaan berbunga, itu karena malam sebelumnya Evander full memanjakan dia dan little Evander yang sedang aktif dalam perut mommynya.
Valerie tidak bisa menahan senyum dengan kebiasaan Evander yang suka mengecupi dan mengajak bicara bayi mereka, bahkan tadi malam lelaki itu menempelkan bibirnya pada perut Valerie, berbisik kelewat pelan.
Saat ditanya, kata Evander “Ini urusan cowok, mommy gak perlu tau.”
Valerie mencebik tidak senang, tapi pada akhirnya tersenyum gemas melihat interaksi dua prianya apalagi saat Evander berbisik, little Evander tidak bisa berhenti bergerak— sama antusias dengan mommynya tiap diajak daddy bicara.
Maka dari itu membawa perasaan berbunga, Valerie bangun dan segera ke supermarket, membeli banyak hal untuk menyiapkan bekal makan siang untuk suami tercinta.
Bahkan salah satu penjaga dan supir yang Evander berikan kepercayaan untuk menjaga Valerie sampai geleng-geleng kepala melihat betapa antusiasnya nyonya mereka ini.
Di rumah juga sangat sibuk, Valerie benar-benar membedah walking closetnya. Berniat untuk kelihatan paling cantik seluruh dunia.
Supaya makin disayang-sayang oleh Evander, maunya.
Melihat penampilannya sekarang membuat Valerie menutup mulut dengan wajah senang sekali, ia bahkan tertawa geli sambil memutar-mutarkan badannya.
“Jujur, dari 1-10 nilainya berapa? Dan menurut kalian Evander bakal senang gak?”
Tanya Valerie kepada penjaga khusus Valerie, driver, dan 2 penjaga rumah yang merupakan perempuan. Valerie memang minta tolong agar semuanya berkumpul dan melihat penampilannya.
“Tuan Evander pasti selalu senang kalau bertemu dengan anda, Nyonya.” Ucap penjaga rumah yang usianya cukup tua, Valerie mencebik sedih.
“Tapi dari 1-100 nilainya berapa?” Tanyanya lagi, semua penjaga saling bertatapan sebelum mengangguk kecil seakan bisa membaca fikiran dan tahu sekali apa yang nyonya mereka ingin dengar.
Lagian Tuan Evander berkali-kali selalu mengingatkan agar semua bisa menciptakan suasana senang dan nyaman untuk Valerie dan bayi yang istrinya sedang kandung itu.
Maka dari itu penjaga rumah kembali tersenyum. “1000 nyonya.”
Mendengar itu Valerie langsung tersenyum kemudian mengangguk-anggukan kepalanya setuju.
“Nah iya kan? 1000 kan? Bahkan aku cuma minta rate dari 1-100 tapi dijawabnya 1000. It means i look fantastic, right?” Tanya Valerie antusias, kembali melihat cermin untuk melihat penampilannya.
Memang ia hari ini terlihat manis sekali dengan Cashmere & Wool top in Burgundy & Pink dan skirt senada yang memiliki gold chain— customized dibuat lebih pendek. Kemudian dibalut dengan plaid patterns casual style wool cashmere medium long coat in Fuschia and Black koleksi dari brand ternama C. Rambut blonde Valerie juga di style dengan cantik, half down dengan memakai pita cantik berwarna hitam.
Padahal dia ingin sekali memakai high heels, tapi semua penjaga memohon kepada nyonya mereka untuk tidak melakukan itu, karena tuan Evander pasti akan sangat sangat sangat murka jika Valerie dibiarkan memakai footwear seperti itu.
Pada akhirnya, Calerie memakai loafers berwarna hitam dari brand yang sama. Dihiasi dengan gold love-shaped dengan logo brand tersebut, juga kaus kaki pendek dengan renda keriting cantik dibagian atasnya.
Valerie terlihat paling manis, paling cantik, apalagi dengan aura ibu hamil serta jatuh cinta yang tidak ada surutnya dan malah menggebu-gebu pada sang suami.
“Bibi makanannya udah diangetin gak yang Valerie minta tolong tadi?”
“Udah nyonya, sudah dimasukkan ke dalam tempat makan yang biasa dikasih ke Tuan.”
Valerie mengangguk kemudian melirik kearah supir, “Bapak, mobilnya udah dinyalain? Nanti Evander ngomel lagi kalau langsung dibawa pergi mobilnya tanpa dipanasin dulu mesinnya atau apalah itu.”
Supir mengangguk, “Sudah nyonya.”
Valerie melihat penampilannya sekali lagi sebelum mengangguk dengan pasti.
