Bahagialah Wahai Kalian Orang-orang yang Sabar
Assalamualaikum ikhwafillah, saudaraku seiman karena Allah. Pernah ngga sih terkadang kita dihadapkan dengan berbagai permasalahan yang hadir di tengah perjalanan hidup ini? Saya yakin pasti semua insan tak lepas dari yang namanya sebuah masalah.
Tak bisa dipungkiri bahwasanya masalah memang memiliki berbagai macam jenis dan spesies hingga tak terhingga kompleksivitas dan tak pernah diduga. Hal ini sebenarnya linier dengan hakikat hidup manusia yang dinamis, sangat mudah sekali mengalami perubahan bagaikan roda yang berputar tanpa mengenal waktu.
Mungkin teman-teman mahasiswa khususnya mengalami kendala di perkuliahannya, seperti tiba-tiba laptop yang digunakan untuk nugas rusak, motor harus diservis, uang bulanan yang seret, dana bidikmisi telat cair, ibu kost yang ngga friendly, atau bahkan masalah sosial dengan teman atau dosen sampai organisasi yang merupakan hal lumrah namun tetaplah sesuatu yang bisa dibilang itu adalah masalah yang tidak mudah.
Sebenarnya nih temen-temen, kita diciptakan sebagai manusia merupakan makhluk yang paling istimewa dan sempurna di antara makhluk yang lain. Namun seringkali kita ngga memaksimalkan peran dari hakikat manusia itu sendiri yang notabene sebagai khalifah atau pemimpin di Bumi. So, dari berbagai masalah yang ada yang terpenting adalah bagaimana menyikapi masalah itu sendiri. Ada sebuah quotes bahwa orang besar adalah orang yang memandang sesuatu dari sudut yang berbeda, yang artinya bagaimana ia bisa menyikapi sesuatu yang kemudian mengambil respon yang tepat. Adalah SABAR.
Masih ragu dengan kata sabar? Ketahuilah bahwasanya sangat beruntung orang-orang yang sabar loh, “Man shabara Zhafira” sebuah mantra dari mahfudzot* yang patut dijadikan pegangan dalam perjalanan hidup.
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Allah memiliki hak untuk diibadahi oleh hamba di saat tertimpa musibah, sebagaimana ketika dia mendapatkan kenikmatan.” Beliau juga mengatakan,“Maka sabar adalah kewajiban yang selalu melekat kepadanya, dia tidak boleh keluar darinya untuk selama-lamanya. Sabar merupakan penyebab untuk meraih segala kesempurnaan.” (Fath al-Bari [11/344]).
Sabar ternyata merupakan akhlak para rasul nih temen-temen, Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh telah didustakan rasul-rasul sebelummu maka mereka pun bersabar menghadapi tindakan pendustaan tersebut, dan mereka pun disakiti sampai datanglah kepada mereka pertolongan Kami.” (QS. al-An’am: 34)
Juga sebagai sumber kebahagiaan hidup, Umar bin Khatthab radhiyallahu’anhu mengatakan, “Kami berhasil memperoleh penghidupan terbaik kami dengan jalan kesabaran.” (HR. Bukhari)
Bahkan urgensi kesabaran sebagai penopang keimanan, seperti yang dikatakan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, “Sabar bagi keimanan laksana kepala dalam tubuh. Apabila kesabaran telah lenyap maka lenyap pulalah keimanan.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya [31079] dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman [40]
Sabar merupakan key activities seseorang memimpin dirinya dan memimpin orang lain, Allah berfirman (yang artinya), “Dan Kami menjadikan di antara mereka para pemimpin yang memberikan petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bisa bersabar dan senantiasa meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. as-Sajdah: 24). Hal ini menunjukkan bahwasanya dengan bekal sabar dan keyakinan itulah akan bisa dicapai kepemimpinan dalam hal agama. Allah juga memadukan keduanya di dalam firman-Nya (yang artinya), “Mereka saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran.” (QS. al-’Ashr: 3).
Dan tentu saja sebagai jalan keluar ketika seseorang ditimpa musibah sehingga menyikapi dengan rasa ikhlas tanpa keluh kesah dan merespon dengan baik, karena sadar bahwa musibah datang dari Allah untuk menguatkan hambanya dan memperbaiki kualitas iman.
Ibnu Katsir menukil keterangan al-A’masy dari Abu Dhabyan. Abu Dhabyan berkata, “Dahulu kami duduk-duduk bersama Alqomah, ketika dia membaca ayat ini ‘barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan menunjuki hatinya’ dan beliau ditanya tentang maknanya. Maka beliau menjawab, ‘Orang -yang dimaksud dalam ayat ini- adalah seseorang yang tertimpa musibah dan mengetahui bahwasanya musibah itu berasal dari sisi Allah maka dia pun merasa ridha dan pasrah kepada-Nya.” Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim di dalam tafsir mereka. Sa’id bin Jubair dan Muqatil bin Hayyan ketika menafsirkan ayat itu, “Yaitu -Allah akan menunjuki hatinya- sehingga mampu mengucapkan istirja’ yaitu Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” (Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [4/391] cet. Dar al-Fikr)
Ya, sabar merupakan sikap mulia yang memang butuh kesabaran yang besar untuk bersikap sabar. Orientasi sabar memiliki esensial yang tinggi maka tinggi pulalah ujian dalam bersikap sabar itu sendiri. Bahkan surga adalah hadiahnya. Maka, sudahkah perjalanan hidup ini diwarnai dengan warna kesabaran? Sudahkah kita menjadikan kesabaran sebagai poros kehidupan untuk menjadi bahagia?
yuk renungi bersama, bahwasanya kesabaran merupakan amalan yang sangat baik dalam hubungan vertikal maupun horisontal. Tauhid dan sosial.
*mahfudot: kata-kata mutiara bahasa Arab