“Baby kita mau ketemu daddy loh, seneng gak?” Tanya Valerie sambil mengelus perutnya, dan seperti ajaib mungkin karena sang anak juga bisa merasakan antusias besar dari ibunya, little Evander bergerak kecil. Membuat Valerie memekik senang.
“Aduh pinter banget sih, suka perhatian daddy ya? Ututu pinter banget, 100% anak mommy. Tos dulu.” Ucap Valerie menepuk kecil perutnya mengajak little Evander untuk ber-tos ria.
Melihat kelakuan menggemaskan nyonya mereka, keempatnya hanya bisa mengulum senyum.
Tidak salah jika Tuan Evander tergila-gila dengan istrinya yang sangat menggemaskan dan polos ini.
Kembali dengan posisi sekarang dimana Valerie yang awalnya semangat sekali harus menelan perasaan buruk.
Begitu ia sampai, seperti biasa sesuai *fortis rules* para pegawai menyambut Valerie, biasanya Evander juga akan menunggu sambil merentangkan lengannya, menunggu Valerie yang *seperti biasa* meloncat senang dalam pelukan Evander.
Tapi kali ini hanya ada sekretaris suaminya yang terlihat sedikit gugup begitu menangkap aura gusar dari sang nyonya.
“Evander mana?” Tanya Valerie dengan raut bingung, tidak biasanya Evander pergi dari kantor sekitaran jam segini.
Sekretaris Evander menoleh ke tangan Valerie sekilas sebelum meneguk salivanya.
“Pertemuan nyonya, makan siang tidak ada dalam schedule resmi.” Jawabnya main aman, tentu sebenarnya ia tau kalau Tuannya itu sedang makan siang.
Tapi melihat raut gusar di wajah cantik nyonya Valerie, membuatnya mencari aman saja. Ia yakin Tuan Evander akan melakukan berbagai cara untuk menenangkan istrinya, bahkan mungkin rela makan 2 kali jika perlu.
Mendengar itu Valerie tersenyum paksa sebelum duduk di lobby, meminta tolong kepada sekretaris untuk menaruh makanannya ke dalam ruangan Evander duluan.
Ia ingin menunggu disini saja.
Little Evander yang ingin sekali bertemu dengan ayahnya. Bukan Valerie.
“Nyonya tunggu di ruangan Tuan saja, jangan disini.”
Valerie melirik kearah driver dan penjaganya.
“Kalian makan siang dulu di cafetaria, jangan khawatir. Semua disini sudah terikat sama peraturan untuk selalu jaga saya, jadi silahkan makan siang.” Ucap Valerie tersenyum kecil.
Driver dan penjaga tersebut menatap dengan khawatir, tetapi melihat sekeliling dan tahu betul bahwa apa yang dikatakan nyonyanya adalah sebuah fakta.
Kedua memutuskan untuk mengikuti perintah Valerie.
Tidak lama ia menunggu, Valerie melihat mobil mewah berwarna hitam yang mampir ke depan perusahaan.
Rasa kecewa memenuhi dirinya begitu melihat siapa yang keluar dari mobil tersebut.
Bahkan paling kecewa melihat Evander dengan ringan memeluk kecil perempuan tersebut. Sedang Alexa dedemit itu tersenyum lebar, membuat Valerie merengut sebal.
Evander bahkan belum memeluknya hari ini, tapi Alexa sudah menerima pelukan yang seharusnya menjadi punya Valerie saja.
Ia tidak tau apa karena naturenya yang memang mudah cemburu atau sekarang makin parah karena kehamilan, Valerie merasa sesak begitu kuat melihat Alexa yang memakai pakaian dari koleksi brand sama dengannya, tapi Alexa terlihat jauh lebih anggun dan berkelas.
Tidak seperti Valerie yang terlihat kekanak-kanakkan dengan perut membucit.
Dengan perasaan sedih ia segera keluar dari pintu samping, menghentikan taksi dan segera masuk dengan perasaan dongkol.
Kekanak-kanakkan memang, sudah tau jelas suaminya itu punya naluri yang kelewat protective dengannya apalagi dalam keadaan hamil. Sudah jelas Evander akan membuat ribut semua orang untuk mencari Valeri tapi perasaannya begitu sedih.
Valerie tahu bahwa semua orang sudah mulai menyadari hilangnya Valerie begitu menumpuknya panggilan tidak terjawab dan pesan tidak terbalas dari suaminya itu.
Juga beberapa pesan dari driver, penjaga, semuanya.
Dan dengan mata bengkak serta perasaan sesak, Valerie membaca pesan dari Evander yang memintanya untuk segera mengangkat telfon dan meminta maaf.
Tetapi pada akhirnya, Valerie yang hanya ingin menenangkan diri dari gejolak emosi yang ia yakini datang dari hormon kehamilan yang kemudian berpengaruh padanya itu mengirim pesan kepada ayah dan ibunya untuk menemui Valerie di suatu tempat.
Memang Jevan Renesmee memutuskan untuk menetap sementara di Sydney sampai Valerie melewati masa bersalinnya nanti. Mereka sudah menetap sejak Valerie mengumumkan kalau dia sedang hamil, tanpa fikir panjang Jevan langsung berangkat ke Sydney, dan mengatakan kalau akan menetap sampai Valerie melahirkan.
Dan ternyata dukungan emotional dari kedua orang tuanya memang sangat dibutuhkan, apalagi dengan Valerie yang umur jiwanya masih cukup kekanak-kanakkan.
Setelah mengirim pesan, Valerie mematikan telfon genggamnya.
Sedang merasa tidak enak hati untuk bersinggungan dengan siapapun kecuali orang tuanya.
Menghabiskan seharian dengan 2 orang yang tidak akan pernah menghakimi Valerie saat dirinya dirasa mengambil keputusan yang salah rasanya sangat menenangkan bagi perempuan itu.
Renesmee menaruh curiga jika anaknya itu sedang bertengkar dengan Evander, tapi pada akhirnya menghindari bertanya lebih lanjut saat Valerie menunjukkan raut sedih.
Pelan-pelan memberitahu suaminya lewat pesan kalau keadaan putri mereka sedang tidak bagus perasaannya. Dan sebaiknya mereka menghindari pembahasan yang kiranya akan membuat Valerie tidak senang.
Renesmee juga langsung mengirim pesan kepada sang menantu untuk memberitahu jika sedang bersama Valerie dan sebaiknya Evander tidak perlu khawatir, karena jelas ada yang mengganggu putrinya itu, tapi Renesmee dan Jevan juga tidak masalah— malah begitu senang jika bisa menghabiskan waktu bertiga seperti hari-hari biasa saat di Jakarta.
Mereka bertiga mulai berbincang-bincang dan tertawa disela-selanya. Sampai Jevan menatap perut Valerie dan entah kenapa perasaan haru memenuhi pria itu.
Ia mulai mengulurkan tangannya untuk mengelus pelan kepala Valerie dengan tatap sayang.
“Putri daddy yang paling daddy sayang. Sehat-sehat terus ya nak, buat kamu dan calon jagoan Evander nanti. Jangan sedih-sedih, jangan banyak merasakan energi yang negatif. Valerie kalau mau jalan-jalan ringan, olahraga, atau berjemur nanti daddy temenin sama mommy ya?”
Kemudian mendekat dan mencium sayang kening anak perempuannya.
“Daddy bangga dan terharu ngeliat Valerie sebentar lagi bakal jadi seorang ibu.” Jevan berkata sambil menganggukan kepalanya dengan mata yang mulai dipenuhi air mata.
“Heh! Kita disini mau senang-senang, kok kamu mellow gini sih?” Tegur Renesmee yang berusaha tidak menangis, berbeda dengan Valerie yang mulai menunjukkan raut akan menangis dengan tangan Jevan yang masih saja setia mengelus kepalanya.
Kemudian keluarga kecil itu melanjutkan perbincangan mereka.
Dipenghujung hari, Jevan dan Renesmee mengantar Valerie sampai mansion tempat tinggal Evander dan Valerie.
“Perlu daddy anter sampai masuk?” Tanya Jevan yang mendapat jawaban gelengan dari Valerie.
“Gak usah daddy, Evander mungkin sudah terlalu khawatir.” Ucap Valerie dengan malu.
Renesmee menarik wajah Valerie dan membubuhkan ciuman kecil dipipi anaknya itu.
“Anak mommy, yang sebentar lagi selain jadi istri Evander bakal jadi ibu juga. Nambah lagi peran Valerie di hidup ini, jalani sesuai kemampuan kamu dan selalu belajar ya? Remember what mommy ever thought you?”
“I’ll try my best to be a good wife, and a good mother, mommy.” Ucap Valerie kecil, membuat Renesmee menunjukkan raut haru sebelum kembali mencuri kecupan kecil pada pipi putrinya tersebut.
Sedang Jevan mengambil nafas kecil, “Valerie jangan sering nyusahin Evander ya. Dia juga berusaha banyak untuk kalian berdua, gak sekali dua kali daddy dengar kalian tengkar karena masalah kepercayaan kayak gini. Mungkin kali ini juga bawaan baby, tapi daripada kabur dan bikin Evander khawatir, lain kali hadapi dan bicara dengan suami kamu. Kalian itu sudah menikah, enggak pacaran lagi.” Nasehat Jevan untuk terakhir kalinya sebelum Valerie mengangguk.
“Iya, maaf daddy. Valerie bahkan sampai nikah masih suka nyusahin daddy dan semua orang.”
“Daddy suka dibikin Valerie susah, kalah terlalu berat bebannya banyak-banyak bicara sama daddy ya, princesa.” Kemudian Jevan ikut mengecup pipi Valerie berkali-kali.
“Valerieku, putriku, jantung cintaku.” Bisik Jevan, membuat Valerie geli dan tertawa kecil.
“Udah daddy cukup please, aku gak masuk-masuk loh nanti.” ucap Valerie kemudian dengan nada bercanda.
Setelah melakukan berbagai macam rutinitas sebelum berpisah akhirnya Valerie sudah berada di depan mansionnya.
Memasukkan passcode keamanan, perempuan itu mengambil nafas dalam-dalam sudah tahu kemungkinan besar ia akan mendengar omelan Evander yang mungkin akan terdengar sangat tegas sekarang.
Dan sejujurnya Valerie sudah menyiapkan diri, maka dari itu setelah menghembuskan nafas yang sebelumnya sudah ia tarik dengan kencang, Valerie membuka pintu mansionnya.
Sesuai dugaannya, Evander sudah berdiri menunggu, tapi yang tidak ia sangka adalah wajah lelah lelaki itu, Valerie menekukkan bibirnya sedih begitu melihat Evander yang tanpa banyak bicara langsung membuka tangannya lebar, hanya ingin Valerie peluk sekarang juga.
Melihat tidak ada pergerakkan dari Valerie, Evander memiringkan wajahnya, masih kelihatan sendu tapi berusaha menunjukkan senyum kecil.
Dengan langkah kecil Valerie berjalan, sebelum hati-hati melingkarkan tangannya di sekitar perut Evander.
“Daddy, mommy and little Evander would like to say sorry for being sulky, ended up causing trouble for daddy. We’re really, super, very, sorry.” Cicit Valerie dengan bersungguh-sungguh seakan ia berbicara mewakili dirinya dan bayi mereka.
Mendengar itu Evander merasa dirinya langsung menghangat setelah seharian dipenuhi dengan rasa takut, takut jika ada sesuatu yang terjadi pada 2 orang paling berharga dan paling ingin ia jaga saat ini.
“Daddy wasn’t angry, Little E. Daddy was worried.” Jawab Evander kemudian, sebelum menenggelamkan wajahnya pada pundak Valerie, menutup mata dan menghirup bau perempuannya itu dengan baik.
“Serius, aku minta maaf karena bikin kamu kecewa dan marah. Maaf karena ngasih kamu perasaan negative yang seharusnya kamu hindari sebisa mungkin, aku berusaha protect kamu dari hal gitu, tapi pada akhirnya aku yang paling bikin kamu upset. Maafin aku.” Pinta Evander dengan sungguh-sungguh.
Ia benar-benar merasa buruk dan sangat bersalah begitu mendengar pernyataan semua orang yang ia tanyai. Bercerita tentang betapa antusiasnya Valerie dalam berdandan dan menyiapkan makan siang, sampai perempuan itu hilang yang langsung Evander tahu adalah karena netra perempuannya menangkap gambaran dirinya bersama perempuan lain yang menjadi subjek sensitive di hubungan mereka.
“Mau cerita gimana perasaan kamu? Jangan di pent up ya sedihnya, nanti kamu keburu muak sama aku. Aku gak bisa, Valerie. Sedikit aja keluhan dari kamu tolong kasih tau.”
Valerie memeluk Evander lebih erat, kemudian menggeleng.
“Keluhannya mungkin kali ini sama diriku sendiri. Gak seharusnya aku selalu marah tiap kali lihat kamu sama Alexa padahal sudah jelas itu juga bagian dari tanggung jawab kamu, untuk menjaga kepercayaan relasi penting di perusahaan. Gak seharusnya aku dikit-dikit ngambek, maaf ya, mungkin kali ini bawaan hormon aku yang sedang hamil. Setelahnya aku bakal coba banyak-banyak belajar buat jadi istri yang gak nyusahin kamu.”
Jawaban Valerie membuat Evander mendongak, kemudian dengan gemas ia ikut cemberut.
“Pusing sih kalau tingkatnya sampai kamu hilang gini. Tapi, aku juga suka kamu jealous. Suka banget, rasanya kayak disayang banget. Jangan berhenti cemburu ya, tapi cemburunya sambil sayang-sayang sama aku. Jangan ngilang.” Jahil Evander pelan, membuat Valerie menggembungkan pipinya kesal.
“Enak di kamu, kan aku yang selalu sedih nanti kalau cemburu.” Gerutu perempuan itu, Evander tersenyum manis, menimbulkan lesung pipinya.
“Kalau kamu gak cerita pun, nanti kamu tetap sedih. Jadi mending kalau kamu cemburu dateng ke aku, terus minta diyakinin kalau kamu satu-satunya. Nanti aku coba yakinkan kalau kamu satu-satunya.” Evander tersenyum jahil.
“Tapi gak bisa sekarang, gak boleh sering jenguk Little E secara langsung, ya. Cukup ngobrol dari luar aja, iya gak, jagoan?” Tanya Evander, mengabaikan wajah istrinya yang memerah malu akibat ucapannya itu.
Evander berlutut, sekarang menghadap perut Valerie dengan tatap binar.
“Halo jagoan, hari ini pinter gak? Gak nyusahin mommy kan? Hari ini daddy bikin mommy upset, semoga gak ketularan ke kamu ya galaknya mommy.” Evander mulai mengajak bicara, Valerie tersenyum kecil sambil menaruh tangan diatas tangan Evander yang kini mulai memegang perutnya dengan gentle.
“Yang sayang daddy coba nendang dikit.” Pinta Evander berharap, tapi tidak ada respon sedikitpun, membuatnya mendongak dengan wajah sedih.
“Yah, kurang sayang daddy dia.”
Valerie terkikik geli, “Nih ya, coba aku. Ehm, halo mommy’s little sunshine. Coba dong tunjukkin presencenya kalau memang sayang mommy?” Cicit Valerie dengan suara cerah.
Seperti keajaiban, Little Evander menunjukkan presencenya dengan kuat. Membentuk tendangan yang membuat Valerie dan Evander memandang satu sama lain dengan tidak percaya.
“YA AMPUN DIA SAYANG BANGET SAMA AKU!” Pekik Valerie tidak percaya. Meski ada sedikit rasa sedih di diri Evander, tapi lelaki itu berdiri dan tersenyum, mendekatkan diri sekaligus mencuri ciuman kecil pada bibir manis kepunyaan Valerie.
“Dia kurang sayang sama aku, kali ya?” Valerie mengulum senyum melihat raut muram yang tidak bisa Evander tutupi dengan benar.
Pada akhirnya Valerie mengusap wajah lelakinya dengan pelan.
“Little E sayanggg sekali sama daddy, akhir-akhir ini aku sering minta disayang, di cuddle ya karena dia yang pengen dekat-dekat dengan daddynya. Bahkan dia pinter banget loh mau cari perhatian kamu, 5 hari dia cuma nendang waktu kita lagi bareng kamu.”
Mendengar itu Evander tidak bisa menahan senyum senangnya, bahkan Valerie bisa menangkap gerak mata Evander yang terlihat membesar saking senangnya.
“Beneran, aku yakin deh hari ini merasa giddy, pengen prepare makanan terbaik buat daddy, pengen kelihatan cantik, itu semua juga bawaan dia. Dia pengen kamu kasih afeksi yang banyakkkk, makanya dia ajak aku untuk spoil kamu!”
Evander tersenyum kotak, menahan diri untuk tidak terlihat kekanakkan karena merasa se bahagia ini diinginkan oleh bayinya sendiri,
Matanya turun menatap perut Valerie, sebelum dengan cepat mengangkat perempuannya itu dalam gendongan effortless.
“Sudah saatnya kita cuddle bertiga. Tunggu daddy ya! Malam ini kamu bakal makin pengen deket-deket daddy yang ganteng ini, Little Evander!” Serunya dengan senang.
Sedang Valerie yang mendengarnya hanya bisa menggelengkan kepala. Sepertinya dia harus membiasakan diri untuk hidup dengan 2 pria ini.
Karena tanpa Valerie tahu, Little Evander akan tumbuh menjadi copy 100% dari ayahnya. Membuat Valerie menua dengan 2 bodyguard super protective (dan possessive) terhadapnya.
Left : Evander sulking because Little Evander didn’t respond him.
Right: Evanded when Valerie told him that little Evander lovessss daddy Evander so much☺️